
"Hubby," panggil Jennie pada suaminya.
"Iya wife,"
"Hubby, aku ingin bercerita soal yang tadi siang," ujar Jennie.
"Silakan wife,"
"Hubby, tadi siang Daffin mengakui perbuatannya. Walaupun harus di pancing dengan membuat dia mabuk dulu. Dia adalah orang yang menyebabkan orang tuamu meninggal dalam kecelakaan dan membuat dirimu hilang ingatan," terang Jennie.
"Sudah menjadi takdir Tuhan wife, bukan berarti aku membenarkan perbuatannya,"
"Tapi dia yang menyebabkan dirimu menjadi yatim piatu hubby," kata Jennie.
"Iya memang benar, tapi bukankah itu juga sudah menjadi takdir Tuhan wife? Bila memang Tuhan menggariskan orang tua ku belum waktunya untuk meninggal, kecelakaan sehebat apapun mereka tidak akan meninggal. Begitu juga bila Tuhan sudah menggariskan orang tua ku untuk meninggal, dalam keadaan duduk diam saja mereka bisa meninggal, karena sudah waktunya. Aku tidak membenarkan perbuatannya wife,"
"Dia dan ayahnya seorang pengedar narkoba dari Paris ke Korea, hubby. Ayahnya bekerjasama dengan polisi untuk menyelundupkan narkoba. Ayahnya juga yang menyogok polisi untuk tidak mengangkat kasus kecelakaan dirimu," ucap Jennie.
"Uang bisa membutakan segalanya, wife,"
"Dia sudah di tangan polisi, kupastikan keluarganya kali ini akan mendapatkan hukuman yang setimpal, mereka tidak akan kebal hukum lagi," kata Jennie.
"Jangan membahayakan dirimu, wife," kata Langit mengelus punggung istrinya.
"Tidak hubby, bodyguard yang mengurus semuanya. Aku tidak terjun langsung menangani kasus ini, jadi aku aman," ucap Jennie.
Suaminya tidak menjawab, dia lebih memilih untuk memeluk istrinya lebih erat lagi.
"Hubby," panggil Jennie.
"Hm."
"Bisakah kita pergi makan malam?" tanya Jennie.
"Tentu wife, sebelumnya aku sudah memikirkan hal itu. Sayangnya diriku di dahului oleh dirimu. Nanti malam kita makan malam di luar," ucap Langit.
"Terima kasih, hubby," ucap Jennie.
"Apa pun untuk istriku," ujar Langit.
"Hubby, nanti malam jadwal penerbangan Rachel dan Jesya unnie kembali ke Korea," ucap Jennie memberitahu suaminya.
"Kenapa cepat sekali? Tidak ingin mengantar mereka wife?" tanya Langit.
"Mereka bilang banyak pekerjaan yang menunggu. Aku sudah menawarkan diri untuk dirimu dan aku mengantar mereka ke bandara hubby, tapi mereka menolak. Mereka bilang, biarkan aku dan dirimu menghabiskan waktu honeymoon di Paris," tutur Jennie.
"Sahabatmu sungguh orang yang baik, wife," ungkap Langit.
"Tapi Rachel menyukaimu," ucap Jennie dengan cemberut.
"Biarkan orang dengan perasaan sukanya. Kita tidak bisa mencegah perasaan mereka bukan. Selama 1 pihak tidak membalas rasa suka itu, tidak akan terjadi suatu hubungan wife. Jangan pikirkan hal-hal yang membuat dirimu negatif thinking," tutur Langit.
"Aku mencintaimu, hubby," ungkap Jennie mencium bibir suaminya.
"Aku lebih mencintaimu wife," ucap Langit mencium balik bibir istrinya.
"Kita bersiap sekarang?" tanya Langit mencium rambut istrinya.
"Iya hubby," saut Jennie.
Pasangan suami istri itu meninggal kasur, mereka mandi bersama dan bersiap bersama.
__ADS_1
***
"Unn, sudah siap?" tanya Rachel.
"Sudah," jawab Jesya.
"Kita pergi sekarang?" tanya Rachel.
"Iya," saut Jesya.
Jesya dan Rose membawa barang-barang mereka. Mereka meninggalkan hotel, menaiki taxi untuk pergi ke bandara.
***
"Handsomenya my husband," puji Jennie terpukau dengan rupa menawan suaminya, mengelus dada Langit.
"Benarkah?" tanya Langit memeluk tubuh istrinya.
"Iya, husband aku sangat tampan," puji Jennie.
"Begitu juga dengan my wife, always beautiful," Langit balik memuji istrinya dan mencium kening istrinya.
"Gombal," ledek Jennie tersipu karena gombalan suaminya.
"Hahah ... kita pergi sekarang wife?" tanya Langit menciumi kening istrinya.
"Rasanya aku hanya ingin tidur di dalam pelukanmu sepanjang waktu hubby. Jika malam ini kita tidak makan malam. But karena kita sedang honeymoon, tidak ada salahnya kalau kita menghabiskan waktu dengan di luar kamar bukan?" tanya Jennie.
"Kita bisa melakukan itu nanti setelah makan malam wife," ucap Langit.
"Hm, 10 menit seperti ini hubby," pinta Jennie merekatkan tubuhnya pada suaminya.
"Apa pun untuk Queen," ucap Langit mencium rambut istrinya.
Setelah 10 menit dalam posisi itu, suami istri itu akhirnya pergi dinner dengan berjalan kaki. Makan malam mereka tidak di tempat mewah, hanya tempat biasa.
"Tidak masalah kita makan malam di sini wife?" tanya Langit untuk memastikan jika istrinya nyaman dengan tempat makan malam mereka.
"Tidak, ini lebih baik hubby. Aku suka setiap hal bila itu bisa bersamamu," ucap Jennie berkata tulus sambil menatap wajah suaminya yang sedang menuangkan minum untuk dirinya.
"Oh, ternyata CEO Arkan pandai menggombal," ledek suami Jennie.
"Tidak, aku Jennie Akdiasa bukan Jennie Arkan lagi, hubby," tolak JennieĀ dengan cemberut.
"Iya wife, Jennie Akdiasa, istri Langit Akdiasa, right?" tanya Langit untuk menggoda istrinya.
"Right," jawab Jennie dengan senyum manis di wajahnya.
"Hubby," panggil Jennie menatap serius suaminya.
"Iya wife," saut Langit.
"Dirimu tidak ingin mencoba mengingat ingatan yang hilang?" tanya Jennie.
"Tidak wife," jawab Langit.
"Kenapa hubby?" tanya Jennie.
"Karena aku percaya Tuhan memberikan kebaikan dari hilangnya ingatanku wife. Bisa jadi ingatanku kebanyakan isinya tentang luka," tutur Langit.
"Bagaimana kalau sebaliknya hubby?" tanya Jennie.
__ADS_1
"Kalau ingatan itu berupa kebahagiaan, maka Tuhan memberikan aku kesempatan untuk menciptakan kebahagiaan yang baru," ungkap Langit.
"Hah, aku tidak tahu kenapa Tuhan begitu baik padaku, hubby," ucap Jennie.
"Kenapa wife?" tanya Langit.
"Diriku yang sangat jauh dari kata baik, bisa bersanding dan mendapatkan suami seperti dirimu. Suami yang berhati lembut dan tulus. Aku malu hubby," lirih Jennie sendu.
"Kalau begitu berikan saja suamimu ini pada orang lain," goda Langit membuat lelucon agar istrinya tidak terbawa serius dengan topik yang mereka bahas.
"Yakh, beraninya dirimu mengatakan itu di depan istrimu!" kesal Jennie memukul lengan suaminya yang tertawa terbahak-bahak karena lucu dengan ekspresi istrinya.
"Hahah ... maaf wife. Hanya bercanda," canda Langit tertawa sambil menghalau tangan istrinya supaya berhenti memukul dirinya.
"Tidak lucu!" tekan Jennie berhenti memukul dan memalingkan wajahnya.
"Wife, maaf. Tidak ada wanita lain. Hanya Jennie Akdiasa seorang, oke," ucap Langit mengusap kedua tangan istrinya, Jennie masih cuek.
"Wife," bujuk Langit mencium kedua punggung tangan istrinya. Jennie tersipu dengan tindakan suaminya.
"Jangan di ulangi oke, itu tidak lucu," Jennie.
"Hubby," panggil Jennie.
"Iya wife" saut Langit.
"Bagaimana kalau aku memutuskan untuk tidak melahirkan?" tanya Jennie menatap cemas suaminya.
"Tidak masalah, pada dasarnya semua pasangan menginginkan anak dari pernikahan mereka. Tapi bila itu tidak berlaku untuk istriku, itu sama sekali tidak masalah untukku, wife," tutur Langit.
"Dirimu tidak marah hubby?" tanya Jennie.
"Tidak, kenapa harus marah? Sekali pun aku ingin memiliki anak, bila istriku tidak menginginkannya, aku tidak akan memaksa wife," ucap Langit.
"Benarkah? Dirimu tidak akan memiliki anak dari wanita lain 'kan?" tanya Jennie.
"Tidak, tidak akan. Kecuali istriku ada selain dirimu," ledek Langit.
"Yakh," pekik Jennie.
"Hahah ... bercanda wife. Kita bisa mengadopsi anak dari panti asuhan," ucap Langit.
"Tidak. Nanti dirimu akan fokus ke anak, bersama Malvin saja dirimu selalu melupakanku," ungkap Jennie.
"Hahah ... istriku cemburu. Berbeda halnya wife. Cinta dan sayang dengan pasangan dan anak itu sangat berbeda," ucap Langit.
"Benarkah? Jika di suruh memilih dirimu memilih istri atau anak, hubby memilih siapa?" tanya Jennie.
"Aku akan memilih istriku, wife," jawab Langit mantap.
"Kenapa hubby?" tanya Jennie.
"Karena istri yang akan menemaniku sampai akhir napasku. Anak nanti akan bertumbuh dan berkembang wife, dia akan melalui setiap tahapnya termasuk juga pada tahap dimana dia akan menikah dan memulai hidupnya yang baru. Dia akan menghabiskan waktunya dengan pasangannya dan meninggalkan kita," tutur Langit dengan bijak.
"Suamiku bijak, aku suka jawabanmu," ucap Jennie tersenyum mendengar penjelasan Langit.
"Jadi kita bisa mengadopsi anak 'kan, bila dirimu memang memutuskan untuk tidak melahirkan anak kita wife?" tanya Langit.
"Hm, tidak dalam waktu dekat hubby. Aku ingin bermanja denganmu," ucap Jennie.
"Iya wife," Langit tersenyum.
__ADS_1