
Bii tampak gemetaran saat para tim medis membawa tubuh zuu,dia ingin mengejar langkah orang-orang itu tapi beberapa polisi menghentikan dirinya dan meminta kerja sama nya untuk memberikan keterangan.Tampak di ujung Alan menatap nanar wajah bii,dalam gerakan cepat memeluk tubuh bii ke dalam dekapannya.
"Kau baik-baik saja?"
bii hanya mengangguk pelan
bii mau tidak mau ikut pergi kekantor polisi dan membiarkan orang-orang itu membawa zuu. dalam fikiran nya yang kacau dia mencoba menghubungi Nayla,meminta adik kecil zuu itu agar segera datang melihat kondisi zuu dan terus mengabari nya soal keadaan zuu tiap waktu
*****
"Ini sedikit aneh, seseorang melaporkan keadan mu dan memaksa polisi untuk datang ke kantor Baskoro"
pengacara Mufti bicara depat ke arah bii sesaat setelah mereka berada di kantor polisi
menurut mereka seseorang melaporkan soal pembunuhan berencana terhadap pengacara Baskoro, dan bisa ditebak jika yang mengejar bii tadi pasti orang-orang yang juga ingin ikut melenyapkan diri bii dari muka bumi ini.
yang cukup tidak disangka yang terlibat dalam penembakan tadi adalah salah satu orang yang bekerja di gedung putih,tapi bii sama sekali tidak tahu siapa namanya. pengacara Mufti berkata jika dia tentu kenal betul dengan orang tersebut makan tanpa bertanya lagi mereka langsung menangkapnya.
"Kita bisa menekannya soal kasus 8 tahun yang lalu, kita mulai menemukan titik terang bii"
ucap Alan cepat
mungkin benar satu titik terang terlah terbuka,tapi masih banyak yang harus di bongkar setekah ini, tuan azzur, pamannya, mama nya Alan dan flash disk yang ada di tangannya saat ini.dia tidak bisa memberikan bukti ini saat ini juga.dia ingin melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri soal isi flashdisk ini.
tiba-tiba dia ingat, flash disk yang tadinya ada Hells nya dengan cepat dia ambil saat lari menghindari orang-orang itu, dia ingat menyelipkan flash disk itu di balik kantong pakaian yang digunakan zuu.
*Ya Tuhan"
dia tercekat sambil menutup mulutnya beberapa waktu
ini kesalahan besar fikirnya
"Apakah aku sudah bisa kembali?"
bii bertanya cepat ke arah pengacara Mufti dengan perasaan gelisah
pria itu mengangguk pelan
sesaat bii keluar dari ruangan itu, Alan tampak menaikkan alisnya.mengejar langkah bii dan mencoba menghentikan nya
"Kenapa kamu ingin segera kembali? kamu mengkhawatirkan dirinya"
segurat marah tampak terlihat jelas di wajah alan
__ADS_1
"bukan seperti itu"
bii Fikir tidak mungkin dia membicarakan soal flash disc itu kepada Alan
Alan mengencangkan rahang nya
"kita akan kembali ke apartemen"
ucapnya cepat kemudian menarik cepat tangan bii,melesat pergi dari sana menuju ke area parkiran
"Alan"
bii bicara cepat sesaat setelah mereka sampai di area parkiran bawah tanah
"Apa kamu mengkhawatirkan dirinya hah?"
Alan tampak marah, membentaknya kesal
"bukan seperti itu,aku harus kembali sekarang"
ucap bii cepat
"Ada beberapa hal yang tidak bisa aku jelaskan saat ini,belum waktunya"
Alan mendengus
"kau tidak pernah se khawatir tadi sebelumnya saat melihat seseorang terluka, ekspresi mu saat menyentuh tubuhnya dan berteriak sambil menangis histeris menampakkan jika kau mulai jatuh cinta padanya"
Alan bicara sambil mengejek
"Alan"
bii tampak tidak suka dengan ucapan Alan, dia fikir itu hanya gerakan serta tindakan spontan karena panik melihat keadaan zuu
"bahkan lihat sepatu yang kau pakai? ya Tuhan...."
Alan menggenggam erat ejung rambutnya, meremas kasar wajahnya
bii baru menyadari jika dia masih menggunakan sepatu milik Alan
"Aku harus kembali Alan,ada sesuatu yang harus aku lakukan"
"lakukan apa? untuk bisa bersama nya? kamu benar-benar sudah jatuh cinta padanya? katakan pada ku karena apa? karena dia mencium mu? menyentuh setiap jengkal tubuhmu ?"
__ADS_1
"Alan"
bii tampak semakin kesal,omongan Alan mulai melantur kemana-mana
tiba-tiba tanpa basa-basi Alan memegang kedua belah pipinya, mencium bibir bii dengan gerakan kasar
bii terkejut bukan main,mencoba merontah tapi kalah tenaga,dia hampir kehilangan nafas cukup lama saat Alan menciumi dirinya dengan sangat kasar dan dalam,memaksa lidahnya masuk kedalam mulut nya. Bii jelas marah,menangis dan terus merontah.
seketika Alan melepas kan ciuman nya
mata Bii yang memerah karena sudah penuh oleh air mata dan juga membendung amarah mendalam, tanpa fikir panjang tangan kanannya langsung menampar wajah Alan
plakkkkk
Alan terkejut, menahan perih di wajahnya, lidah di bagian dalam nya meraba pinggiran pipinya.dia menatap bii dengan tatapan penuh arti,mendengus sedih sambil tangan kanannya menyentuh wajahnya
"kau menyakiti ku, Alan"
"kau tidak pernah mencintai aku bukan? bahkan kau tidak menerimanya ketika aku mencium mu,tapi kau begitu menikmati ketika laki-laki itu menjamah seluruh bagian tubuh mu"
"Alan"
jerit bii dengan air mata mulai berjatuhan
"Aku benci pada mu"
teriaknya kesal
karena kesal,jengkel,dongkol,malu,marah dan entah apa lagi yang menguasai diri nya saat ini,bii pada akhirnya berjalan cepat meninggalkan Alan,melesat menuju ke arah luar dan menghentikan taxi yang tiba-tiba sudah ada didepan mukanya
bii dengan cepat naik ke atas taxi itu masih dengan sejuta perasaan yang bercampur aduk jadi satu
Alan yang merasa kecewa,dalam sekejap mengepal tangannya menghantam keras mobil miliknya,juga menendang mobil itu sambil berteriak dalam balutan emosi yang mendalam
"arrrkkhhh"
teriak nya kemudian mengusap kesal rambutnya dengan kedua tangannya
bii terus bersandar pada pintu mobil masih sambil terus menangis,dia merasa marah,sangat marah sekali ketika Alan tiba-tiba mencium nya, perasaan kesal,jijik dan benci bercampur aduk jadi satu. dia mencoba menghapus sisa di bibirnya itu dengan punggung tangannya.tidak tahu kenapa, Alan memperlakukan nya berbeda dengan zuu,zuu sama sekali tidak pernah berbuat kasar seperti itu padanya,ini terasa klise tapi kenyataannya memang seperti itu baginya
"Mau kemana neng?"
suara sang supir tadi mengejutkan bii
__ADS_1
kemudian dengan cepat bii mencoba menghapus air matanya, menyebutkan rumah sakit dimana zuu dirawat saat ini