Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Daddy Langit


__ADS_3

Dokter masuk ke dalam ruangan Langit untuk mengecek kondisi Langit. Baby tidak ingin melepaskan genggamannya dari jari telunjuk daddynya, berakhirlah Falensia yang menggendong baby yang berdekatan dengan Langit. Jennie berbaring di samping kasur Langit, mommy dan daddy Arkan memperhatikan dokter yang memeriksa menantunya.


"Syukurlah, Tuhan maha baik tuan, nyonya. Tuan Langit kembali dengan keadaan yang sangat baik, seperti orang yang tidak pernah sakit. Tapi untuk lebih memastikan lagi, besok tuan Langit akan melakukan pemeriksaan oragan dalam lebih lanjut," jelas Dokter.


"Syukurlah, terima kasih Dokter," ucap daddy dan mommy Arkan.


"Sama-sama tuan, nyonya, kalau begitu saya izin," pamit Dokter pergi meninggalkan ruangan Langit setelah daddy dan mommy Arkan menganggukan kepala.


Langit tersenyum melihat ke arah putrinya. Falensia memberikan baby pada Langit. Falensia tahu keinginan Langit yang masih ingin memeluk putrinya.


Diam dalam kondisi seperti ini, Langit belum sama sekali mengeluarkan suaranya. Entah apa yang di pikirkan daddy dan anak perempuan itu. Jennie tersenyum melihat tingkah lucu suami dan putrinya.


Klik ... Pintu ruangan Langit terbuka dan masuklah Rachel dan Jesya dengan membawa beberapa paper bag.


"Unnie, selamat ya atas kelahiran anak unnie. Ngomong-ngomong di mana-" ucapan Rachel terhenti setelah apa yang dia lihat.


Bugh ... Paper bag ditangan kanan Rachel jatuh.


Bugh ... Paper bag ditangan kiri Rachel jatuh.


Bugh ... Paper bag ditangan kanan Jesya jatuh.


Bugh ... Paper bag ditangan kiri Jesya jatuh.


Rachel dan Jesya syok dengan apa yang mereka lihat, kedua mata mereka berkedip beberapa kali untuk memastikan apa yang mereka lihat itu benar atau hanya halusinasi mereka saja.


"Unn, tolong cubit aku, unn," pinta Rachel.

__ADS_1


"Aw, yakh, itu sakit," pekik Rachel mengeluh setelah mendapatkan cubitan dari Jesya. Semua orang di dalam ruangan itu tertawa mendengar lelucon yang Jesya dan Rachel lontarkan.


"Itu artinya yang kita lihat benar Rachel. Langit sudah sadar dan apa itu anak Jennie?" tanya Jesya.


"Iya unn, suamiku sudah sadar dari koma dan itu adalah putri kami," ucap Jennie membuka suara.


"Benarkah, selamat unn karena sekarang sudah resmi menjadi mommy dari princess unnie dan Langit sudah sadar dari tidur panjangnya," seru Rachel berjalan ke arah Jennie lalu memeluknya.


"Selamat Jennie," kata Jesya memeluk Jennie.


"Terima kasih guys," balas Jennie tersenyum manis.


"BTW, sudah berapa lama hubungan daddy dan princess mu itu Jennie, sedari tadi saling tatap-tatapan?" tanya Jesya.


"Lumayan unn, mereka berdua sama-sama sedang mengagumi satu sama lain," jawab Jennie.


"A, so sweet," pekik Rachel.


"Karina Lili Akdiasa? Nama putri kita hubby?" tanya Jennie.


"Iya, Lili, bunga Lili ratu dari segala bunga. Apa itu cocok untuk putri kita wife?" tanya Langit menoleh dengan senyum ke arah istrinya.


"Sangat, sangat cocok dan indah dad," puji Jennie meneteskan air mata, dia sudah lama tidak mendengar panggilan wife dariĀ  bibir candu suaminya.


"Tolong peluk daddy, mom," pinta Langit dengan mata berkaca-kaca.


Rachel dan Jesya membantu memapah Jennie untuk duduk di kasur Langit, setelah di sana. Jennie langsung membuka tangannya, Langit memeluk tubuh istrinya dengan satu tangan memeluk baby.

__ADS_1


"Terima kasih mom, terima kasih sudah melahirkan princess kita. Maaf, maafkan daddy yang tidak bisa menemani masa-masa kehamilan dan persalinan mommy dan baby. Maaf mom, maaf," sesal Langit menangis seperti anak kecil di dalam pelukan istrinya.


"Owek, Owek," tangis baby, mungkin karena bisa merasakan daddynya yang menangis.


"Shut, anak cantik dengan aunty dulu, ya," ajak Falensia mengambil Lili dari pelukan Langit, membiarkan pasangan suami-istri itu melepas rindu.


"Tidak, daddy tidak perlu minta maaf. Ini semua ada takdir Tuhan untuk menguji mommy, apa mommy setia atau justru meninggalkan daddy. Daddy tenang saja, selama proses kehamilan dan melahirkan baby sama sekali tidak mempersulit mommy. Baby bekerjasama dengan mommy untuk segera bertemu dengan daddy tampannya. Mommy dan baby yang harusnya berterimakasih dad, terima kasih karena daddy sudah ingin kembali dan bertanggung jawab untuk mommy dan baby," ungkap Jennie meneteskan air mata, penantiannya tidak sia-sia.


Sekarang Jennie bisa merasakan pelukan hanya suaminya dan mendengar suara suaminya lagi. Jennie mencium kepala suaminya, mengusap bahu suaminya yang menangis di pelukannya. Jennie membiarkan suaminya menangis di pelukannya, sampai suaminya berhenti sendiri.


"Owek, Owek," tangis baby di gendongan Falensia.


"Oh, princess yang cantik, jangan menangis, ya. Biarkan daddy dan mommy mu melepas rindu sebentar, ya," bujuk Jesya.


"Owek, Owek, Owek," tangis baby semakin kencang.


"Astaga, benar-benar bucin daddynya," ledek Rachel.


"Ikatan seorang anak sangat kuat dengan orang tuanya, jadi maklumi saja sayang. Nanti kalian akan seperti itu juga, jika sudah memiliki anak," bela mommy Arkan bergeleng-geleng kepala dengan tingkah 2 putrinya yang lain.


"Heheh, iya mom," jawab Jesya dan Rachel.


"Sudah dad, kasihan baby. Princess daddy cemburu dengan mommynya, karena mengambil daddynya," ucap Jennie melerai pelukannya, lalu mengusap air mata suaminya dengan senyum yang terbit di wajahnya.


Langit tersenyum, merentangkan tangan satunya pada Falensia, seperti berbicara (kemari unn bawa baby). Falensia yang paham langsung berjalan memberikan baby pada Langit. Dan benar saja Karina Lili Akdiasa itu langsung diam dan menempelkan wajahnya pada dada daddynya. Semua yang ada di ruangan itu tersenyum.


"Astaga, bucin-bucin," ledek Rachel dan Jesya kompak.

__ADS_1


Sementara yang lain tersenyum mendengar gumaman mereka berdua. Kemana Malvin? Malvin tinggal di ruang bersalin Jennie dengan di temani Suster. Mereka tidak membawa Malvin karena keadaan tidak memungkinkan di tambah lagi Malvin yang memang dari datang tadi belum bangun dari tidurnya.


__ADS_2