Landless Sky (Langit Tak Bertiang)

Landless Sky (Langit Tak Bertiang)
abortion


__ADS_3

Mata Eden menatapi sosok yang begitu dia kenal, tengah berdiri bingung disebuah kantor kecil yang terselip bangunan mewah kota Jakarta. Yang dia tahu itu adalah rumah rawat untuk orang-orang yang berniat memeriksa kehamilan, datang dalam kondisi yang baik namun acapkali pulang dalam kondisi yang cukup memprihatinkan dan mengerikan.


Nayla tampak masuk dengan keadaan ragu, terlihat berbicara dengan seorang perawat Kemudian selang beberapa menit segera masuk ke dalam ruangan yang entah ruangan apa


Eden dengan cepat melesat masuk, bertanya pada perawat itu tentang apa yang gadis itu lakukan didalam


"Maaf mas, ini sedikit privasi"


perawat itu bicara sedikit berusaha untuk mengusir dia


"Sebaiknya mas pulang saja, pak ... security"


perawat itu tampak tidak senang melihat kedatangan eden


"Saya suami nya, apa mbak tidak bisa memberikan informasi yang jelas?"


Eden tampak marah


"Jika terjadi sesuatu sama istri saya, saya bisa menuntut klinik situ pada pihak berwajib"


teriaknya kesal


"situ mau saya hubungi polisi sekarang juga?"


Eden bicara cepat sambil mengeluarkan handphone nya


"mas, mas jangan begitu, istri mas yang dengan sukarela datang kesini untuk menggugurkan kandungan nya, mas bisa....."


Eden sudah tidak peduli lagi dengan ocehan perawat itu,saat mendengar kata menggugurkan kandungan nya Eden bisa menduga nya sejak awal jika ini adalah klinik aborsi. dia melesat cepat ke dalam, masuk ke ruangan yang Nayla jajakan kakinya tadi dengan cara sangat tergesa-gesa


"Nayyy..."


Nayla yang tengah tertidur, siap dengan semua alat-alat yang ada disampingnya nya serta seorang dokter laki-laki dan 2 perawat wanita di samping nya

__ADS_1


"Eden"


Nayla tampak terkejut, sedetik kemudian air mata nya tumpah


Tanpa bicara apapun Eden dengan cepat menyambar tubuh Nayla


"Mas apa-apaan ini?"


dokter itu bertanya kaget


"Saya suaminya, saya punya hak atas dia"


Eden tampak menggeram kesal


Dia menarik tubuh Nayla, menggendong nya keluar dari sana menuju kemobil nya


Eden tampak begitu marah, yah dia marah pada dirinya sendiri karena gagal mengawasi mata nya terhadap Nayla sesuai perintah zuu,


Eden bertanya tanpa berniat sama sekali menoleh ke arah Nayla, tetap fokus dengan mobilnya terus memperhatikan jalanan Jakarta yang cukup padat merayap


Nayla tampak diam, dia hanya menunduk sambil menggenggam ujung baju yang digunakan nya


"Apakah laki-laki itu?"


bentak Eden


dia menebak jangan-jangan kejadian nya adalah malam itu,saat Alex membawa pulang paksa Nayla, dan dia dalam keadaan kalut Mencoba menghubungi aila kakak sepupunya itu. jangan-jangan aila menghubungi Alan untuk membantu Nayla saat itu.


Nayla hanya mengeluarkan suara tangisan nya, terisak Beberapa kali


"Aku tanya, apa laki-laki itu Nayla?"


Nayla masih diam

__ADS_1


"Nay..."


"Maafkan aku"


isak nya Kemudian


"Brengsek"


teriak nya sambil memukul stir mobil


Tidak bisa dia bayangkan bagaimana mungkin gadis ini bisa-bisa nya mau tidur dengan laki-laki itu, yang bahkan usianya mungkin hampir 8 atau bahkan 10 tahun lebih tua dari Nayla


Eden mengusap kasar wajahnya, dia terus memacu mobilnya di antara ke macetan dan kebisingan kota Jakarta, mengumpat dengan perasaan kesal, berfikir dia telah gagal menjaga anak itu sesuai dengan apa yang kak zuu perintahkan pada nya.


Nayla masih menangis di samping nya, hingga akhirnya gadis itu larut dalam kelelahan, Kemudian tertidur dengan sendirinya.


Eden mengeluarkan handphone nya, Mencoba menghubungi seseorang


"halo"


terdengar sahutan dari seberang


"Dimana kau?"


tanyanya cepat tanpa basa-basi


"Ada apa?"


"Aku akan kesana dalam 1 jam, berikan aku lokasi mu"


setelah berkata begitu dia segera mematikan handphone nya, melirik ke arah Nayla yang tengah tertidur pulas, Beberapa kali gadis itu sesenggukan di dalam tidurnya. eden menyentuh pelan wajah gadis itu lantas berkata lirih


"Semua akan baik-baik saja"

__ADS_1


__ADS_2