
Di suatu tempat yang di penuhi bunga-bunga yang bermekaran dengan warna yang begitu cantik serta mengeluarkan aroma yang begitu harum, terlihat seorang wanita yang sedang duduk di kursi yang terbuat dari giok.
Meski umurnya dapat di katakan sudah tidak muda lagi, namun parasnya masih terlihat seperti seorang wanita yang berumur sekitar 20 tahun, menggunakan pakaian berwarna putih, menambah kesan anggun pada sosok tersebut.
Terlihat raut wajahnya yang menggambarkan sebuah kerinduan yang begitu dalam.
Hingga tidak lama kemudian datang seorang pria dewasa dengan perawakan gagah, memiliki paras yang tampan dengan penuh kharisma dan wibawa datang menghampirinya.
"Lin'er." Panggil pria yang baru saja datang, memanggil wanita yang sedang duduk.
Wanita yang sedang duduk itu pun memutar tubuhnya untuk melihat ke arah pria yang baru saja datang.
"Gege." Dengan tersenyum, menatap hangat pria yang tidak lain adalah suaminya.
"Apa kau masih memikirkannya?" Tanya pria itu, yang kemudian duduk di sampingnya.
"Tentu saja, ibu mana yang tidak merindukan putranya sendiri." Jawabnya dengan nada pelan, dia begitu merindukan sang putra, sudah lama dia meninggalkan putranya dan tidak lagi mengetahui bagaimana keadaan sang putra.
"Bersabarlah, suatu saat nanti kita akan dapat berkumpul bersama dengannya lagi."
"Apa dia akan memaafkan kita?" Tanya nya dengan menatap sang suami.
"Tentu saja, meski kita meninggalkan nya dengan cara yang salah, tapi aku yakin bahwa putra kita bukan orang yang berfikiran sempit."
"Semoga saja."
Mereka berdua tidak lain adalah Xu Lou Yuan dan Qian Xialin, saat ini mereka berada di suatu tempat yang hanya mereka berdua yang mengetahuinya.
Setelah meninggalkan dunia fana, mereka segera menuju tempat tersebut.
************
Hutan Kematian.
Setelah terjadi pertempuran, kini mereka sedang mengumpulkan beberapa tubuh yang masih utuh, kemudian membakarnya.
"Nak, mengapa kau bisa berada di tempat ini?" Tanya Jenderal Qing.
"Aku mempunyai beberapa urusan di tempat ini, namun saat aku sedang mencari tempat untuk beristirahat, tiba-tiba diriku merasakan sebuah aura yang begitu mengerikan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari asal aura itu, dan tibalah aku di tempat ini." Xu Tian menjelaskan.
__ADS_1
Sedangkan jenderal Qing kini mulai bertanya-tanya, ada urusan apa Xu Tian berada di hutan kematian.
Xu Tian sendiri mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh Jenderal Qing, namun dia masih diam tanpa berniat untuk menjawab.
"Lalu kemana tujuanmu selanjutnya?"
"Mungkin aku akan mencari tempat untuk beristirahat terlebih dulu, karena hari sudah hampir pagi maka aku akan melanjutkan urusan ku esok hari."
"Apa kau ingin ikut denganku?" Jenderal Qing dengan penuh harap, karena dirinya masih ingin mengobrol bersama Xu Tian.
Xu Tian diam beberapa saat, hingga kemudian mulai menjawab ajakan Jenderal Qing.
"Emm...jika itu masih berada di sekitar hutan kematian, maka aku akan ikut."
Jenderal Qing tersenyum dengan senang. "Tenang saja, kita akan beristirahat di hutan ini, karena aku dan orang-orangku juga memiliki urusan di hutan kematian."
"Benarkah?" Tanya Xu Tian, dia awalnya mengira bahwa kedatangan Jenderal Qing murni karena merasakan aura iblis yang tiba di hutan kematian, namun setelah mendengar ucapan Jenderal Qing, Xu Tian dapat menyimpulkan bahwa Jenderal Qing juga tidak mengetahui bahwa akan ada pasukan iblis yang datang.
Jenderal Qing menganggukan kepala dan mengatakan akan menjelaskan kepada Xu Tian nanti.
Mereka semua segera melesat mencari goa untuk beristirahat.
Pria bertopeng segera melesat mencari kayu bakar untuk membuat api unggun, sedangkan Xu Tian dan Jenderal Qing segera mencari tempat untuk duduk.
Jenderal Qing segera saja mengeluarkan arak dari dalam cincin penyimpanannya.
"Apa kau suka minum?" Tanya Jenderal Qing, dengan tersenyum menatap Xu Tian.
"Emm...Tidak terlalu, karena selama ini belum ada arak yang mampu membuatku begitu merasa menikmatinya."
"Hahaha...Tentu saja, karena arak di luar sana hanya memiliki kualitas rendah, berbeda dengan arak milikku ini." Jenderal Qing dengan bangga.
Jenderal Qing mulai menuangkan arak ke dalam gelas yang sudah di sediakan, lalu meminumnya.
Xu Tian sendiri hanya diam menatap reaksi Jenderal Qing yang begitu menikamti araknya.
"Minumlah nak, kau akan merasakan bagaimana kenikmatan sebuah arak yang memiliki kualitas tinggi."
Xu Tian pun segera mengambil gelas yang telah terisi dengan arak, kemudian mulai menenggaknya.
__ADS_1
Jenderal Qing menatap Xu Tian, hingga tidak lama kemudian mulai bertanya tentang pendapat Xu Tian mengenai araknya.
"Tetua, ini adalah arak terbaik yang pernah aku rasakan." Ucap Xu Tian dengan tersenyum.
"Hahahaha...tentu saja, siapa yang akan menolak sebuah arak yang memiliki umur ratusan tahun." Tawa Jenderal Qing begitu keras.
Xu Tian begitu kaget saat mengetahui bahwa arak yang di minumnya sudah berumur ratusan tahun.
"Jangan terlalu kaget nak, semakin tua umur arak, maka akan semakin nikmat." Lalu menjelaskan bagaimana cara untuk mengukur sebuah arak agar memiliki kualitas yang tinggi.
Setelah menjelaskan kepada Xu Tian, kemudian mereka berdua melanjutkan minum arak, hingga tidak lama kemudian datang pria bertopeng yang sedang mencari kayu bakar dengan membawa beberapa ekor rusa.
"Hahahaha....kalian memang selalu bisa di andalkan." Ucap Jenderal Qing saat melihat bawahannya membawa hewan rusa.
Mereka segera membagi tugas, Xu Tian dan Jenderal Qing menyalakan api unggun, sedangkan pria bertopeng membersihkan rusa.
Meski mereka baru saja saling mengenal, namun tidak terlihat sedikit pun kecanggungan di antaranya.
Setelah menunggu beberapa saat, daging rusa pun telah matang, mereka segera menikmati daging rusa dengan di temani arak.
"Jenderal, apa kita akan segera mencari Tetua Ji?" Tanya salah satu pria bertopeng, yang kini sudah membuka topengnya.
"Sepertinya kita harus segera menemukan keberadaan Tetua Ji, aku harap beliau masih dapat bertahan."
Xu Tian yang berada di tempat itu pun dengan tenang menikmati arak dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Jenderal benar, karena hanya Tetua Ji harapan kita." Timpal pria bertopeng yang lainnya.
Karena merasa penasaran dengan yang mereka bicarakan, Xu Tian pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Tetua, mohon maaf jika aku lancang. Namun jika boleh tahu, siapa tetua Ji yang kalian maksud?" Tanya Xu Tian dengan sopan.
"Ah..benar, aku belum menjelaskan kepada dirimu." Jenderal Qing menarik nafasnya, lalu mulai fokus.
"Kedatangan kami ke tempat ini untuk mencari orang yang kami bahas sebelumnya, dia adalah Tetua Ji, jika kau memahami tentang hutan kematian, pasti dirimu pernah mendengar sosok terkuat yang ada di hutan kematian. Dia adalah Tetua Ji, orang yang sedang kami cari keberadaannya." Lalu Jenderal Qing menjelaskan kejadian mengapa Tetua Ji berada di Hutan Kematian.
Xu Tian sendiri cukup kaget mendengar penjelasan Jenderal Qing, dari apa yang di jelaskan oleh Jenderal Qing, Xu Tian kini mendapatkan informasi yang sangat berharga.
Meski dirinya sudah mengetahui tentang keadaan Tetua Ji dari informasi yang di katakan Long Hei, namun informasi dari Jenderal Qing lebih jelas dan rinci.
__ADS_1
"Semoga saja aku tidak terlambat untuk menyelamatkannya, aku yakin Tetua Ji memiliki informasi yang bahkan Jenderal Qing pun tidak mengetahuinya." Batin Xu Tian.