
"Selamat pagi," sapa Langit dengan Malvin yang ada di gendongannya.
"Pagi," saut mereka kompak kecuali Falensia yang hanya diam saja.
"Ayo bergabung, kami sudah lama menunggu 2 tampan untuk memulai sarapan," ajak nyonya Arkan.
"Iya mom," kata Langit mendudukkan Malvin di kursinya, lalu baru dia duduk.
Malvin memimpin doa.
Selesai dengan urusan makan, Langit, Malvin, daddy dan mommy Arkan serta Falensia sedang berada di ruang TV, mereka berbincang ringan, sambil menunggu Jennie yang mandi dan bersiap untuk pergi berbelanja.
"Jadi bagaimana dengan Paris?" tanya tuan Arkan.
"Sangat bagus dad. Di sana kami benar-benar menghabiskan waktu mengelilingi destinasi wisata di berbagai tempat dan melakukan makan malam sederhana. Terima kasih dad, mom. Itu kado istimewa," tutur Langit tersenyum ramah dengan Malvin yang duduk di pangkuannya.
"Syukurlah jika kalian menikmati honeymoon kalian. Apa akan segera lahir Jennie dan Langit mini?" tanya tuan Arkan.
"Dad," panggil nyonya Arkan menegur suaminya.
"Belum tahu dad. Istriku saat ini belum berniat untuk kami memiliki buah hati, kalaupun nanti dia memang tidak ingin memiliki buah hati, kami akan mengadopsi anak dari panti asuhan saja dad, mom," terang Langit.
"Kenapa? Memiliki anak sendiri dengan anak orang lain itu berbeda rasanya," tanya tuan Arkan.
"Sama saja dad, hanya bagaimana cara kita memperlakukan mereka yang berbeda tergantung dengan pola pikir kita dad," jelas Langit.
"Bagaimana jika istrimu memilih untuk tidak melahirkan buah hati kalian, apa dirimu akan menceraikan Jennie, menikah dengan perempuan yang bersedia mengandung anakmu?" tanya nyonya Arkan.
__ADS_1
"Tidak mom, aku tidak boleh egois. Hubungan pernikahan itu berjalan karena 2 orang mom, jika istriku memutuskan untuk tidak melahirkan buah hati kami, aku dan istriku bisa mencari solusi lainnya mom. Bisa dengan mengangkat anak di panti asuhan mom," tutur Langit.
"Kalau Jennie juga tidak mau bagaimana?" tanya nyonya Arkan lagi.
"Artinya kami akan menghabiskan waktu berdua saja hingga akhir nafas kami mom. Buah hati dalam pernikahan adalah sampir menjadi keinginan semua pasangan mom. Tapi bukan menjadi tolak ukur kebahagiaan dalam pernikahan mom. Bila dengan tidak memiliki buah hati hubungan kami bahagia, maka itu sudah menjadi takdir untuk kami mom," jelas Langit.
"Tapi dirimu menginginkan anak bukan?" kali ini Falensia yang bertanya.
"Iya unn, aku tidak munafik, aku menginginkan anak. Bahkan istriku sudah tahu impianku, tapi kembali lagi, bila memang takdir kami hanya menghabiskan waktu bersama sampai akhir nafas hanya berdua, aku menerima itu unn," ungkap Langit.
"Kenapa?" tanya Falensia tak habis pikir dengan jalan pikiran Langit.
"Hubby, ayo pergi," ajak Jennie yang tiba-tiba datang ke ruang TV dengan pakaian dan penampilan yang rapi dan cantik.
Jennie mendengar semuanya, dia tersentuh dengan ucapan suaminya yang tidak sama sekali memojokkan dirinya, yang tidak ingin melahirkan anak.
"Mom, grandpa, grandma, Malvin pergi dengan Daddy dan aunty Jen dulu, ya. Bay ... bay...." pamit Malvin.
"Bay ... bay, habiskan waktu bersama Daddy dan aunty mu sayang," balas nyonya Arkan.
"Iya grandma," kata Malvin di gendongan Daddynya.
"Dad, mom, unn, kami pergi dulu," pamit Jennie dan Langit melakukan hal yang sama.
Mereka pergi dengan supir yang mengendarai mobil. Keluarga kecil itu duduk di tengah. Langit tidak bisa membawa mobil karena trauma nya pasca kecelakaan yang dia alami dan penyebabnya adalah Daffin. Bagaimana kabar Daffin? Daffin dan ayahnya sedang di tahan di kantor kepolisian Paris. Mereka sedang di interogasi dan bodyguard yang di utus Jennie untuk mencari polisi curang yang menutupi kasus kecelakaan keluarga suaminya sedang di selidiki.
"Aunty, bisakah aunty belikan Malvin susu cokelat itu?" tanya Malvin yang sedang menggenggam tangan Jennie, daddy sedang mendorong stroller belanjaan.
__ADS_1
"Apa boleh Malvin mengkonsumsi susu itu, hubby?" tanya Jennie pada suaminya.
"Boleh wife, itu susu yang biasa aku berikan untuknya," jawab Langit.
"Tentu sayang," kata Jennie baru menyetujui permintaan keponakannya, setelah mendapat persetujuan dari suaminya.
"Yey, terima kasih aunty. Dad tolong ambilkan susu cokelat itu," pinta Malvin menunjuk susu cokelat yang dia biasa beli bersama Daddynya.
"Nah boy," ujar Langit memberikan susu cokelat itu pada Malvin.
"Terima kasih dad. Aunty tolong," kata Malvin meminta bantuan Jennie untuk membuka susu cokelatnya.
"Iya sayang," ujar Jennie membukakan susu cokelat itu, setelahnya dia berikan pada Malvin.
"Terima kasih aunty," ucap Malvin meminum susu cokelat itu.
"Sama-sama sayang," saut Jennie.
Mereka berkeliling mengisi stroller dengan bahan makanan untuk di kulkas masion mereka. Lumayan lama waktu berbelanja, sampai Malvin tertidur di pelukan Daddynya.
"Oh, sepertinya aku terlalu lama belanja, hubby. Sampai Malvin tidur," tutur Jennie baru menyadari Malvin yang sudah tidur di pelukan suaminya.
"Bukan masalah wife, apa sudah?" tanya Langit.
"Sepertinya sudah, hubby," jawab Jennie.
"Ayo kita bayar, lalu kembali ke mansion," ajak Langit.
__ADS_1
"Iya hubby," kata Jennie memeluk lengan suaminya, lengan suaminya yang mendorong stroller belanjaan, Malvin di peluk dengan 1 tangan suaminya yang lain.