Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Princess Laurent


__ADS_3

Pagi yang cerah di Paris. Langit sudah bangun dari tidurnya, tidak ada bedanya di Korea dan di Paris, Langit tetap tidur di sofa. Langit berjalan ke arah balkon kamar, menghirup udara segar sambil memandangi kota Paris. Setelah puas dengan kegiatannya, Langit pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia membawa bajunya ke kamar mandi.


Di mana Jennie? Jannie masih tidur nyenyak dalam mimpinya, dia sepertinya sangat menikmati waktu liburan di Paris dengan bangun sedikit longgar. Langit sudah selesai mandi, dia menelpon bagian resepsionis untuk meminta sarapan di antar ke kamar dan kotak P3K. Dia ingin sarapan di balkon kamar saja. Dan setelah makan, rencananya dia akan mengganti perban di keningnya.


Tak lama bagian pelayan hotel datang membawa pesanan Langit. Langit mengambil itu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Langit meletakkan sarapan istrinya di meja yang ada di hotel, lalu dia membawa sarapannya ke balkon kamar dan makan disana. Langit menikmati sarapannya dengan pemandangan burung-burung yang berterbangan mengelilingi menara Eiffel dan banyak orang yang berjalan kaki seputaran menara Eiffel.


Sedang asik menikmati sarapan dan pemandangan menara Eiffel, mata Langit berpusat pada satu objek yang menyejukkan hatinya. Di mana dia melihat anak perempuan yang sedang berada di dekat menara Eiffel, Langit tersenyum. Langit membayangkan nanti jika dia diberikan Tuhan kesempatan untuk memiliki anak, dia ingin memiliki anak perempuan, tapi bila di kasih anak laki-laki juga tidak masalah untuk Langit.


Kening Langit berkerut ketika dia melihat anak itu duduk seperti sedang menangis. Langit memperhatikan beberapa waktu, disana banyak orang yang berlalu lalang tapi tidak ada yang membantu anak perempuan itu. Jadi Langit berinisiatif untuk membantu anak itu. Langit berjalan cepat keluar dari kamar dan berlari menuju lift untuk kelantai dasar. Begitu tiba di lantai dasar, Langit langsung berlari menuju keberadaan anak perempuan itu. Langit mendengar anak perempuan itu menangis.


"Hai anak manis, kenapa menangis?" tanya Langit sembari menyentuh bahu anak perempuan itu.


Anak perempuan itu mendongakkan wajahnya yang sebelumnya dia masukkan di lipatan tangan dan kakinya. Anak itu diam saja memperhatikan wajah Langit, dia tidak menangis lagi, ajaib wajah rupawan suami Jennie ini, tidak hanya menaklukkan wanita dewasa saja, ternyata bisa juga menaklukkan hati perempuan kecil.


"Perkenalkan saya Langit, siapa namamu princess?" tanya Langit lagi Lisa untuk mengambil atensi anak itu.


"Laurent, handsome," jawab Laurent malu-malu karena Langit memanggilnya dengan sebutan princess.


"Nama yang indah. Panggil uncle saja," puji Langit melipat satu kakinya dan menyodorkan tangan kanannya seperti menyambut tuan putri. Laurent tersipu, dia meletakkan tangannya di atas tangan Langit. Langit membantu Laurent berdiri.


"Jadi bisa ceritakan kenapa princess ini menangis?" tanya Langit dengan senyumnya.


"Aku tersesat, aku tidak tahu mommy di mana Prince," ujar Laurent yang ingin menangis lagi.


"Jangan menangis Princess, mahkotanya nanti akan jatuh. Mari bersama prince kita mencari mommy Princess," ajak  Langit.


"Terima kasih Prince Handsome," ucap Laurent.


"Izinkan Prince menggendong Princess, Prince tidak ingin Princess kelelahan," tawar Langit ikut dalam bermain drama yang di ciptakan dirinya dan Laurent.


"Dengan senang hati prince." Laurent menerima ajakan Langit.


Langit menggendong tubuh Laurent, meletakkan Laurent di bahunya. Mereka berjalan menyusuri menara Eiffel. Langit dan Laurent mengobrol sambil melihat-lihat apakah ada tanda-tanda keberadaan mommy Laurent


***


Sementara di kamar hotel, Princess Arkan baru bangun dari tidur panjangnya. Dia menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya, setelah selesai dia menegakkan tubuhnya di dashboard tempat tidur, melihat ke arah sofa dan di sana sudah tidak ada suaminya. Jennie berdiri berjalan ke arah kamar mandi dan di sana juga tidak ada suaminya, Jennie membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, dia berjalan ke meja yang disana sudah ada sarapan, karena lapar dia memakan sarapan itu.


Melihat pintu balkon yang terbuka, Jennie berjalan ke arah balkon di sana juga tidak ada suaminya.


"Kemana idiot itu pergi!" marah Jennie melihat-lihat sekitaran menara Eiffel, dari sana dia bisa melihat suaminya sedang berkeliling bersama anak perempuan yang dia letakkan di atas kepala. Jennie memperhatikan itu, sampai senyumnya tidak terasa terbit dari bibirnya.


Jennie membayangkan Langit dan anak perempuannya, Langit akan sangat bertanggung jawab nantinya jika dia memiliki anak. Jennie membayangkan nanti dia dan anaknya pasti akan selalu beribut karena memperebutkan Langit. Lamunan Jennie terhenti setelah melihat seorang wanita cantik menghampiri Langit dan anak perempuan yang ada di atas kepala Langit.


"Haisszz, buang jauh-jauh pikiran sampahmu itu Jennie. Ingat kau hanya ingin membuat Langit menderita, bukan membuat kau mencintainya lagi," gumam Jennie mengetuk-ngetuk kepalanya yang berpikir aneh.

__ADS_1


"Siapa wanita itu? Apa dia mommy dari anak perempuan itu? Kenapa idiot itu tersenyum.  Dasar buaya, bajingan. Tidak bisa di tinggal sebentar," marah Jennie kembali memasuki kamar melanjutkan kegiatan sarapannya.


***


"Laurent!" panggil wanita cantik.


"Mommy!" saut Laurent, "Prince itu mommy."


"Ayo kita hampiri mommy Princess," kata Langit berjalan mendekati mommy Laurent begitu juga dengan mommy Laurent mendekati Langit dan Laurent.


"Sayang, kemana saja. Bukankah mommy mengatakan untuk menunggu mommy sebentar," ujar wanita cantik.


"Ah, maaf. Saya Langit. Saya yang menemani Laurent untuk mencari mommynya. Mungkin Laurent tertarik dengan


sesuatu hal, hingga membuat dia mendekati hal itu dan melupakan perkataan nyonya," jelas Langit menurunkan Laurent dan memberikannya pada mommy Laurent.


"Saya Diana mommy Laurent. Terima kasih sudah menjaga dan membantu putri saya. Panggil Diana saja," tutur Diana mencium kening Laurent.


"Sama-sama Diana," kata Langit.


"Mommy bisakah aku mendapat es krim?" tanya Laurent bertanya pada mommynya.


"Tentu," jawab Diana.


"Ayo Prince kita makan es krim, mommy yang akan membayarnya, ya 'kan mom," kata Laurent.


"Bergabunglah bersama kami, agap ini sebagai rasa terimakasihku karena dirimu sudah menjaga putriku," kata Diana.


"Ayo, Prince," ajak Laurent


"Baiklah, Prince menerima undangan princess untuk makan es krim bersama," ujar Langit.


"Yey, ayo mom, Prince," kata Laurent.


Mereka berjalan bersama-sama, dengan Laurent di tengah-tengah sambil menggenggam tangan Langit dan Diana (keluarga kecil). Mereka tiba di kedai es krim, Langit menggendong Laurent supaya dia bisa melihat es krim apa yang dia inginkan, Diana tersenyum melihat Langit dan Laurent.


"Prince, apa es krim yang cocok untukku?" tanya Laurent bertanya pada Langit, sepertinya anak itu bingung karena terlalu banyak pilihan es krimnya.


"Bagaimana dengan Es Krim Moci Strawberry?". Lisa menawarkan


"Oke. Mom Laurent es krim moci stroberi," kata Laurent memberi tahu mommynya.


"Oke sayang. Dirimu ingin es krim apa Langit?" tanya Diana bertanya pada Langit.


"Cokelat saja," jawab Langit.

__ADS_1


"Hemmm, tolong es krim moci stoberi 2 dan 1 es krim cokelat, di sebelah sana," kata Diana memberikan uang dan menunjuk meja yang berada di luar kedai.


"Baik Miss," Pelayan menerima uang Diana dan mengembalikan kembaliannya.


Mereka bertiga pergi ke tempat duduk yang sebelumnya Diana tunjuk. Laurent berada di pangkuan Langit, anak itu nyaman dengan Daddy Malvin. Jangan sampai Malvin tahu, bisa ribet urusannya.


"Laurent, sini duduk bersama mommy," ajak Diana merasa tidak enak karena anaknya menempel terus dengan Langit.


"Princess dengan Prince saja mom," kata Laurent.


"Prince?" tanya Diana.


"Daddy memanggil Laurent dengan princess, jadi Laurent memanggil daddy dengan sebutan Prince," tutur Langit.


"Daddy?" tanya Diana dengan bingung.


"Iya, Laurent menyukai Prince, jadi mommy dan Prince akan menikah dan Laurent harus terbiasa dengan memanggil Prince dengan sebutan Daddy," jelas Laurent.


"Maaf Langit, maklumi saja anak-anak," ucap Diana merasa tidak enak dengan ucapan putrinya.


"Tidak masalah, Laurent hanya mengungkapkan isi hatinya saja," kata Langit menjawab lembut.


"Permisi tuan, nyonya ini pesanannya," kata Pelayan membawa pesanan mereka.


"Terima kasih," ucap Diana dan Langit.


"Ingin makan sendiri atau di suap Princess?" tanya Langit menawari Laurent.


"Di suap boleh Prince," kata Laurent tersipu, Langit menganggukan kepalanya dan tersenyum.


Astaga, anakku genit sekali, batin Diana, mulai menyantap es krimnya sembari melihat interaksi Langit dengan anaknya, sepanjang penglihatan Diana, Diana terus tersenyum.


Andai saja Daddy Laurent masih hidup, mungkin kami akan merasakan yang namanya keluarga utuh. Batin Diana tersenyum.


"Jadi Princess, apa pilihan es krim Prince sesuai dengan selera Princess?"tanya Langit mengelap bibir Laurent dengan tisu.


"Sangat baik, ini akan menjadi es krim kesukaan Princess mulai saat ini Prince," tutur Laurent.


"Good. Sepertinya kita harus ke kamar mandi untuk mencuci tangan Princess," kata Langit.


"Let's go Prince," ajak Laurent bersemangat.


"Kami ke toilet sebentar untuk mencuci tangan," pamit Langit pada Diana.


"Iya, titip Laurent," kata Diana.

__ADS_1


Langit dan Laurent pergi ke toilet, Diana diam-diam mengambil foto Langit dan Laurent, entah tujuannya untuk apa.  Yang jelas Diana suka melihat interaksi Langit  dengan Laurent.  Diana menyimpan foto itu sambil tersenyum.


__ADS_2