
"La-Langit," panggil Rachel terbangun dari mimpi indah. Karena dia merasakan seseorang menggenggam tangannya.
"Langit, dirimu sudah sadar. Tunggu sebentar, aku panggil Dokter dulu," ujar Rachel menekan tombol panggilan yang menghubungkan ke Dokter.
"Butuh sesuatu?" tanya Rachel menatap Langit.
"Air," lirih Langit.
"Iya," Rachel membuka botol minum, memasukkan sedotan minum, membantu Langit untuk minum perlahan.
"Sudah, terima kasih Rachel," kata Langit dengan senyuman di wajah pucatnya.
"Iya, apa yang dirimu rasakan saat ini?" tanya Rachel sambil meletakkan botol air minum Langit di atas meja.
"Sedikit perih," jawab Langit.
"Permisi Nona, bisa beri ruang agar kami bisa memeriksa tuan Langit," ujar Dokter dan 1 Suster.
"Silakan," kata Rachel mundur beberapa langkah dari posisi sebelumnya.
"Kondisi tuan Langit semakin membaik. Butuh istirahat yang cukup, jangan melakukan hal-hal yang berat terlebih dahulu," ujar Dokter setelah memeriksa kondisi Langit.
"Hari ini saya sudah bisa pulang 'kan, Dok?" tanya Langit.
"Sudah tuan," jawab Dokter.
"Syukurlah, terima kasih Dok," kata Rachel.
"Terima kasih," ujar Langit.
"Lekas sembuh tuan," pamit Dokter dan Suster pergi meninggalkan ruangan Langit.
"Sudah sadar?" tanya Jesya yang baru tiba di ruangan Langit.
"Sudah unn," jawab Langit.
"Syukurlah." Jesya dengan mata sembab.
"Unnie habis menangis?" tanya Rachel yang memperhatikan mata sebab unnienya.
"Tidak," elak Jesya.
"Unnie habis menangis, apa ada masalah unn?" tanya Rachel lagi.
"Langit bisakah dirimu menceraikan Jennie?" tanya Jesya to the point.
"Kenapa unn? Apa salah Jennie unnie?" tanya Rachel terkejut dengan permintaan unnienya yang tiba-tiba.
"Ada apa unn?" tanya Langit dengan lembut.
"Dia tidak mencintaimu. Dia hanya ingin balas dendam dan membuat hidupmu menderita," jawab Jesya.
"Aku sudah tahu unn," ujar Langit dengan tenang.
"Kenapa dirimu tidak menceraikannya Langit? Jika dirimu sudah tahu?" tanya Jesya.
"Dia istriku unn, baik buruknya dia. Dia tetap istriku," bela Langit.
"Tapi dia selingkuh, dia barusan berciuman dengan laki-laki lain," jelas Jesya.
"Jika itu bisa membuat dia bahagia, biarkan saja unn," ucap Langit dengan senyumnya.
"Jennie unnie berciuman dengan laki-laki lain?" tanya Rachel.
"Iya, unnie melihatnya sendiri di depan pintu kamar hotel. Ceraikan Langit," Jesya menuntut Langit untuk menceraikan Jennie.
"Beri aku waktu untuk berbicara dengan Jennie baik-baik unn," ujar Langit.
"Orang seperti Jennie unnie tidak pantas untuk di perlakukan baik Langit," ucap Rachel dengan kesal.
"Setiap orang memiliki ke sempatan Rachel, bisa jadi Jennie melakukan itu karena kesalahan yang datangnya dari diriku," lagi-lagi Langit membela Jennie.
__ADS_1
"Hah...." Rachel.
"Unnie menunggu keputusanmu," desak Jesya.
"Iya unn. Bisa tolong aku pulang ke hotel Unn, Rachel?" tanya Langit.
"Iya," jawab Jesya dan Rachel kompak.
Rachel mengurus administrasi Langit. Langit sedang duduk menunggu Rachel bersama Jesya.
"Langit jika dirimu mendapati kesulitan dan memiliki masalah, berbagilah dengan unnie," ujar Jesya.
"Iya unn," saut Langit.
"Datang ke unnie, jangan sungkan, ya. Unnie akan selalu ada untukmu," ungkap Jesya.
"Iya unn, terima kasih Unn," kata Langit.
"Iya," Jesya.
Rachel sudah menyelesaikan urusan administrasi Langit. Mereka pergi menggunakan taxi. Jesya dan Rachel memutuskan untuk menginap di hotel yang sama dengan Langit dan Jennie tempati. Hal itu mereka lakukan agar bisa mengawasi dan merawat Langit.
Mobil berhenti di depan pintu masuk hotel, Jesya membayar tagihan hotel. Jesya dan Rachel membantu Langit dengan cara Langit di papah. Setibanya Langit di depan pintu kamar hotelnya, Langit pamit dan berterima kasih pada Jesya dan Rachel.
"Terima kasih Unn, Rachel," ujar Langit.
"Iya, hati-hati. Hubungi kami jika butuh sesuatu, ya," jelas Jesya.
"Hati-hati Langit," kata Rachel.
"Iya, Rachel, unn," Langit sedikit membungkuk dan menekan pin di pintu masuknya
Klik ... Pintu terbuka dan masuklah Langit
"Bagus, kau belum mati, ya," sarkas Jennie di atas tempat tidur sedang bermain telepon, Langit diam saja.
Langit berjalan ke arah sofa, dia membuka teleponnya, di sana dia melihat banyak panggilan dari Falensia dan beberapa pesan serta gambar Malvin yang sedang menangis karena merindukan dirinya. Langit menghubungi balik Falensia.
"Selamat malam unn, apa Malvin sudah tidur?" tanya Langit.
"Belum, dia masih menunggumu untuk meneleponnya," ujar Falensia.
"Bisakah aku berbicara dengan Malvin unn?" tanya Langit.
"Tentu, tunggu sebentar, ya," kata Falensia berjalan keluar dari kamarnya menghampiri Malvin yang ada di kamarnya.
"Sayang, Daddy menelepon," kata Falensia pada Malvin yang masih bisa di dengar oleh Langit.
Langit tersenyum karena mendengar panggilan Falensia pada dirinya.
"Benarkah mom?" tanya Malvin bersemangat.
"Iya sayang, ini Daddy," ujar Falensia memberi tahu Malvin.
"Daddy," panggil Malvin bersemangat.
"Hallo jagoan," sapa Langit.
"Daddy kenapa kemarin tidak mengangkat telepon mommy dan grandpa, padahal Malvin ingin berbicara dengan Daddy," lirih Malvin.
"Maaf boy, Daddy ada sedikit urusan," elak Langit.
"Daddy tidak menjauhiku 'kan?" tanya Malvin.
"Tidak, Daddy tidak seperti itu. Daddy menyayangi mu boy," jelas Langit.
"Benarkah? Daddy tidak berbohong 'kan?" tanya Malvin lagi untuk memastikan ucapan Daddynya.
"Tidak boy, sebagai permintaan maaf Daddy. Daddy nanti akan menghabiskan waktu berdua dengan boy untuk bermain, bagaimana?" tanya Langit.
"Promise dad?" tanya Malvin.
__ADS_1
"Promise boy," jawab Langit.
"Yey, terima kasih dad," kata Malvin dengan bersemangat.
"Sama-sama boy. Di sana sudah malam bukan. Waktunya boy tidur, Daddy mencintai boy," ucap Langit.
"Iya dad. Malvin mencintai Daddy," ujar Malvin.
"Mom sudah, Malvin ingin tidur," kata Malvin memberikan telepon pada mommynya.
"Iya sayang, selamat malam, ya," kata Falensia mencium kening Malvin dan meninggalkan kamar Malvin.
"Unn," panggil Langit.
"Iya," saut Falensia.
"Terima kasih Unn, kalau begitu aku tutup dulu unn," pamit Langit.
"Langit," panggil Falensia.
"Iya unn," saut Langit.
"Dirimu baik-baik saja?" tanya Falensia.
"Iya unn, aku baik-baik saja." Langit berkata bohong.
"Tolong jaga dirimu untukku," kata Falensia dengan lirih.
"Unn?" panggil Langit.
"Aku merindukanmu Langit, cepat kembali," ungkap Falensia.
"Iya unn" kata Langit.
Panggilan terputus, diakhir Falensia. Langit meletakkan teleponnya di meja samping sofa. Dia berjalan ke arah tempat tidur di mana di sana dia melihat istrinya sedang tersenyum sambil memainkan teleponnya.
"Miss," panggil Langit.
Jennie diam tidak menyahut
"Miss aku ingin bertanya?" tanya Langit.
"Apa!" jawab Jennie dengan ketus.
"Miss, siapa orang yang Miss cium di depan pintu kamar hotel?" tanya Langit.
"Teman kencan!" jawab Jennie enteng.
"Miss memiliki kekasih?" tanya Langit lagi.
"Soon!" kata Jennie dengan ketus.
"Kenapa?" tanya Langit.
"Kenapa apanya?" tanya balik Jennie.
"Kenapa Miss memiliki kekasih, padahal Miss sudah bersuami," ucap Langit.
"Memangnya tidak boleh? apa urusannya dengan dirimu!" marah Jennie.
"Tidak, itu salah Miss. Aku suami Miss, aku berhak atas diri Miss," tutur Langit.
"Suami di atas kertas!" murka Jennie.
"Tapi kita sah secara agama dan negara Miss," ujar Langit.
"Kau ini sibuk sekali, apa maumu?" tanya Jennie.
"Miss tidak boleh melakukan itu," tegur Langit.
"Kenapa? Bukan urusanmu!" ketus Jennie.
__ADS_1
"Ayo bercerai Miss, kita bercerai sebelum Miss memiliki kekasih," ajak Langit.