KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH

KUBIARKAN SUAMIKU SELINGKUH
Kapan menikah


__ADS_3

Setelah dioperasi aku kembali dibawa ke ruang rawat. Rasa sakit, masih terasa. Tapi, tidak sesakit sebelum dioperasi. Saat sampai di ruang rawat, aku dikejutkan dengan kehadiran mantan rekan kerjaku. Rasanya sangat memalukan sekali, saat mereka memperhatikan diriku yang dipindah dari brankar ke bed, dalam kondisi memprihatinkan ini. Karena mereka menatapku penuh iba.


"Pak Bu, pasien baru saja dioperasi. Pasien perlu istirahat banyak. Sebaiknya bapak dan ibu tidak berlama lama di ruangan ini." Ujar suster ramah pada guru guru yang datang menjengukku.


"Iya sus." Jawab Bu Rose ramah, yang diikuti oleh guru guru lainnya.


"Bu Alda, kalau ada perlu bantuan cepat kasih tahu ya?" Suster bicara sambil memeriksa infus dan sesekali melirikku.


"Iya sus."


Kedua suster itu pun meninggalkan ruangan.


"Ya Allah Alda..!" Ujar Bu Silvia, ia berdiri dan menghampiriku, memperhatikan lenganku yang di gips dengan ibanya. "Cepat sembuh ya, harus semangat!"


"Iya bu, makasih." Sahutku lemah.


Karena suster sudah memberi peringatan, jangan lama lama membesuk. Akhirnya para guru hanya 5 menit berada di ruangan ini. Satu persatu pamit, dengan menyelipkan amplop di sisi bed tempatku berbaring. Dan hanya bu rose yang bicara banyak, yang lainnya hanya menatapku dengan muka kasihannya.


Mungkin mereka kasihan padaku, karena hidupku yang selalu dapat musibah berat. Suami selingkuh, ayah dan sang suami bertengkar, hingga membuat mata mas Evan hancur. Dan sekarang aku mengalami kecelakaan yang parah.


Setelah kepulangan teman teman kerjaku saat mengajar dulu. Tamu semakin ramai saja datang menjenguk, mulai dari saudara ayah, ibu dan tetangga. Aku terharu, ternyata masih banyak orang yang sayang dan peduli padaku. Hingga suster selalu datang ke ruangan, memperingatkan , karena pasien harus istirahat.


Sore harinya sekitar pukul lima sore, setelah aku istirahat selama tiga jam. Aku terbangun dan menemukan keberadaan putriku Raisya. Sudah dua hari kami tak berjumpa. Rasnya bahagia sekali, bisa melihat putriku. Penyemangat hidupku.


"Ke sini datangnya sama siapa sayang?" tanyaku menatap lekat Raisya lembut.


"Sama Oom ma." Sahutnya dengan terisak. Perasaan sedih dan khawatir menyelimuti hatinya saat ini. Ia sangat terpukul mendapat kabar, ibunya mengalami kecelakaan dan dua hari ini ia dilarang datang ke rumah sakit. Padahal ia sangat ingin bersama ibunya itu.


"Jangan nangis ya sayang, ibu jadi sedih ni!" ingin rasanya memeluk putriku yang tubuhnya bergetar hebat karena menangis, tapi apa daya. Tangan ku tak bisa ku gerakkan. Walau sudah dioperasi masih sakit.


"Iya bu." Raisya melap sendiri air matanya.


"Oom, siapa itu bu?" tanyaku dengan bingungnya, menatap ke arah ibu, yang duduk di sofa. Aku penasaran dengan orang yang dikatakan Raisya sebagai om nya.


"Nak Akram." Sahut ibu cepat, aku pun menyoroti seluruh ruangan. Aku tak melihat keberadaan pria itu.


"Raisya sungguh terluka melihat Mama lemas tak berdaya seperti ini. Raisya sangat menyayangimu, Ma. Aku mohon ke Mama segera lah sembuh dan kembali sehat sehingga bisa pulang ke rumah. Aku akan selalu menjagamu dengan sekuat tenaga Ma...!"


Aku sungguh terkejut dengan ucapan Raisya yang sangat dewasa itu. Tak bisa ku bendunhagi, air mata yang dari tadi memang mendesak untuk keluar. Aku merasa sangat sedih, melihat putriku yang menangis di hadapanku. Juga aku menyesali kebodohan ku, yang tak cepat cepat melepaskan Mas Evan. Harusnya tahu ia berkhianat, aku langsung minta pisah.


"Iya sayang, mama pasti sembuh. Kita akan hidup bahagia sayang." Ujarku dengan berlinang air mata. Raisya memasrahkan kepalanya di perutku. Aku tahu, ia kangen untuk ku peluk.


"Sudah sayang, jangan ganggu mama dulu." Ibu menjauhkan Raisya dariku. Raisya yang mengerti nurut saja apa kata ibu.


***


Malam ini Raisya tak mau pulang ke rumah. Ia ingin tidur di rumah sakit. Anak itu terlihat akrab dengan pria yang ku tabrak yaitu Akram. Mereka bersenda gurau, menggambar juga pria itu mengajari raisya Calistung. Aku sangat terharu melihat kekompakan mereka.Ya, Raisya memang anak yang ramah, cepat akrab dengan orang dewasa, baik perempuan maupun laki laki.

__ADS_1


#Assalamualaikum...!"


Ku kenal suara yang mengucap salam itu. Itu suaranya Pak Armand.


"Walaikum salam.." Sahutku dan seluruh orang di ruangan itu.


Bergegas ibu membuka pintu. "Oouuww.. Nak Armand, ayo masuk!" ujar ibu dengan ramah. Jelas ibu menyambut Pak Armand dengan ramah. Pak Armand memang orang nya baik. Apalagi beliau pernah memberikan uang pada kami 10 juta. Uang untuk membantu operasi mata Mas Evan.


"Iya bu, terima kasih." Jawab Pak Armand sopan, melirikku dengan senyum tipis. Aku pun membalas senyum tipisnya itu.


Ia menghampiriku masih dengan ekspresi ramahnya. "Cepat sembuh ya Muallimah Alda. Maaf baru bis jenguk." Ujarnya memperhatikan lenganku yang dibalut gips.


"Iya muallimah, makasih doanya." Jawabku sopan.


Pak Armand menyodorkan kresek yang ia tenteng kepada ibu, itu adalah buah tangannya. Ia pun akhir duduk di sofa, setelah dipersilahkan ibu. Ku masih memperhatikan gerak gerik pak Armand yang kini tatapannya tertuju pada Raisya dan Akram.


"Sudah bagaimana kasusnya bu? apa yang menabraknya sudah diproses hukum?' tanya Pak Armand, dari ekspresi wajahnya jelas ia sedang cari topik pembicaraan.


Kulirik Akram yang kini menatap ke arah Pak Armand dengan tercengangnya.


" Gak diproses hukum Nak. Kami memilih berdamai saja. Toh, di sini Alda yang salah." Jelas ibu dengan sedih. Ibu pun mendekati napas, menyimpan buah tangan Pak Armand di dalamnya.


"Eemmm.. Salah?" tanya Pak Armand dengan bingungnya. Ia menatapku sekilas, kemudian menatap lagi ke arah ibu.


"Iya nak, Alda yang menabrak. Tapia ia yang luka parah. Ia banyak in melamun." Jelas Ibu, kini berjalan ke arah Pak Armand yang duduk di sofa.


"Ini nih lawannya laga banteng." Ujar ibu tersenyum kecut, menunjuk Akram yang duduk di atas tikar bersama Raisya. Mereka sedang menggambar di buku gambarnya Raisya.


Kedua bola mataku, masih mengikuti pergerakan mata pak Armand yang menatap lekat Akram. Dan Akram, dengan cepat memutus kontak matanya dari Pak Armand, seperti tak ingin beramah tamah dengan Pak Armand.


"Lain kali harus hati hati ya mas, lihat orang mau nabrak, harusnya menghindar, jangan making ditantang." Ujar Pak Armand dengan nada datarnya.


Hening


"Kamu dengar gak? hei pria yang menabrak Alda." Ujarnya tegas.


Akram mengangkat wajahnya dan menatap Pak Armand. "Bicara denganku?" tanyanya dengan ekspresi cuek, menunjuk diri sendiri.


"Ya mas, gak mungkin juga aku bicara dengan Raisya." Sahut Pak Armand dengan muka betenya.


"Iya pak guru, lain kali aku akan lebih hati hati." Jawab Akram dengan nada meledek.


Ku perhatikan ekspresi wajah Akram yang tak suka pada Pak Armand.


"Eemm....!" Pak Armand bangkit dari duduknya. "Aku pamit dulu ya Alda." Pak Armand berjalan ke arahku. "Aku belum terima surat pengunduran dirimu. Nanti setelah kamu sembuh. Kamu boleh kerja lagi."


Deg

__ADS_1


Aku cukup terkejut dengan ucapan Pak Armand. Koq ia gak mau aku berhenti mengajar.


"Oouu.. Iya pak." Jawabku sopan, Aku sedang tak mau berdebat soal aku yang mau berhenti kerja. Karena aku tak mau memikirkan itu sekarang. Tanganku yang baru di operasi masih terasa sakit.


"Ya ampun Pak Armand, terima kasih sekali. Bapak sangat bijak." Ibu terlihat sangat senang, ia bahkan meraih tangan Pak Armand, karena senang nya. Memang ibu tak ingin aku berhenti kerja.


"Iya bu, sama sama." Pak Armand merangkum tangan ibu dan menepuknya lembut, seperti perlakuan seorang anak yang sangat berbakti pada ibunya.


Kulirik Akram yang mengerucutkan bibir. Sepertinya ia tak suka dengan Pak Armand.


"Om besok aku gak masuk sekolah, tolong kasih tahu ummi kami ya om!" Ujar Raisya menghampiri Pak Armand yang kini berjalan ke arah pintu.


"Oouuww.. Iya nak!" Pak Armand, mengusap lembut puncak kepalanya Raisya.


"Mama gak punya hape lagi, hapenya rusak. Jadi, gak bisa kasih kabar ke ummi Ida. Ayahku pun paman sudah hilang. Kata orang orang ayahku direbut pelakor.."


"Raisya... " Ujarku lantang, tanpa sadar. Koq bisa bisanya anak kecil itu curhat pada Pak Armand. Hadeuhh... Ini sangat memalukan.


"Maaf ya. aku Armand." Ibu menarik Raisya menjauh dari Armand. Aku hanya bisa menarik napas panjang atas ulah anakku itu.


"Iihh nenek, sakit!" Raisya menghempaskan tangan Ibu yabg memegang erat lengannya.


"Gak apa apa bu." Ujar Pak Armand lembut, berjongkok agar sejajar dengan Raisya yang masih dipegangi oleh ibu. "Besok om kasih tahu umy ida." Kini Pak Armand menjawir gemes dagunya Raisya. "Anak pintar!" ujarnya lagi, kemudian berdiri.


"Om sudah mau pulang ya?" langkahnya Pak Armand terhenti. Ia pun membalik badan, menghadap Raisya.


"Iya sayang, ini sudah malam." Sahutnya lembut menatap Raisya penuh kasih sayang.


"Aku dan Reza sudah saudara an. Reza, abang an dan aku ini katanya adiknya. Terus kata abang Reza, om juga bisa jadi ayahku."


Aku termangu melihat putriku yang kini bicara dengan mata berkaca kaca itu. Aku yakin, ia sudah sangat merindukan figur seorang ayah. Tiga bulan Mas Evan mengabaikan kami, sejak ia terbongkar selingkuh.


Tak hanya aku yang terkejut. Pak Armand dan ibu juga tak kalah tercengangnya. Pak Armand menatapku dan ibu secara bergantian. Ia terlihat sedikit bingung, untuk menanggapi ucapan Raisya. Dan akhirnya tatapan nya berakhir ke putri kecilku itu.


"Iya sayang, Raisya boleh memanggil om ini, bapak!" Ujarnya mencubit gemesh pipinya Raisya. Kemudian Pak Armand melirikku sekilas. Aku dibuat jadi salah tingkah dengan tatapannya yang misterius itu.


"Bapak.. Gendong?!"


Astaga.. Raisya malah merentangkan kedua tangannya. Berharap disambut Pak Armand untuk digendong.


"Baiklah...!" Pak Armand menyambut tangan Raisya. Mengangkat gadis kecilku itu, menggendongnya dengan bahagianya. Pak Armand dan Raisya tertawa lepas, disaat pak armand berputar saat menggendong Raisya.


"Kalau begitu, kapan bapak menikah dengan Mama?"


Deg


Seketika tubuh pak Armand membeku dengan pertanyaan Raisya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2