Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Keajaiban Tuhan


__ADS_3

"Astaga sayang, tidak sebegitunya juga memperhatikan daddymu. Mommy tahu daddy tampan, tapi jangan sampai tidak berkedip juga dong," ledek Jennie yang memperhatikan sedari tadi baik suami, atau pun putrinya belum ada yang membuka suara, masih diam dalam posisi saling tatap, mengagumi satu sama lain.


"Definisi bucin daddy, ya seperti ini. Hati-hati Jennie, putrimu saat ini adalah saingan terberat untukmu," canda Jesya.


"Benar unn, lihat masih kecil saja sudah tahu mana yang tampan," timpal Rachel.


Sementara mommy dan daddy Arkan, serta Falensia mereka memperhatikan saja keluarga kecil itu. Sebelumnya mereka sempat di buat berhenti jantung beberapa saat, karena kondisi Langit yang hampir beda alam dengan mereka.


Flashback


"La-langit," kata daddy Arkan.


"Kenapa dad?" tanya Jennie yang tersenyum dari tadi, tiba-tiba berubah menjadi sendu.


"Langit menyerah," lirih daddy Arkan.


"Menyerah bagaimana dad?" tanya Jennie cemas.


Tanpa basa-basi, Suster datang membawa kursi roda permintaan daddy Arkan. Daddy Arkan mendudukkan putrinya dengan hati-hati di sana, lalu mendorongnya menuju ke ruangan Langit. Baby berada di gendongan grandmanya.


"Hubby," panggil Jennie dengan air mata luruh tanpa pamit.


Jennie terteguh melihat kondisi suaminya yang sudah di tutup kain putih. Daddy Arkan mendorong lebih dekat kursi roda yang di gunakan putri bungsunya pada kasur rumah sakit suami putrinya.

__ADS_1


"Ini bukan suamiku 'kan dad?" tanya Jennie memegang kain putih itu, tapi belum memiliki kemampuan untuk membukanya.


"Di-dia Langit, sayang," jawab daddy Arkan menunduk air matanya pun luruh.


Daddy Arkan menggenggam kuat pegangan besi kursi roda bungsunya, tidak kuat mengatakan kebenarannya pada putrinya, tapi dia harus dan tidak punya pilihan lain.


"Tidak, daddy pasti bercanda," tolak Jennie mencoba menepis kata-kata daddynya.


Mommy Arkan dan Falensia sudah menangis, mendengar kata-kata daddy Arkan di ruang bersalin Jennie tadi. Falensia memberanikan diri membuka kain putih itu.


Srek ... Kain putih di buka dan tampaklah wajah Langit yang pucat dengan tersenyum sambil menutup mata.


Semua yang ada di dalam ruangan itu seketika menjadi kaku, tidak ada penopang dalam tubuh mereka. Jennie terdiam beberapa waktu, tangannya mengelus pipi suaminya.


"Daddy, mommy berhasil melahirkan princess kita. Dia sangat cantik, dia tidak sama sekali menyusahkan mommy dad. Princess kita membantu mommynya dalam proses kehamilan dan melahirkan. Daddy tidak ingin melihat dan memberikan baby nama? Padahal daddy yang bersemangat sekali ingin bertemu dengan baby, ya 'kan dad?" ucap Jennie bermonolog di depan tubuh suaminya yang kaku.


"Dad," panggil Jennie lirih mulai meneteskan air mata.


"Bagaimana mommy harus merawat baby? Mommy belum bisa memandikan baby, mommy belum bisa mendandani baby. Baby setelah mandi pakai bedak dulu atau minyak telon dulu dad? Daddy lelah hm? Kalau daddy lelah setidaknya pergilah setelah daddy memberitahu dan mengajari mommy bagaimana cara merawat baby, agar mommy tidak salah. Bukankah daddy sudah pandai, karena dulu merawat Malvin, lalu kenapa sekarang daddy lepas tanggung jawab begitu saja dengan baby?" tanya Jennie membiarkan air matanya mengalir, tangannya terusĀ  mengusap wajah pucat suaminya.


"Mom kemarikan baby," pinta Jennie meminta baby di berikan padanya, mommy Arkan memberikan baby pada Jennie.


Jennie meletakkan tangan putrinya di atas tangan suaminya, agar baby bisa merasakan setidaknya sekali seumur hidup bagaimana di sentuh oleh daddynya.

__ADS_1


"Baby, ini daddy. Baby merasakannya bukan? Ini orang tampan yang selalu baby cari, bahkan baby selalu menendang-nendang mommy dari dalam perut. Hanya karena mommy lupa mendengarkan suara daddy dan meminta tangan daddy mengusap perut mommy untuk menyapa baby," ucap Jennie berkata pada putrinya sambil menahan suara tangisnya.


Mommy dan daddy Arkan serta Falensia sudah tidak tahu lagi harus merespon seperti apa. Mereka pilu dengan situasi saat ini dan tambah pilu lagi mengingat setiap makna yang di katakan Jennie pada suami dan anaknya. Mereka tidak menyangka, di hari bunga mekar, di sisi lain ada yang gugur.


Baby yang seolah-olah mengerti dengan kata-kata mommynya, baby menggenggam erat jari telunjuk daddynya. Lalu tiba-tiba baby menangis, seolah-olah menolak dan tidak terima jika dirinya ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh daddynya.


"Owek, Owek, Owek," tangis baby.


Jennie meletakkan baby di dada suaminya, dan baby belum melepas genggaman erat di jari telunjuk daddynya. Tak lama keajaiban Tuhan datang, Langit perlahan-lahan membuka matanya, padahal alat medis ditubuhnya sudah di lepaskan semua.


"Bangun dad, bangun ini baby," ucap Jennie menangis haru.


Tuhan memberikan kebaikan untuk keluarga kecilnya. Baby masih menangis di dada daddynya, Jennie membiarkan itu. Langit membuka matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah bayi kecil yang sedang menangis di atas dadanya sambil menggenggam erat jari telunjuknya.


"Hubby," ucap Jennie mencium pipi suaminya.


"Dia princess kita sayang. Dia putri kita, tolong hentikan tangisnya," pinta Jennie menangis.


"Dad, tolong panggil Dokter," pinta mommy Arkan.


Daddy Arkan langsung keluar dari ruangan untuk memanggil Dokter.


Langit tidak menjawab, tapi dia menggenggam balik tangan mungil putrinya dan tangan satunya memeluk baby, menepuk pelan bahu baby. Seketika tangis baby berhenti, baby melihat ke arah daddynya begitu juga dengan Langit.

__ADS_1


__ADS_2