
Becak tak kunjung lewat dari depan rumah. Ingin rasanya aku berjalan ke jalan lintas. Mungkin di sana becak yang kosong banyak yang lalu lalang. Tapi, apa daya aku belum sanggup berjalan jauh. Mana aku harus melewati gang yang sedikit menanjak nantinya. Ku bangkit dari dudukku, sambil memegangi perutku yang dari tadi terasa mulas. Aku gak bisa hanya menunggu, aku akan berjalan siapa tahu, dapat becak motor sebelum ke jalan lintas. Aku sangat penasaran dengan keadaan ibu yang dibawa Arkam ke klinik. Aku tak mau, kejadian saat ayah dibawa ke rumah sakit terjadi. Di mana aku tak bisa melihat ayah saat sakratul maut.
Aku terus melangkah dengan lemah, perutku semakin terasa sakit. Seperti mau melahirkan saja. Titik titik air sudah keluar dari pori pori kulit kepala, turun membasahi wajahku yang pucat. Cuaca hari ini sangat cerah, baru pukul 10.35 Wib, sinar matahari sukses membakar wajahku. Kerudung yang kupakai tak bisa menghadang panas cahaya matahari.
Saat kaki lemah ini menapaki gang, ku rasakan sesuatu keluar dari kema-luanku dan mengalir ke paha. Ku hentikan langkah. Tangan menyesap masuk ke balik dress yang ku kenakan dengan perasaan tak tenang. Masuk menelusup menerobos legging hitam, hingga ke daerah sensitifku.
Deg
Hatiku bergetar hebat, disaat merasakan tanganku basah karena merabah bagian sensitifku itu. Seketika aku lemas mengetahui cairan yang keluar dari kema-luanku itu adalah darah. Pandangan mendadak kabur. Kepala terasa sakit dan pusing tujuh keliling. Sekitar kulihat berputar putar. Ku pegangin kepala yang sakitnya seperti ditokok palu bertubi tubi. Sambil melangkah terhuyung uyung.
"Ya Allah.... Cobaan apalagi ini? kenapa lagi dengan kandunganku? astagfirullah.. La Haula Wala Quwwata Illa Billah. Kuserahkan diri ini dalam segala urusan kepadamu Ya Allah."
Ku tak sanggup lagi untuk melangkah, sialnya orang yang ku kenal tak ada yang melintas. Ku pejamkan kedua mata yang sembab. Karena aku tak tahan lagi dengan sakitnya kepala ini disaat kutatap sekitar. kakiku tak sanggup lagi menopang tubuh ku. Aku lemas tak berdaya dan disaat ku buka mata. Aku melihat awan hitam pekat di depan mata, gelap.
***
Sayup - sayup ku dengar namaku dipanggil.
"Muallimah Alda... Muallimah Alda...!" Suara itu sangat familiar di telingaku. Aku kenal suara itu, aku yakin yang memanggil namaku adalah Pak Armand.
Pak Armand, syukurlah ada pak Armand yang akan ku mintai bantuan, untuk mengantarku ke klinik, tempat ibu berobat. Perlahan ku buka kedua mataku. Sembrani menahan sakit yang amat fi bagian bawahku.
Disaat mata ini terbuka lebar, sakit di perutku semakin terasa. Sakit nya seperti mau melahirkan. Rasanya tulang rontok dari badan.
"Syukurlah pasien sudah sadar." Ujar suster menatapku lekat.
Ku tatap satu persatu orang yang mengelilingiku. Benar ada Pak Armand di hadapanku.
__ADS_1
"Aku, aku di mana?" Aku pun semakin panik, setelah melihat tempat ku berada sekarang adalah di rumah sakit.
"Ibu di ruang IGD." Jelas seorang dokter, yang baru saja menghampiriku.
Tanganku bergerak cepat meraba perutku. "Aku, apakah aku kegu, keguguran Dok?" tanyaku dengan berderai air mata. Aku merasa sangat sedih, karena janin di rahimku tak bertahan. Walau Mas Evan nyatanya tak memilihku. Aku tetap mengharapkan anak ini.
"Iya bu." sahut dokter ramah menatapku.
"Huhuhu.. Tidak...!" ujarku dengan histeris, tak memperdulikan sekeliling lagi.
"Tenang bu, ibu harus tenang. Ibu masih pendarahan." Jelas Dokter lagi. Aku sangat terpukul dengan kenyataan ini. Aku merasa bersalah pada diri sendiri. Aku yakin anakku tak berkembang dan tumbuh dengan baik di rahimku, karena aku yang setres memikirkan masalahku yang pelik dan tiada akhirnya. Selalu saja data h bertambah, tanpa ada yang selesai, yang membuat hati tentram.
"Pak, istri anda akan kita kuret. Bapak silahkan urus segala sesuatu ke bagian adminstrasi sekarang." Ujar Dokter tegas kepada pak Armand. Aku cukup terkejut dengan ucapan sang dokter, yang mengira pak Armand adalah suamiku.
"Baik Dok!" Jawab Pak Armand. Ia kemudian menatapku dengan senyum tulus tapi, terlihat penuh rasa iba. Sebelum pergi ke bagian administrasi untuk- mengurus segala sesuatu yang diperlukan untuk proses kuret.
"Eemmm.. Pak, dijaga istrinya dengan baik ya?! kami keluar dulu, jika ada hal penting, jangan sungkan panggil kami. Kami ada di meja piket dekat tangga." Ujar Suster ramah kepada Pak Armand yang terlihat serius menanggapi suster yang bicara padanya.
Pak Armand koq gak protes, disaat suster mengatakan aku ini istrinya sih?
"Baik sus, terima kasih." Sahut Pak Armand ramah.
"Ma, mama.. Jangan tinggalkan Raisya Ma?!" Setelah suster keluar. Raisya langsung naik ke bed tempatku berbaring, memasrahkan tubuhnya di atas dadaku.
"Sayang, mama gak akan pergi, gak akan ke mana mana.!" ujarku lemah, ya aku merasa tenagaku sudah habis. Di kuret dan melahirkan ternyata sakitnya sama. Apalagi mungkin efek biusnya sudah habis.
"Pokoknya jangan mati, kalau mama mati, aku sama siapa? ayah gak pernah pulang lagi. Kakek juga sudah di surga." Ujarnya dengan menangis histeris.
__ADS_1
"Raisya, mama jangan diganggu dulu. Mama sedang sakit. Huuuuuffttt!" Pak Armand mengangkat Raisya dari atas tubuhku.
Raisya kini berdiri di sisi bed, mengelus perutku yang datar. "Mama penyakit Magh?" tanyanya polos, yang membuat aku mengulum senyum. Ku lirik Pak Armand, beliau juga ternyata sedang manahan senyum
Dasar putriku Raisya centil dan pintar ngomongnya kebangetan. Raisya memang gak tahu, kalau aku sedang hamil tiga bulan. Aku gak pernah cerita tentang itu. Bukan apa apa, aku takut dan sedang malas menjawab banyaknya nanti pertanyaan nya, jika ia tahu aku ini hamil.
"Iya sayang, makanya kalau disuruh mama makan pagi, jangan malas. Terus kamu gak boleh jajan sembarangan. Karena makanan yang tak higienis, bisa buat perut sakit."Jelas pak armand menundukkan sedikit tubuhnya, agar bisa berkomunikasi dengan baik dengan Raisya.
" Oouuww.. Iya deh Bapak om om." Ujar Raisya semangat, kepalanya bahkan bergerak dengan centil saat bicara dengan Pak Armand.
He
He
He
Pak Armand tertawa renyah, ia sudah cocok jadi guru TK saat ini. Sangat sabar menghadapi Raisya. Yang cerewet dan sok pintar.
Tingkah Raisya yang kompak dengan Pak Armand, membuatku terharu. Ternyata ini hikmah dari semua musibah ini. Ada putriku yang selalu diperlakukan baik, oleh seseorang. Walau, aku tak kenal dengan baik orang orang yang akhir akhir ini baik pada Raisya. Ada Akram dan Pak Armand juga, yang memperlakukan Raisya seperti putri sendiri.
"Anak pintar, sekarang kamu tidur di sana." Pak Armand menunjuk ke arah bed kosong. Raisya pun berlari ke arah bed itu.
TBC.
like kasih vote dan hadiah say.
TBC
__ADS_1