
Saat ini keluarga Arkan sedang bersantai di ruang TV dengan Langit yang menggendong baby sambil duduk. Malvin yang menempel dengan daddynya karena ingin terus berada di dekat adik bayi.
"Jadi apa rencana kalian kedepannya?" tanya daddy Arkan.
"Dad," panggil Jennie mempersilahkan suaminya yang menjawab pertanyaan daddynya.
"Kami akan tinggal beberapa waktu di sini dad, jika di perbolehkan. Aku akan mengambil alih pekerjaan istriku dad, kami sepakat untuk aku yang bekerja dan Jennie yang berada di rumah," tutur Langit menjawab dengan senyum.
"Tentu tidak merepotkan," kata mommy Arkan.
"Tinggallah sesuka hati kalian di mansion ini, 24 jam pintu selalu terbuka. Itu lebih baik, kapan kamu mulai bekerja?" tanya daddy Arkan.
"2 hari lagi dad, aku mengajari istriku dulu cara memandikan, memakaikan pakaian baby dan membersihkan baby. Setelah istriku bisa, baru aku bisa tinggal untuk bekerja dad," jawab Langit.
"Iya daddy idaman," goda daddy Arkan.
"Kamu mengantuk boy?" tanya Langit melihat putranya yang sudah menempelkan badannya sepenuhnya pada dirinya.
"Iya dad. Tapi adik Lili belum tidur," jawab Malvin yang sayu-sayu matanya.
"Adik Lili sudah tidur cukup lama boy. Pergi tidur dengan mommy," ucap Langit.
"Iya dad, ayo mom kita tidur," ajak Malvin pada mommynya. Falensia berdiri dan menggendong Malvin.
"Selamat malam dad, adik Lili, aunty, grandpa dan grandma," kata Malvin.
"Selamat malam boy," saut mereka kompak.
Falensia pergi membawa Malvin naik ke kamar putranya, untuk menemani Malvin tidur. Falensia dan Malvin tidak tidur bersama, setelah Malvin tidur Falensia akan meninggalkan kamar Malvin.
"Baby belum ingin tidur?" tanya mommy Arkan.
__ADS_1
"Belum, grandma," jawab Langit seperti anak kecil, seolah-olah dia adalah baby Lili.
"Baby barusan bangun mom," kata Jennie.
"Dad," panggil Langit.
"Iya," saut daddy Arkan.
"Bagaimana dengan kabar Samudra?" tanya Langit.
"Dia sedang menjalani masa tahanannya, denda 5 Milyar dan masa tahanan selama 15 tahun," jawab daddy Arkan.
"Apa tidak bisa di tangguhkan atau di hilangkan dad?" tanya Langit.
"Kenapa dad?" tanya Jennie menatap wajah suaminya.
"Bisa di kurangi, kalau istrimu mencabut tuntutannya," jawab daddy Arkan. Langit langsung melihat ke arah istrinya.
"Mom," panggil Langit dengan lirih.
"Tidak, sekali tidak tetap tidak," tolak Jennie dengan tegas. Jennie pergi meninggalkan ruang TV, menuju ke lantai atas.
"Bicarakan baik-baik dengan istrimu, Langit," ucap mommy Arkan.
"Iya mom, kalau begitu kami ke atas dulu mom, dad," pamit Langit.
"Iya, selamat malam cucu grandma," ucap mommy Arkan.
"Selamat malam grandma," kata Langit mewakili baby.
Langit dan baby pergi meninggalkan ruang TV, ikut menyusul Jennie yang sudah pasti berada di kamar. Ruang TV hanya tersisa daddy dan mommy Arkan.
__ADS_1
"Bagaimana menurut mommy, jika Langit meminta putri kita untuk mencabut tuntutannya terhadap Samudra?" tanya daddy Arkan.
"Sejauh yang kita lihat, Langit memiliki hati yang tulus dad. Sangat wajar bukan, ketika dia berpikir seperti itu. Tapi mommy percaya Langit memiliki alasannya sendiri kenapa meminta hal itu. Dan sejauh ini, setiap keputusan Langit, dia tidak pernah merugikan orang lain dad. Cara dia menegur dan mendidik orang lain itu sangat baik. Jadi percaya dengan Langit, dad," tutur mommy Arkan.
Daddy Arkan diam beberapa waktu, memikirkan ucapan istrinya. Memang benar cara Langit memberitahu dan mendidik seseorang itu sangat lembut. Dan setiap keputusan Langit tidak pernah bertujuan untuk memetingkan dirinya sendiri.
***
Sementara di dalam kamar pasangan suami-istri Jennie dan Langit. Jennie sedang menahan amarahnya, diatas kasur. Jennie tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya, bisa-bisanya dengan mudah memaafkan orang yang sudah membuat nyawa dirinya sendiri hampir melayang.
Klik ... Pintu kamar di buka dan masuklah baby dan Langit. Langit mendekati istrinya, mengusap bahu istrinya dan untungnya Jennie tidak menepis tangannya.
"Maaf mom," ucap Langit.
"Kenapa?" tanya Jennie mempertanyakan kejadian di ruang TV tadi.
"Daddy hanya berpikir untuk kebaikan bersama mom. Samudra hanya salah paham dan dibutakan dengan cinta mom, hingga dia tidak bisa berpikir jernih. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini mom, jadi tidak ada salahnya untuk memberikan dia kesempatan mom," jelas Langit.
"Daddy tidak tahu bagaimana berada di posisi mommy dan baby yang harus berjuang bersama tanpa daddy di samping kami. Belum lagi mommy dan baby menyaksikan bagaimana daddy sempat mati suri," lirih Jennie meneteskan air mata mengingat kejahatan yang dilakukan Samudra berdampak pada dirinya dan baby.
"Daddy minta maaf untuk hal itu mom, tapi bukankah semuanya terjadi atas kehendak Tuhan mom. Lepaskan semua dendam yang ada di hati dan pikiran mommy, akan selalu terasa menyakitkan jika selalu di pendam mom. Lepaskan, dengan begitu setiap langkah mommy akan terasa sangat ringan. Daddy kasihan dengan Malvin mom dan Falensia unnie. Kita nanti akan pisah mansion, daddy akan sangat jarang bertemu dengan Malvin, bagaimana pun Malvin membutuhkan sosok daddy dalam hidupnya mom, begitu juga dengan Falensia unnie. Falensia unnie membutuhkan seorang pendamping yang membantunya untuk merawat putranya dan melindungi dirinya mom," ucap Langit.
"Hah," Jennie sempat setuju dengan perkataan suaminya, tapi dia butuh waktu.
"Tolong biarkan mommy berpikir terlebih dahulu dad," pinta Jennie.
"Iya mom, jangan di bawa serius mom. Katakan jika mommy sudah benar-benar ingin melakukannya," ucap Langit menghapus air mata yang ada di pipi istrinya dengan satu tangan.
"Kemarikan baby dad. Lihat, bisa-bisanya baby mencari ASI di uyyu daddy. Mommy rasa jika daddy bisa memberikan baby ASI. Baby akan benar-benar menganggap mommy hanya pabrik untuk melahirkan dirinya saja," ucap Jennie menatap geli putrinya yang menelusup kan wajahnya di bagian ****** suaminya.
"Hahah," Langit tertawa mendengar celotehan istrinya.
__ADS_1