
setelah seorang perempuan berusia sekitar 30 tahunan itu selesai memasang nail art di kuku indah bii dengan sempurna , dia secara berlahan pergi dari sana sambil meletakkan jemarinya di depan bibinya
"Seperti nya dia kelelahan"
bisik nya Kemudian sesaat melihat Alan kembali menyeruak masuk ke dalam, pamit pada Elle untuk menuju ke kamar sebelah
"Aku akan mendesain kuku pada gadis satunya"
Elle mengangguk
"Ayo keluar"
Lantas Ella memukul pelan bahu Alan
"Kau ini suka sekali mengganggu Valen,sudah mau menikah tapi masih seperti anak-anak, look dia benar-benar kelelahan mengikuti kamu berkeliling toko hanya demi sebuah cincin pernikahan"
omel Elle kesal kemudian segera menutup pintu kamar secara berlahan, mereka terus bicara sambil menuruni tangga
Alan terkekeh, merangkul Elle
"Ahh... maafkan aku Elle, kau tahu pilihannya terlalu bikin pusing kepala,aku bingung dengan selera seorang perempuan, jalan satu-satunya mengajak bii membantu memilih sendiri"
"Dimana mama dan Zein?"
tanyanya kemudian
"Masih mencoba pakaian mereka, kau tahu rupanya suami mu itu begitu ribet soal jas, sejak kemarin dia bingung menentukan pilihan"
Elle cekikikan
"Dia itu cerewet sejak masih anak-anak, karena itu aku begitu sering berdebat dengan nya dulu"
"he em he em"
yang di singgung tiba-tiba sudah ada di hadapannya, Elle tampak terkejut
"Dia begitu ahli menjelek-jelekkan suaminya didepan calon adik ipar nya"
rutuk Zein kesal
"Oh tidak sayang bukan begitu"
Elle mencoba membela diri,tapi Zein dengan cepat mengangkat tubuhnya
"Akhh Zein"
"Aku harus memberikan kakak ipar mu sebuah hukuman"
dia bicara sambil mengedipkan matanya pada Alan
"Yah yah ingat acaranya 7 jam lagi, jangan terlalu lama membuat perhitungan"
ledek alan kemudian terkekeh diikuti Zein
"What, ini memalukan, sayang..."
Elle tampak marah, memukul dada Zein dengan perasaan malu setengah mati
"Apa kau tidak malu bicara begitu pada Alan?"
Zein terkekeh, terus menggendong Elle ala bride style menuju ke arah kamar mereka
"Zein ini siang hari sayang"
"Bukankah akan menambah rasa panas di siang hari ketika aku memberikan mu sebuah hukuman"
"Sayang...awhh"
pekik nya pelan
kemudian bibir mereka saling bertaut menikmati waktu yang beberapa waktu menghilang, saling melepaskan rindu dan hasrat yang terpendam karena banyaknya permasalahan yang terus menghantam dalam beberapa bulan ini
*******
__ADS_1
"kau sudah datang Will?"
tanya mama bii pada laki-laki itu
keponakan zuu itu mengangguk pelan, mencium hangat pipi mamanya bii sambil bertanya
"Dimana bii?"
"Masih mengganti pakaian nya"
"Belakangan kondisi tubuhnya sering tidak baik, Beberapa kali dia pingsan tanpa sebab"
keluh mama nya pelan
"Untung nya Alan dan Zein selalu cepat bergerak"
"Apa masih sulit menelan makanan?"
mama nya mengangguk pelan
"Ini hari pernikahan, hari bahagia. usahakan agar dia tidak ingat pada zuu, mama khawatir dia akan menangis lagi seharian seperti waktu sebelumnya-sebelumnya "
Will mengangguk pelan
"Ya Tuhan,Will aku kehilangan kunci apartemen kita"
teriak Sarah pelan
"what?"
dia menggeleng pelan, menarik nafasnya dalam
"aku benar-benar pusing dengan dirinya, ini sudah ke 4 kalinya selama 1 bulan ini"
"kau harus lebih banyak bersabar kalau begitu"
Bisik Zain tiba-tiba
Will hanya menghela pelan nafasnya berat kemudian menggeleng kepalanya pelan, acapkali dia kesal tapi juga tertawa geli melihat tingkah laku Sarah, pantas saja paman seeing berkata
*******
ketika semua tamu telah datang, Alan yang telah rapi dengan setelan jas pengantin nya tampak berdiri berdebar-debar di depan pintu sebuah ruangan besar yang menuju ke arah altar, dia menunggu orang ini dengan cara yang begitu sulit,bahkan butuh banyak sekali perjuangan untuk dapat menemukan ny.
Seketika dia melebar kan senyumnya, ketika Zain menyerahkan tangan perempuan itu ke tangannya
"Apa kau siap ?"
bisik Alan pelan di balik telinganya
tampak senyum menghiasi bibirnya diikuti oleh mata uang berkaca-kaca,dia mengangguk pelan sambil memasukkan tangannya ke dalam lengan Alan, berjalan berlahan menuju ke arah depan.
setelah berbulan-bulan berjuang jatuh bangun pada akhirnya dia menemukan juga sosoknya. butuh waktu lama untuk menyakinkan nya, bahkan untuk mengatakan betapa dia sangat mencintai nya, perasaan yang tidak pernah dia miliki terhadap siapapun, bahkan perasaan yang tidak sama dia rasakan terhadap perempuan manapun termasuk bii.
Setelah mendengarkan janji suci yang terucap, setelah acara panjang selesai, Alan merapat kan tubuhnya.
"Apa kau bersedia mengarungi semua hal bersama ku, melewati suka duka bersama ku, Nay?"
Bola mata Nayla tampak terus berkaca-kaca, menatap mata alan untuk waktu yang lama, kemudian dia mengangguk pelan sambil mengembangkan senyumnya yang dalam
"I love you"
ucap Alan lembut, memper'erat pelukannya secara berlahan, menjaga perut mungil itu agar tidak merasa terganggu dengan gerakannya, kemudian dia menyatukan bibirnya berlahan pada bibir perempuan itu dengan cara yang begitu hangat dan luar biasa.
*****
flash back
"Sayang"
__ADS_1
seseorang mengetuk pelan pintu kamarnya, tampak Alan menyeruak kedalam
"Mereka sudah datang sayang,Mari kita lakukan fitting gaun pengantin nya"
bii hanya mengangguk pelan, meninggalkan kamarnya dan menutup pintu secara berlahan
"Dimana Nayla?"
bii bertanya pelan sambil menuruni anak tangga
"Sejak tadi terlalu pusing memilih gaunnya, aku kehilangan kata-kata"
keluh Alan
bii tampak terkekeh
"Kau harus sabar menghadapi dirinya, ingat usianya 10 tahun lebih muda dari mu"
"yah yah aku begitu sabar menghadapi adik ipar mu itu"
"Kak.."
Nayla bicara cepat sambil melirik ke arah bii sejenak, kemudian masih fokus pada beberapa model gaun pengantin yang ada dihadapannya
"Masih belum menemukan pilihan yang cocok?"
tanya bii pelan sambil duduk dengan cepat ke salah satu kursi sofa di sana
Nayla menggeleng cepat
"Pilih lah dengan santai, kami akan menunggu dengan sabar"
goda sang desainer sambil tertawa renyah
"nyonya muda zuu, anda sudah memiliki pilihan?"
tanya nya lagi kemudian
bii mengangguk cepat
"aku minta yang warna cream saja"
"tetap konsisten pada pilihan awal?"
bii tersenyum
"Suami ku suka pilihan yang sederhana"
Alan tampak menelan ludahnya saat bii seakan-akan lupa jika zuu telah menghilang dalam waktu yang begitu lama
"Sayang"
Alan mencoba mengalihkan pembicaraan
"ada apa?"
"Aku fikir kamu yang harus menemani ku mencari cincinnya, kamu bisa lihat bagaimana nay memilih gaun? aku takut pemilik toko nya tidak bisa tidur hingga malam hari saat calon istri ku tidak mendapatkan pilihan nya sesuai kemauannya"
bii terkekeh, memukul pelan lengan Alan
"Jika dia mendengar nya, aku yakin dia akan memukul mu dan tidak mau bicara dengan mu seharian"
"Ahhh nope nope itu sangat buruk sekali"
"Ada apa?"
Nayla buru-buru menoleh
"oh..bukan masalah sayang, look apakah sudah menemukan yang kamu anggap tepat?"
Alan bicara cepat, mendekati Nayla kemudian mencium pipi nya pelan, memeluk pinggang Nayla sambil memperhatikan beberapa gaun di hadapan mereka
Bii menyandar kan kepalanya di atas kursi sofa, memejamkan pelan matanya tanpa suara, menyentuh secara berlahan perutnya sambil bergumam
"Apa kamu rindu Daddy sayang? mommy juga begitu merindukan nya"
__ADS_1