
Keputusan sudah bulat. Aku benar benar berhenti kerja. Aku memacu motorku, menuju sekolahnya Raisya. Dan di sana aku kembali bertemu dengan Pak Armand. Dia juga sedang menjemput anak nya.
Saat aku turun dari motorku, dia langsung menyamperinku.
"Muallimah Alda, bagaimana kabarnya Bapak?" tanya nya tersenyum tipis.
Aku membalas senyum tipis itu. "Sudah sedikit baikan Muallim, tapi belum bisa beraktifitas berat." Sahutku ramah, melirik Pak Armand, yang seminggu terakhir ini, suka mengajak ku bicara.
"Oouuu... Syukur lah." Ia masih dengan mode wajah ramahnya.
"Ibu Suci, kabarnya gimana Muallim?" tanyaku, Entah lah kadang aku manggil Bapak, kadang Muallim. Belum terbiasa dengan sebutan Mualim. Karena sebelumnya, sapaan untuk guru pria di sekolah adalah Bapak guru dan untuk wanita, ibu guru. Tapi sejak, Muallim Armand jadi kepala Madrasah. Ia pun mengubahnya. Dari pak guru, jadi Muallim. Dan ibu guru, Muallimah.
"Istri ku setelah dioperasi makin sehat. Aku tak menyangka, semangat nya untuk hidup besar sekali." Ujarnya penuh rasa Syukur.
"Syukur alhamdulillah ya Muallim. Titip salam pada Ibu Suci." Ujarku ramah, sesekali tagapanku tertuju ke gedung sekolah yang menerima PAUD dan TK itu.
"Iya muallimah Alda." Sahutnya lembut, melirik ku yang membuatku heran dengan Tatapan nya.
"Mama.."
Ku lambaikan tanganku pada Raisya yang keluar terlebih dahulu. Mungkin ia bisa menjawab pertanyaan guru nya, makanya ia yang pertama kali keluar dari kelas.
"Hai Raisya, apa Reza sudah beri kamu kartu undangan ulang tahun nya?" tanya Pak Armand ramah pada Raisya. Bahkan Pak Armand, menundukkan sedikit tubuhnya, agar sejajar dengan Raisya.
"Eemmm... Sudah Om." Jawab Raisya ramah, ia pun merogoh tasnya. "Ini!" menunjukkan kartun undangan ulang tahun itu.
"Ok, jangan lupa datang ya?!" Pak Armand, mencubit gemes pipi tembemnya Raisya. Aku cukup terkejut dengan sikap hangat dan penyayang yang ditunjukkan pak Armand pada putriku yang sudah kehilangan sosok sang ayah.
"Pasti Om." Jawab Raisya ceriah, kemudian menghampiriku.
__ADS_1
"Kita pulang ya sayang." ujarku, Raisya mengangguk. Ia pun naik diboncengan.
"Duluan ya pak!"
"Oohh Ok!" Sahut Pak Armand.
Aku pun melajukan motorku dengan kecepatan sedang menuju rumah, dan setelah itu aku akan belanja.
Perlengkapan untuk membuka warung makan sebagian sudah aku beli. Kalau peralatan masak aku pakai punya ibu. Karena ibu punya lengkap peralatan memasak. Sore ini, aku akan membersihkan tempat yang akan ku jadikan warung makan itu. Tempat itu baru seminggu kosong. Aku akan memperindah ruko itu dengan mengganti cat nya yang mendoninasi warna ungu dan pink. Mungkin membutuhkan waktu satu minggu, agar aku bisa berjualan di tempat itu. sembari menunggu launching warung makan. Aku tetap berjualan online.
***
Seminggu telah berlalu
Hari ini aku harus datang ke sekolah, karena aku akan menerima uang sosial untuk ayah dan mas Evan yang kemarin dirawat di rumah sakit. Sekalian uang tali kasih, karena aku berhenti mengajar. Tak lupa, aku bawakan pesanan guru guru.
Uang yang ku terima lumayan banyak. Ada sekitaran 3 juta. Aku pun berniat untuk menjenguk Mas Evan. Karena memang uang itu sebagian ku terima, karena mas Evan yang mengalami musibah.
Saat sampai di rumah Mas Evan, aku tak menemukan keberadaan Juli di tempat itu. Hanya ada ibunya Juli.
"Mas, ini ada sedikit uang bantu pengobatan untuk matanya Mas." Ujarku menyodorkan amplop coklat di hadapan Mas Evan, meletakkannya di atas meja.
Mas Evan menatapku sendu. Mata sebelah kanannya masih di perban.
"Apa kamu benar benar akan menggugat cerai aku?"
Aku sungguh terkejut mendengar pertanyaan Mas Evan. Kenapa dia malah bertanya? bukannya ia ingin kami pisah. Ku balas tatapan sendu mas Evan. Bagaimana pun, di dalam relung hati masih ada cinta untuk pria yang terlihat sedih itu.
"Iya Mas. Aku perlu cepat ganti kartu keluarga. Nanti perlu di saat Raisya mau masuk jenjang pendidikan SD." Jawabku tegas, aku tetap menatap matanya. Aku tak boleh kelihatan lemah.
__ADS_1
"Apa kamu mau bercerai, karena aku sudah cacat?" tanya nya masih dengan ekspresi wajah sedih.
Ku telisik dalam ekspresi wajah mas Evan. Apa ia tidak ingin kami pisah?
"Gak mas, bukannya mas yang inginkan ini semua. Mas lebih memilih si Juli." Jawabku masih dengan ekspresi wajah tenang.
"Bukannya waktu itu kamu mau di poligami?" tanyanya lagi.
Pertanyaan macam apa itu? bilang poligami, tapi ia sendiri gak tahu apa itu poligami.
"Eemmm.... Aku mau di poligami. Asal Mas bisa adil. Nyatanya Mas tak adil. Mas tak menafkahiku dan Raisya, terus Mas juga jarang pulang. Kata mas waktu itu, akan berbagi waktu dengan adil." Ucapku masih dengan ekspresi datar. Tapi, sebenarnya hatiku sangat sakit membahas ini lagi. Mas Evan seperti tak ingin kami bercerai.
"Jangan daftarkan gugatan cerai. Aku tak akan menceraikanmu. Apalagi kini kondisiku seperti ini. Kamu pikir pengadilan agama akan kabulkan permintaanmu? kamu gugat cerai aku, karena aku cacat." Ujarnya dengan nada kesal.
Huufftt..
Ku tarik napas panjang. Sesak sekali rasanya dada ini. Mas Evan benar benar gak punya harga diri.
"Aku ke sini, bukan mau bahas ini mas. Aku ke sini, hanya mau silaturahmi saja. Semoga mas lekas sembuh. Dan bisa kerja lagi." Ujarku tegas, ku lirik ibunya Juli yang dari tadi menguping pembicaraan kami di ambang pintu ruang tengah.
Mas Evan menatapku dengan kesal. Aku sudah bangkit dari dudukku. "Kalau mas Evan kangen Raisya, mas boleh datang ke rumah. Aku tak melarang."
"Ya memang tak ada hakmu melarangnya. Raisya putriku." Sahutnya menatapku tajam. Entahlah, aku tak mengerti dengan sikap mas Evan. Yang gengsinya gak jelas itu. Egois, selingkuh dan gak mau cerai, itu namanya menang sendiri.
"Ya sudah, aku pamit mas." Ku melangkah tiga langkah. Ku menoleh ke arah ruang tengah. "Bu, aku pamit." Ujarku pada ibunya Juli. Tak ada sahutan, wanita tua itu malah membuang muka dan masuk ke dapur.
"Alda, aku belum menceraikanmu. Ku mohon, jangan buat laporan gugatan cerai ke pengadilan agama." Ujar Mas Evan lirih, wajahnya memelas.
TBC
__ADS_1