
Saat ini Jennie, Jesya dan Rachel sedang berada di dalam Mall. Mereka melakukan kegiatan wanita pada umumnya, yakni belanja.
"Jadi, Unnie dan Langit akan honeymoon ke mana?" tanya Rachel yang sedang makan.
"Paris," jawab Jennie.
"Wow, Kota romantis Unn," kata Rachel.
"Hm," ucap Jennie acuh sambil meminum Capuccinonya.
"Kenapa dirimu seperti tidak bersemangat seperti itu Jennie?" tanya Jesya.
"Tidak, Unn," Jennie.
"Unnie, tidak membelikan suami Unnie apa pun, sedari tadi hanya barang-barang Unnie saja," jelas Rachel.
"Unnie sudah bertanya pada Langit, tapi Langit tahu sendiri. Dia orangnya sederhana sekali, jadi dia tidak membeli apa pun, pakaiannya masih ada dan bisa di bawa yang itu saja, tidak perlu membeli," ucap Jennie yang jelas itu adalah sebuah ke bohongan.
"Langit, memang sederhana sekali. Punya istri CEO tapi tidak membuat dia memanfaatkan jabatan istrinya dan uang istrinya. Dia justru bekerja mengelola kedai walaupun itu kedai milik Unnie. Setidaknya dia bekerja keras," Rachel memuji Langit.
Langit memang harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Batin Jennie.
"Iya, bersyukurlah jika memiliki suami yang bekerja keras walaupun penghasilannya tidak seberapa. Setidaknya dia tahu arti kata tanggung jawab untuk istrinya," tutur Jesya.
"Iya, Unn," jawab Jennie.
Tidak biasanya Jennie cuek tidak tertarik membahas Langit. Apa lagi ketika Rachel memuji suaminya, biasanya Jennie akan merespons dengan sikap posesifnya. Batin Jesya, sedikit merasa ganjal dengan sikap Jennie.
Mereka melanjutkan makan mereka, setelah itu mereka akan berlanjut lagi untuk menonton bioskop.
__ADS_1
***
Malam pun tiba, Jennie sudah tiba di mansionnya. Saat ini dia sedang duduk di meja makan, menunggu suaminya yang belum pulang. Tidak lama Langit pulang dengan membawa beberapa makanan yang dia buat di kedai tadi.
"Bagus jam segini baru pulang dan lihat tempat bekas makanku belum Kau bereskan!" pekik Jennie
"Ah, iya Miss, di kedai banyak pekerjaan. Saya bereskan sebentar Miss," ucap Langit meletakkan paperbag berisi makanan yang dia bawa dari kedai, lalu merapikan meja makan, membawa tempat makan yang kotor dan mencucinya, setelahnya dia kembali ke ruang makan.
"Cepat masak, aku lapar!" bentak Jennie.
"Ah, tunggu sebentar Miss," jawab Langit membawa paperbag makanan tadi dan memanaskannya sesaat. Setelah itu dia meletakkan di wadah makan menyiapkan untuk istrinya.
Setelah selesai dia berjalan membawa itu ke meja makan dan meletaknya di depan istrinya.
"Selamat makan Miss," Langit berlalu ke dapur, dia makan di dapur.
"Langit!" pekik Jennie setelah selesai makan.
"Iya, Miss," saut Langit.
"Siapkan baju ku untuk besok ke Paris, jangan lupa masukkan semua barang-barang yang aku beli tadi di kamar!" bentak Jennie.
"Iya Miss, saya mencuci piring sebentar Miss," pamit Langit membersihkan meja makan, mencuci piring.
Jennie sudah masuk ke kamar, dia sedang mandi.
Langit masuk ke kamar, sebelumnya dia sudah mengetuk pintu dan memanggil istrinya. Tapi karena tidak ada jawaban jadi dia masuk dan setelah mendengar air dari kamar mandi. Dia mengerti kalau istrinya sedang berada di kamar mandi.
Langit mengambil koper di atas lemari kamar Jennie dan mulai menyusun pakaian serta barang-barang milik Jennie kedalam koper. Jennie keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Langit yang selesai menyusun isi koper Jennie. Langit membalikkan badan dan Jennie baru menyadari keberadaan Langit.
__ADS_1
"Aaaaa!" pekik Jennie, reflek dia mengambil guci kecil lalu melemparnya ke Langit dan sangat tepat sasaran mengenai kening Langit dan berdarah. Jennie melepar guci itu tepat di tempat Falensia sebelumnya.
Langit diam dan menundukkan pandangannya sambil memegangi keningnya yang berdarah. Langit berjalan keluar menuju wastafel dapur mencuci lukanya, tapi darahnya tidak berhenti. Jadi dia menutupinya dengan kain kasa, kembali ke depan pintu kamar Jennie
Jennie masa bodoh dan tidak perduli dengan apa yang dia lakukan pada Langit.
Tok ... Tok ... Tok ... Langit mengetuk pintu kamar Jennie.
Jennie membuka kamarnya, sebelumnya dia sudah menggunakan piyamanya. Dia melihat Langit memegangi kain kasa di keningnya dan darah mulai merembes ke kain kasa itu.
"Apa!" bentak Jennie.
"Miss, bisa tolong antar saya ke klinik, sepertinya lukanya harus di jahit, dari tadi darahnya tidak mau berhenti Miss," tutur Langit.
"Tidak! kau mengganggu waktuku. Pergi saja sendiri!" bentak Jennie dan menutup pintu kamarnya dengan kuat.
Brak ...
"Hah, Baiklah. Sepertinya harus berjalan kaki. Tidak apa, sudah terbiasa," gumam Langit menyemangati dirinya.
Langit turun dari lantai dua, berjalan ke gudang mengambil dompetnya lalu keluar berjalan kaki menuju klinik yang lumayan jauh bila di tempuh dengan berjalan kaki. Lagi, lagi Langit harus mendapat 3 jahitan di keningnya. Setelah selesai dengan urusan di klinik Langit kembali berjalan kaki pulang ke masion.
Ketika sedang berjalan dia melihat ada 1 mobil yang di cegat dengan 3 orang pria yang menggunakan kayu dan ingin memecahkan kaca mobil. Langit, buru-buru menuju mobil itu dan menendang tangan laki-laki yang memegang kayu hendak memukul kaca mobil samping mengemudi
"Yakh, sialan!" marah pria yang di tendang terjatuh kayu terlepas. Langit mengambil kayu itu sebagai perlindungan dirinya, 2 teman pria itu menyerang Langit.
Mudah bagi Langit mengalahkan mereka bertiga apa lagi di bantu dengan kayu, 3 pria tadi kabur dengan wajah yang babak belur. Langit membuang kayunya ke pinggir jalan, lalu mengetuk kaca mobil pengemudi yang sedang tertunduk menyandarkan keningnya di stir mobil.
Tok ... Tok ... Tok ... Kaca mobil di ketuk, dan pengemudi menurunkan kaca mobilnya setelah tahu siapa yang menolongnya.
__ADS_1
"La, ngit!" ucap pengemudi mobil adalah seorang perempuan yang Langit kenal.