
"Pagi wife, baby," sapa Langit yang dari tadi memperhatikan pahatan wajah cantik istrinya.
"Pagi daddy," balas Jennie masuk ke dalam dekapan suaminya.
"Sudah lama bangun dad?" tanya Jennie yang mencium dada suaminya.
"Tidak, baru beberapa waktu wife. Tidar nyenyak?" tanya Langit mencium kepala istrinya.
"Sangat. Akan selalu nyenyak jika tidur di peluk daddy, ya 'kan by," jawab Jennie mengelus perutnya.
"Syukurlah," sahut Langit mencium rambut istrinya.
"Daddy tidak ingin menyapa baby?" tanya Jennie.
Langit menurunkan tubuhnya, hingga wajahnya berada tepat di perut istrinya, dia mencium dan mengelus perut istrinya.
"Selamat pagi baby, baik-baik di dalam sana sayang. Daddy dan mommy menunggu kehadiran baby," kata Langit tersenyum terus menciumi perut istrinya.
"Iya daddy," jawab Jennie, mewakili baby sambil mengelus rambut suaminya.
"Kita bersiap sekarang wife, pagi ini kita akan ke Dokter kandungan?" tanya Langit setelah kembali ke posisi awal.
"Iya hubby, tolong gendong dan mandikan, hubby," pinta Jennie.
"Iya wife," kata Langit menggendong tubuh istrinya, membawa istrinya ke dalam kamar mandi.
Mereka mandi bersama, setelah selesai mandi dan bersiap, mereka baru keluar dari kamar menuju lantai bawah, ke meja makan. Di sana sudah ada Falensia, Malvin, daddy dan mommy Arkan.
"Pagi daddy, aunty," sapa Malvin.
"Pagi boy," balas Jennie dan Langit kompak.
Langit menarik kursi untuk tempat yang akan di duduki istrinya, lalu baru dia duduk di samping istrinya.
"Karena semuanya sudah kumpul, kita bisa sarapan sekarang. Boy pimpin doa," ucap daddy Arkan.
"Berdoa mulai," ujar Malvin memimpin doa.
"Selesai, selamat makan," sahut Malvin mengakhiri doa.
__ADS_1
"Selamat makan," jawab mereka semua menyahuti Malvin.
Keadaan meja makan hening, hanya ada suara detingan sendok, garpu dengan piring. Setelah selesai makan, keluarga itu lanjut dengan ngobrol santai di gazebo halaman belakang. Di mana Malvin yang sedang bersandar pada tubuh daddynya, Jennie memeluk lengan suaminya. Falensia, daddy dan mommy Arkan duduk di depan mereka.
"Jadi dirimu masih ingin melanjutkan tugasmu menjadi CEO sayang?" tanya daddy Arkan.
"Tidak dad, Langit melarangnya. Langit ingin aku fokus dengan baby, dia tidak ingin aku dan baby kelelahan," jawab Jennie.
"Suami pengertian," puji mommy Arkan.
"Lalu siapa yang menggantikanmu? Unniemu tidak mungkin, dia sedang sibuk dengan mempersiapkan pernikahannya," kata daddy Arkan.
"Bagaimana kalau Langit saja dad. Dia cerdas, ijazahnya mendukung, dia juga pernah bekerja di Arkan Company". usul Jennie.
"Wife," panggil Langit sepertinya kurang setuju dengan usulan istrinya.
"Daddy setuju," jawab daddy Arkan menyetujui itu, karena dia menilai sendiri kinerja Langit yang benar-benar bagus.
"Tidak apa hubby, aku percaya padamu. Lihat daddy langsung setuju. Itu artinya daddy menilai dirimu mampu menjalankan tugas sebagai CEO dari Arkan Company," ucap Jennie.
"Itu tanggung jawab besar wife, aku masih di bawah wife. Masih banyak orang yang lebih baik dariku wife," tolak Langit.
"Tapi-" ucapan Langit di potong daddy Arkan.
"2 hari lagi persiapkan dirimu Langit. Daddy akan memperkenalkan dirimu sebagai CEO dari Arkan Company yang baru," ucap daddy Arkan keputusan final.
"Iya dad," pasrah Langit, istrinya mengelus lengan suaminya.
"Kamu bisa Langit," ujar mommy Arkan menyemangati menantunya.
"Iya mom," kata Langit.
"Dad," panggil Jennie.
"Iya Princess," sahut daddy Arkan.
"Tolong 10 orang pelayan di mansion kami," kata Jennie.
"Oh, di mansion kalian tidak ada pelayan, lalu siapa yang membersihkan mansion?" tanya mommy Arkan.
__ADS_1
"Langit, mom," jawab Jennie.
"Kenapa Langit?" tanya Falensia.
"Karena aku mampu untuk membersihkan mansion unn," jawab Langit membantu menutupi keburukan istrinya di masa lampau.
"Iya, sore nanti 10 pelayan sudah ada di mansion kalian," kata daddy Arkan.
"Terima kasih dad," jawab Jennie dan Langit serentak.
"Daddy," panggil Malvin.
"Iya boy," sahut Langit menatap wajah putranya.
"Ayo bermain mobil," ajak Malvin.
"Baiklah, tunggu sebentar. Wife, aku main bersama Malvin dulu, ya. 1 jam lagi kita akan pergi ke rumah sakit," pamit Langit pada istrinya.
"Pergilah, hati-hati, ya," sahut Jennie mengecup pipi suaminya dan Langit melakukan hal yang sama pada istrinya.
Langit dan Malvin pergi mengambil mobil mesin Malvin. Malvin akan mengendarai mobil itu sementara Langit akan mengikuti dari belakang. Hal ini sudah biasa mereka lakukan bersama sewaktu Langit masih menjadi suami Falensia.
"Daddy idaman," puji Jennie pada suaminya.
"Iya, Langit dengan kelembutan hatinya," puji mommy Arkan.
"Princess, dirimu tidak memberikan suamimu kado ulang tahun?" tanya daddy Arkan.
"Sedang menuju ke sini dad. Sebenarnya suamiku tidak meminta apa pun dad. Dia sudah terlalu senang dengan kadonya yang sebentar lagi akan menjadi daddy. Tapi aku ingin memberikan suamiku kado," jawab Jennie.
"Langit memang tidak pernah meminta apa pun, bahkan selama tinggal di sini saja, dia tidak pernah memanfaatkan fasilitas yang ada disini secara berlebihan. Seperti kendaraan kita banyak, tapi dia lebih memilih untuk menggunakan bus," tabah mommy Arkan.
"Benar, dia benar-benar tulus dengan Falensia waktu itu. Hanya saja unniemu ini yang terlalu bucin dengan calon suaminya," kesal daddy Arkan pada putri sulungnya.
"Maaf," kata Falensia.
"Tidak apa dad. Jika tidak seperti itu, mungkin Langit saat ini tidak akan menjadi suamiku. Aku menyayangkan perlakuan buruk unnie pada Langit. Tapi aku bersyukur karena hal itu, Langit saat ini menjadi suami Jennie," jelas Jennie dengan tersenyum manis.
"Benar, kita tidak pernah tahu takdir Tuhan," sahut Mommy Arkan.
__ADS_1
"Permisi tuan, nyonya. Pesanan kendaraan Miss Akdiasa sudah tiba," ucap Pelayan.