
Setelah menghabiskan waktu honeymoon selama 5 hari di Paris. Pasangan suami istri, Langit dan Jennie hari ini kembali ke Korea. Mereka baru tiba di bandara dan ingin melakukan penerbangan ke Korea menggunakan jet pribadi milik tuan Arkan. Keberadaan Langit dan Jennie di bandara mendapat sorotan dari orang-orang yang ada di sana termasuk juga wartawan. Beginilah risiko menjadi suami dari istri yang kerjanya sebagai CEO, jika Langit memiliki istri yang pekerjaannya biasa saja, dia tidak akan menjadi sorotan.
Langit dan Jennie merespon orang-orang dan wartawan dengan sangat baik, bahkan Jennie merangkul lengan suaminya dengan mesra. Kabar kepulangan pasangan suami istri itu juga di sambut hangat oleh tuan dan nyonya Arkan, mereka tidak sabar untuk bertemu dengan anak dan menantunya.
Langit dan Jennie akan di jemput di bandara Korea oleh sopir dan beberapa bodyguard tuan Arkan. Langit dan Jennie akan menginap di mansion tuan Arkan. Selain melepas rindu antara anak dan menantu, ada hal yang lebih penting, yakni pria kecil yang teramat merindukan Daddy kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Malvin.
Pria kecil itu sangat antusias menyambut kedatangan aunty dan Daddynya. Selain dia mendapatkan Lego baru dia
bisa bermain dan bermanja dengan Daddynya. Malvin bukannya tidak menyayangi Daddy Samudranya, hanya saja sosok Daddy Langit lah yang lebih berperan dalam hidupnya. Jadi akan sangat memakan waktu lama bagi Samudra untuk menempatkan posisi Daddy utama di hati Malvin. Samudra memaklumi itu, yang terpenting dia bisa bersama keluarga kecilnya.
"Grandpa, Daddy kapan sampai? Masih lama kah?" tanya Malvin pada tuan Arkan.
"Daddy dan aunty Jenjen baru melakukan penerbangan ke Korea, boy," ucap tuan Arkan yang sabar meladeni pertanyaan cucunya.
"Berapa jam di perjalanan grandpa?" tanya Malvin,
"Sekitar 14 jam, boym" jawab tuan Arkan.
"Lama sekali grandpa, tapi tak apa. Malvin akan menunggu Daddy," kata Malvin dengan memamerkan senyumnya.
"Daddy dan aunty Jenjen akan tiba di jam boy tidur malam," ucap tuan Arkan.
"Tidak, Malvin akan menunggu Daddy, grandpa. Malvin akan tidur bersama Daddy," ucap Malvin.
"Oke,oke,boy akan tidur dengan Daddy. Sekarang pergi bangunkan mommymu untuk makan siang," pinta tuan Arkan.
"Iya grandpa," saut Malvin turun dari pangkuan tuan Arkan berlari masuk lift menuju kamar mommynya, kebetulan kamar mommynya tidak tertutup pintunya.
Malvin masuk, naik ke atas kasur walaupun memakan waktu yang cukup lama tapi dia berhasil. Setelah dia berhasil dia membangunkan mommynya dengan cara mencium pipi dan bibir mommynya, cara itu dia dapatkan dari Daddy Langit nya yang selalu membangunkan dia dengan cara itu. Malvin sangat menyukai cara Daddy Langit membangunkannya
"Mommy bangun, waktunya makan siang," kata Malvin mengulangi itu sampai 3 kali dan akhirnya mommynya bangun dengan senyum manis.
__ADS_1
"Manis sekali cara membangunkan mommy," puji Falensia memeluk tubuh putranya.
"Daddy selalu melakukan itu pada Malvin. Malvin suka dengan cara Daddy yang membangunkan Malvin seperti itu. Jadi Malvin membangunkan mommy dengan cara itu," jelas Malvin.
"Good, like Daddy like son. Putra mommy memang cerdas," puji Falensia pada putranya.
"Iya dong, didikan Daddy Langit," pamer Malvin. Malvin selalu membanggakan Langit setiap kali dirinya di puji orang seperti saat ini.
"Iya, didikan Daddy tidak perlu diragukan. Tunggu mommy sebentar di sini oke. Mommy cuci muka sebentar, setelah itu kita turun bersama, oke tampan," pesan Falensia sambil mencolek hidung putranya.
"Oke mommy," ujar Malvi, menunggu mommynya dengan anteng di atas kasur mommynya.
Sementara Falensia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai dia menghampiri putranya menggendong putranya untuk turun ke lantai dasar. Mereka menuju meja makan, disana sudah ada tuan dan nyonya Arkan.
"Sudah bangun sayang?" tanya nyonya Arkan.
"Sudah mom, di bangunkan pria kecil tampan ini," puji Falensia mencium pipi putranya, meletaknya Malvin di kursi khusus Malvin.
"Sekarang kita mulai makan, ya," ajak tuan Arkan.
"Iya grandpa/dad," saut Malvin, Falensia dan nyonya Arkan kompak.
Dia di pimpin oleh Malvin, dia mendapatkan sikap baik dari Daddy Langitnya, benar-benar beruntung 'kan, dia yang bukan akan kandung tapi di perlakukan dan di didik seperti anak kandung. Mereka makan dengan tenang.
Setelah selesai makan, mereka lanjut bersantai di ruang TV, Malvin menyandarkan tubuhnya pada mommynya. Mereka sedang menonton film kesukaan Malvin.
"Sudah sejauh mana persiapan pernikahan mu dengan Samudra?" tanya tuan Arkan.
"Tinggal baju, dad," jawab Falensia dengan biasa saja, tidak sama sekali terlihat raut kegembiraan yang seharusnya dia tampilkan.
"Dirimu bener-bener akan menikah dengan Samudra 'kan?" tanya tuan Arkan bisa membaca suasana hati anaknya.
__ADS_1
"Hah ..." Falensia membuang napas kasar.
"Kenapa?" tanya nyonya Arkan.
"Setelah berpisah dengan Langit, aku baru menyadari aku mencintainya mom, dad, tapi aku sudah terlambat. Dia sudah menjadi suami adikku sekarang. Tapi sampai saat ini aku masih berharap Langit kembali bersama aku dan Malvin dad, mom," ujar Falensia berkata jujur.
"Gila! jangan lakukan itu pada adikmu. Cukup fokus pada pernikahanmu dan Samudra. Jangan jadi perusak di dalam pernikahan adikmu dan Langit. Biarkan adik dan mantan suamimu bahagia. Hapus pikiran bodoh itu!" sembur tuan Arkan.
"Tapi dad-" ucapan Falensia di potong nyonya Arkan.
"Dengarkan kata Daddy mu, dirimu baru berbaikan dengan adikmu. Jadikan yang kemari sebagai pelajaran, jangan untuk di ulang. Pindahkan Malvin ke kamar," perintah nyonya Arkan yang melihat cucunya sudah tertidur di sandaran tubuh mommynya.
"Iya mom," ucap Falensia menggendong Malvin, membawa Malvin ke kamar putranya dan menidurkannya.
"Aku berharap Falensia tidak menjadi perusak dalam hubungan Jennie dan Langit," ucap tuan Arkan.
"Iya dad, semoga," saut nyonya Arkan.
Sementara di ruangan itu ada satu orang yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, orang itu tidak lain tidak bukan adalah Samudra. Dia datang ke masion untuk bertemu calon istri dan putranya. Kedatangannya disambut dengan fakta yang menggoreskan luka di hatinya.
Langit, gumam Samudra berbalik arah dan pergi meninggalkan masion tuan Arkan.
***
"Tidurlah wife, jangan di paksa bila sudah benar-benar mengantuk," tukas Langit membawa lembut kepala istrinya ke atas dadanya, memeluk tubuh istrinya, mencium rambut istrinya.
"Iya hubby. Jangan lepaskan pelukan ini," pinta Jennie yang menyukai posisinya.
Jennie suka mendengar detak jantung suaminya, itu adalah irama terindah baginya. Selain itu dia lebih leluasa untuk menghirup wangi alami dari tubuh suaminya. Belum lagi perlakuan suaminya yang mencium rambutnya, itu sangat dia sukai. Semua yang dilakukan suaminya, dia menyukainya.
"Iya, tidurlah Queen," kata Langit terus melakukan kegiatan itu pada istrinya, hingga 5 menit dia mendengar istrinya mendengkur halus.
__ADS_1
"Cantik, cantik dari sisi mana pun. Mimpi indah wife," ujar Langit mencium rambut istrinya dan ikut memejamkan matanya.