Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Paris


__ADS_3

Matahari bersinar menampakkan dirinya dengan sangat sempurna di Negara Prancis, Kota Paris. Sinar matahari menembus sela-sela kamar hotel pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta setelah drama panjang yang harus mereka lalui terlebih dahulu. Sampai dimana pagi ini mereka masih tertidur pulas di dalam selimut tanpa sehelai benang pun yang merekat di tubuh mereka.


Setelah 10 menit, akhirnya sang suami bangun dari tidurnya. Dia di suguhi pemandangan istrinya yang tertidur pulas di dalam dekapannya. Wajah istrinya yang menggemaskan, pipi mulus, bibir stroberi kesukaan dirinya, mata kucing dan hidung mancung. Dia terus memperhatikan wajah istrinya, dan tak terasa selama itu juga senyum merekah di wajahnya.


"Senang dengan pemandangannya?" tanya Istri yang masih memejamkan mata. Membuat suaminya tersenyum. Ternyata istrinya sudah bangun, hanya saja belum ingin membuka kedua matanya


"Sangat, pagi hari yang indah. Membuka mata di suguhi pemandangan bidadari cantik, sangat cantik," jawab suami sambil mencium pipi istrinya berkali-kali.


"Masih pagi sayang, sudah menggombal saja," ujar istri yang sudah membuka mata dan menempelkan tubuhnya lebih dekat lagi ke suaminya.


"Tidak wife, aku berkata jujur. Kamu adalah bidadari, wajahmu sangat menggemaskan ketika sedang tidur," puji suami mencium rambut istrinya. Istrinya tidak menjawab, dia sibuk dengan kegiatan mencium dada suaminya.


"Terima kasih untuk yang semalam. Terima kasih karena sama-sama menjadi yang pertama," kata suami mencium rambut istrinya terhenti karena istrinya mendongakkan wajahnya melihat suaminya.


"Yang pertama?" tanya Istri menatap heran suaminya.


"Iya wife, semalam adalah hal pertama kali untukku melepas perjakaku," jelas suami.


"Berarti dengan Falensia unnie?" tanya Istri memastikan pernyataan suaminya.


"Iya wife, kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri pada umumnya. Kamu adalah yang pertama untukku," ujar suami.


"Pertama kali untukmu, tapi dirimu seperti sudah maniak sekali melakukan hal itu sayang, sampai-sampai aku kewalahan," ungkap istri yang tidak percaya dengan pernyataan suaminya, pasalnya semalam dia benar-benar kewalahan mengatasi nafsu suaminya.


"Benarkah? Kamu puas sayang? Apa aku menyakitimu semalam?" tanya suami  untuk memastikan jika istrinya baik-baik saja.


"Sangat puas dan itu akan menjadi salah satu canduku, sayang. Tidak, dirimu bermain dan memperlakukanku dengan sangat baik dan lembut. Sentuhanmu sungguh membuatku merinding dan ingin minta terus dan terus," ungkap istri secara frontal.


"Hahah ... Syukurlah, bila aku tidak menyakitimu semalam. Kalau begitu minta lah hal itu kapan pun wife mau. Tubuhku adalah milikmu, sayang," tutur suami sambil tertawa mendengar kalimat frontal yang di ucapkan istrinya.


"Sudah pasti semua yang ada di dalam dirimu adalah milikku, aku tidak ingin berbagi dengan siapa pun, sayang. Aku akan memintanya, jangan sampai dirimu kewalahan. Persiapkan saja dirimu," tantang istri yang wajahnya mulai sedikit merona, karena dia berucap sambil membayangkan perbuatan yang semalam mereka lakukan. Akhirnya dia melepas perawannya di tangan suaminya sendiri.


"Tentu sayang, hanya milik Jennie Akdiasa seorang. Oh, benarkah. Bukankah semalam ada yang kewalahan," ledek sang suami.


"Yak" kesal istri tidak sengaja mencubit pingga suaminya yang berdekatan dengan luka tusuk kemarin.


"Awww," pekik suami reflek mengelus tempat dimana istrinya mencubit dirinya.


"Sayang, maaf," sesal istrinya yang baru mengingat jika suaminya memiliki luka tusuk. Dia segera menyikap selimut di tubuh suaminya dan mengelus tangan suaminya yang sedang mengelus tempat dirinya berikan cubitan tadi.


"Tidak apa, sayang," kata suami menyakinkan istrinya karena melihat wajah istrinya yang terlihat khawatir.


"Apa sakitnya sampai ke luka tusuknya, sayang?" tanya istri.


"Tidak sayang, tidak perlu khawatir. Sekarang kita pergi mandi, ya," ajak suami mencium bibir istrinya sekilas.


"Sayang, ih," kesal istri.


"Kenapa hm?" tanya suami yang tidak peka.

__ADS_1


"Morning kiss lama," jawab istri.


"Iya wife," suami mencium lama bibir istrinya. Bahkan mereka saling ******* satu sama lain, hingga beberapa menit akhirnya berakhir. Mereka sama-sama tersenyum cerah atas perbuatan mereka barusan.


"Sudah cukup?" tanya suami.


"Sangat, lakukan itu setiap pagi sayang atau aku tidak akan semangat untuk memulai hari," kata istri.


"Apa pun untuk queen," kata suami dan istri tersipu.


"Sayang," panggil suami.


"Hm." Dehem istri sambil mencium dada suaminya.


"Ingin memenuhi undangan kencanku wife?" tanya suami.


"Kita berkencan? Benarkah sayang? Kapan?" tanya istri dengan antusias.


"Hari ini, seharian ini sayang. Apa wifeku menerima undangan ku?" tanya suami.


"Kenapa aku harus menolak, aku mencintaimu sayang. Ayo kita habiskan waktu di sini dengan menciptakan kenangan indah kita sayang," jawab istri dengan bersemangat.


"Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah menerima ajakan kencan bersama denganku. Mari ciptakan kenangan indah kita di kota Paris yang romantis ini," ajak suami mencium rambut istrinya.


"Sayang, terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan menjadi istri yang ideal untukmu. Maaf untuk perlakuan dan kata-kata buruk yang aku berikan padamu. Ak-ak-aku salah dengan pikiran egoku. Aku memperlakukanmu dengan sangat buruk, bahkan lebih buruk dari Falensia unnie. Maaf sayang, maaf. Aku janji akan menjadi istri yang ideal untukmu, aku janji sayang. Tolong jangan ceraikan aku," sesal istri sudah menatap mata indah suaminya dengan tatapan matanya yang sudah meneteskan air mata.


"Kita perbaiki semuanya sayang, kita mulai dari awal. Kita bangun keluarga yang bahagia, keluarga yang menjadi tempat kita merasa nyaman dan menjadi rumah untuk kita kembali. Lupakan semuanya, kita mulai dari awal.  Aku sudah memaafkanmu," tutur suami mencium kedua mata istrinya dan menghapus air mata istrinya. Istrinya tidak menjawab, dia tersentuh dengan perkataan tulus dari suaminya. Dia menikmati elusan di pipinya dari suaminya.


"Iya wife?" tanya suami.


"Mandi," saut Istri.


"Iya wife," kata suami menyikap selimut yang digunakan untuk menutup tubuhnya dan istrinya, setelah itu dia menggendong istrinya menuju ke kamar mandi.


Mereka tidak menggunakan pakaian sama sekali. Mereka mandi bersama, dengan saling nenyabuni satu sama lain, hanya mandi tidak yang lainnya. Setelah selesai, suami menggendong istrinya kembali untuk di dudukkan di kursi meja rias. Setelah mereka selesai, mereka turun kebawah untuk memulai kencan mereka dengan sarapan di luar hotel.


Berjalan dengan tangan saling bertautan satu sama lain, senyum indah merekah di wajah mereka. Sang istri yang memeluk lengan suaminya dan suami yang mencium sesekali rambut istrinya. Mereka berjalan, hingga tiba di salah satu kedai penjual makanan ringan dan kopi. Mereka pergi ke kasir memesan menu, lalu mengambil tempat di luar untuk menikmati udara Paris. Suami yang mengambil beberapa foto istrinya yang sedang menikmati makan atau pun kopinya.


"Cukup sayang, nikmati makanan dan kopimu," tegur Istri yang dari tadi memperhatikan suaminya yang sama sekali belum menyentuh sarapan dan kopinya.


"Iya sayang," suami mulai dengan kegiatan sarapannya. Mereka berbincang kecil.


"Prince," panggil Laurent.


"Oh, hai princess," sapa balik Langit.


"Who prince?" tanya Laurent bertanya pada Langit, karena melihat Jennie bersama princenya.


"My Queen, My Wife. Wife, ini Laurent yang kemarin bersama denganku. Laurent ini Jennie my wife," Langit mengenalkan mereka satu sama lain. Jennie langsung memeluk lengan suaminya.

__ADS_1


"Hai, my name is Laurent," Laurent memperkenalkan dirinya.


"Hai, my name is Jennie," Jennie sedikit ramah karena melihat Laurent yang bersikap manis.


"Di mana mommy mu princess?" tanya Langit pada Laurent.


"Itu mommy," Laurent menunjuk mommynya yang sedang membawa 1 paper bag berisi makanan.


"Oh, hai Langit bertemu lagi dan -" Diana menjeda ucapannya.


"Jennie, Jennie Akdiasa. Istri Langit Akdiasa," Jennie yang memperkenalkan dirinya, karena tahu Diana tidak mengenal dirinya.


"Oh, hai Jennie. Diana mommy Laurent," sapa Diana dengan ramah.


"Habis membeli sarapan?" tanya Langit.


"Ah, iya. Laurent ingin membeli roti disini sebelum kembali ke Thailand," jawab Diana.


"Hari ini kembali ke Thailand?" tanya Langit.


"Iya prince. Prince jangan lupa nanti membalas pesanku ya jangan lupa berbagi kabar denganku," ujar Laurent.


"Tentu princess. Hati-hati di perjalanan nanti, ya," kata Langit mengelus kepala Laurent.


"Tentu prince," saut Laurent tersipu dengan tindakan Langit.


"Sayang, ayo kembali ke hotel, kita harus bersiap-siap untuk ke bandara," ucap Diana.


"Yes mom. Bay ... bay, prince, aunty Jen," kata Laurent melambaikan tangan.


"Bay ... bay, princess," kata Langit membalas lambaian tangan Laurent begitu juga dengan Jennie.


"Kalau begitu kami duluan Langit, Jennie," pamit Diana memegang tangan putrinya dan 1 nya lagi membawa paper bag makanan.


"Ya, hati-hati di perjalanan," ucap Langit tersenyum.


Diana dan Laurent pergi menuju hotel mereka, menyisakan Langit dan Jennie yang cemberut.


"Kenapa sayang?" tanya Langit bertanya setelah melihat ekspresi istrinya.


"Tidak," jawab Jennie cemberut.


"Kenapa sayang?" tanya Langit mengusap tangan Jennie yang ada di lengannya.


"Kalian seperti keluarga bahagia dengan 1 anak di keluarga. Sesuai dengan permintaanmu yang ingin memiliki anak perempuan," ucap Jennie mode cemburu.


"Benarkah? Kalau begitu kita harus lebih rajin lagi untuk membuat anak, supaya kita menjadi keluarga yang bahagia. Dengar sayang, selama kita menikah, aku berharap untuk memiliki anak dari rahimmu, bukan dari wanita lain," tutur Langit mengelus punggung tangan istrinya.


"Benarkah? Walaupun itu lama?" tanya Jennie.

__ADS_1


"Iya sayang, hubungan pernikahan kita masih baru dan kita baru melakukan itu 1 kali, kita masih punya banyak waktu untuk mencoba memiliki anak," jawab Langit dengan tulus dan memeluk istrinya.


Sorry, batin Jennie di dalam dekapan suaminya.


__ADS_2