Landless Sky (Langit Tak Bertiang)

Landless Sky (Langit Tak Bertiang)
Too painful


__ADS_3

Elle sejak tadi mondar-mandir dengan perasaan gelisah, kadang menatap Zain kemudian membuang pandangannya gantian menatap bii.


setelah dokter pribadinya memeriksa kondisi bii, menyarankan agar bii mendapatkan banyak istirahat dan menjaga pola makan nya dengan baik.


"Kapan mereka menikah?"


Dia bertanya dengan perasaan yang kacau balau


"Jadi adikku mengubah seluruh identitas nya? menjebak kak zuu? dan kak zuu menikah dengan sangat terpaksa maksud mu begitu?"


Zain tampak diam


"Jika tidak ada cinta, apa mungkin bisa sampai sejauh ini?"


Elle masih terus bertanya kesal


"Kakak mencintai Valen? jawab aku Zain? jangan membuat ku jadi gila"


Elle terus bertanya sambil tangannya masih tetap berusaha menghubungi ponsel zuu


"Dia mencintai nya dengan seluruh hidupnya"


jawab Zain cepat,masih duduk di atas kursi kecil sambil menyeruput kopinya


"Bagus"


jawab Elle puas


"Lalu Valen?"


Zain menggeleng pelan


"Sayang berhenti lah mondar-mandir seperti setrikaan"


Zain memegang kepalanya yang tidak sakit, bersandar di kursi nya Kemudian berusaha memejamkan matanya


"Istirahat lah, aku akan menjaga Valen"


"Biarkan dia istirahat Elle, bibi akan menjaganya, dokter juga berjaga diluar,mama sudah pergi istirahat, kita juga butuh istirahat.kita akan fikirkan kembali besok sisanya"


"Sayang"


Elle tampak kesal


Zain dengan cepat menarik tangan Elle agar segera pergi dari sana


"bii butuh istirahat, dokter sudah memberikan dia obat"


masih dengan perasaan khawatir Elle berjalan dengan perasaan bingung mengikuti zain


"istirahat sejenak"


******


Praaangggg

__ADS_1


bii tidak sengaja memecah kan sebuah gelas kristal di dapur, dia melonjak kaget dan mencoba mundur beberapa langkah


"Valen..."


Elle masuk dengan cepat ke dapur


Zain ikut masuk dan tampak terkejut


'Kau baik-baik saja?"


bii memandangi wajah Zain seketika


"Katakan pada ku kak, dimana zuu? aku takut hal yang buruk terjadi padanya"


ucap bii Cepat dengan tangan sedikit gemetaran, firasat nya berkata seakan-akan hal buruk baru saja terjadi


Zain tampak tidak bicara, memandangi bii untuk waktu yang cukup lama


"kau terluka, kita harus segera mengobati nya"


"Kak"


Elle hanya menelan ludahnya


"Ayo kembali ke Jakarta, aku ingin pulang kerumah"


ucap bii lagi, menarik tubuh Zain cepat


"Kita pulang ke Jakarta, aku mohon"


Zain menggeleng pelan


mata Bii tampak berkaca-kaca, dia menatap Zain dengan tubuh gemetaran


"aku merasakan nya, sesuatu yang buruk sedang terjadi, aku mohon ayo kita pulang"


"maafkan aku bii"


bii hanya menangis Beberapa waktu, memukul tubuh Zain sejenak, Kemudian memeluk tubuh Elle Kakak nya


"Kakak, ayo kita pulang. aku mohon bujuk dia agar kita kembali ke Jakarta"


"Valen..."


Lagi-lagi bii merasa kepalanya menjadi pusing berkunang-kunang, kesadaran nya kembali seperti ingin menghilang, tubuhnya Beberapa hari ini menjadi sangat aneh, dia benci ke adaan ini.


"Ada apa dengan kondisi nya, dok?"


mama bii bertanya dengan perasaan khawatir


"Semua nya baik, hanya sedikit lelah dan usahakan agar tidak terlalu stress,mungkin karena tinggal ditempat baru jadi membuat nya sedikit sulit beradaptasi. masih sangat kecil,usia kandungan nya baru masuk 7 Minggu"


seketika mama nya mundur beberapa langkah, Elle tampak terkejut memandangi wajah bii dsn Zain secara bergantian, dia menutup mulutnya dengan ke dua tangannya.


"Ya Tuhan"

__ADS_1


Elle tampak tersenyum bahagia


"Tuan..."


tiba-tiba seseorang datang dari arah luar


"Ada apa?"


Zain bertanya sambil mengerutkan dahinya


"Tuan zuu, dia..."


sebuah berita lain masuk menghantam secara bersamaan


bii menggenggam erat Sprai kasur yang di tidurinya, air mata tampak tumpah secara berlahan, Elle berteriak histeris diikuti mamanya


"Kak... ayo kita pulang"


suara nya keluar dengan serak, dia tidak tahu ini perasaan apa, selain bahagia tapi juga perasaan sedih menghantam hatinya secara bersamaan


******


Kekhawatiran mencekam, semua langkah bergerak kesana-kemari disepanjang koridor rumah sakit, Nayla yang awalnya ingin pergi begitu mendapat kabar soal kakaknya langsung melesat menuju ke rumah sakit.


Seketika langkah kaki nya terhenti saat dia melihat ada sosok Alan di sana, dia mundur beberapa langkah , tampak takut dan dengan cepat memutar arah


"Nay..."


Alan berteriak, mencoba mengejar langkah Nayla


"Nay... nay..."


Nayla menyandarkan tubuhnya di sebuah pintu rumah sakit, tidak mengeluarkan suara apapun sambil menahan tangannya untuk menutup mulutnya, air matanya tumpah seketika


"Nayla aku mohon dengarkan aku"


ucap Alan dengan perasaan bingung, matanya menatap ke arah manapun yang mampu dia tatap, mencoba mencari sosok Nayla yang tiba-tiba menghilang.


ingatan soal perkataan bibi di apartemen Nayla masih terpatri di wajahnya


"Seperti nya nona bersiap-siap kembali ke Amerika, dia sudah mengepak semua barang-barang nya dan membawanya bersama tuan Eden, seperti nya mereka akan menikah"


"Tuan.. terima kasih sudah banyak memberi non Nayla senyuman belakangan ini, dia tidak pernah sebagiah itu sebelum bertemu tuan, hidupnya begitu sulit dan tertekan karena tuan azzur...."


"Ah iya, ini sedikit aneh apa mungkin saya salah? seperti nya nona tengah hamil muda, awalnya saya fikir mungkin itu anak tuan Eden, tapi..."


wanita berusia 45 tahunan itu bicara cepat sambil menyerahkan Beberapa alat uji coba kehamilan dan sebuah foto USG serta sebuah kartu pemeriksaan, tertulis dengan indah nama Nayla dan nama nya si sana


Nayla Azzura airana


Alan Mohammed Haikal


tangannya bergetar hebat, Seketika air matanya tumpah ruah tanpa bisa dia bendung lagi


dia telah menyakiti perasaan perempuan kecil itu, yang tidak punya kesalahan apapun pada dirinya, semua terjadi karena sebuah dendam tidak berkesudahan yang di ciptakan oleh orang dewasa sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2