Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Percaya


__ADS_3

"Ayo bercerai Miss, kita bercerai sebelum Miss memiliki kekasih," ucap Langit.


"Tidak!" bentak Jennie.


"Aku akan mengurus surat cerai kita Miss," ujar Langit berjalan mengambil tas, dompet dan HPnya.


"Tidak, tidak, itu tidak akan terjadi. Kau tidak bisa bercerai denganku," tekan Jennie.


"Maaf Miss. Saya menerima rasa sakit hati karena ucapan kasar Miss dan kekerasan yang Miss lakukan pada tubuh saya, tapi saya tidak mentolerir perselingkuhan," ucap Langit dengan tegas.


"Tidak, aku akan meninggalkannya untukmu. Kau tidak bisa menceraikan ku!" tolak Jennie.


"Maaf," ujar Langit hendak pergi meninggalkan kamar, tapi Jennie mencegat tangannya.


"Kau dengar aku bukan, aku akan meninggalkannya untukmu. Apa lagi masalahnya!" murka Jennie.


"Aku lelah Miss," ujar Langit.


"Aku lelah, aku sangat lelah karena terus-terusan di permainkan oleh dirimu dan unniemu. Aku lelah dengan semua rasa sakit yang lama-kelamaan memakan diriku. Aku tidak pernah menyakiti orang lain, tapi kenapa Tuhan selalu memberikanku garis hidup yang rumit


untukku. Kenapa sangat sulit sekali aku merasakan kebahagiaan, semuanya palsu. Aku trauma, aku trauma dengan ucapan manis yang kalian berikan. Aku lelah Miss!" bentak Langit sambil menangis meluapkan isi hatinya.


"Ak-ak-aku menyerah. Ayo akhiri," lirih Langit.


Jennie menggelengkan kepala, ini pertama kalinya dia melihat Langit menangis dan mengeluh dengan semua yang suaminya alami dalam hidupnya.


Jennie pikir, Langit adalah orang yang sabar dan menerima semuanya begitu saja, tapi yang dia baru ketahui adalah diamnya dan sabarnya orang yang menerima itu lebih terasa jika mereka sudah mengatakan kata lelah dan menyerah.


Seperti saat ini yang Jennie dengar dan lihat sendiri. Langitnya yang menerima semua perlakuan buruk darinya sampai di titik lelah dan menyerah. Jennie mendekat dan memeluk Langit, pelukan ini, pelukan yang Jennie rindukan dan selalu menjadi tempat ternyaman untuk dirinya.


Jennie masuk kedalam pelukan Langit, meskipun suaminya tidak balas memeluknya. Jennie bisa merasakan nafas suaminya yang tidak teratur karena baru saja meluapkan rasa sakit hatinya.


Jennie mencium dada suaminya berulang kali, dia melepaskan pelukan dan menghapus air mata Langit. Jennie menarik leher Langit lebih dekat kearahnya, tangan satunya Jennie gunakan untuk menarik baju kaus Langit dan pertemuan dua bibir melebur dalam satu irama.

__ADS_1


Chup ...


Jennie mencium suaminya, Jennie bermain dengan dengan mulut Langit, meskipun suaminya tidak membalasnya.


"Balas Langit," ucap Jennie setelah menjeda ciuman mereka.


Chup ...


Langit mencium Jennie kembali, kali ini Langit yang memulai. Langit menangis sambil mencium bibir istrinya, dia merasa hatinya sakit. Karena orang lain ikut merasakan bagaimana rasa bibir istrinya.


Langit memeluk pinggang Jennie, memperdalam ciumannya pada Jennie. Jennie memberikan akses penuh pada Langit, Jennie mengusap kedua bahu suaminya. Setelah beberapa menit bertahan dalam ciuman, mereka mengakhiri sesi ciuman, karena kehabisan nafas.


Jennie menatap Langit sambil menghapus air mata suaminya, dia tersenyum di depan suaminya. Langit menikmati tangan lembut istrinya yang menyentuh pipinya. Dia merekam senyum istrinya dalam ingatannya, dia menyukai senyuman istrinya.


"Maaf, tolong beri aku kesempatan. Aku hanya mencintaimu, walaupun aku sebelumnya membenci dirimu karena ego bodohku. Aku tidak mencintai siapa pun, tolong percaya padaku. Aku tidak mencintai siapa pun, selain dirimu Langit Akdiasa," mohon Jennie dengan lembut dan tulus.


"Kenapa mencium orang lain? Jika mencintaiku?" tanya Langit menatap sendu istrinya.


"Ada hal yang harus aku pastikan, aku tidak bisa memberi tahu dirimu untuk saat ini. Tolong percaya padaku, aku Jennie Akdiasa hanya mencintai Langit Akdiasa, suamiku!" tegas Jennie.


"Tolong percaya hon," ujar Jennie mencium bibir Langit sekilas.


"Aku memang salah dan memperlakukanmu sangat tidak baik, tapi tolong percaya padaku untuk kali ini, aku tidak akan mengecewakan atau pun mengkhianatimu," ucap Jennie.


"Aku percaya, tolong jaga kepercayaan itu," kata Langit dengan sendu.


"Maaf hon, maaf karena memperlakukanmu dengan sangat buruk, maaf. Tolong jangan katakan cerai, kita tidak akan bercerai, kita akan membangun rumah tangga yang bahagia. Kita akan memiliki Princess dan Prince dalam rumah tangga kita. Anak dari Langit Akdiasa dan Jennie Akdiasa. Kita akan, kita akan hon," tekad Jennie menyakinkan suaminya.


"Aku memaafkanmu, tidak masalah bila dirimu tidak ingin mengandung anakku, kita bisa mengangkat anak," jelas Langit dengan senyumnya.


"Tidak, aku istrimu. Dirimu berhak atas diriku hon, tubuhku adalah milikmu. Keinginanmu untuk memiliki anak adalah salah satu tugasku untuk mewujudkannya hon. Kita akan, kita akan memiliki Princess dan Prince," kata Jennie.


"Benarkah?" tanya Langit dengan bahagia.

__ADS_1


"Tentu hon," saut Jennie tersenyum menampilkan gummy smilenya.


Langit mengangkat tubuh istrinya, karena dia merasa sangat bahagia mendengar ucapan istrinya.


"Awww ..." pekik Langit menurunkantubuh istrinya perlahan, lalu memegang bekas tusuk yang baru beberapa jam lalu di jahit.


"Astaga, sakit hon?" tanya Jennie menyikap kaus Langit, dia melihat darah merembes dari perban suaminya.


"Tidak," tolak Langit sambil meringis.


"Kemari, biar istrimu obati dan ganti perban baru," ucap Jennie menuntun tangan suaminya untuk duduk di sofa.


Jennie mengambil kotak P3K, menyuruh Langit membuka baju. Jennie tertegu melihat tubuh atletis suaminya.


Astaga, suamiku. Ini suamiku, badan kotak-kotak seperti roti sobek, batin Jennie terpukau.


"Wife," panggil Langit menyadarkan istrinya.


"Ah, iya hon. Tahan, ya," kata Jennie yang tersadar langsung melakukan tugasnya untuk mengganti perban suaminya. Langit tersenyum sambil memperhatikan istrinya.


"Cantik," gumam Langit tanpa sadar dan masih asik dengan memandangi istrinya.


Sementara Jennie yang mendengar itu, kedua pipinya memanas, bahkan bukan hanya pipi, tapi keseluruhan tubuhnya karena mendengar pujian suaminya. Beberapa waktu akhirnya Jennie selesai


mengganti perban Langit.


"Sudah selesai," kata Jennie dengan senyum manisnya.


"Terima kasih wife," ucap Langit.


"Iya hon, ayo istirahat. Dirimu harus banyak beristirahat agar segera pulih," ajak Jennie.


"Iya hon," kata Langit.

__ADS_1


Langit hendak menidurkan dirinya di sofa tapi istrinya malah menarik tangan Langit pelan dan membawa dia untuk tidur bersamanya di kasur.


"Tempatmu di kasur, dan tempatku di pelukanmu," ungkap Jennie memposisikan dirinya agar suaminya nyaman dan dia bisa merasakan pelukan suaminya. Langit tersenyum dan mencium kepala istrinya.


__ADS_2