Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Langit


__ADS_3

"Hai," sapa Jennie duduk di kursi samping kasur rawat Langit. Jennie menatap dalam setiap detail wajah mantan suaminya. Jennie mencium punggung tangan Langit, air matanya mengalir begitu saja.


Setelah Dokter dan Suster selesai menangani Langit, Jennie langsung berinisiatif terlebih dahulu untuk masuk menemui mantan suaminya itu. Karena hanya 1 orang yang boleh masuk untuk mengunjungi Langit. Lili bersama Jesya sementara waktu, Lili juga belum bangun dari tidurnya.


"Bukankah besok adalah hari yang kamu tunggu. Hari dimana dirimu dan Lili akan memulai kehidupan baru, tanpa aku di dalamnya? Lalu kenapa sekarang kamu masih betah untuk tidur? Apa kamu tidak perlu lagi mengemasi barang-barang kamu dan Lili? Atau semuanya sudah di kemasi?" tanya Jennie mencium punggung tangan Langit.


"Baru beberapa jam lalu, kita bertemu dan kamu memilih untuk mengakhiri hubungan kita. Memilih untuk menyerah untuk bersamaku dan merelakan diriku untuk bahagia bersama orang lain juga mengatakan kalau aku terlambat untuk kembali bersamamu. Karena aku bukan lagi ratumu dan aku bukan lagi tujuan akhirmu," tutur Jennie terus bercerita.


"Rasanya hari ini hatiku sudah begitu banyak tertimpa dengan ribuan batu dan ratusan tusukan jarum. Hari ini semua yang aku miliki, tapi aku sia-siakan, lepas dari genggamanku. Karena kebodohanku, aku kehilangan suami dan putriku. Sangat malang bukan? Aku kira karma Tuhan hanya sebatas itu saja. Tapi, setelah mendengar kamu dan Jesya unnie akan menikah dan memulai kehidupan baru bersama sahabat yang sudah aku anggap sebagai unnieku, rasanya sangat menyakitkan," curhat Jennie.


"Langit, aku sudah mengakhiri hubunganku bersama laki-laki itu. Aku menyadari jika aku hanya mencintai dirimu dan Lili," Jennie mencium punggung tangan Langit.


"Langit," panggil Jennie menatap dalam wajah mantan suaminya, mencoba menetralkan suaranya.


"Kenapa kamu bisa memiliki hati yang murni? Kenapa kamu masih memetingkan kebahagiaan untukku dari pada membalas semua perbuatan burukku padamu? Aku sudah mendengar semuanya dari Jesya unnie. Kenapa sangat manis sekali caramu menutupi rasa sakit karena penyakit dan patah hatimu?" tanya Jennie menjeda kalimatnya.


"Langit," panggil Jennie.


"Tolong sadarkan aku, ini hanya mimpi dan lelucon saja 'kan? Tuhan tidak mungkin menghukum orang yang tidak bersalah sepertimu 'kan? Langit aku lebih memilih untuk melihatmu menikah lagi dengan Jesya unnie atau perempuan lain, ketimbang aku harus melihat dirimu menderita penyakit mematikan. Kamu tidak pantas mendapatkan semua ini, seharusnya itu aku, bukan kamu," ucap Jennie.


"Langit," panggil Jennie.


"Ayo bangun. Pukul aku, tampar, balas semua rasa sakitmu padaku. Aku tidak akan memohon untuk meminta berhenti padamu. Ayo bangun untuk princessmu, dia lebih membutuhkan daddynya dari pada mommy tidak bergunanya ini. Bangun, bangun, bangun keluarga bahagia kalian, kamu bisa menikah dengan siapapun, aku tidak akan menghalangi dirimu dan Lili, jika kalian sudah menemukan ratu baru. Aku tidak akan memulai hariku bersama orang lain, karena aku lebih suka menikmati karmaku dengan melihat kalian bahagia bersama ratu baru. Ayo bangun," Jennie menangis, menundukkan kepalanya meletakkan tangan Langit dan dirinya di atas kepalanya.

__ADS_1


Jennie merasakan ada pergerakan dari tangan Langit. Jennie buru-buru membuka matanya dan menatap wajah Langit yang sudah membuka matanya. Langitnya tersenyum ke arah Jennie. Jennie buru-buru menekan tombol panggilan ke Dokter. Menunggu Dokter datang, Jennie dan Langit saling pandang, berbicara melalui tatapan mata.


Klik ... Dokter dan Suster masuk ke dalam ruangan Langit.


"Tolong Miss Jennie, tinggalkan kami. Kami akan memeriksa tuan Langit," izin Dokter.


"Tolong periksa dengan teliti," pinta Jennie setelah mengatakan itu, langsung keluar dari kamar rawat Langit.


"Ada apa Jennie? Langit baik-baik saja 'kan?" tanya Jesya yang khawatir menghampiri Jennie dengan Lili di pelukannya.


"Dokter sedang memeriksa Langit, unn. Langit sudah sadar," jawab Jennie menatap pintu ruang rawat Langit.


"Syukurlah, terima kasih Tuhan," ucap Jesya merasa lega setelah mendengar ucapan dari Jennie.


"Iya, sepertinya Lili kelelahan karena menangisi daddynya," jawab Jesya menyeka keringat di kening Lili.


"Sabar sayang, daddy sedang di periksa Dokter," ucap Jennie menatap wajah putrinya.


Klik ... Pintu ruangan Langit.


Dokter dan Suster keluar dari ruangan Langit. Jennie buru-buru menghampiri Dokter.


"Bagaimana keadaan suamiku?" tanya Jennie.

__ADS_1


"Perlahan membaik, Miss," jawab Dokter.


"Syukurlah, apa aku bisa menemuinya?" tanya Jennie.


"Tentu, Miss," jawab Dokter.


Jennie dan Jesya masuk ke dalam ruangan Langit dengan Lili di pelukan Jesya. Langit melihat ke arah Jesya, tepatnya ke arah putrinya. Jesya buru-buru menghampiri Lisa dan meletakkan tangan Lili di atas punggung tangan Langit.


"Lili sedang tidur, kelelahan karena menangisi daddynya," ujar Jesya.


Langit menggerakkan tangannya, untuk mengelus punggung tangan putrinya. Karena sentuhan Langit, perlahan-lahan Lili mulai membuka matanya. Jesya langsung membenarkan posisi Lili. Agar Lili bisa melihat daddynya.


"Dyy," panggil Lili begitu melihat Langit, Langit tersenyum manis.


"Hai princess," sapa Langit dengan suara lirih.


"Dyy," panggil Lili meminta daddynya untuk memeluk dirinya.


"Daddy sedang sakit sayang," tukas Jesya memberitahu Lili.


"Tidak apa unn," kata Langit tersenyum lemah.


Langit meminta Jesya untuk meletakkan Lili di atas tubuhnya. Ini adalah posisi favorit princessnya. Lili sepertinya, sangat suka mendengar detak jantung daddynya. Hanya dengan posisi seperti ini saja, Lili akan sangat mudah tidur.

__ADS_1


__ADS_2