Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Baby Son


__ADS_3

"Wife," panggil Langit sambil menangis memeluk tubuh istrinya. Dia masih memegang kotak berukuran sedang itu. Jennie ikut menangis haru juga, dia bisa merasakan suami tercintanya benar-benar bahagia dengan kehamilan dirinya dan buah hati mereka.


"Iya dad, don't cry daddy. Baby can't wait to meet daddy," ujar Jennie berkata sambil menangis haru.


Langit melepaskan pelukannya pada istrinya, mencium perut istrinya.


"Biarkan daddy menangis kali ini sayang. Daddy bahagia dengan kehadiran baby di dalam diri mommy. Daddy dan mommy menunggu kedatangan baby sebagai pelengkap keluarga kecil kita sayang. Biarkan daddy menangis," tutur Langit mengecup perut istrinya yang masih datar dan terhalang dengan baju yang di pakai istrinya.


Jennie menangis harus sambil tersenyum melihat dan mendengar perbuatan dan perkataan suaminya yang sangat manis, menenangkan hatinya. Jennie mengelus rambut suaminya. Rachel dan Jesya yang sebelumnya berpikiran negatif dengan sahabatnya, setelah mengetahui penyebab Langit menangis adalah karena Langit yang akan menjadi seorang daddy, mereka ikut terharu sambil menangis. Mereka ikut bahagia dengan pasangan suami-istri itu.


Saat ini pasangan suami-istri itu sedang berada di ruang TV dengan Jesya dan Rachel. Mereka baru saja berfoto-foto dan memakan kue ulang tahun Langit. Posisi mereka saat ini, Jennie yang menempel dengan Langit, Jesya dan Rachel di depan mereka.


"Selamat untuk kalian, semoga baby dan mommynya sehat-sehat sampai waktu kalian bertemu nanti," ungkap Jesya.


"Iya terima kasih, unn," jawab Jennie dan Langit.


"Selamat Langit, unnie, atas kehadiran buah hati kalian. Sehat untuk baby dan mommy," ucap Rachel.


"Terima kasih, Rachel." kata Langit dan Jennie.


"Unn, bagaimana unnie tahu kalau unnie sedang hamil?" tanya Rachel.


"Sehabis pulang dari Paris, unnie mulai merasakan gejala seperti wanita hamil. Unnie melakukan tes kehamilan untuk memastikan saja dan ternyata hasilnya positif," tutur Jennie yang menikmati usapan di pipinya dari suaminya.


"Sebaiknya besok ajak istrimu cek kedokter Langit. Untuk mengetahui keadaan baby dan istrimu," usul Jesya.


"Iya unn, apa hari ini saja kita cek ke Dokter, wife?" tanya Langit.


"Tidak, besok saja, hubby. Sore nanti kita akan ke mansion daddy. Daddy dan mommy mengundang kita untuk merayakan ulang tahunmu dengan makan malam di mansion. Sekalian kita memberi tahu daddy dan mommy atas kehadiran baby," terang Jennie dengan senyum manisnya sambil mengusap perutnya yang datar.

__ADS_1


"Baiklah, apa pun untuk istriku. Tapi bisakah bukan dirimu yang menyetir wife. Aku tidak ingin dirimu kelelahan," pinta Langit.


"Suami idaman," puji Rachle.


"Unnie yang akan menyetir mobil Jennie. Unnie dan Rachel akan mengantar kalian ke mansion daddy," ucap Jesya.


"Unnie dan Rachel, ikut saja ke mansion daddy untuk merayakan ulang tahun suamiku," ujar Jennie.


"Tidak Jennie. Unnie dan Rachel sudah merayakan ulang tahun Langit di sini. Kalian habiskan waktu bersama keluarga besar kalian dan beritahu kehadiran baby," tolak Jesya.


"Baiklah, sebelumnya terima kasih banyak unn, Rachel untuk kebaikan kalian selama ini," ucap Jennie dengan tulus.


"Kita saudari unn, sudah seharusnya," ujar Rachel.


"Benar, sudah seharusnya kita seperti itu bukan. Langit tolong jaga ponakan dan adik unnie," pinta Jesya.


"Sudah seharusnya Langit, unnie dan Rachel melakukan itu. Kami sahabat sudah seperti saudari. Kita ingin pergi sekarang?" tanya Jesya.


"Iya unn," jawab Jennie.


"Sebentar wife," ucap Langit berdiri berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka untuk mengambil jaket dirinya. Setelah ketemu, dia turun ke lantai dasar menemui istrinya dan sahabat istrinya.


"Wife," panggil Langit, memakaikan istrinya jaket miliknya.


"So sweetnya," puji Rachel.


"Terima kasih, hubby," ujar Jennie tersipu dengan perlakuan manis suaminya.


"Sama-sama wife. Sudah unn," kata Langit memberi tahu Jesya kalau sekarang mereka bisa pergi ke mansion daddy Arkan.

__ADS_1


"Ayo kita pergi sekarang," ajak Jesya.


Mereka keluar dari mansion, memasuki mobil. Jennie dan Langit duduk di kursi penumpang, dengan Jennie yang lengket dengan suaminya. Rachel duduk di samping Jesya yang menyetir. Mobil berjalan menuju masion daddy Arkan.


"Langit, dirimu tidak ada niatan untuk belajar mengendarai mobil?" tanya Rachel membuka obrolan.


"Keinginan itu ada, apa lagi setelah seperti ini. Kemana-mana tidak mungkin Jennie ikut denganku naik bus, atau Jennie yang mengendarai mobil sedangkan dia sedang hamil. Aku selalu mencoba, setiap kali aku duduk di kursi kemudi, kepalaku langsung sakit, kilas balik tentang kecelakaan itu berputar samar-samar," ungkap Langit menjelaskan, matanya sendu.


"Hubby," panggil Jennie menuntun kepala suaminya untuk di letakkan di bahunya, dia mengelus tangan suaminya.


"Jangan di paksa ya, kita bisa menggunakan sopir untuk mengantar jemput kemanapun kita pergi," ucap Jennie.


"Semua ini gara-gara laki-laki brengsek itu," kesal Jesya pada Daffin.


"Benar unn, bagaimana dengan sepeda motor? Apa dirimu bisa mengendarai sepeda motor Langit?" tanya Rachel.


"Bisa, aku bisa mengendarai sepeda motor," jawab Langit merasa tenang dengan perlakuan istrinya.


"Lalu kenapa dirimu lebih memilih untuk menaiki bus, hubby?" tanya Jennie.


"Uang untuk membeli motor bisa di gunakan untuk yang lain wife. Aku harus menabung untuk keperluan kita, apa lagi setelah ada baby. Walaupun gajiku tidak seberapa, tapi aku ingin membiayai kebutuhan rumah tangga kita dan baby dengan uangku sendiri, wife. Untuk itu aku lebih memilih untuk menabung, ketimbang membeli motor, wife," tutur Langit.


Jennie, Rachel dan Jesya terharu dengan penuturan Langit. Di saat para suami merasa minder, bahkan memanfaatkan gaji istrinya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Langit justru memilih untuk bertanggung jawab dan bekerja keras untuk membiayai kebutuhan rumah tangganya.


Aku beruntung hubby, sangat beruntung memiliki suami seperti dirimu. Sekarang aku baru mengerti, kebahagiaan itu bukan di ukur dari jumlah harta dan seberapa terkenal diri kita, tapi kebahagiaan itu bagaimana diri kita menciptakan dan menikmati apa yang sudah kita miliki. Terima kasih hubby, terima kasih karena sudah menjadi suami yang mengajarkan istrimu ini banyak hal, batin Jennie.


Dirimu beruntung Jennie. Memiliki suami yang berhati murni, bersikap lembut, dan terpenting bertanggung jawab. Tuhan semoga jodohku nanti tidak jauh berbeda seperti sifat dan sikap Langit, batin Jesya.


Hatimu tulus Langit. Itu kenapa banyak orang yang bisa mencintaimu dengan sangat mudah, termasuk diriku. Tapi aku mengikhlaskanmu untuk unnieku. Semoga kalian menjadi keluarga yang selalu di limpahkan kebahagiaan. Jennie unnie dirimu sangat beruntung memiliki Langit sebagai suamimu, batin Rachel.

__ADS_1


__ADS_2