
Sementara di dalam mobil, Jennie menghubungi sahabatnya untuk bertemu di salah satu restoran.
"Bisa-bisanya dirimu melupakan hari ulang tahun suamimu Jennie, Jennie," ucap Jennie merutuki kebodohannya di dalam mobil. Mobil tiba diparkiran restoran, Jennie langsung turun dari mobil masuk ke dalam restoran yang di mana sahabatnya Jesya dan Rachel sudah menunggu di dalam.
"Unn," panggil Rachel melambaikan tangan memberi tahu unnienya.
"Hah, sudah lama?" tanya Jennie duduk di kursi yang berhadapan dengan Jesya dan Rachel.
"Kami baru tiba beberapa waktu lalu Jennie," jawab Jesya.
"Hah, syukurlah guys," kata Jennie merasa legah karena tidak membuat sahabatnya lama menunggu dirinya.
"Jadi apa yang akan kita lakukan, unn?" tanya Rachel.
"Rencananya akan membuat kejutan kecil-kecilan di mansion, kita akan sedikit mendekor mansion," jawab Jennie.
"Baiklah, kita bisa mulai dari belanja bahan-bahan dan kue ulang tahun dari sekarang. Sebelum Langit sudah tiba terlebih dahulu di mansion," kata Jesya.
"Iya unn. Ayo kita pergi sekarang. Unnie dan Rachel tidak membawa mobil 'kan?" tanya Jennie.
"Tidak unn, kami di antar manajer unnie," jawab Rachel.
"Syukurlah, ayo kita berbelanja guys," ajak Jennie dengan bersemangat.
2 sahabatnya tersenyum melihat perubahan yang dilakukan Jennie pada Langit. Jesya dan Rachel ikhlas melepaskan pujaan hati mereka dengan Jennie yang benar-benar tulus mencintai pujaan hati mereka.
Sementara di kedai yang ramai dengan pengunjung, Langit dan Mina sibuk membuat pesanan dan pelayani pelanggan, sepertinya mereka membutuhkan 1 atau 2 tenaga kerja lagi. Hingga tiba jam 11 kedai tutup karena semua menu habis terjual. Saat ini Langit dan Mina sedang membersihkan kedai.
"Mina bagaimana dengan kasus perampokan dirimu, apa sudah ada tanda-tanda dari pihak kepolisian?" tanya Langit.
__ADS_1
"Belum, sampai saat ini pihak kepolisian belum mengabari," jawab Mina.
"Sabar, ya. Mina bisa pergi berkeliling setelah kedai tutup untuk mengenal Korea dan siapa tahu menemukan petunjuk keberadaan ayah Mina," usul Langit.
"Iya. Aku rasa juga seperti itu. Jika menunggu pihak kepolisian akan sangat memakan waktu lama. Sehabis tutup kedai, aku akan berkeliling Korea," ucap Mina.
"Iya, semoga Mina segera bertemu dengan ayah Mina. Aku akan membantu juga," kata Lagit.
"Iya. Terima kasih Langit," ucap Mina.
"Sama-sama, Mina," kata Langit.
Mereka menyelesaikan kegiatan bersih-bersih kedai. Setelah selesai Langit pamit untuk pulang, awalnya dia ingin ke perusahaan istrinya. Tapi dia mendapat pesan dari istrinya, kalau istrinya sedang makan di luar bersama sekertaris dan kliennya, jadi Langit memutuskan untuk kembali ke mansion. Langit ke mansion dengan menaiki bus, seperti kebiasaannya.
Setibanya di mansion Langit tidak merasa curiga dengan kondisi mansion. Karena menurutnya itu sama saja, toh mobil istrinya juga belum ada, artinya istrinya belum kembali dari bekerja. Langit masuk ke dalam mansion dengan seperti biasanya, dia tidak tahu kejutan yang sudah menanti di depan matanya.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, to you," Jennie, Jesya dan Rachel bernyayi serentak. Hal ini cukup mengejutkan Langit, pasalnya dia tidak tahu kapan pastinya tanggal ulang tahunnya, karena dia hilang ingatan.
"Happy birthday Langit, Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan untukmu," ucap Rachel.
"Terima kasih, Jesya unnie, Rachel," ujar Langit tersenyum, dia menatap istrinya yang tersenyum cerah sambil membawa 1 kotak berukuran sedang, yang diyakini sebagai hadiah untuk dirinya. Istrinya berjalan ke arah dirinya mencium bibir suaminya.
"Happy birthday my husband. Semua yang terbaik untuk suamiku," ungkap Jennie tersenyum sambil memberikan kotak berukuran sedang itu.
"Terima kasih wife. Sebenarnya aku tidak mengingat kapan aku lahir di dunia ini dan aku juga tidak pernah merayakannya, ini bisa di bilang pertama kalinya aku bisa merasakan, bagaimana rasanya di rayakan ulang tahunnya. Terima kasih wife, Jesya unnie dan Rachel," tutur Langit tersenyum.
Jesya, Rachel dan Jennie tersenyum, rencana mereka berhasil.
"Langit bisakah, dirimu tiup lilinnya terlebih dahulu. Aku tergiur dengan kue ulang tahunmu," ungkap Rachel.
__ADS_1
"Astaga, Rachel pikiranmu hanya makanan saja," ledek Jesya tidak habis pikir dengan adik bungsunya ini.
"Hahah, tidak apa unn. Baiklah aku berdoa sebentar, ya," kata Langit menutup matanya dan mulai berdoa, setelah beberapa saat.
Huft ... Lilin ulang tahun padam.
"Sekarang potong kuaenya, lalu suapi kami Langit," titah Rachel.
"Tidak, tidak, suamiku, hanya boleh menyuapiku. Jesya unnie dan Rachel ambil sendiri dan makan sendiri," tolak Jennie mode posesif.
"Astaga, kucing posesif," ledek Jesya.
"Hubby," rengek Jennie pada Langit.
"Tidak, istriku yang terbaik. Aaaa," ujar Langit menyuapi potongan pertama untuk istrinya. Jennie langsung menerima suapan itu dan tersenyum, lalu balik menyuapi suaminya.
"Sekarang unnie dan Rachel bisa makan kuenya. Hubby, bukalah kado itu," kata Jennie dengan senyum manis.
"Isss, tidak adil," kesal Rachel.
"Rachel, unnie getok kepalamu," ancam Jennie.
"Bercanda, unn," ucap Rachel.
Jesya mulai memotong kue dan makan kue ulang tahun itu.
"Boleh di buka sekarang wife?" tanya Langit.
"Iya hubby, bukalah. Ini salah satu kado di hari ulang tahun suamiku," ucap Jennie.
__ADS_1
"Baiklah, sebelumnya terima kasih, wife," ucap Langit tersenyum mencium kening istrinya.
Langit membuka perlahan kotak berukuran sedang itu dan betapa terkejutnya dia. Langit langsung mematung, pikirannya seperti orang bodoh, melayang entah kemana. Hati Langit berkecambuk, kado yang di berikan istrinya membuat dia seperti tidak bernyawa lagi. Langit menangis memegangi dadanya. Jesya dan Rachel menatap tajam Jennie, mereka menampilkan mata yang kecewa dengan perbuatan Jennie, karena menyaksikan Langit menangis.