Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Daddy Mendidik Abang Malvin


__ADS_3

Jennie dan Langit sudah keluar dari rumah sakit, untuk sementara waktu mereka akan tinggal di mansion daddy Arkan. Saat ini keluarga kecil itu sedang berada di dalam kamar, dengan Langit yang sedang mandi, Jennie dan baby di atas kasur. Baby yang tertidur sambil menggenggam jari telunjuk mommynya. Sebelum baby tidur, baby menggenggam jari telunjuk daddynya. Tapi, karena baby sudah tertidur dan daddynya ingin pergi mandi, jadi jari mommynya sebagai penggantinya.


Baby sudah tidur dari sore tadi dan ini sudah waktunya masuk jam makan malam. Jennie sudah mandi terlebih dahulu sebelum Langit.


Tok ... tok ... tok ... Pintu kamar Jennie dan Langit diketuk dari luar.


Jennie melihat siapa yang mengetuk dan begitu melihat siapa orangnya. Jennie langsung menekan remote untuk membuka pintu kamarnya. Masuklah pria kecil tampan dengan piyama Transformers nya. Dia mendekat ke arah kasur yang di sana ada Jennie dan baby yang sedang tidur.


"Ada apa boy?" tanya Jennie.


"Aunty, aku disuruh grandma untuk memberitahu kalau makan malam sudah siap. Aunty dan daddy di suruh turun," ucap Malvin mengintip adik bayi.


"Iya boy, aunty akan turun dengan daddy. Setelah daddy selesai mandi," saut Jennie.


"Iya nty. Apa adik bayi masih tidur, aunty?" tanya Malvin.


"Iya boy," jawab Jennie.


"Kalau begitu, Malvin tunggu di bawah," kata Malvin.


"Iya, hati-hati," ucap Jennie.


Tak lama kepergian Malvin, Langit keluar dadi kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Bersamaan dengan itu juga, baby bangun dari tidurnya. Sehati sekali pasangan daddy dan princessnya ini.


"Bajunya sudah mommy siapkan di ruang baju, dad," ujar Jennie memberi tahu suaminya.


"Iya mom, terima kasih," kata  Langit berjalan menuju ke ruang penyimpanan baju dan aksesoris mereka, lebih tepatnya dominan dengan isi barang-barang istrinya.


Langit memakai bajunya lalu menyisir rambutnya, setelah selesai dia menghampiri istrinya. Sebelum itu dia menggantung kembali handuk yang sudah dia pakai di kamar mandi.

__ADS_1


"Princess daddy sudah bangun," ucap Langit menghampiri putrinya, mencium pipi putrinya dan putrinya sudah pasti tersenyum dengan tingkah daddynya.


"Mommy tidak di cium dad?" tanya Jennie memajukan bibirnya cemberut.


"Hahah, sini mom," jawab Langit mendekatkan dirinya dengan istrinya lalu mencium bibir istrinya. Jennie tersenyum manis.


"Dad, ayo turun ke bawah untuk makan malam. Kita sudah di tunggu, barusan Malvin menghampiri baby untuk memanggil turun," ajak Jennie mencium bibir suaminya.


"Iya mom, ayo. Biar daddy yang gendong princess," ucap Langit menegakkan tubuhnya dan menggendong baby. Sedangkan Jennie memeluk lengan suaminya. Mereka turun bersama ke lantai dasar untuk bergabung makan malam bersama.


"Hai sayang, sudah bangun ternyata princess," mommy Arkan, menyapa Jennie, Langit, dan baby yang ada di gendongan daddynya.


"Iya mom, daddynya selesai mandi, baby terbangun dari tidurnya," tutur Jennie dan Langit mengambil posisi duduk, dengan Langit di tengah-tengah antara Jennie dan Malvin.


"Maaf lama dad, mom, unn dan boy," ucap Langit merasa tidak enak karena mereka jadi menunda kegiatan malam.


"Benar, sekarang kita mulai acara makan malamnya. Boy pimpin doa," ucap daddy Arkan.


"Berdoa mulai," mereka semua berdoa setelah mendengar titah dari Malvin.


"Selesai, selamat makan," seru Malvin.


"Selamat makan," saut semua orang dewasa di meja makan.


"Ingin makan dengan apa dad?" tanya Jennie bertanya pada suaminya.


"Mommy duluan saja, biar daddy menggendong baby dulu," jawab Langit.


"Tidak, biar mommy suapi daddy dulu, lalu baru mommy makan. Nanti baby menangis kalau lepas dari daddy," tolak Jennie.

__ADS_1


"Sesendok untuk mommy dan sesendok untuk daddy. Tolong sop daging dan nasi, mom," pinta Langit.


"Iya dad," Jennie mengambilkan pesanan suaminya dengan porsi yang cukup banyak karena untuk berdua. Sesuai titah suaminya, 1 piring berdua, sesendok selang-seling.


Sementara mommy dan daddy Arkan, serta Malvin tersenyum dengan keromantisan Jennie dan Langit. Lain halnya dengan Falensia yang menganggap seolah-olah Jennie dan Langit tidak ada, hatinya belum bisa menerima keadaan yang terjadi saat ini. Dimana mantan suaminya yang menjadi suami dari adik dan daddy dari ponakannya.


"Boy, kenapa tidak makan sayur?" tanya Langit baru melihat apa yang ada di dalam piring putranya.


"Tidak suka dad," jawab Malvin.


"Apa boy sudah mencobanya?" tanya Langit.


Malvin menggelengkan kepala.


"Lalu bagaimana boy menilai sayur itu tidak enak?" tanya Langit.


"Tapi dad, itu tidak menarik," ujar Malvin.


"Oh, apa daddy pernah mengajarkan untuk menilai segala sesuatunya hanya dari tampilannya saja? Cobalah terlebih dahulu, baru boleh memberi penilaian. Sayur sangat bagus untuk tubuh kita boy," ucap Langit memberitahu dan mengajari putranya dengan cara yang lembut.


"Iya dad, mom tolong sayur sedikit saja," pinta Malvin yang tidak bisa membantah perkataan daddynya.


"Ini sayang," kata Falensia meletakkan 1 sendok sayur semacam capcai di piring Malvin. Malvin perlahan-lahan mencobanya.


"Bagaimana boy?" tanya Langit.


"Benar dad, ini tidak buruk. Ini sangat enak. Mom lagi," ujar Malvin.


Falensia menambahkan sayur lagi di piring Malvin. Sementara Jennie, mommy dan daddy Arkan tersenyum karena melihat bagaimana cara Langit menegur dan mendidik Malvin.

__ADS_1


__ADS_2