KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Ghibah


__ADS_3

Keesokan hari nya.


Pukul 09.30 Wib. Bu Rose menghubungiku. Bu Rose mengatakan teman teman kerja mau datang menjenguk ayah dan juga Mas Evan. Kunjungan sosial memang ada untuk keluarga guru yang sedang mengalami musibah. Tapi, aku menolak tawaran Kunjungan itu. Aku tak siapa dicecar banyak nya pertanyaan tentang Kejadian pertengkaran ayah dan Mas Evan.


"Bu, aku pulang ke rumah dulu. Mau cuci baju kotor. Sekalian mau jual perhiasan." Ujarku pada Ibu. Ibu sedang berbaring di di atas tikar. Aku bisa pergi, karena ayah sedang tidur.


"Iya Nak." Sahut ibu masih dalam keadaan berbaring.


"Mama, aku ikut dengan mama." Ujar Raisya langsung bangkit. Ia tadi mainkan hape kakeknya.


"Iya sayang, boleh." Mungkin Raisya. osan di rumah sakit itu.


"Gak usah ikut, mamamu sibuk. Kita di sini saja temani nenek dan kakek." Ujar Mama membujuk Raisya.


"Gak mau, mau ikut mama." Protes Raisya manja.


"Ya sudah, ayo..!" Aku menarik lembut tangan putri kecilku itu. Raisya senang sekali.


"Kalau ada perlu, ibu minta bantu an suster ya!" Ujarku sebelum meninggalkan ruangan itu pada ibu.


Aku dan Raisya sudah keluar dari lift. Saat hendak mendorong pintu kaca keluar dari gedung itu. Aku dicegat oleh Juli.


"Ini, kamu cuci pakaian Abang Evan." Dia menyodorkan kresek besar warna putih ke hadapan ku. Ku biarkan saja, tak ku pegang keresek, berisi pakaian kotor itu.


"Gak mau kau cucinya? itu baju ada darahnya. Darah Mas Evan yang dilukai ayahmu." Ketusnya lagi. Auto semua mata di ruangan itu tertuju pada kami.


Aku yang tak mau jadi bahan tontonan orang orang, akhirnya mengalah, memungut kresek besar yang sudah teronggok di lantai. Aku herman, koq bisa bisanya Mas Evan suka pada wanita tak bermoral ini.


Setelah ku pungut kresek berisi baju kotor Mas Evan, aku melanjutkan langkahku. Tapi, lagi lagi di hadang si Juli.


"Uang nya paling lama kamu setor padaku, siang ini." Ujarnya sok dengan tangan berkacak pinggang.


"Aku gak mau. Aku gak ada uang!" ketusku, menatap nya tajam.


"Hei, jangan ingkar kamu. Aku bisa jebloskan ayahmu ke penjara!" Ujarnya dengan muka merah padamnya. Karena menahan emosi.


"Silahkan! kita lihat siapa yang akan menang."

__ADS_1


Ku sempatkan menyenggol bahunya dengan kuat. Hingga Juli terhuyung seperti orang mabuk dan akhirnya menabrak dinding kaca gedung itu.


Hahahha


Raisya tertawa, baru kali ini aku melihat anakku itu , sikap nya tak sopan. Menertawai orang yang Kena musibah.


Kami pun ngacir dari tempat itu. Menuju halte yang ada di depan gedung rumah sakit. Ya, kami akan menunggu angkutan umum.


Tin


Tin


Tin


Suara klakson mobil berwarna silver menyita perhatian ku. Aku kenal mobil yang berhenti di depan kami. Itu mobilnya Pak Armand. Benar saja, saat kaca pintu mobil dibuka. Nongollah anak nya Reza.


"Tante, ayok ikut kami. Raisya, ayo masuk!" ujar Reza dengan cerianya, melambaikan tangan agar kami masuk ke mobil yang tergolong mewah itu.


Aku melirik Raisya yang nampak senang sekali.


"Ma, kita naik mobil nya Reza aja ma. Aku belum pernah naik mobil ma." Ujar Raisya menatapku dengan memelas.


Aku pun semakin dibuat terkejut, disaat melihat Pak Armand malah turun dari dalam mobilnya, dan menghampiri kami.


"Ayo naik mobil ku aja muallimah Alda, kan rumah kita searah." Ujar pak Armand dengan senyum mengembangnya.


"Eemmm.. Gak usah Muallim. Kami naik angkutan umum saja." Jawabku sungkan, mana mau aku sembarangan naik mobil orang. Nanti jadi gosip lagi. Secara aku masih istri Mas Evan. Nanti, kalau ada tetangga yang lihat, terus iri, julid, saat aku turun dari mobil mewah itu, Bisa jadi bahan gunjingan baru. Dan akan jadi masalah baru.


"Baiklah." Ujarnya dengan ekspresi sedikit kecewa. Pak Armand pun kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Ma, koq gak mau sih naik mobil ayah nya Reza." Ujar Raisya dengan sedikit kesal.


"Sayang, kita gak boleh repotkan orang. Apalagi ayahnya Reza itu, bos nya Mama." Ujar ku lembut, menatap lekat Raisya, kemudian merapikan rambutnya, yang menutupi sedikit wajah nya.


Raisya hanya cemberut, tak mau bicara lagi. Dan saat itu, angkutan pun berhenti di depan halte. Aku menenteng tiga bungkusan besar. Bungkusan baju kotor semuanya.


Sepanjang perjalanan, aku terus merenung. Sikap apa yang harus ku ambil. Sanggupkah aku bersikap kejam, dengan tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun untuk pengobatan mata Mas Evan yang diangkat itu? rasanya aku tak sanggup melakukan itu. Biar lah aku diam, seolah mau dibodoh bodohi si Juli, dengan memerasku. Yang penting, hatiku tak merasa bersalah lagi. Kalau ayah sudah sembuh, aku akan menggugat cerai Mas Evan. Biarlah ia bahagia dengan Si Juli.

__ADS_1


"Ma, kita sudah sampai " Anak ku memang pintar. Ia bahkan sudah meminta sang supir, agar berhenti di depan gang mau masuk ke rumah.


"Astaga, sayangku Syukur kamu ingat alamat rumah kita nak." Ujarku bergegas turun dari angkutan itu, kemudian membayar ongkos.


"Mama melamun terus!" ujar Raisya, kini kami sedang menapaki gang menuju rumah.


Aku hanya tersenyum kecil, menanggapi ocehan Raisya.


"Ma, tante juli itu, istri ayah juga ya?" tanya Raisya, saat kami sudah sampai di teras rumah.


Aku sangat terkejut mendengar pertanyaan polosnya Raisya. Senyum tipis yang sejak tadi menyungging. Kini berangsur susut. Apa Raisya sudah mengerti masalahku dan Mas Evan?


Ku abikan pertanyaan Raisya, ku percepat membuka pintu. Dan langsung menuju kamar mandi. Ku letakkan tiga kresek besar berisi baju kotor itu. Kemudian ku menyimpan tasku di atas meja yang ada di ruang tamu. Aku kembali masuk ke kamar mandi. Mulai mencuci pakaian. Sedangkan Raisya asyik menonton.


Diperlukan waktu 90 menit, untuk selesai mencuci pakaian ayah dan Mas Evan yang berlumur darah. Dan agar cepat kering. Ku keringkan di mesin cuci. Setelah sholat dzuhur dan makan siang. Aku dan Raisya pergi ke toko mas, dengan naik motorku. Aku akhirnya menjual gelang emasku seberat 12,5 gram.


Di toko Mas, tak sedikit orang yang mengenalku, mencecar ku dengan beruntun pertanyaan. Kepalaku dibuat pusing menanggapi pertanyaan ke kepo an para warga.


"Ya Allah Dila, koq kami baru tahu, kalau si Evan punya istri lain selain kamu? apa kamu baru tahun juga?" tanya ibu Janet, si ibu kepo dan suka ghibah. "Hebat betul kamu simpan rapat rapat masalah itu. Apa kamu emang ikhlas di poligami, hingga kamu menutupi dan membiarkan suamimu selingkuh?"


Ibu Janet, memang selalu begitu. Bicara dan suka menyindir seenaknya. Dipikirnya aku tak sakit hati dengan pertanyaan itu.


"Iya bu. Aku juga baru tahu." Jawabku dengan tak semangat. Kalau ibu Janet, orang nya peka. Harus nya ia mengerti dengan mimik wajahku yang tak mau membahas masalah itu di khalayak ramai.


"Astaga... Pandai benar si Evan mengelabui ibu guru. Hahhaha..." ujar Bu Janet tertawa, tanpa merasa bersalah, atas sikap tak baiknya.


"Iya bu, aku pamit duluan ya bu!" ujarku melempar senyum tipis pada penjaga toko emas, dan ibu Janet. Aku pun bergegas cepat dari tempat itu. Tapi, sebelum melangkah jauh, masih ku dengar Ibu Janet mengataiku.


"Sudah miskin dia, sampai jual gelangnya segala. Hadeuhh.. Amit amit deh punya suami selingkuh."


Aku mengelus dada berulang kali, saat mendengar coletehan Ibu Janet. Ku naiki motor ku, dengan Raisya duduk di boncengan.


"Ibu jual perhiasan juga kan? berarti bangkrut juga dong." Ujar penjaga toko berjenis kelamin wanita yang masih muda itu kepada Ibu Janet.


"Eeehhh.. itu ,itu..!" ucap ibu janet tergagap.. Aku pun memacu motor ku, meninggalkan toko emas itu. Dengan menggeleng kepala. Bisanya menilai orang lain tanpa ngaca diri.


Sesampainya di rumah. Aku kembali berkemas. Karena sore ini aku harus kembali ke rumah sakit. Aku bawa persediaan baju dua hari. Karena besok, kata dokter ayah sudah bisa di operasi. Jadi, besok, aku tak perlu mondar mandir ke rumah, jemput baju untuk kami.

__ADS_1


TBC


__ADS_2