
"Ini saudaramu Dek Alda?" tanya Bu Suci memperhatikan lekat Akram yabg berdiri di sebelahnya.
"Saudara sesama ummat muslim Bu." Jawabku datar, melirik Akram yang tersenyum tipis pada Bu Suci.
"Oohh..!" Ekspresi bu Suci terlihat terkejut. Tapi, ia tutupi dengan senyum tipis.
"Assalamualaikum....!"
Teman temanku mengajar dulu pada berdatangan untuk menjengukku. Ada delapan orang yang datang. Akram pun permisi keluar. Mungkin ia tak nyaman di tempat itu, karena tatapan mata guru guru selalu tertuju padanya.
Tak dipungkiri, Akram punya paras yang rupawan. Setiap melihatnya, maka mata tak ingin berpaling. Wajah tampannya seperti magnet saja.
Kehadiran teman kerja dan Bu Suci, sangat mempengaruhi mood ku. Aku jadi semangat untuk jalani hidup. Apalagi teman teman kerja yang sudah lebih tua dariku, jelas punya pengalaman hidup yang lebih banyak dariku.
Bu Suci juga katanya akan membantuku, mengurus perceraian dari Mas Evan. Lagi-lagi sebelum pulang, mereka memberiku bantuan berupa uang. Enggan rasanya untuk menerima nya. Tapi, mereka memaksa.
__ADS_1
Sikap baik teman teman kerja membuatku terharu. Mataku berkabut sudah, karena perasaan yang melankolis ini. Semoga, setelah bercerai dengan Mas Evan. Tak ada lagi masalah yang datang. Semoga ibu sehat, aku masih punya cita cita membahagiakan ibu. Yaitu memberangkatkan ibu naik haji.
Sore harinya
Aku ingin pulang dan dirawat di rumah saja. Tapi, Akram bersikukuh agar aku dirawat di rumah sakit. Aku ngotot ingin pulang, walau sebenarnya Pak Armand sudah membayar biaya rawat inap untuk dua hari. Aku merasa tak perlu dirawat inap di rumah sakit ini. Karena aku mengkhawatirkan keadaan ibu yang juga sakit di rumah. Menurutku akan lebih baik aku dirawat di rumah.
Akram hanya setuju aku pulang. Uang yang sudah dibayarkan Pak Armand ternyata dikembalikan lagi. Entah kenapa pihak rumah sakit koq baik banget padaku. Uang itu nantinya akan ku kembalikan pada Pak Armand.
"Gak usah digendong. Aku masih bisa jalan." Ujarku lemah, menolak tawaran Akram untuk menggendongku, keluar dari mobil dan masuk je dalam rumah. Ya Akram bergerak cepat, aku ngotot ingin pulang. Ia pun akhirnya meminjam mobil tetangga, yang juga sebenarnya masih saudara kami dari pihak ayah.
"Emang sudah bisa jalan?" tanyanya menatapku lekat.
"Ya sudah, aku papah kamu." Ujarnya lembut, memapahku ke dalam rumah. Kalau tak ku anggap Akram sebagai adik sendiri. Mungkin aku tak akan mau dipapah olehnya.
Hingga saat ini, aku tak tahu identitas jelasnya Akram. Apa benar dia masih lajang atau tidak. Pernah ibu menanyakannya, meminta melihat identitasnya. Ia menolak untuk memberitahu siapa dirinya, Ibu pun tak mau tahu lagi. Yang penting, sikap Akram selama ini masih baik fan tak ada tanda tanda keanehan.
__ADS_1
Ibu ternyata mengalami penyakit darah tinggi. Jadi ibu tak boleh terlalu capek. Aku akhirnya mencari orang yang akan beberes beres di rumah, sekaligus menjaga ibu. Setidaknya aku perlu tenanga orang lain dalam jangka satu bulan ini. Karena kata dokter. Aku bisa beraktivitas seperti biasanya, setelah dua bulan pasca operasi.
***
Seminggu kemudian
Akram akhirnya mulai membuka usaha warung makan kami. Padahal harusnya usaha itu dibuka seminggu yang lalu. Tapi, karena aku dan ibu sakit, terpaksa usaha buka warung makan di pending dulu.
Aku juga sudah mulai merasa sehat. Tangan juga sudah bisa digunakan. Tapi, gak boleh melakukan kerja berat. Kaki juga sudah tak terasa sakit sabar berjalan. Karena aku tak bisa kerja berat. Jadi lah aku kerjaannya bagian kasir.
Aku sangat bahagia hari ini, walau pertama kali buka. Dagangan kami habis tepat pukul dua siang. Bahkan ada pembeli terpaksa pulang dengan tangan kosong. Karena semuanya sudah habis terjual. Padahal kami sempat Deg Deg dan, takut dagangan gak laku. Jadinya kami gak memasak banyak.
Padahal kami tak menurunkan harga pasaran. Kami mematok harga nasi bungkus 15 ribu per porsi sudah lengkap dengan lauk pauknya. Harga itu kami ambil, karena masih ada warung makan yang jual segitu, bahkan ada yang harga 10 ribu, 12 ribu dan 18 ribu per porsi.
"Alhamdullilah Ya Allah...!" Ujarku dengan mata yang berkabut, tak menyangka di hari pertama buka, ludes Semua. Hari ini kami target kan jual nasi 100 porsi, dengan empat jenis lauk. Yaitu ayam goreng, ikan gulai, rendang daging dan ikan panggang. Ikan panggang ada dua macam, panggang paccak dan panggang biasa dengan sambal mata. Keuntungan yang kami dapat dari modal bahan yang dimasak hari ini 700 ribu. Kalau laris seperti ini, modal yang keluar diawal bisa cepat balik.
__ADS_1
Yaitu, Set etalase komplit sebesar Rp. 2.000.000. Dapat murah, karena pesan sama saudara. Set perlengkapan dan peralatan memasak, tak beli. Aku pakai punya ibu. Karena ibu punya dandang dan kuali yang besar. Perlengkapan makan lengkap sebanyak dua lusin yaitu Rp.1.000.000. Gak mungkin juga aku angkut piring, gelas, sendok milik ibu Semua ke warung makan ku. Biaya sewa tempat selama setahun pertama yaitu Rp.4.000.000. kurang lebih Keseluruhan biaya modal di awal yakni 7.000.000. Uang itu adalah uang dari perhiasanku yang ku jual.
Tbc