
Tak ada ku dengar suara lagi. Dan bisa ku pastikan, pria itu sudah kembali ke tempatnya semula. Mungkin karena ia melihatku kembali menutup mata. Ia pun mengira aku mengigau dan kembali tertidir. Aku heran, koq ia betah di sini. Kenapa ia gak pulang saja ke rumah nya? ooh...Iya, dia kan ke kota ini mau merantau. Apa ia belum dapat tempat tinggal, sehingga ia menginap di ruangan ini juga. Aahh... Ngapain kupikirkan, ini saja keadaanku sudah sangat memprihatinkan. Akhirnya ku putuskan untuk tidur lagi.
Pukul 04.30 sbubuh, aku terbangun. Ku soroti seluruh ruangan. Dan aku menemukan ibu masih tidur di atas sofa. Sedangkan pria itu tak ku lihat keberadaannya. Tapi, suara gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi. Mungkin pria itu sedang mandi.
Huufftt
Ku tarik napas panjang, aku merasa sekujur tubuhku semakin sakit saja. Kali ini sakitnya 10 kali lipat dari semalam. Tapi, mau gimana lagi, aku harus menahankannya. Ditambah kerongkonganku terasa sangat kering. Aku haus, sangat haus.
Ku dengar pintu kamar mandi dibuka. Aku yang sudah terbangun, tetap membuka mataku.
"Kamu sudah bangun?" mau minum?" tanyanya dengan ramah. Ia pun menghampiriku, dengan keadaan tubuh yang terlihat segar. Handuk kecil kini tersampir di bahu. Dari semalam, pertanyaan dia, selalu menanyakan, aku mau minum atau tidak.
"Iya. Jawabku tersenyum tipis menatapnya.
Pria itu pun mengambil botol minum yang sudah ada sedotannya. Ia menyodorkan botol minum itu, dan mendekatkan sedotan ke mulutku. Aku pun menyedot air mineral itu.
" Ada lagi yang kamu inginkan? kamu lapar?" tanya nya lagi setelah menyimpan botol minum.
Aku menggeleng lemah.
"Baiklah, aku ke mushollah dulu, kalau kamu ingin sesuatu, biar ku panggilkan suster."
"Gak, saat ini gak ada pak." Jawabku datar.
Hehehehe.
Aku menatapnya heran, kenapa ia malah tertawa.
"Emang aku sudah tua? masak dipanggil bapak?" ujarnya masih tertawa kecil.
"Maaf ya, dek, bang..!" ujarku bingung, memanggilnya Akram.
"Panggil aja Akram." Sahutnya, ia pun berbalik badan, keluar dari kamar ini.
***
__ADS_1
Jam 9 pagi, adalah jadwal aku dioperasi. Sedangkan sekarang masih pukul 07.20 Wib. Perawat hari ini cukup memanjakan ku. Mereka melap semua badanku yang terasa lengket. Dan juga mengganti pakaianku. Aku tinggal menunggu perawat datang lagi, menjemput ku untuk dibawa ke ruang operasi.
"Eemmm... Kamu gak keberatan kan Nak, jika nak Akram tinggal di rumah kita?" Tanya ibu dengan seriusnya. Kini ibu sedang duduk di kursi dekat bed ku berbaring.
"Apa bu? tinggal di rumah kita?" tanyaku dengan tak percayanya. Koq ibu sepercaya itu pada orang asing.
"Iya, semalam kami berbincang bincang. Ia sudah kehabisan uang. Uang yang dibawanya dari kampungnya,sudah dibayarkan untuk biaya operasi mu. Jadi, ia tak punya uang lagi untuk sewa kontrakan." Aku mendengar dengan seksama ibu yang cerita dengan serius itu.
"Maksud ibu, untuk sementara. Ia tinggal di ruko yang mau kita buat warung makan. Kamu setuju kan Nak?" tanya ibu menatapku lekat.
Sejenak aku berfikir. Pria itu sudah memberikan uangnya untuk pengobatan ku, betapa jahatnya saya jika tak setuju dengan usul ibu.
"Ya, terserah ibu. Kalau ibu percaya, aku ikut saja." Sahutku dengan tak yakin.
"Iya, rencananya ibu dan dia yang akan buka warung makan dulu, sebelum kamu sembuh. Dan dia mau. Karena kata dia, dia memang nau cari kerja." Jelas ibu lagi.
"Ooww... Apa iya mau?' tanyaku dengan tak percayanya.
" Iya nak. Tapi, ia tak bisa masak, jadinya nanti ia bantu bantu semuanya lah, apa yang bisa ia kerjakan. "
Ceklek
Terdengar suara seorang wanita, menyapa kami yang serius mengobrol. Tenyata Dokter dan dua perawat datang visit. Cepat juga dokternya visit. Baru juga jam 07.45 wib.
"Bagaimana kabarnya bu?" tanya Dokter pria yang menurutku masih muda.
"Kabarku dalam tidak baik baik saja dok!"
Hahaha
Dokter itu tertawa dengan lepas. Mata sipit nya semakin hilang saja, ditutupi otot pipinya. Ya dokter yang menangani ku, sepertinya keturunan chines.
"Ibu ini bisa saja." Ujarnya memeriksa tanganku yang bengkak. Sedangkan satu suster lagi memeriksa tekanan darahku. "Keadaan ibu cukup stabil. Kita bisa lakukan operasi satu jam lagi. Semoga berjalan lancar, walau ibu dalam keadaan hamil." Jelas Dokter yang bernama Roby itu serius.
"Iya dok." Sahutku lemah.
__ADS_1
"Baiklah, tenangkan pikiran dan banyak berdoa." Ujarnya lagi tersenyum ramah.
"Iya dok, pasti." Sahutku.
Mereka semua pun akhirnya meninggalkan ruangan itu.
Satu jam kemudian
Aku sudah berada di ruang operasi. Hawa dingin sangat terasa menerpa tubuhku karena AC.
Operasi. Aku jelas tegang saat ini. Karena mendengar kata operasi,seperti punya reputasi horor bagi sebagian orang termasuk aku, tak hanya jarum suntik, tindakan operasi juga melibatkan beberapa peralatan medis yang jauh menyeramkan seperti pisau bedah, gunting, pinset, silet, lampu operasi.
"Eemmm.. Sakit mana bu? jatuh dari motor, atau jatuh cinta dan ditinggalkan lagi sayang sayangnya?" ujar dokter tersenyum tipis, bisa bisanya dokter itu mengajakku bercanda.
"Lebih sakit jatuh cinta dok." Sahutku tersenyum kecut.
Para Dokter dan perawat pun dibuat tertawa dengan jawabanku.
"Hehhee... Iya ya bu?" Jawab Dokter itu ramah.
Aku pun akhirnya dibius oleh Dokter anestesi. Aku tak dibius umum, tapi hanya dibius lokal. Karena aku lagi hamil. Seumpama aku tadinya gak hamil, maka aku itu dibius umum.
Karena aku hanya dibius lokal. Maka segala tindakan dokter, bisa ku amati lewat monitor. Mulai dari dokter yang membuat sayatan di atas lokasi patah tulang. Dokter hanya dapat membuat sayatan hanya di ujung tulang panjang bila nantinya akan dilakukan pemasangan batang logam di bagian dalam tulang untuk menstabilkan tulang.
Setelah memasang pen, dokter mengembalikan
Posisi tulang yang patah seperti semula, lalu dokter bedah akan memasang plat, sekrup, atau batang logam untuk mempertahankan posisi tulangku. Aku sangat ketakutan melihat seluruh operasi yang dilakukan dokter itu. Apalagi aku masih dalam keadaan sadar. Jujur, walau dibius masih ada rasa sakit yang kurasakan.
Tak mau tertekan karena bisa melihat tanganku yang di operasi. Akhirnya aku memutuskan untuk menutup mata. Walau sesekali aku memicingkan nya. Karena penasaran, apa saja yang dilakukan dokter saat operasi.
Dan akhirnya pemasangan pen pun selesai. Dokter akhirnya menutup luka sayatan dengan jahitan dan membalutnya dengan kasa yang bersih. Dan pada tahap terakhir, area yang patah, yaitu tanganku dipasang gips.
Dalam keadaan tegang, perasaan yang kacau, aku habiskan waktu 95 menit di ruang operasi. Dokter tersenyum puas menatapku.
"Ibu sangat hebat, ibu berhak untuk bahagia." Ujarnya padaku dengan semangatnya.
__ADS_1
Tak terasa air mata langsung mengucur deras. Benarkah aku masih bisa merasakan kebahagian itu?
TBC