
"Kalau begitu, kapan bapak menikah dengan Mama?"
Deg
Seketika tubuh pak Armand membeku dengan pertanyaan Raisya.
"Raisya...!" bentakku kuat, menatap tajam putriku yang mulutnya tak ada rem itu.
"Mama, kenapa marah?" ujarnya dengan cemberut.
"Maaf ya pak Armand?" Aku tak mau pak Armand salah paham padaku, karena ucapan Raisya. Takutnya pak Armand mengira, aku mengajari Raisya bicara seperti itu.
Pak Armand hanya tersenyum kecut menanggapi ucapanku. Ia pun menurunkan Raisya dari gendongannya.
"Om bisa koq jadi ayahmu nak, walau tak menikah dengan mamamu." Ujarnya lembut pada Raisya yang nampak bingung dengan ucapan Pak Armand.
"Oohh.. Kata orang orang harus nikah dulu om?' Ujarnya dengan ekspresi yakinnya.
" Itu kalau Raisya sudah gak ada bapak lagi, baru om busa nikah dengan mamamu. Raisya kan masih punya ayah?" Jelas Pak Armand yang seperti tak keberatan dengan permintaan Raisya untuk jadi ayahnya.
"Oouu.. Ayah harus mati dulu ya om? baru om bisa nikah dengan mama?!"
"Rasiya....!" kini aku dan ibu sama sama membentak Raisya. Ibu pun dengan cepat menjauhkan Raisya dari Pak Armand.
__ADS_1
"Biasa bu, anak anak bicara gitu, kan mereka belum ngerti apa itu menikah. Mereka hanya tahu saja, kalau ayah dan ibu harus menikah. Jadi kita harus beri pengertian pada Raisya." Jelas Pak Armand tenang pada ibu.
"Iya pak, tapi ini anak kalau dilawani bicara, banyak cakap nya. Gak akan selesai selesai hingga malam." Sahut ibu sungkan. "Maaf ya pak Armand, ucapan Raisya jangan bapak ambil hati." Jelas ibu lagi, menahan Raisya agar mau diam dalam rengkuhan ibu.
"Iya bu, baiklah om pulang dulu Raisya." Pak Armand mencubit gemes pipi raisya.
"Iya papa, jangan lupa besok papa bilangin sama umy ida ya? aku gak bisa sekolah."
Hadeuh...
Makin pusing aku dengan tingkah putriku ini, malah dia sudah manggil pak Armand dengan papa nya.
"Iya sayang." Pak Armand menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum tipis membalas tatapan penuh iba pak Armand.
"Iya nak Armand." Ibu mengantar Pak Armand ke ambang pintu.
Setelah Pak Armand pergi, Raisya langsung menghampiriku.
"Ma, kenapa mama gak bisa nikah dengan om ayah nya Reza?" tanyanya dengan penasarannya.
Ku telan ludahku yang terasa pahit, pertanyaan Raisya ini mengingatkan ku akan luka yang diberi mas Evan.
"Karena kamu masih punya ayah sayang. Dan Om Armand masih punya istri. Ibunya temanmu Reza." Jelasku dengan meringis kesakitan. Maunya, gak usah ada pembahasan mengenai asmara.
__ADS_1
"Oouu.. Tapi, ada loh ma temanku ibunya dua." Ujarnya lagi dengan semangat. Raisya memang suka bercerita.
"Rasiya, jangan ganggu Mamamu. Mama Mau istirahat, biar cepat sembuh." Ujar ibu, menarik lembut tangan Raisya agar menjauh dariku. Ibu pun akhirnya menuntun Raisya agar berbaring di atas tikar. "Kita tidur, lihat itu om Akram juga sudah tidur." Ibu menunjuk Akram yang memang dari tadi sudah memilih tidur, disaat Raisya asyik bercanda dengan Pak Armand.
"Emang ini sudah jam berapa nek?" tanyanya menatap ibu yang sudah berbaring di sebelah nya.
"Sudah pukul 10 malam." Jawab ibu tanpa melihat ke arah Raisya. Ibu sudah menutup matanya.
"Ouww... Sudah malam toh nek. Nek, nek.." Raisya ku lihat menggoyang lengan ibu. Anak itu kenapa maunya ngoceh terus.
"Raisya, tidur..!" Ibu membuka matanya dan melotot pada Raisya. Aku hanya bisa menggeleng melihat interaksi mereka.
"Eemmm...Gimana kalau Om Akram saja yang jadi ayahku. Kan om Akram sudah tinggal di rumah kita?"
"Raisya... Tidur...!" bentak ibu pada Raisya, sedangkan aku memilih diam. Jika aku membuka suara, maka Raisya tak akan berhenti untuk bicara.
Huufftt..
Ku tarik napas panjang, dan menghembuskan nya berat. Sakit di bahu, tangan, serta paha yang ku rasakan sekarang, tak sebanding dengan sakit yang diberikan Mas Evan padaku. Perlakuannya membuatku traumah untuk mencintai, bahkan tak ingin lagi rasanya untuk memiliki pasangan. Aku merasa diriku ini juga bodoh, sehingga aku membiarkan diriku merasakan sakit yang tak teramat. Harusnya aku tegas diawal, disaat aku tahu mas Evan selingkuh.
Tak seharusnya aku mau dimadu. Sekarang disaat sudah ingin melepasnya. Aku malah hamil? Ya Allah... Berilah aku keikhlasan dalam menjalani takdir ini. Dan jauhkanlah mara bahaya dari kami sekeluarga. Aku pun berusaha untuk bisa tertidur. Walau pikiran sangat kacau.
TBC
__ADS_1
Beri dukungan pada novel ini say. Like komentar positif vote dan hadiah 😁🙂🙏