
Sudah 9 bulan Langit koma di rumah sakit, belum ada tanda-tanda yang menunjukkan untuk bangun dari komanya. Jennie di bulan ke-2 kehamilan mulai bekerja kembali sebagai CEO untuk menghapus sejenak kesedihannya, karena mengingat suaminya yang masih koma.
Selama masa-masa kehamilannya, baby tidak sama sekali merepotkan Jennie. Bahkan Jennie tidak pernah ngidam seperti mommy pada umumnya, baby hanya sering menendang-nendang perut mommy ketika dia merindukan sentuhan tangan daddynya yang membelai perut mommynya.
Jennie selalu membelai perutnya dengan tangan suaminya, sebagai salah satu bentuk sapaan yang di lakukan suaminya pada baby. Dan hal itu membuat baby menjadi ketagihan, ketika Jennie pergi ke kantor tanpa melakukan rutinitas itu. Baby akan menendang-nendang perut mommynya, baby bisa tenang setelah mendengar suara rekaman daddynya atau setelah tangan Langit membelai perut mommynya.
Sudah bisa di pastikan, baby adalah saingan terberat untuk Jennie dalam memperebutkan kasih sayang Langit. Baby sudah bucin dengan daddynya sejak dalam kandungan. Memasuki usia kandungannya yang ke-9, Jennie memutuskan untuk berhenti menjadi CEO. Dia khawatir suatu waktu, baby akan lahir lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Dan benar saja, saat ini Jennie mulai merasakan sakit di bagian perutnya, sepertinya ini waktunya baby keluar untuk melihat dunia.
Saat ini Jennie sedang berada di ruangan suaminya, ditemani mommy Arkan. Selama melalui masa kehamilannya, Jennie di bantu dengan daddy dan mommynya, unnienya Falensia, sahabatnya (Jesya dan Rachel), dan Malvin. Malvin selalu mengelus perut aunty Jenjen nya untuk menyapa adik bayi. Jennie tinggal di rumah sakit di ruangan suaminya dengan di temani mommy Arkan, Falensia unnie atau sahabatnya.
"Agh, mom, seperti baby sudah waktunya lahir," ujar Jennie mengelus perutnya, wajahnya memerah, menahan sakit di perutnya.
"Tunggu mommy panggil Dokter dulu, sayang," kata mommy Arkan bergegas keluar ruangan untuk memanggil Dokter, meninggalkan Jennie di ruangan Langit.
"Agh, sabar sayang. Sabar ya, sebentar lagi baby akan bertemu mommy dan daddy. Tolong berjuanga bersama, sayang," ucap Jennie mengelus perutnya, melihat ke arah suaminya.
"Daddy, tolong bangun. Baby sudah waktunya lahir, ayo berjuang bersama dengan mommy dan baby, untuk mewujudkan keluarga bahagia impian kita," ucap Jennie dengan air mata mengalir. Sakitnya berkali-kali lipat, melahirkan tanpa di dampingi sosok suami dan saatini harus berjuang bersama-sama untuk tetap hidup.
"Doakan baby dan mommy ya dad. Semoga proses kelahiran baby lancar," ujar Jennie tersenyum sembari menahan sakit di perutnya dan terus mengelus-elus perutnya.
Dokter tiba di ruangan Langit, Dokter dan Suster langsung membawa Jennie ke ruangan khusus untuk melahirkan. Jennie di temani mommy Arkan. Mommy Arkan sebelumnya meminta salah satu suster untuk menghubungi suaminya, mengatakan putri bungsu sedang proses melahirkan dan segera menyusul ke rumah sakit.
__ADS_1
Daddy Arkan yang sedang melakukan pertemuan dengan karyawannya untuk membahas laporan akhir bulan, di tunda dan langsung pergi begitu saja menuju mobil yang sudah ada supir pribadinya. Daddy Arkan menuju rumah sakit, di sepanjang jalan dia menghubungi Irene dan putrinya yang lain (Jesya dan Rachel), memberitahu jika Jennie sedang ditangani Dokter untu kmelahirkan baby.
"Nyonya tolong dengarkan aba-aba dari saya, jangan cemas ataupun panik nyonya. Sekarang nyonya tarik nafas nyonya, buang perlahan," ucap Dokter perempuan memberikan instruksi pada Jennie. Jennie mencoba untuk menetralkan rasa cemasnya secara perlahan-lahan dan syukurlah itu berhasil.
"Sekarang nyonya bisa mulai untuk mendorong baby, seperti nyonya yang mencoba untuk membuang air besar yang mengalami kesulit. Terus lakukan dorongan nyonya," sambung Dokter.
"Ayo sayang, kamu bisa. Demi baby, Langit dan kamu, ayo sayang," ujar mommy Arkan yang tangannya sudah berdarah karena goresan dari kuku putri bungsunya. Mommy Arkan tidak perduli dengan itu, dia perduli dengan keselamatan putri bungsu cucunya.
"Huh, huh, huh, agh, su-su-li-lit," lirih Jennie yang mukanya sudah merah dan penuh dengan keringat.
"Nyonya bisa, nyonya pasti bisa demi baby. Tolong bekerjasama sama dengan mommy baby sayang. Nyonya dalam hitungan ke 5 nyonya coba untuk melakukan dorong lagi nyonya," ucap Dokter.
"1," Dokter, Jennie menarik nafas dalam-dalam.
"3," Jennie menarik nafas dan mendorong sedikit.
"4," Jennie menarik nafas dalam-dalam.
"5," Dokter.
"Agh, daddy," pekik Jennie dengan kuat, sampai kepalanya terangkat, dia berhasil, dia berhasil, baby berhasil di lahirkan, baby berhasil melihat dunia.
__ADS_1
Napas Jennie memburu, tidak beraturan. Mommy Arkan terpaku dengan keberhasilan proses kelahiran cucunya.
"Owek, Owek, Owek," teriak baby menangis kuat.
Air mata Jennie menetes mendengar suara anaknya, dia tersenyum bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena sudah berhasil melahirkan baby dan sedih karena tidak ada suaminya yang menemaninya.
"Selamat sayang, kamu sudah resmi menjadi mommy dan Langit menjadi daddy. Selamat sayang," ucap mommy Arkan tersenyum sambil menangis haru. Mommy Arkan merasakan kebahagiaan dan kesediaan dari putri bungsunya, dia mencium kening putrinya.
"Terima kasih mom," ucap Jennie menangis haru.
"Sus, tolong bersihkan bayinya dulu," pinta Dokter.
"Iya Dok," kata Suster membersihkan baby.
"Selamat nyonya Akdiasa, atas kelahiran putri pertama kalian. Putri kalian sangat cantik dan sehat, tanpa kekurangan apa pun," tutur Dokter tersenyum, sementara suster yang lain membersihkan sisa darah dan menjahit tempat di mana baby di lahirkan di tubuh Jennie.
"Anakku perempuan?" tanya Jennie terkejut.
"Iya nyonya, dia perempuan dan sangat cantik," puji Dokter.
"Mom," lirih Jennie menangis, doa suaminya didengar dan di kabulkan oleh Tuhan. Tuhan memberikan mereka seorang princess yang menjadi impian dari suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang," saut Mommy Arkan mengusap air mata putrinya.
"Langit. Langit pasti bahagia mom. Langit pasti bahagia mom. Dia menginginkan anak perempuan dan sekarang, Jennie berhasil mewujudkan keinginannya mom. Jennie berhasil, Tuhan baik mom," ucap Jennie terharu.