Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Daddy Baby Pamit


__ADS_3

"Apakabar unn, Rachel?" tanya Langit membuka obrolan menyapa sahabat istrinya.


"Baik, sangat baik. Apa kami kebagian untuk mencicipi atau bahkan sarapan di sini Langit?" tanya Rachel.


"Astaga, Rachel jangan membuat unnie malu," tegur Jesya pada Rachel.


"Tidak apa unn, sarapan lah disini. Aku masak cukup banyak untuk sarapan kali ini," ucap Langit dengan senyumnya.


"Tupai mode on," kata Jennie meledek adiknya.


"Yakh, Jesya unnie jangan malu-malu. Kita memang belum sarapan, anggap ini sebagai rezeki dari Tuhan, karena bisa makan gratis masakan dari chef Langit" ucap Rachel memuji Langit.


"Hahah, itu berlebihan," kata Langit tertawa dengan senyumnya.


"Astaga unnie, suamimu benar-benar menawan. Dirimu tidak diabetes unn, setiap saat memandang yang berunsur manis-manis?" tanya Rachel benar-benar memuji Langit habis-habisan.


"Tidak, karena aku manis jadi tidak akan diabetes karena bersanding dengan yang manis," jawab Jennie dengan senyum manis di wajahnya.


"Terlalu percaya diri itu tidak baik," kata Jesya meledek Jennie.


"Daddy," adu Jennie pada suaminya.


"Hahah, Jesya unnie hanya bercanda mom. Sudah, sekarang kita bisa mulai untuk sarapan," kata Langit mengelus pipi istrinya.


"Iya, selamat makan," saut Rachel dan Jesya.


"Hm, unn, Rachel, bisa kita berdoa terlebih dahulu?" tanya Langit dengan lembut menegur sahabat istrinya. Sementara Jennie sudah tersenyum dengan perkataan suaminya. Karena awalnya Jennie juga di tegur dengan seperti itu dan sekarang sudah menjadi kebiasaan untuknya, suaminya memimpin doa dan dia akan ikut berdoa.


"Akh, iya maaf. Silakan pimpin doa Langit," ujar Jesya merasa malu begitu juga dengan Rachel. Malu bukan karena teguran Langit, tapi malu karena baru kali ini setelah berpuluh tahun mereka akhirnya berdoa sebelum makan. Mereka menyukai bagaimana cara Langit menegur, tidak menjatuhkan, tapi mengingatkan bukan menggurui.

__ADS_1


Mereka berdoa, setelah berdoa mereka makan dalam kesunyian. Hal ini adalah hal yang baru bagi Jesya dan Rachel. Di mana mereka biasanya akan berbincang sambil makan, tapi kali ini tidak ada sama sekali perbincangan. Benar-benar suasana baru untuk mereka berdua, sementara Jennie sudah terbiasa semenjak dia dan suaminya berdamai.


Setelah selesai makan, mereka duduk di sofa ruang TV.


"Terima kasih untuk sarapannya Langit, itu sungguh luar biasa," ucap Rachel.


"Sama-sama, itu hal biasa," kata Langit tersenyum.


"Terima kasih atas jamuannya Langit," ucap Jesya.


"Sama-sama unn. Unnie dan Rachel disini?" tanya Langit.


"Iya dad, unnie dan Rachel libur hari ini. Jadi mereka memutuskan untuk bermain ke sini, tidak apakan?" tanya Jennie yang sedang bersandar di bahu suaminya.


"Tidak apa, itu lebih bagus. Artinya istriku ada temannya ketika di mansion. Unn, Rachel, tolong jaga istriku dan baby ya," kata Langit dengan senyum manisnya.


"Iya Langit, pasti, itu pasti," kata Jesya menjawab pasti dan Rachel menganggukan kepala menyetujui perkataan unnie tertuanya.


"Mommy temani," balas Jennie ingin ikut suaminya yang akan bersiap-siap untuk mandi.


"Tidak, mommy di sini bersama Jesya unnie dan Rachel, ya. Daddy bisa melakukannya mom," tolak Langit mencium kening istrinya lalu pamit dengan sahabat istrinya, kemudian baru naik ke lantai atas.


"Langit tidak lelah unn, selalu tersenyum. Sedikit-sedikit senyum, senyum dan senyum," ucap Rachel.


"Tidak. Buktinya suami unnie melakukan hal itu terus menerus," kata Jennie.


"Memang dasar Langit yang murahsenyum, jadi akan terasa canggung jika dia tidak tersenyum," ucap Jesya.


"Benar," timpal Jennie membenarkan perkataan unnie tertuanya.

__ADS_1


Mereka menonton film di Netflix, sembari menunggu Langit selesai bersiap. Lebih tepatnya Jennie yang menunggu suaminya selesai bersiap. Sekitar 25 menit, akhirnya Langit turun juga dengan keadaan yang sudah fresh dan bersiap akan berangkat.


"Mom, daddy berangkat, ya," pamit Langit menghampiri istrinya dan mencium pipi istrinya dari belakang.


"Tolong ambilkan syal di lemari mommy yang warna hitam dad," kata Jennie meminta tolong pada suaminya.


"Iya mom, tunggu sebentar, ya," kata Langit langsung mengambil apa yang istrinya inginkan, setelah beberapa saat suaminya kembali dengan syal di tangannya.


"Mom," panggil Langit memberikan syal itu pada istrinya.


"Membungkuk dad," pinta Jennie, suaminya langsung menuruti permintaan istrinya.


"Tolong berkendara dengan aman dad, mommy dan baby menunggu daddy pulang. Sekarang daddy akan lebih hangat, hati-hati di jalan dad," tutur Jennie sambil memasangkan syal untuk suaminya. Langit tersenyum dengan perlakuan istrinya.


"Iya, daddy akan berhati-hati dan kembali dengan aman. Tunggu daddy iya mom, baby," ucap Langit berjongkok dan mencium perut istrinya.


"So sweet, astaga film ini kalah dengan pasangan real ini," kata Rachel.


"Shut, diamlah Rachel. Jangan mengganggu pasangan suami-istri," kata Jesya menegur adik bontotnya ini.


"Hahah, daddy pamit mom, baby. Unn, Rachel tolong jaga istri dan anakku, ya," ucap Langit.


"Iya, jangan lama-lama oke. Cepat kembali," ujar Jesya.


"Iya unn," kata Langit mencium bibir istrinya. Sementara istrinya menikmati perlakuan suaminya. Langit memeluk istrinya cukup lama, sampai dirasa cukup untuk dirinya, baru dia melepaskan pelukan itu.


Langit pergi meninggalkan masion dengan mengendarai motor sports baru yang di belikan istrinya kemarin. Dia berkendara dengan kecepatan rendah, karena kondisi jalan yang licin dan salju turun sesekali menutup penglihatannya karena salju itu mengenai helmnya.


Sampai di persimpangan jalan yang menunjukkan lampu hijau. Langit melajukan kembali motornya, tapi dari arah samping persiapan ada mobil truk yang menerobos lalu lintas. Mobil itu mengarah ke arah Langit, menabrak Langit dengan kecepatan tinggi. Bahkan truk itutidak ada upaya untuk menghindari Langit dan motornya. Kecelakaan terjadi, Langit menjadi korban tabrak lari.

__ADS_1


Brak ...


__ADS_2