Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
OTW Paris


__ADS_3

"Selamat makan," ajak Langit.


Saat ini Langit, Jennie dan Rachel sedang berada di ruang makan. Langit bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan. Selain sebagai salah satu tugasnya, dia menyiapkan sarapan pagi ini untuk tamu, tidak lain adalah sahabat istrinya sendiri Rachel. Luka di punggungnya tidak terasa perih karena semalam sudah di berikan obat merah oleh Rachel..


"Selamat makan," saut Rachel.


Sementara Jennie tidak menjawab hanya memakan sarapannya saja. Pagi ini Jennie menggunakan kacamata hitam untuk menutupi kantung matanya akibat semalam dia kurang tidur.


"Wah,,, dirimu benar-benar pandai memasak Langit. Astaga, Jesya unnie harus mencoba ini. Dirimu memang tipeku sekali Langit, suami idaman." puji Rachel memuji masakan Langit ketika baru selesai menelan 1 sendok masakan Langit.


"Terima kasih, Rachel. Nanti akan aku bawakan makanan ini untuk Jesya unnie, tolong antar kan, ya," pinta Langit berhenti mengunyah sejenak.


"Benarkah? Terima kasih Langit. Pasti, pasti akan aku antarkan pada Jesya unnie," Senyum merekah Rachel menatap Langit.


Langit dan Rachel melanjutkan acara sarapan mereka. Lain halnya dengan istri Langit yang sepertinya tidak menyukai kalimat yang di ucapkan sahabatnya.


"Unn, bagaimana menurutmu? Masakan Langit terbaik bukan? Unnie beruntung sekali setiap saat bisa di masakkan oleh chef pribadi, suami sendiri," tanya Rachel tidak lupa dengan pujian.


"Iya, unnie bersyukur untuk hal itu," jawab Jennie bohong, nyatanya hampir setiap pagi dia selalu memecahkan piring atau mangkuk karena merasa masakan Langit tidak sesuai dengan ke inginannya.


Nyatanya dia melakukan itu atas dasar rasa bencinya pada Langit, bukan rasa masakan Langit yang tidak enak. Jennie mengakui pada dirinya sendiri jika masakan suaminya adalah salah satu masakan favoritnya.


"Harus, Unn," ucap Rachel.


Mereka melanjutkan sarapan, hingga beberapa waktu selesai.


"Jadi Langit bagaimana dengan punggungmu? Apa sudah di obati pagi ini?" tanya Rachel untuk memastikan keadaan Langit.


"Syukurlah tidak perih ketika bangun tidur. Sudah, Jennie yang mengobatinya," kata Langit.


"Syukurlah. Unn, jam berapa penerbangan kalian?" tanya Rachel.


"Jam 10 nanti," jawab Jennie.


"Aku ikut mengantar unnie dan Langit, ya, ke Bandara," tawar Rachel.


"Iya," Jennie.

__ADS_1


Langit berdiri dan mulai membereskan meja makan, dengan membawa semua peralatan makan ke wastafel dan mencucinya, meninggalkan Rachel dan Jennie di meja makan yang sedang mengobrol.


"Unn, Langit setiap hari selalu membuatkan unnie sarapan?" tanya Rachel.


"Iya, setiap hari membuat sarapan dan makan malam," ungkap Jennie.


"Wow, berarti Langit itu adalah salah satu tipe pasangan yang act of service iya, Unn?" tanya Rachel.


"Bisa di katakan seperti itu," jawab Jennie.


"Akh,,, so sweet. Bila unnie bosan dengan Langit, tolong berikan padaku saja unn. Aku 24 jam menerima Langit, Unn," ungkap Rachel polos.


"Bermimpi lah, unnie perhatikan dari tadi sarapan, dirimu selalu memuji Langit. Jangan bilang dirimu menyukai Langit," selidik Jennie.


"Benar, aku menyukai Langit, Unn. Siapa yang tidak menyukai orang yang berkepribadian seperti Langit, Unn? Ketika berbicara dia lembut dan sangat ramah tersenyum Unn, mengutamakan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri, pekerja keras dan tipe pasangan yang act of service," puji Rachel dengan tulus menggambarkan rasa sukanya pada Langit di depan Jennie.


"Rachel," tegur Jennie yang tidak suka dengan pujian yang di berikan pada suaminya. Dari semalam dia kesulitan tidur karena Langit dan Rachel. Pagi ini hatinya kembali panas karena mendengar kalimat-kalimat Rachel yang memuji dan menyukai suaminya.


"Suka dengan kepribadiannya Unn. Aku tahu posisiku dan Langit. Langit adalah suamimu, Unn," ucap Rachel meluruskan agar Unnienya tidak salah paham.


"Rachel, ini bekal untuk Jesya unnie, itu juga bisa di makan untuk berdua. Aku melebihkannya," tutur Langit memberikan tas bekal makanan yang sudah dia siapkan di dapur tadi setelah selesai mencuci piring.


"Sepertinya kita harus pergi sekarang," potong Jennie.


"Pergi lah duluan, aku akan menurunkan koper dulu," perintah Langit.


"Barengan ke kamar. Rachel tolong siapkan mobil yang sedikit besar untuk meletakkan koper di bagasi," ucap Jennie.


"Iya, Unn," jawab Rachel pergi membawa tas bekal yang di berikan Langit tadi ke bagasi mobil mansion Jennie.


Di sana sudah ada kotak khusus untuk semua kunci mobil milik Jennie. Rachel memilih satu mobil yang bisa menampung banyak barang.


"Full senyum hari di pagi hari, karena di puji!" Sarkas Jennie yang sedang berjalan menuju lantai 2 bersama Langit. Langit diam saja tidak menanggapi. Langit pikir bukan dirinya yang sedang di ajak ngobrol oleh istrinya.


"Kau tuli!" bentak Jennie.


"Maaf Miss, aku kira Miss sedang tidak berbicara denganku," ucap Langit.

__ADS_1


"Dasar idiot!" gumam Jennie.


Mereka tiba di kamar, Langit membawa koper Jennie. Setelah itu dia langsung keluar, tapi di cegat oleh Jennie.


"Aku tidak suka dengan kedekatanmu dan Rachel," Jennie.


"Kenapa Miss? Kami hanya berteman dan mengobrol biasa," kata Langit.


"Kau menyukainya?" tanya Jennie.


"Iya, Miss. Rachel cantik, dia baik dan sangat bagus dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya," puji Langit polos.


"Kau sadar dengan yang Kau ucapkan barusan? Kau memuji wanita lain, mengatakan cantik di depan istrimu?" tanya Jennie dengan suara mengintimidasinya.


"Aku hanya menjawab jujur, Miss," jawab Langit.


Bugh,,,


"Ugh,," ringis Langit memegangi perutnya yang baru saja di tinju istrinya.


"Lakukan itu,  Kau akan mendapatkan hal yang lebih. Jangan mengujiku Langit. Sekali aku bilang tidak suka ya tidak suka!" bentak Jennie


"Iya, Miss," ucap Langit.


Jennie keluar dari kamar meninggalkan Langit yang membawa koper ke lantai bawah. Jennie keluar mansion dan


memasuki mobil, di sana sudah ada Rachel yang duduk di kursi pengemudi. Jennie duduk di kursi belakang yang artinya Langit akan duduk di kursi depan samping kursi Rachel. Sangat tidak mungkin bila Langit duduk bersama Jennie, itu akan membuat kesan seolah-olah Rachel adalah supir pribadi mereka dan belum tentu juga Jennie ingin satu tempat duduk bersama Langit.


Tidak lama Langit keluar dengan membawa 2 koper, 1 yang besar milik Jennie dan yang kecil miliknya. Ukuran koper mereka sangat berbeda jauh. Koper Jennie 3 kali lipat besarnya dari koper Langit. Langit membuka bagasi mobil, lalu meletakkan koper mereka, menutup bagasi mobil. Berjalan ke samping mobil membuka pintu depan dan duduk di sana.


"Sudah selesai? Tidak ada yang ketinggalan?" tanya Rachel memastikan.


"Ah, sebentar.  Ada sesuatu yang tertinggal," ujar Langit keluar dari mobil berlari ke dalam. Dia masuk ke gudang dan mengambil kameranya, menggantungkan di lehernya.


Langit berlari menuju mobil, membuka pintu mobil, masuk dan menutup pintu mobil.


"Sudah?" tanya Rachel lagi memastikan.

__ADS_1


"Sebentar," kata Langit mendekatkan wajahnya pada Rachel.


Rachel reflek membulatkan matanya atas tindakan Langit yang tiba-tiba.


__ADS_2