Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Maaf Daddy Ingkar Janji


__ADS_3

Sebelum kesadarannya hilang, Langit sempat untuk menelpon istrinya di detik-detik terakhir sebelum kedua matanya tertutup.


"Maaf daddy ingkar janji mom, baby," ucap Langit dengan suara lirih sambil merintih kesakitan.


"Kenapa dad?" tanya Jennie dengan perasaan cemas.


"Ma-ma-maaf," rintih Langit yang terakhir, panggilan telepon masih terhubung.


"Dad, daddy," kata Jennie mencoba memanggil suaminya, tapi tidak ada jawaban dari suaminya.


"Ayo unn, Rachel kita susul Langit," ajak Jennie langsung berdiri meninggalkan ruang TV menuju ke luar mansion. Jesya dan Rachel mengikuti dari belakang


"Ada apa Jennie?" tanya Jesya mencoba menenangkan Jennie yang terlihat gelisah setelah menerima telepon dari Langit.


"Unn, suamiku barusan menelpon, tapi suaranya seperti tidak sedang baik-baik aja. Ayo unn," ajak Jennie sudah mulai meneteskan air mata, perasaanya benar-benar gelisah.


"Iya kita menyusul Langit. Tenangkan dirimu Jennie, ingat kamu sedang mengandung," ucap Jesya.


Jennie tidak menjawab, mereka masuk ke dalam mobil. Mobil melaju ke arah kedai Langit, jalanan sangat sepi karena ini adalah salju pertama. Setiap salju pertama turun, sekolah-sekolah, kantor-kantor negara Korea Selatan itu akan memberikan hari libur. Berbeda dengan Langit yang membuka kedai, yang tidak mengenal kata libur. Oleh karena itu, kenapa Langit sampai saat ini belum mendapatkan pertolongan.


"Sabar unn, tenangkan diri unnie," ujar Rachel mencoba menenangkan Jennie. Air mata Jennie tidak pernah berhenti untuk mengalir, perasaan cemas dan gelisah selalu melekat pada suaminya.


Sementara Langit sudah tergeletak di jalan dengan kening yang berdarah. Tidak ada yang menggunakan jalan saat ini, semua orang masih menetap di dalam rumah.


***


15 menit tiba di persimpangan pertama lampu merah. Jesya langsung menepikan mobilnya.


"Kenapa unn?" tanya Jennie.


"Langit!" pekik Jesya.


Jennie mencoba melihat arah pandang unnienya dan benar saja, suaminya sudah tergeletak di tengah jalan. Jennie buru-buru langsung turun, menghampiri suaminya.


"Hubby, bangun hubby," lirih Jennie yang sudah menangis membawa kepal suaminya ke pelukannya.


"Jennie, ayo kita bawa ke rumah sakit. Rachel bantu unnie," ajak Jesya langsung mengambil tindakan, karena sepertinya Langit sudah cukup lama tergeletak di tengah jalan yang kondisi jalannya sedang bersalju. Rachel yang melamun dari tadi, langsung sadar karena perkataan unnie. Dia membantu membawa Langit masuk ke mobil.


Langit di tempatkan di samping Jennie di kursi penumpang dengan Jennie yang memeluk suaminya, sambil menangis. Jesya membawa mobil dengan kecepatan lebih tinggi sedikit dari yang sebelumnya, karena mengingat mereka sedang membawa Langit yang sedang dalam keadaan darurat, tapi tidak bisa terlalu cepat karena kondisi jalan yang licin.


"Bertahan hubby, bertahan. Tolong bertahan," pinta Jennie terus menangis, menutup darah yang terus keluar dari kepala suaminya.

__ADS_1


***


Mobil yang di kendarai Jesya tiba di depan rumah sakit, Jesya langsung keluar dari mobil berlari masuk kedalam rumah sakit untuk meminta suster dan dokter segera membawa Langit yang berada di mobil.


"Suster! Dokter! tolong adik saya kecelakaan!" pekik Jesya dengan suara besarnya.


Suster dan Dokter menarik brankar untuk memindahkan Langit. Mereka memindahkan Langit dengan hati-hati dari dalam mobil, lalu mendorong brankar dengan cepat, agar Langit bisa segera di tangani. Akhirnya Langit masuk ke ruangan Intensive Care Unit (ICU). Jennie, Jesya dan Rachel menunggu di kursi tunggu luar ICU.


Sedari tadi Jennie tidak berhenti mengeluarkan air mata, dia berpikir kemungkinan buruk yang akan terjadi pada suaminya. Pikiran tentang bagaimana jika dia ditinggal suaminya untuk selamanya? Bagaimana jika suaminya lupa ingatan? Dan bagaimana dia harus menjalani hidup ketika tidak ada Langit di sampingnya? Bagaimana dengan baby? Apa dirinya ikut menyusul suaminya saja?. Pertanyaan itu terus terbayang-bayang di kepalanya.


"Hentikan pikiran burukmu, Langit akan baik-baik saja. Berdoa untuk keselamatannya," ujar Jesya yang sepertinya sudah sangat mengenal adik satunya ini, hingga dia tahu apa yang sedang ada di pikiran Jennie.


"Bagaimana jika Langit meninggalkan aku dan baby, unn? Bagaimana aku menjalani hidup? Apa aku dan baby ikut menyusul Langit saja, unn?" tanya Jennie begitu rapuh mengungkapkan pikiran-pikiran yang terus membayanginya. Jesya dan Rachel menjadi sedih karena pernyataan Jennie, tapi mereka berdua memakluminya.


Jesya dan Rachel memeluk Jennie, mengusap punggung Jennie yang menangis pilu. Sekitar 5 menit, tangis pilu Jennie perlahan mulai mereda. Jesya dan Rachel masih memeluk Jennie.


"Jangan pernah lakukan yang kamu ucapkan Jennie, itu sama halnya kamu meminta pada Tuhan kalau Langit sebaiknya kembali saja bersama Tuhan, ketimbang bersama kamu dan baby," jelas Jesya yang masih memeluk Jennie, Jennie menggelengkan kepalanya, dia tidak bermaksud seperti itu.


"Kasihan baby unn, baby berhak untuk hidup. Bukankah kehamilan unnie adalah anugerah dan kado terindah bagi Langit, unn? Lalu unnie tega melenyapkan diri unnie dan baby untuk menyusul Langit?. Jangan berpikir terlalu jauh, seolah-olah kita lebih tahu dari Tuhan unn, berdoalah untuk keselamatan Langit di dalam ruang ICU yang sedang berjuang," tutur Rachel mengusap punggung unnienya.


"Hiks ... hiks ... maaf hubby, maaf baby. Mommy maaf," lirih Jennie sambil mengelus perutnya.


"Sudah unn, jangan seperti ini terus. Sudah cukup unnie menangis hemmm. Nanti kesehatan unnie terganggu, dan berdampak pada kehamilan, unn," kata Rachel dan Jesya melepaskan pelukan mereka pada Jennie.


"Kita berdoa untuk keselamatan Langit, unn," kata Rachel mengelus bahu unnienya.


"Iya," ujar Jennie terus menatap pintu ruang ICU suaminya yang sedang di tangani.


***


Saat ini Falensia, Malvin dan Samudra sedang berada di arena permainan untuk anak-anak di Mall. Samudra mengajak calon istri dan anaknya untuk menghabiskan waktu libur dengan ke arena permainan anak-anak. Malvin sama sekali tidak tertarik dengan ajakan daddy Samudranya, dia akhirnya ingin pergi, karena di bujuk oleh mommynya.


Falensia tidak enak dengan Samudra, jika harus menolak ajakan Samudra terus-menerus, bukankah Falensia sudah berjanji untuk membuka hatinyaperlahan-lahan untuk menerima Samudra lagi dan mulai bersahabat dengan masa lalunya. Dan langkah awalnya adalah banyak menghabiskan waktu bersama Samudra dan putra mereka.


"Boy, tidak ingin mencoba permainan yang lainnya?" tanya Samudra.


"Bisakah kita pulang saja mom, dad," ujar Malvin.


"Oh, kenapa boy? Apa kurang seru permainan yang ada di sini?" tanya Samudra.


"Tidak dad, hanya ingin pulang. Mom, bisakah telepon daddy, aku merindukan daddy. Rasanya dadaku sakit sekali setiap membicarakan daddy," mohon Malvin memeluk mommynya.

__ADS_1


"Daddy baik-baik saja boy. Daddy sedang menghabiskan waktu liburnya bersama aunty Jenjen," ucap Samudra dengan nada sedikit tinggi dan muka kusut menatap wajah putranya.


"Samudra," tegur Falensia yang sedang mengelus punggung putranya.


"Hah, aku ke toilet dulu," pamit Samudra meninggalkan Falensia dan Malvin.


"Kita telepon daddy sayang," kata Falensia mencoba menelepon Langit beberapa kali, tapi tidak satupun panggilan yang di jawab Langit.


"Bagaimana mom?" tanya Malvin.


"Daddy tidak mengangkat panggilannya sayang," jawab Falensia.


"Aunty Jenjen mom," sahut Malvin.


"Tapi-" ucapan Falensia terpotong oleh putranya.


"Tolong, aunty Jenjen mom," mohon Malvin memberikan mommynya tatapan lirih.


"Iya sayang," ucap Falensia langsung luluh dan menelpon adiknya. Tak butuh waktu lama, panggilan Falensia langsung terhubung dengan adiknya.


"Jennie, maaf, unnie mengganggu waktumu. Malvin ingin berbicara dengan Langit. Apa bisa Malvin berbicara dengan Langit?" tanya Falensia.


"Unn, suamiku sedang di ruang ICU. Dia kecelakaan unn," jawab Jennie di seberang telepon dengan suara lirih.


"Bagaimana bisa?" tanya Falensia syok, jantungnya berdegup kencang, mendengar mantan suaminya masuk ruang ICU, itu artinya Langit benar-benar mengalami luka serius.


"Aku tidak tahu unn," jawab Jennie.


"Unnie dan Malvin akan segera menyusul," ucap Falensia langsung mematikan telpon dan menggendong putranya untuk ke toilet menemui Samudra.


"Mom, daddy sedang sibuk? Daddy tidak bisa berbicara denganku mom?" tanya Malvin di gendongan mommynya.


"Tidak sayang. Nanti akan mommy ceritakan, kita akan bertemu daddy," jawab Falensia yang membawa putranya ke arah toilet.


"Bagus, kerja bagus. Pastikan tidak ada yang tahu soal kecelakaan ini. Aku sudah mentransfer uang ke rekeningmu, pergilah sejauh mungkin meninggalkan kota ini," ucap Samudra mematikan panggilan telepon.


"Selamat menikmati detik-detik penderita atau bahkan kematianmu Langit!" sarkas Samudra tersenyum jahat.


Samudra keluar dari toilet dan bertemu dengan Falensia di depan toilet, wajah Samudra seketika menjadi panik.


"Sudah? Bisakah antarkan aku dan Malvin ke rumah sakit? Langit kecelakaan," ucap Falensia.

__ADS_1


"Iya," ujar Samudra lega karena Falensia tidak mendengar obrolannya dengan orang suruhannya tadi.


__ADS_2