
Pagi hari yang indah, sinar matahari tidak nampak karena semalam Korea turun salju. Pagi ini suami tercinta dari Jennie Arkan belum bangun dari tidurnya, karena cuaca dingin menjadi salah satu musuh terberat untuk Langit. Jennie yang dari tadi sudah bangun, memilih untuk menatap setiap lekuk wajah indah suaminya dan memberikan beberapa ciuman di wajah suaminya.
"Sudah bangun wife?" tanya Langit tersenyum tapi belum membuka matanya.
"Sudah, daddy masih ngantuk hm?" tanya Jennie mencium bibir suaminya.
"Tidak, hanya butuh beberapa waktu mengisi tenaga dengan di peluk mommy dan baby," jawab Langit masuk lebih dalam ke pelukan istrinya.
"Lakukan yang daddy inginkan. Hari ini ke kedai dad?" tanya Jennie mencium rambut suaminya, mengelus punggung suaminya.
"Iya mom, hanya memberikan catatan resep dan mengajari Mina cara memasak, sebelum daddy kerja di perusahaan besok," tutur Langit menikmati perlakuan istrinya.
"Mommy boleh ikut dad?" tanya Jennie.
"Mommy di mansion saja ya, hari ini salju, jalanan licin. Daddy juga menggunakan motor, nanti mommy dan baby kedinginan," jelas Langit memberikan istrinya pengertian.
"Hah, baiklah baby dan mommy menunggu daddy di mansion dad," ucap Jennie bersuara seperti anak kecil.
"Iya, tolong tunggu daddy pulang, ya," kata Langit.
Kruk ...Kruk ... Suara perut Jennie berbunyi.
"Hahah, mommy baby lapar, ya?" tanya Langit.
"Tidak, mommy tidak lapar. Yang lapar itu baby, iyakan baby?" tanya mommy Jennie seolah-olah bertanya pada calon anaknya yang bahkan belum ada ruh di sana.
"Hahah, katakan saja jika mommy lapar. Daddy tidak masalah. Mommy dan baby ingin sarapan apa hm, biar daddy buatkan?" tanya Langit.
"Nasi goreng kimchi dad," jawab Jennie.
__ADS_1
"Iya, nasi goreng kimchi untuk mommy dan baby," ucap Langit.
Langit dan Jennie turun dari kasur, berjalan bergandeng tangan menuruni tangga untuk ke lantai dasar. Di beberapa sudut mansion sudah ada pelayan.
"Pagi tuan, nyonya," sapa Pelayan.
"Pagi bibi Choi," jawab Jennie dan Langit.
"Bi, pagi ini biar saya yang ambil alih dapur, saya akan masak untuk istri dan anak saya," ucap Langit.
"Iya tuan," ucap bibi Choi.
Langit masak dengan damai, sementara istrinya sibuk memperhatikan dan memfoto setiap sisi ketampanan suaminya. Jennie tersenyum melihat hasil foto suaminya. Setelah selesai dengan masakannya dan akan menata, masakannya. Langit di kejutkan dengan istrinya yang mencium dirinya dengan tiba-tiba.
Agresif sekali Jennie ya, entah alasan hormon wanita hamil atau memang modus Jennie, beda-beda tipis lah, ya. Langit mengikuti mengikuti permainan kiss istrinya. Langit cenderung lembut, sedang Jennie benar-benar agresif.
"Tu-" ucapan bibi Choi langsung membalikkan wajahnya, karena melihat dan mengganggu adegan kissing majikannya.
"Thanks daddy," ucap Jennie mengusap bibir suaminya dengan jempolnya. Langit tidak menjawab, tapi dia menampilkan senyum manisnya.
"Ada apa bi?" tanya Langit.
"Ah, tuan, nyonya sebelumnya minta maaf karena mengganggu. Di depan ada tamu, katanya sahabat nyonya, mereka bernama Miss Jesya dan Miss Rachel," jawab bibi Choi.
"Tidak apa bi, apa boleh tolong panggil Langit dan Jennie saja bi. Anggap kami seperti anak bibi," tutur Langit.
"Ah-" Bibi Choi melihat ke arah Jennie, meminta persetujuan dari perkataan tuannya.
"Lakukan apa yang suamiku katakan bi. Dan tolong izinkan mereka masuk bi," ucap Jennie.
__ADS_1
"Ah, iya nak Jennie," kata bibi Choi pergi kedepan untuk memberi izin Jesya dan Rachel masuk ke dalam mansion.
"Mommy dan baby pergilah ke meja makan, Daddy menata makanan dulu," kata Langit tersenyum pada istrinya.
"Iya dad, jangan lama," ucap Jennie mengecup pipi suaminya. Istri mana yang tidak bahagia, bila memiliki suami yang lembut, pinter masak, murah senyum.
Jennie berjalan ke arah meja makan, tak lama kedua sahabatnya tiba di meja makan juga.
"Unn," panggil Rachel memeluk unnienya.
"Kenapa mendadak ke mansion?" tanya Jennie yang sedang memeluk adiknya.
"Tidak, hanya ingin main saja. Kebetulan kami libur hari ini unn. Apa unnie ada acara hari ini? Dan dimana Langit?" tanya Rachel pada Jennie.
"Astaga tupai, bisakan bertanya satu-satu. Pertama, unnie tidak memiliki acara hari ini, karena unnie tidak di izinkan suami Unnie keluar dari masion. Kedua, suami Unnie sedang di dapur, sebentar lagi pasti akan ke sini," jawab Jennie.
"Bagaimana hasil pemeriksaan kemarin Jennie," tanya Jesya gantian memeluk Jennie, setelah Rachel duduk di kursi meja makan.
"Semua baik unn, mommy dan baby sehat," ucap Jennie dengan senyum manis.
"Syukurlah," kata Jesya.
"Akh, maaf mengganggu obrolannya, silahkan lanjutkan," ucap Langit yang mulai membawa masakannya ke atas meja makan dan mulai menatanya.
"Dad, kemari. Biar pelayan saja yang melakukan. Bibi," ucap Jennie meminta suaminya duduk di samping dirinya, dan memanggil pelayan.
"Iya nak Jennie," sahut bibi Choi.
"Tolong katakan pada pelayan lain untuk menata makanan yang sudah suamiku masak bi," kata Jennie.
__ADS_1
"Iya nak Jennie," ujar bibi Choi berjalan ke dapur memberi tahu beberapa pelayan untuk membawa makanan yang sudah di masak oleh Langit untuk di tata di meja makan. Pelayan mulai membawa dan menata meja makan.