
Setelah kepergian Langit, adik dan kakak itu duduk di bangku rooftop dengan di selimuti langit malam, banyak bintang.
"Unn," panggil Jennie memanggil unnienya. Falensia menatap wajah adiknya.
"Aku mendengar semuanya," ucap Jennie.
"Maaf," kata Falensia.
"Tidak, suamiku benar, unn. Kita tidak berhak untuk menghentikan orang lain untuk mencintai diri kita. Tapi unn, bisakah unnie belajar dengan apa yang dikatakan suamiku. Ikhlaskan masa lalu unnie, jangan mencoba untuk mengulang masa lalu unnie dengan suamiku dimasa mendatang dengan hubungan yang akan menghancurkan rumah tangga adikmu sendiri. Mantan suamimu saat ini adalah suamiku unn, aku tidak ingin berbagi dengan siapa pun termasuk dengan unnie. Tolong perhatikan batas-batas unnie dengan suamiku, aku percaya dengan suamiku, tapi tidak dengan wanita lain termasuk, unnie. Cukup pertengkaran kita yang kemarin unn, janganĀ membuat babak baru next episode, jika itu terjadi aku benar-benar akan menganggap dirimu bukan unnieku lagi," tutur Jennie dengan tenang.
"Unnie akan, unnie akan melepaskan perasaan unnie pada Langit secara perlahan. Unnie pastikan tidak akan ada next episode di masa mendatang," ucap Falensia.
"Aku pegang ucapanmu, unn. Bahagialah unn dengan pasanganmu saat ini, hargai dan cintai dia, sebelum penyesalan datang kedua kalinya unn. Jangan buat pasangan unnie merasakan apayang dirasakan suamiku dulu ketika bersama, unnie," ucap Jennie.
Falensia meresapi perkataan adiknya.
"Bisakah unnie berbicara dengan baby?" tanya Falensia.
"Tentu unn, kamu adalah auntynya," jawab Jennie.
"Hai baby, sehat-sehat di dalam sama bersama mommy. Baby adalah anak yang paling beruntung karena memiliki daddy yang begitu lembut, berhati tulus dan murni. Baby tidak perlu takut dengan ancaman apa pun, karena daddy baby adalah orang yang siap menjadi pelindung dan penguat untu baby. Baby juga beruntung karena memiliki mommy yang tegas, di takuti banyak orang, walaupun mommy baby menyebalkan. Baby sangat beruntung sayang, tolong keluar dengan segera dalam keadaan sehat sayang, karena daddy dan mommy baby menantikan baby, semua orang menantikan baby dan salah satunya adalah aunty. Semoga baby menuruni semua sikap dan sifat daddy baby, jangan menuruni sikap dan sifat mommy baby, itu tidak baik," tutur Falensia sembari mengelus perut adiknya.
"Yakh, unnie. Perhatikan bahasamu," kesal Jennie dengan penuturan unnienya.
"Kenapa? Unnie hanya berkata jujur," ledek Falensia.
__ADS_1
"Haiss," saut Jennie.
Falensia membawa tubuh adiknya ke dalam pelukannya.
"Unnie menyayangimu little princess. Tolong sehat-sehat untuk kamu dan baby," ucap Falensia mencium rambut adiknya.
"Aku menyayangimu juga unn. Kami akan sehat-sehat aunty. Tolong tunggu baby," kata Jennie menurunkan suara anak kecil.
"Akan sayang, aunty akan menunggu kelahiran baby," saut Falensia tersenyum, perasaannya sedikit lebih lapang karena bisa lebih dekat dengan adiknya dan perlahan-lahan mulai bersahabat dengan masa lalunya.
Setelah beberapa saat hanyut dalam berbagi pelukan kenyamanan. Adik kakak itu akhirnya melerai pelukan mereka dan mulai berjalan bersama untuk menghampiri Langit yang sedang menunggu berakhirnya obrolan mereka.
"Hubby," Jennie memanggil suaminya yang sedang asik dengan memandangi langit malam.
"Sudah hubby," jawab Jennie.
"Langit tolong jaga baby dan adik unnie," kata Falensia.
"Iya unn," kata Langit tersenyum manis.
"Unnie duluan Jennie, Langit," pamit Falensia masuk ke dalam mansion meninggalkan pasangan suami-istri itu.
"Kita masuk sekarang wife? Ini sudah malam dan udara semakin dingin," ajak Langit.
"Iya hubby," saut Jennie memeluk lengan suaminya.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam mansion dengan tangan yang saling bertautan. Mereka tiba di kamar Jennie, mereka mengambil posisi untuk tidur setelah membersihkan diri bersama tadi.
"Semuanya baik-baik saja wife?" tanya Langit mengganggu lamunan istrinya.
"Iya hubby, hanya merasa gelisah, tapi tidak tahu alasannya," jawab Jennie.
"Istriku lelah, baby lelah. Jadi butuh istirahat," ucap Langit memeluk istrinya, meletakkan kepala istrinya di atas dadanya, dia mencium rambut istrinya.
"Hubby," panggil Jennie.
"Iya wife?" tanya Langit.
"Apa kamu memiliki niatan untuk meninggalkanku?" tanya Jennie entah kenapa random menanyakan hal itu pada suaminya.
"Tidak, kenapa harus meninggalkan istriku, terlebih lagi sudah ada baby," jawab Langit.
"Aku takut hubby," ujar Jennie.
"Tidak perlu berpikir yang negatif wife, itu akan melelahkan fisik dan batinmu, itu juga akan mempengaruhi baby. Aku tidak akan meninggalkan istriku, kecuali maut yang memisahkan kita wife. Sekalipun harus terpisah dengan maut, setidaknya kamu harus percaya aku selalu ada di hatimu wife," tutur Langit mencium kening istrinya.
"Love you dad," ucap Jennie mencium bibir suaminya.
"Love you too mommy, baby," balas Langit mencium balik bibir istrinya.
Mereka tenggelam dalam dekapan, hingga sama-sama memasuki alam bawah sadar mereka berdua.
__ADS_1