Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Ada Apa?


__ADS_3

"Morning wife," sapa Langit mencium kening istrinya yang menggeliat di dalam pelukannya.


"Morning hubby," balas Jennie tersenyum dan perlahan membuka matanya. Pipi Jennie memerah karena melihat dirinya dan suaminya tidak memakai sehelai benangpun, kulit mereka bersentuhan hanya di tutupi oleh selimut.


"Kenapa pipi istriku merona hm?" tanya Langit menggoda istrinya.


"Hubby," rengek Jennie yang malu.


"Hahah, apa aku menyakitimu semalam wife?" tanya Langit selalu menanyakan hal itu, untuk memastikan istrinya nyaman ketika mereka sedang berhubungan.


"Tidak, sama sekali tidak. Suamiku memperlakukanku dengan sangat lembut, aku menyukainya," ujar Jennie malu.


"Benarkah?" tanya Langit tersenyum.


"Iya hubby, aku tidak berbohong. Bahkan aku ingin lagi, lagi dan lagi," tutur Jennie memainkan jarinya mengukir bentuk tidak jelas di dada suaminya.


"Katakan saja jika istriku ingin meminta hal itu, aku siap memberikannya. Karena tanggung jawab sebagai seorang suami bukan hanya untuk menafkahi lahir saja, tapi juga batin," ungkap Langit.


"Iya hubby. Tapi kenapa selalu aku yang meminta duluan hubby. Apa aku tidak memuaskan untuk mu?" tanya Jennie.


"Tidak, tidak bukan seperti itu hubby. Istriku yang terbaik, aku sangat puas dengan servis yang diberikanmu wife. Aku hanya takut akan mengganggu waktumu, aku takut membuat dirimu tidak nyaman wife," tutur Langit dengan tulus.


Lihatlah betapa manisnya suamiku Tuhan. Dia mementingkan kenyamanan istrinya ketimbang nafsunya, batin Jennie.


"Minta kapan pun dirimu ingin hubby. Aku adalah istrimu, aku berkewajiban untuk memberikan tubuhku pada suamiku, bukan hanya kasih sayang dan perkataan cinta saja. Mulai sekarang janga ragu untuk memintanya padaku hemm. Setiap malampun akan aku berikan hubby," kata Jennie dengan yakin.


"Benarkah? Bisakah 3 ronde di pagi hari wife?" tanya Langit menjahili istrinya.


"Yakh, tidak untuk di pagi hari ini hubby. Plis, semalam kita sudah melakukannya selama 3 jam. Nanti malam oke," tolak Jennie dengan pipi merona, sambil mengelus dada suaminya.


"Hahah, hanya bercanda wife. Iya nanti malam," ucap Langit dengan senyumnya.


"Hari ini ke kantor wife?" tanya Langit.


"Tidak, hari ini ingin ikut suamiku ke kedai," jawab Jennie yang mengusap-usap dada suaminya.


"Yakin ingin ikut ke kedai wife?" tanya Langit.


"Iya hubby, kenapa? Apa tidak boleh istrimu ikut ke kedai? Apa ada simpanan mu di sana?" tanya Jennie dengan penuh selidik.


"Tidak wife, hanya sedikit terkejut. Karena ini kali pertama setelah kita menikah istriku ingin menginjakkan kakinya ke kedai lagi," tutur Langit mencium kening istrinya.


"Maaf hubby," sesal Jennie.


"Lupakan wife," pinta Langit memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


"Iya hubby," kata Jennie menikmati pelukan suaminya.


"Kalau begitu kita bersiap, ya. Kita antar Malvin pulang lalu baru ke kedai," ajak Langit.


"Tolong biarkan seperti ini hubby," ucap Jennie lebih memasukkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya.


"Iya wife," kata Langit mencium rambut istrinya, mengusap bahu telanjang istrinya.


Setelah puas bermanja dengan suaminya, Jennie dan Langit akhirnya mandi bersama dan turun ke lantai bawah untuk membangunkan Malvin yang tidur di kamar tamu. Syukurlah Malvin belum bangun dari tidurnya, Langit membangunkan Malvin. Mereka pergi dengan Jennie yang menyetir, Langit duduk di samping dan Malvin di pangkuan Daddynya. Mereka akan sarapan di luar. Setelah selesai mengantar Malvin kembali ke masion daddy Arkan, pasangan suami-istri itu lanjut menuju kedai.


"Pagi Langit," sapa Mina.


"Pagi Mina, kenalkan ini Jennie Akdiasa istri saya, pemilik kedai ini dan wife, ini Mina yang membantu di kedai," ucap Langit memperkenalkan mereka.


"Mina," kata Mina menjulurkan tangannya.


"Jennie Akdiasa, istri Langit Akdiasa," kata Jennie membalas uluran tangan Mina dengan tatapan tajam.


"Sudah siap semuanya Mina?" tanya Langit.


"Sudah Langit," jawab Mina.


"Baiklah, saya dan istri saya ke dalam dulu," pamit Langit membawa istrinya untuk duduk di dapur menemaninya. Mina melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.


"Hubby," panggil Jennie.


"Kenapa mencari pegawai yang cantik," kesal Jennie.


"Tidak wife, Mina datang ketika aku kesulitan melayani pesanan. Mina tersesat di Korea, dia korban perampokan wife. Dia ke Korea untuk mencari ayahnya, tapi sayang alamat ayahnya berada di dalam tas yang di rampok. Aku hanya membantu wife, tidak lebih," ucap Langit menjelaskan.


"Tapi dia cantik hubby," kesal Jennie dengan wajah cemberut.


"Iya dia cantik, semua perempuan cantik, wife. Tapi istri Langit Akdiasa, Jennie Akdiasa adalah yang tercantik di mata Langit Akdiasa," ucap Langit mencium bibir istrinya sekilas.


Jennie diam masih was-was dengan keberadaan Mina.


Astaga kenapa suamiku selalu di kelilingi dengan perempuan-perempuan cantik. Penjagaan harus lebih ekstra, batin Jennie.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh wife. Aku hanya mencintai istriku," tutur Langit dengan senyum manisnya.


"Aku takut hubby," ungkap Jennie.


"Takut kenapa hm?" tanya Langit.


"Aku takut dirimu akan mengkhianatiku. Astaga aku frustasi, kenapa suamiku selalu di kelilingi wanita-wanita cantik," kesal Jennie.

__ADS_1


"Wife, lihat aku," pinta Langit memanggil Jennie dengan lembut.


"Tidak ada wanita lain yang lebih cantik dari istriku ini. Tidak ada niatan sedikit pun dariku untuk mengkhianati istriku. Hubungan yang sehat dan kuat itu adalah kepercayaan dan komunikasi. Percaya padaku wife," tutur Langit  mengelus pipi istrinya.


"Promise?" tanya Jennie memberikan jari kelingkingnya.


"Promise wife," saut Langit menautkan jarinya dengan jari istrinya.


"Love you hubby," ucap Jennie tersenyum mencium rahang tegas suaminya.


"Love you too wife," balas Langit mencium kening istrinya.


"Langit 2 sup daging dan 1 kimchi," ucap Mina yang mengantarkan pesanan pelanggan pada Langit yang sedang bermesraan dengan istrinya.


"Ah, ya. Taruh saja di tempat biasa. Pesanan akan segera di buat," ucap Langit.


"Iya Langit," ujar Mina kembali ke depan.


"Wife, aku tinggal masak dulu, ya. Ingin menunggu di depan?" tanya Langit.


"Tidak, aku di sini saja menemani suamiku," tolak Jennie.


"Baiklah, katakan jika istriku ini butuh sesuatu," ucap Langit tersenyum manis.


"Iya hubby," kata Jennie membalas senyum suaminya.


Langit mulai melakukan pekerjaannya di dapur, menjadi seorang chef, sementara istrinya sibuk memperhatikan suaminya.


Drrt ... drrt ... drrt ... Suara dering dan getar handphone Jennie.


Jennie membuka handphonenya.


Jennie syok dan buru-buru mematikan handphonenya ketika suaminya menghampirinya.


"Kenapa wife?" tanya Langit.


"Tidak, hubby aku pergi ke kantor, ya," ujar Jennie.


"Kenapa wife?" tanya Langit.


"Hm, ah, ada rapat hubby. Tiba-tiba ada rapat yang harus aku hadiri, tidak apa 'kan?" tanya Jennie terlihat cemas.


"Benarkah wife, tidak sedang menyembunyikan sesuatu 'kan?" tanya Langit merasa ada yang ganjal dengan istrinya.


"Iya hubby. Aku pergi dulu," pamit Jennie berdiri mencium bibir suaminya buru-buru menuju mobilnya.

__ADS_1


"Semoga semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah," ucap Langit.


__ADS_2