
Tiga bulan kemudian
Suasana di warung sedang rame-ramenya. Emang benar Akram itu pembawa keberuntungan. Akram semakin hari semakin genjar saja mendekatiku, apalagi masa Iddahku sudah habis, dia selalu membuat hari-hariku bersama mawar ceriah, dengan tingkah lucunya. Mawar juga sudah serius bekerja denganku. Di saat dia ingin membuat konten aku tak memaksanya untuk bekerja.
Pukul 02.00 siang semua dagangan kami sudah ludes. Saatnya beres-beres tentu saja mawar sibuk dengan tok-toknya dan saat kerajaan lenggang seperti ini, Akram akan mulai menggombal merayu diriku. menanyakan kepadaku kapan Aku siap dibawa ke kantor KUA.
"Iihh.. Akram Sudahlah cari yang lain saja yang gadis, yang perawan. Aku itu sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Stop ini terakhir kali kamu godain aku seperti ini, menanyakan kapan kesiapanku." ku jawab lembut pertanyaan Akram. Aku tak mau ia tersinggung, saat pernyataan cintanya ku tolak.
Semakin sering bersamanya, bersenda gurau dengannya beserta pekerja lainnya. Aku malah merasa lebih nyaman dan seneng jika menganggap Akram sebagai saudara laki lakiku.
"Apa karena aku ini miskin? sedangkan sainganku yang dua lagi itu kaya?" tanyanya dengan muka sedihnya. Aku terdiam, aku tahu Akram sedang cari gara gara. Ia tahu gimana karakterku. Aku bukan wanita yang gila harta.
Hhuufftt
Akram menghela nafas berat ia menyandarkan tubuhnya di dinding lesehan yang terbuat dari bambu. Ya kami kini sedang duduk santai di lesehan yang ada di pelataran Warung.
"Apa karena aku mandu aku yakin aku tak mandul. Aku memang belum periksa, tapi aku yakin aku tak mandul." Ia kembali bicara, belum puas ia meluapkan kekesalan di hatinya.
"Buukan, bukan karena itu Akram. Aku merasa..
Aaahhh .....Sudahlah Akram, nggak usah lagi bahas-bahas itu, aku pusing memikirkannya. Kan di awal juga sudah kukatakan bahwa, aku tidak ingin menikah lagi. Aku tidak mau dipusingkan dengan menjaga perasaanmu, menjaga perasaan pasangan nantinya. Intinya aku mau fokus kerja, cari uang, menabung untuk biaya sekolah Raisa. Juga mau naik haji bersama ibu. Pokoknya aku nggak mau mikirin pria. Pusing.... Tahu..!" ketusku pada Akram.
Akram terlihat terkejut dengan jawabanku Yang terkesan kéras. Biasanya juga Aku menjawab ajakan menikahnya dengan lembut dan melempar senyum tipis beda sekali dengan kali ini. kali ini aku menatapnya tajam.
Tin
Tin
Suara klakson mobil terdengar nyaring di telinga. Mobil itu kini parkir tepat di depan lesehan yang aku duduki bersama Akram. Aku kenal mobil itu, itu adalah mobilnya Pak Hakim Raihan.
Pak Hakim Raihan terlihat buru-buru turun dari mobil, menghampiriku yang duduk di lesehan.
__ADS_1
" Alda mau kan ikut denganku ke rumah sakit ujarnya dengan paniknya. Wajahnya terlihat sangat berkabut.
"Rumah sakit?" tanyaku memastikan. Sudah ada feelingku, bahwa yang di runah sakit adalah Bu Suci. Tapi, aku perlu memastikan. Semana tiga bulan ini. Aku memang jarang komunikasi dengan Pak Hakim Rayhan, begitu juga dengan Bu Suci dan Pak Armand. Karena Ibu waktu itu bilang. Dibahas saja setelah Massa Iddahku habis.
Apakah ibu Suci akan menanyakan Hal, yang pernah ia minta kepadaku, untuk jadi madunya?
"Iya Alda, kakak ingin bertemu denganmu. Ia terus saja memanggil-manggil namamu." Jawab Raihan sendu. Ia terlihat tak tenang.
Ku lirik Akram yang duduk di sebelahku dengan ekspresi wajah murungnya. Iya memang masih terlihat kecewa atas jawabanku tadi dan sekarang ada Rehan yang muncul di hadapannya tentu ia cemburu pada Rehan.
"Oohh.. Iya, aku ganti baju dulu." Ujarku sambil bergegas turun dari lesehan.
"Gak usah, Ayo Kiya berangkat sekarang!"
Ujar Rayhan dengan paniknya, sungguh ia terlihat sangat kalut sekali.
"Baiklah, Ayo.." Aku ikuti langkahnya menuju mobil. Begitu juga dengan Akram.
"Alda, Aku boleh ikut kan?" tanya Akram, saat Aku
"Ayo bang, kalau mau ikut. Duduk di depan saja."
Ujar Rehan cepat masih dengan ekspresi wajah yang diselimuti ketegang dan penuh kecemasan.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit. Suasana di dalam mobil sangat hening tak ada yang Buka suara. Suara musik pun tak diputar. Hanya suara deru mesin mobil serta hiruk pikuk kendaraan dijalanan yang mulai memekakkan telinga. Karena di sore hari, para pekerja kantoran sudah pulang ke rumah masing masing, atau ke tempat tongkrongan lainnya.
Saat hendak masuk ke ruangan tempat Bu Suci dirawat. Perasaanku mulai tak enak. Dada pun terasa sesak dan berdebar tak menentu. Apa gerangan yang akan terjadi di dalam sana. kenapa aku sampai dipanggil untuk datang ke rumah sakit ini.
Deg
Benar saja di dalam ruangan ini keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Di ruangan ini juga sangat banyak orang yang mengelilingi Bu suci, yang terbaring di Bed nya. Dan di pojok ruangan kulihat dua pria paruh baya, seperti alim ulama atau tokoh agama gitu. Aku bisa menyimpulkan seperti itu, karena kedua pria itu kulihat memakai peci dan sorban.
__ADS_1
Ku seret langkahku yang gemetaran untuk menghampiri Bu suci yang terbaring di bed nya. Saat hendak mencapai Bu Suci. Seorang wanita berhijab paruh baya, mendekatiku, memegang media bahuku, menuntunku mendekati Bu Suci, Yang kini terlihat Lemah di pembaringannya.
Wajah Bu Suci pucat sangat pucat wajahnya juga terlihat tirus dan sangat kering. .emang sudah 2 bulan ini aku tidak menjenguk Bu Suci. kabar terakhir yang Kutahu setelah terakhir kali aku menjenguknya di rumahnya sebulan yang lalu. Dia memang masih sakit, setelah itu aku tidak mau tahu lagi tentang ibu Suci. karena aku takut dia menanyakan lagi permintaannya itu, terkait aku yang akan jadi istri kedua Pak Armand.
"Al.. Dek Alda...!" ujarnya dengan suara berat. Seperti nya untuk ngomong saja Bu Suci, tak sanggup lagi.
"Iya Bu..!" Ku raih tangannya yang menjulur. Ku genggam lembut tangan kurus nan pucat itu.
"Ka, kabbulkan per, mintaan ku untuk ter, akhir Kalinya. Ka, kamu mau ya menikah dengan Suamiku Armand." Ujarnya tergagap, mata cekungnya kini digenangi Air linangan Air mata. Aku jadi sangat kasihan melihatnya.
Ya Allah....
Apa yang harus kulakukan? Ya Allah, Haruskah aku menerima permintaan Bu suci, yang terakhir kali ini ya Allah? Beri aku petunjukmu ya Tuhanku... Aku membatin, rasanya aku terperangkap.
Jujur, memang seminggu terakhir ini, aku kepikiran kepada Pak Armand dan Bu suci. Ada rasa lega disaat hati ini mengingat permintaan Bu suci. Tetapi kenapa harus seperti ini caranya ya Allah? kenapa Di saat dia hendak sakratul maut, permintaannya harus dipenuhi ya Allah..
Aku dilanda gugup, sangat gugup dan bingung. Sebuah keputusan besar harus kuambil, dalam keadaan terdesak. Permintaan seorang wanita baik hati yang membantuku keluar dari masalah Besar. Dan dia, wanita baik hati ini, sekarang sedang kesakitan memohon kepadaku untuk kebahagiaan pria yang ia cintai. Sungguh aku tak sanggup menolaknya.
Ya, aku akan menerima permintaan bu suci. Aku akan jadi istri Pak Arman.
Hua... Hua...
Seketika tangisku pecah. Aku tak bisa menahan diri lagi, aku sangat emosional saat ini. Air mata langsung mengucur deras. Ku kecup bertubi tubi tangan Bu Suci. Saking terharunya diriku, akan dirinya yang ngotot, memilih diriku, untuk jadi istri kedua suaminya. Aku tak sanggup lagi menatap sekeliling. Aku bisa merasakan sakit yang Bu Suci rasakan saat ini. Karena aku juga pernah mengalami masa kritis, saat kecelakaan
"I.. Iya Bu Suci. Aku mau mewujudkan keinginanmu..!"
Gubrak..
Terdengar suara pintu terbentur ke dinding. Auto, perhatianku teralih ke Asal suara. Ternyata, Akram ambruk terhempas membentur pintu ruangan ini.
"Akram...!" Ujarku Lemah.
__ADS_1
Seketika Akram bangkit, dengan memegangi daun pintu. Ia pun berlari dari ruangan itu.
.TBC