Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Baby Son (2)


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Jesya tiba di halaman depan mansion daddy Arkan. Jesya dan Rachel tidak mampir, mereka akan pulang ke apartemen dengan membawa mobil Jennie. Langit turun dan membukakan pintu untuk istrinya, menjalin tangan dirinya dengan istrinya.


"Terima kasih banyak unn, Rachel," ucap Langit.


"Terima kasih unn, Rachel," ucap Jennie.


"Iya, salam untuk daddy dan mommy," kata Rachel dan Jesya kompak.


"Iya," saut Jennie dan Langit melambaikan tangan sebagai salam perpisahan pada Jesya dan Rachel.


Setelah mobil yang di kendarai Jesya tidak terlihat lagi, pasangan suami-istri itu masuk ke dalam mansion.


"Hubby," panggil Jennie.


"Iya wife, butuh sesuatu?" tanya Langit.


"Bagaimana kalau baby laki-laki, bukan perempuan seperti yang dirimu inginkan hubby?" tanya Jennie.


"Tidak masalah wife. Laki-laki ataupun perempuan itu tidak akan membedakan kasih sayangku pada baby nanti wife. Yang terpenting baby dan mommynya sehat," ungkap Langit.


"Benarkah? Dirimu tidak kecewa hubby?" tanya Jennie.


"Baby adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk kita wife. Dengan adanya baby di dalam perut istriku saja, itu sudah membuatku sangat bahagia wife, laki-laki atau perempuan, baby adalah buah hati kita wife," jelas Langit.


"Baby dengarkan kata daddy," ucap Jennie mengelus perutnya. Langit tersenyum dengan tingkah istrinya.


"Jennie, Langit," panggil mommy Arkan menyapa pasangan suami-istri itu.


"Mom," saut Jennie dan Langit serentak dan memeluk mommy lalu ke daddy Arkan. Lalu duduk di sofa ruang TV.


"Apa kabar dad, mom?" tanya Langit.


"Baik, bagaimana dengan kalian?" tanya balik daddy Arkan.


"Kami baik dad," jawab Jennie.


"Syukurlah. Selamat ulang tahun untuk mu Langit," ujar daddy Arkan.


"Terima kasih dad," saut Langit dengan tersenyum manis.


"Dad, mom," panggil Jennie menggenggam tangan suaminya.


"Iya sayang," ucap daddy dan mommy Arkan.

__ADS_1


"Ada yang ingin kami katakan," sambung Langit.


"Jennie hamil," tambah Langit dan Jennie serempak.


"Benarkah? Kalian sedang tidak bercandakan? Daddy dan mommy akan mendapatkan cucu lagi?" tanya daddy Arkan dengan senyum manis dan memeluk Jennie.


"Iya dad, Jennie hamil," ujar Jennie di dalam pelukan daddynya.


"Selamat sayang, selamat Langit," kata daddy Arkan melepaskan pelukannya dan memeluk menantunya.


"Selamat sayang," kata Mommy Arkan memeluk anaknya lalu memeluk Langit.


"Terima kasih dad, mom," ucap Jennie dan Langit.


"Apa baby sudah di cek sayang?" tanya Mommy Arkan.


"Besok mom, Jennie dan Langit akan ke Dokter kandungan untuk mengecek kondisi baby dan Jennie," jawab Jennie.


"Iya, beri tahu daddy dan mommy perkembangan baby, ya," ucap daddy Arkan sangat senang mengetahui putri bungsunya sedang mengandung.


"Iya dad," ujar Jennie.


"Langit tolong jaga istri dan baby, ya," pesan mommy Arkan.


"Harus itu sayang, bersabarlah ketika dirimu menghadapi naik turun mood istrimu dan permintaan aneh istrimu nanti Langit," tutur daddy Arkan.


"Iya dad, Langit siap untuk hal itu dad," ucap Langit tersenyum sambil mengelus perut istrinya.


"Daddy," panggil Malvin yang berlari ke arah Langit.


"Hai boy," sapa Langit membuka kedua tangannya memeluk putranya, mendudukkan Malvin di pangkuannya.


"Malvin rindu," kata Malvin memeluk leher daddynya.


"Daddy sudah di sini, boy," ucap Langit.


"Hubby," panggil Jennie merasa cemburu.


"Iya wife," saut Langit yang peka, memeluk istrinya dengan tangan satunya.


"Boy, bisa daddy berbicara sesuatu dengan, boy," ucap Langit yang memeluk dua kesayangannya itu.


"Iya dad," kata Malvin di dalam pelukan daddynya.

__ADS_1


"Aunty Jenjen sedang mengandung adik bayi, adik Malvin," ucap Langit.


"Wow, benarkah? Malvin akan memiliki adik dad? nty?" tanya Malvin bersemangat, bukan malah cemburu dan marah dengan pernyataan daddynya.


"Iya boy, aunty sedang hamil, disini ada adik bayi. Apa Malvin senang?" tanya Jennie.


"Sangat, Malvin sangat senang aunty. Apa besok adik bayi bisa bermain dengan Malvin nty?" tanya Malvin.


"Hahah, tidak secepat itu boy. Boy harus menunggu 9 bulan 10 hari untuk bertemu adik bayi," ucap daddy Arkan.


"Oh, kenapa bisa lama sekali, grandpa?" tanya Malvin.


"Karena membutuhkan proses untuk adik bayi tumbuh dan berkembang di dalam perut aunty Jenjen, boy," terang daddy Arkan.


"Kalau begitu, adik bayi baik-baik di perut aunty Jenjen ya. Abang akan menunggu adik bayi," tutur Malvin mengelus perut Jennie, setelah melepaskan pelukannya pada daddynya.


"Kenapa abang sayang? Kita belum tahu apakah adik bayi laki-laki atau perempuan," ucap Jennie.


"Malvin percaya adik bayi adalah perempuan, nty," kata Malvin.


"Hahah." Mereka semua tertawa dengan jawaban polos Malvin yang berupaya seperti peramal.


Mereka berbincang ringan dengan Jennie dan Malvin yang melekat pada tubuh Langit.


***


Saat ini keluarga Arkan sedang berkumpul di satu meja besar untuk melakukan kegiatan makan bersama sekalian merayakan ulang tahun salah satu anggota keluarga mereka, siapa lagi kalau bukan Langit Akdiasa.


"Perhatian sebentar sebelum kita memulai acara makan malam ini," ujar daddy Arkan.


Semua anggota keluarga yang ada di meja makan, langsung memberikan atensi penuh pada daddy Arkan.


"Kegiatan makan malam ini bukan hanya sekedar makan malam biasa. Tapi kegiatan makan malam ini untuk merayakan ulang tahun daddy Langit yang berulang tahun hari ini," tutur daddy Arkan memanggil Langit daddy karna ada Malvin.


"Selamat ulang tahun, Langit," ucap Falensia.


"Terima kasih, unn," kata Langit.


"Dan sekaligus untuk merayakan kehadiran anggota baru kita," ucap daddy Arkan.


"Anggota baru siapa dad?" tanya Falensia.


"Adik bayi mom. Aunty Jenjen hamil," jawab Malvin bersemangat.

__ADS_1


Prang ... Gelas air putih di samping Falensia terjatuh karena terkejut. Falensia mendengar ucapan putranya yang mengatakan adiknya sedang hamil dan itu pasti anak dari mantan suaminya.


__ADS_2