
Pagi tiba, matahari masuk menembus celah-celah gorden kamar Falensia. Falensia perlahan membuka mata, mengumpulkan nyawanya, setelah terkumpul dia bergegas turun dari kasur, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan kegiatan mencuci muka, menggosok giginya, barulah dia melanjutkan dengan mengecek kamar tidur putranya, untuk membangunkan putranya. Falensia membuka pintu kamar putranya, pemandangan yang membuat dia kaku, bagaimana tidak kaku mematung.
Dia melihat putranya tidur di atas tubuh mantan suaminya dan begitu juga dengan adiknya yang tidur dengan memeluk tubuh mantan suaminya, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia. Entah apa yang cocok menggambarkan suasana hati Falensia saat ini, yang jelas dia merasa dadanya sakit, seperti ditusuk ribuan jarum. Langit yang sudah mulai membuka mata, perlahan menatap wajah mantan istrinya.
"Pagi unn, maaf aku dan istriku jadi tidur di kamar Malvin," sapa Langit yang masih memeluk tubuh Malvin dan istrinya.
"Bangunkan Jennie dan Malvin untuk sarapan," balas Falensia langsung membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar Malvin. Langit yang menganggap sikap Falensia biasa saja, jadi dia lebih memilih untuk membangunkan istri dan anaknya.
"Wife," panggil Langit membangunkan istrinya terlebih dahulu dengan panggilan lembut sambil mencium wajah istrinya.
"Hm," saut Jennie, belum membuka matanya.
"Bangun, kita sarapan," kata Langit mencium wajah istrinya.
"Iya hubby, sebentar, ya," bujuk Jennie diam beberapa waktu, membiarkan suaminya menciumi wajahnya, hingga di rasa nyawanya sudah mulai terkumpul. Dia membuka matanya dan menyuguhi suaminya dengan senyuman manis.
"Morning wife," sapa Langit dengan senyum manis menyapa istrinya.
"Morning hubby," balas Jennie mencium bibir suaminya.
"Kita bangun sekarang," ajak Langit.
"Iya hubby, bangunkan Malvin. Aku cuci muka duluan," ujar Jennie turun dari kasur Malvin, menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Boy, bangunan yuk. Ini sudah pagi, waktunya untuk sarapan," ajak Langit mengelus pipi Malvin.
Malvin yang mendengar suara Daddynya langsung membuka mata, beberapa waktu kesadarannya terkumpul dia langsung memeluk balik tubuh Daddynya
"Daddy love you," kata Malvin memeluk erat tubuh Langit.
"Love You too boy, kita cuci muka yuk," ajak Langit mengusap punggung Malvin.
"Sebentar, dad," pinta Malvin masih ingin di posisi itu.
__ADS_1
"Iya sayang," kata Langit menanggapi putranya.
Mereka diam seperti itu dengan Malvin memeluk tubuh daddynya dan Langit yang mengusap serta mencium rambut anaknya, hingga Jennie selesai dengan mencuci wajahnya.
"Belum bangun hubby?" tanya Jennie menanyai Malvin pada suaminya.
"Sudah wife, hanya sedang bermanja dengan Daddynya," jawab Langit.
"Aunty Jenjen," panggil Malvin yang menolehkan pandangannya menatap Jennie.
"Iya sayang," saut Jennie mendekatkan dirinya ke dua jagoan itu.
"Aunty bisakah kita hari ini menghabiskan waktu bersama," pinta Malvin.
"Memangnya Malvin ingin pergi kemana?" tanya Jennie mengelus punggung Malvin.
"Tidak tahu, Malvin ingin pergi menghabiskan waktu bersama aunty dan Daddy, bisakah aunty?" tanya Malvin memohon dengan tatapannya.
"Tentu sayang, bagaimana kalau kita pergi berbelanja untuk mengisi kulkas," ajak Jennie.
"Sekarang pergi mandi dengan Daddy, biar aunty siapkan pakaian kalian," kata Jennie.
"Siap komandan. Let's go dad," seru Malvin memberi hormat pada Jennie. Jennie dan Langit terkekeh dengan sikap Malvin.
"Kami mandi dulu wife," pamit Langit yang sudah berdiri sambil menggendong Malvin.
"Iya, pergilah mandi hon. Baju aku letakkan di atas kasur, ya," ucap Jennie.
"Iya wife," kata Langit mencium bibir istrinya lalu masuk ke kamar mandi.
"Selalu saja, padahal itu rutinitas yang dilakukan suamiku seperti biasanya. Tapi aku masih merasa malu," gumam Jennie yang mengambil pakaian untuk dua jagoan itu. Setelah selesai dia meletakkan di atas kasur, keluar kamar Malvin menuju lantai dasar meja makan. Disana sudah ada daddy dan mommy Arkan serta unnienya.
"Pagi dad, mom, unn," sapa Jennie memberikan mereka kecupan di pipi lalu baru duduk di kursinya.
"Pagi," balas mereka kompak.
__ADS_1
"Dimana suamimu dan Malvin?" tanya tuan Arkan.
"Sedang mandi dad. Unn, hari ini aku, Langit dan Malvin akan pergi berbelanja. Malvin minta untuk berkeliling bersama kami, apa boleh unn?" tanya Jennie.
"Tidak, Malvin tidak bisa pergi," jawab Falensia.
"Kenapa unn?" tanya Jennie.
"Pergilah, Malvin rindu Daddynya," jawab nyonya Arkan menyela Falensia yang ingin memberikan alasan berupa alibi. Daddy dan mommy Arkan tahu alasan sebenarnya kenapa Falensia menolak Malvin pergi bersama Jennie dan Langit, itu tidak lain tidak bukan karena Falensia merasa cemburu.
"Iya mom," ucap Jennie tersenyum.
"Kapan Launchingnya cucu kedua Daddy, Princess?" tanya tuan Arkan.
"Yakh, Daddy," tegur Jennie tersipu.
"Kenapa? Daddy hanya bertanya, kalian sudah melakukan prosesnya 'kan? Langit hebat di ranjang bukan?" tanya Daddy Arkan mengintrogasi putri bungsunya dengan ledekan.
"Sangat dad, bahkan dia masternya," jawab Jennie jujur.
"Hahah ... astaga, dirimu pasti kewalahan," ledek daddy Arkan.
"Tidak dad, suamiku memperlakukan ku dengan sangat baik, dia lembut dan tidak ego dengan nafsunya," kata Jennie.
"Oh, suami idaman," goda Mommy Arkan.
"Benar mom," tukas Jennie tersenyum.
"Lalu kapan Launching cucu daddy, Princess?" tanya Daddy Arkan lagi.
"Sabar daddy sabar, aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan suamiku," jawab Jennie.
"Dad, ayolah mereka baru menikah. Tidak ada salahnya mereka menghabiskan waktu berdua dulu 'kan," bela Mommy Arkan.
"Hahah ... iya, iya," ledek daddy Arkan puas meledek putri bungsunya.
__ADS_1
Sementara Falensia, hatinya sudah panas. Bagaimana bisa obrolan di meja makan di pagi hari membahas soal hubungan ranjang. Hah, dia membayangkan bagaimana Langit memperlakukan adiknya ketika berhubungan badan dengan cara yang lembut, itu pasti sangat indah. Mereka benar-benar melakukannya karena cinta, bukan ego nafsu. Penyesalan Falensia adalah begitu naif ketika menjadi istri Langit, tidak memberikan tubuhnya pada suaminya, atau lebih tepatnya mantan suaminya.