Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Paris 3


__ADS_3

Saat ini Jennie dan Daffin sedang duduk di sebuah restoran ternama di Paris, Daffin memesan ruang VIP. Di dalam sana hanya ada mereka berdua. Sambil menunggu makanan tiba, mereka berbincang-bincang.


"Jadi dirimu waktu Junior sekolah di Korea?" tanya Jennie.


"Iya, dari lahir sampai selesai Junior School di Korea," jawab Daffin.


"Kenapa pindah? Bukankah di Korea juga sekolahnya bagus?" tanya Jennie lagi.


"Ah, bukan seperti itu. Di Korea sekolahnya bagus. Aku pindah karena ikut dengan orang tua," jelas Daffin gugup dan gelisah.


"Kenapa gugup dan gelisah?" tanya Jennie yang melihat kegugupan dan gelisah dari Daffin.


"Ah, tidak. Tidak, tidak. Aku bisa saja. Aku ke toilet sebentar," pamit Daffin yang sudah berdiri dan meninggalkan Jennie begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Jennie. Handphone Jennie bergetar dan bersuara, 1 pesan masuk, dia membuka dan membacanya lalu membalas pesan itu.


"Maaf," ucap Jennie dengan seringai jahat di wajah.


Sementara Daffin berada di dapur restoran, dia masuk secara diam-diam, menuangkan bubuk kedalam minum yang di pesan Jennie, wajah licik dan mesum terpampang jelas. Setelah selesai dan memastikan aman, Daffin kembali ke ruangan VIP dengan senyum cerahnya.


"Sudah?" tanya Jennie.


"Sudah," jawab Daffin dengan senyumnya.


"Bolehkah memesan Devil Springs Vodka?" tanya Jennie.


"Wow, queen alkohol. Kadar alkohol sangat tinggi sekitar 80% bukan?" tanya Daffin.


"Tidak, hanya sudah terbiasa saja," ujar Jennie.


"Pesanlah kalau begitu," kata Daffin tersenyum manis.


Dalam otak Daffin akan lebih mudah untuk melancarkan aksinya nanti untuk menjadikan Jennie sebagai salah satu pemuas nafsunya, lalu dia akan memeras Jennie melalui foto-foto dan video mereka sedang berhubungan intim


"Iya," saut Jennie memesan minuman beralkohol itu, dia tersenyum manis.


Selang beberapa waktu, pesanan mereka tiba. Menu yang di pesan Jennie dan Daffin sama. Pelayan meletakkan pesanan mereka di meja mereka, setelah selesai barulah Daffin dan Jennie siap menyantap makanan mereka.


"Bisakah kita menghabiskan minumnya terlebih dahulu, kita butuh minum untuk merayakan kedekatan kita bukan?" tanya Jennie.


"Tentu, apa pun untuk Princess," jawab Daffin menuangkan minuman alkohol pada gelas Jennie dan dirinya.


Mereka menghabiskan 1 gelas minuman alkohol itu, lebih tepatnya Daffin. Daffin yang sangat lemah dalam mengkonsumsi alkohol sudah bisa di pastikan dia saat ini sudah tidak memiliki kesadaran akan dirinya, bicaranya sudah melantur. Jennie tersenyum dengan hal ini.


"Jadi kenapa dirimu pindah ke Paris?" tanya Jennie.


Di sana sudah ada Jesya dan Rachel. Jennie memberi tahu siapa sebenarnya Daffin pada sahabatnya. Jennie meminta bantuan pada mereka berdua. Rachel dan Jesya berada di restoran yang sama dengan Daffin dan Jennie untuk membantu Jennie. Minuman yang tadinya akan Daffin berikan pada Jennie, sudah di buang dan diganti oleh minuman biasa atas perintah Jesya pada pelayan.


Jennie sengaja untuk menjebak Daffin, untuk mengetahui sebuah kebenaran yang sebelumnya sudah dia ketahui dari bodyguardnya. Dia ingin memiliki bukti agar bisa menyeret Daffin ke penjara. Awalnya Jesya dan Rachel tidak ingin mambantu, tapi setelah Jennie memberi tahu alasannya, barulah mereka tergerak untuk membantu Jennie.


Rachel dan Jesya sudah memvideokan Daffin yang sudah kehilangan kendali akan dirinya.


"Melarikan diri dari rasa bersalah," jawab Daffin yang mabuk.


"Melarikan diri dari apa?" tanya Jennie.

__ADS_1


"Ak-ak-aku menabrak 1 mobil yang isinya keluarga, ayah, ibu dan 1 anak," jawab Daffin.


"Kau mengendarai mobil secara ilegal?" Jennie.


"Ya, aku mengendarai mobil di bawah umur pengemudi seharusnya," jujur Daffin.


"Orang tua kau mengizikan?" tanya Jennie.


"Ya, mereka menyayangiku, apa pun yang aku inginkan akan aku dapatkan dengan mudah dari mereka, termasuk mengendarai mobil," terang Daffin.


"Apa yang kau dengar dari korban yang kau tabrak?" Jennie.


"Aku mendengar dari ayahku, orang tua itu mati di tempat, yang tersisa hanya anaknya yang sekarat di rumah sakit. Aku berharap anak itu sudah mati menyusul orang tuanya," ungkap Daffin.


Tangan Jennie terkepal kuat, tapi dia masih bisa mereda emosinya


"Kenapa kasusnya tidak muncul di TV?" tanya Jennie.


"*Parental Power *(Kekuatan orang tua). Mereka menyogok polisi untuk tidak membahas hal ini agar tidak naik ke rana publik atau pun sampai di siarkan di stasiun TV," terang Daffin.


Lagi, lagi tangan Jennie terkepal kuat mendengar ucapan Daffin.


"Bukankah kau dan ayahmu adalah pengedar narkoba?" tanya Jennie.


"Ayo, aku dan ayahku dan beberapa polisi di Korea terlibat dalam penyaluran narkoba dari Paris ke Korea. Bisakah kita mulai saja sexnya, aku benar-benar menginginkan *** bersamamu," ucap Daffin.


"***?" tanya Jennie pura-pura tidak tahu.


"Yes, aku ingin melakukan *** denganmu, mencicipi tubuhmu. Aku juga bisa memeras hartamu dari foto dan video intim kita. Kau tenang saja, aku bisa membuatmu merasa ketagihan dengan kenikmatan yang aku berikan," rancu Daffin percaya diri dalam keadaan mabuk.


"Urus orang itu, bawa dia ke kantor polisi jadikan ini sebagai bukti dan perintahkan bodyguard yang ada di Korea untuk mengusut polisi siapa saja yang di sogok untuk menutupi kasus kecelakaan mobil dan polisi yang menjadi kaki tangan dalam pengedaran narkoba di Korea," perintah Jennie memberikan hasil rekaman Jesya pada bodyguardnya.


"Baik Miss," ucap Bodyguard, 4 bodyguard itu membawa tubuh Daffin ke kantor polisi.


***


Jennie, Rachel dan Jesya sedang berada di dalam mobil taxi. Mereka diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Sampai Rachel membuka suara.


"Jadi Daffin adalah orang yang membuat keluarga Langit kecelakaan?" Rachel.


"Iya Rachel, dia yang membuat keluarga Langit mengalami kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya orang tua Langit dan membuat Langit hilang ingatan," papar Jennie dengan sendu.


"Dari mana dirimu tahu Jennie?" tanya Jesya.


"Aku sudah lama menyelidiki kasus kecelakaan yang di alami Langit, unn. Pertama kali aku tahu Langit mengalami amnesia, hilang ingatan, karena kecelakaan dari situ aku mulai menyuruh bodyguard untuk menyelidiki dan kebetulan takdirnya aku bertemu dengan Daffin, sebagai pelaku yang aku cari selama ini," ungkap Jennie.


"Unnie akan memberi tahu Langit?" tanya Rachel.


"Langit sudah tahu, setelah kami berbaikan kemarin malam. Aku menceritakan semua tentang Daffin, bahkan Langit tahu aku bertemu dengan Daffin," terang Jennie.


"Apa respons Langit?" tanya Jesya.


"Dia ingin pergi menemaniku bertemu Daffin unn, tapi aku melarangnya, takut kata-kata kasar yang dia terima dari Daffin. Setelah tahu kebenarannya dan kalian dengan sendiri bukan, bahkan Daffin tidak sama sekali merasa bersalah. Justru dia menginginkan Langit mati menyusul orang tuanya. Dia mengizinkanku asal aku pergi bersama kalian, dan yah seperti inilah," tutur Jennie.

__ADS_1


"Kasihan sekali Langit. Kenapa hidupnya tidak pernah bisa merasakan kebahagiaan," lirih Jesya.


"Aku akan unn, aku akan menjadi salah satu kebahagiaan suamiku mulai saat ini," kata Jennie dengan mantap.


"Tolong jaga dan buat Langit bahagia unn, bila tidak! bersiaplah aku yang akan menjadi sainganmu!" sarkas Rachel terang-terangan mengibarkan bendera perang dengan Jennie.


"Tidak, Langit ditakdirkan untuk Jennie, Jennie Akdiasa." ucap Jennie menatap sengit Rachel.


"Sudah, jangan bertengkar. Unnie pegang ucapanmu Jennie," ucap Jesya.


"Iya unn." Jennie.


Semoga awal yang baik untuk hubungan rumah tangga kalian, unnie titip Langit, Jen, batin Jesya.


Tuhan, semoga kali ini Jennie unnie benar-benar bisa membuat Langit bahagia. Aku ikhlas melepaskan Langit, batin Rachel.


Aku menyayangimu hubby, maaf sudah memperlakukanmu dengan sangat buruk. Aku janji, aku janji akan menjadi istri yang baik untukmu. Love you my husband, batin Jennie.


Mobil taxi yang di tumpangi Jesya, Jennie dan Rachel tiba di depan pintu hotel, mereka membayar lalu turun memasuki hotel. Setibanya di depan lift, mereka langsung menuju lantai kamar mereka.


"Unn, sepertinya malam nanti aku dan Jesya unnie akan pulang ke Korea," ucap Rachel.


"Kenapa cepat sekali? Tidak berlibur dulu?" tanya Jennie.


"Kami harus bekerja Jennie, tadi pagi sudah berkeliling Paris. Lagian Paris bukan sesuatu hal yang baru untuk kita," terang Jesya.


"Iya unn, nanti aku dan Langit akan mengantar," kata Jennie.


"Tidak perlu unn, pergilah menikmati waktu liburan kalian unn. Tolong buat Langit benar-benar merasakan bagaimana rasanya di cintai unn, karena dia selalu berada di sisi selalu mencintai," pinta Rachel dengan tulus.


"Akan Rachel, unnie akan." jawab Jennie.


Mereka berpelukan bertiga.


Lift tiba di lantai kamar mereka. Mereka keluar dari lift menuju pintu kamar masing-masing.


"Kami izin Jennie, tolong sampaikan salam kami pada Langit," pamit Jesya memeluk Jennie.


"Iya unn,"  jawab Jennie.


"Bay ... bay ... unn. Nikmati honeymoon kalian," pamit Rachel memeluk Jennie.


"Iya, hati-hati di perjalanan unn, Rachel," kata Jennie.


Mereka masuk ke kamar, Jesya dan Rachel langsung mengemasi barang-barang mereka. Sementara Jennie membuka sepatu, membersihkan dirinya lalu ikut bergabung bersama suaminya yang tertidur lelap.


"Miss you hon," ucap Jennie mencium kening dan bibir Langit. Menjadikan tangan Langit sebagai bantalnya lalu memeluk suaminya.


"Sudah pulang hon?" tanya Langit memeluk Jennie tanpa membuka mata.


"Hm." Jennie menikmati pelukan hangat suaminya.


"Semuanya baik-baik saja?" tanya Langit masih memejamkan matanya sambil mengusap-usap punggung istrinya.

__ADS_1


"Hm. Bisakah peluk akum hubby, aku lelah. Aku butuh pelukan suamiku. Nanti aku akan ceritakan," pinta Jennie mencium bibir Langit.


Langit tidak menjawab tapi dia memeluk tubuh mungil istrinya.


__ADS_2