
Saat ini Langit dan Jennie sedang berada di dalam Ambulance. Langit sudah tidak sadarkan diri. Sementara Jennie sedang mengelus punggung tangan Langit. Jennie di temani 1 perawat di dalam Ambulance. Perawat itu sudah memberikan pertolongan pertama untuk mencegah darah Langit keluar banyak.
Jennie menangis sepanjang perjalanan, pikiran buruk menghantui dirinya; bagaimana dengan dirinya jika Langit tidak bisa tertolong? Dia akan ikut Langit, kemana pun Langit pergi. Sekali pun
harus bunuh diri, bila nanti Langit tidak ada di dunia ini. Jennie menyesali semua perbuatannya pada suaminya.
Bolehkan dia seegois ini untuk meminta pada Tuhan agar suaminya kembali pada dirinya dalam keadaan ruh di dalam raga yang sama? Jennie tahu itu sangat tidak mungkin untuk dirinya yang menyia-nyiakan suaminya selama bersama dirinya.
Jennie janji akan berubah, akan menjadi istri yang baik dan akan melahirkan anak untuk Langit, tapi tolong kembalikan Langit pada dirinya. Baju Jennie sudah tidak tentu warna lagi, warna dominan yang melekat adalah warna darah dari suaminya.
Jennie menatap tangannya, bukan diakan yang melukai suaminya? Dia hanya digunakan Langit untuk membantu suaminya bunuh diri kan? Langit yang ingin mati, bukan dirinya. Jennie tersenyum. Setibanya mobil ambulance di rumah sakit. Langit langsung di bawa masuk ke ruang ICU, Jennie? Jennie sedang mengurus bagian administrasi Langit.
Setelah selesai dengan urusan administrasi Langit, Jennie pergi meninggalkan rumah sakit. Dia berjalan sendiri dengan senyum yang merekah di wajahnya. Di bagian administrasi tadi, Jennie menuliskan nomor Rachel sebagai wali dari Langit. Jennie tidak peduli dengan suaminya, toh Langit sendiri yang ingin membunuh dirinya dengan menusukkan pisau steak pada tubuhnya sendiri.
Jennie berjalan terus, hingga dia berhenti di salah satu toko pakaian. Dia membeli pakaian yang langsung dia pakai untuk membuang darah suaminya yang ada di pakaiannya, dia memperbaiki penampilannya. Setelah selesai dia membayarnya lalu memberhentikan taxi untuk pulang ke hotel.
***
Sementara Rachel yang baru selesai dengan pemotretannya, di buat terkejut dengan panggilan telepon yang dia terima barusan dari pihak rumah sakit di Paris. Yang mengatakan kalau Langit sedang berada di ruang ICU. Rachel langsung melakukan penerbangan malam itu juga ke Paris.
Yang ada di pikiran Rachel adalah, kemana perginya Jennie unnie istri Langit? Bukankah mereka sedang berada di Paris bersama? Lalu siapa yang memberikan nomor telepon nya ke bagian administrasi sebagai wali dari pasien?. Pikiran itu terus berputar di kepala Rachel, apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga Langit dan Jennie unnie? Apa Jennie unnienya memperlakukan Langit sama seperti Falensia unnie? Jika hal itu sampai terjadi, Rachel tidak akan takut untuk maju mengulang mencintai Langit.
Di lain sisi, Jennie sedang menikmati waktu sendirinya dengan duduk santai di kedai seputaran menara Eiffel. Dia tidak sama sekali merasa menyesal atau cemas dengan suaminya, karena yang melakukan itu adalah suaminya. Toh, Langit juga sudah di tangani Dokter.
"Hallo, boleh bergabung?" tanya pria berkaus putih.
"Silakan," jawab Jennie.
"Daffin. Siapa nama Nona cantik ini?" tanya pria yang bernama Daffin.
"Jennie."
"Oh, aku tidak salah berarti. Dirimu adalah CEO dari Arkan Company yang baru saja menikah 'kan?" tanya Daffin.
"Iya," saut Jennie cuek.
"Wah, perbuatan apa yang aku lakukan di masa lalu hingga bisa bertemu dengan CEO yang cantik ini," puji Daffin.
"Anda berlebihan," elak Jennie.
Seiring berjalannya waktu, Jennie mulai akrab dengan Daffin. Karena Daffin pandai dalam membuat suasana menjadi nyaman. Mereka ngobrol banyak hal, bahkan sampai Jennie memberikan nomor teleponnya pada Daffin.
***
Di rumah sakit, di ruangan Langit. Langit sudah selesai dengan operasinya, dia koma. Sempat kehilangan detak jantung, tapi Tuhan masih baik dengan dirinya. Saat ini Langit sedang berada di ruangannya hanya sendirian, tidak ada yang menjaganya. Ruangan itu sunyi, hanya ada suara alat medis dan tetes infus.
Sementara di Korea, lebih tepatnya di bandara. Jesya dan Rachel akan melakukan penerbangan ke Paris. Rachel menghubungi Jesya, dia menceritakan kalau Langit masuk rumah sakit di ruangan ICU, Pihak rumah menghubungi dirinya. Karena hal itulah yang membuat Jesya dan Rachel saat ini ada di bandara.
Dari tadi Rachel dan Jesya sudah mencoba menghubungi Jennie berkali-kali, tapi tidak satu panggilan atau pesan yang di jawab oleh Jennie. Mereka berpikir positif, mungkin Jennie sedang mengurus Langit, sampai dia tidak sempat mengecek teleponnya.
***
Sementara di masion tuan Arkan, ada pria kecil yang dari tadi rewel ingin mendengar suara Daddynya. Sekalipun Daddy samudranya sudah ada di sana sedang bermain dengan Malvin.
"Grandpa, Daddy," lirih Malvin merengek pada Daddy Arkan.
"Daddy sedang liburan sayang," ujar Daddy.
"Telepon grandpa," pinta Malvin merengek.
"Sayang," bujuk Daddy.
"Daddy ... Daddy, Huwaaa," pekik Malvin.
Tidak ada pilihan lain, Daddy Arkan terpaksa menghubungi putri bungsunya. Karena dari tadi Falensia menghubungi Langit, tapi tidak ada jawaban sama sekali, tidak seperti biasanya. Falensia juga sudah menghubungi Jennie, tadi tidak ada jawaban juga.
"Hallo dad," saut Jennie di seberang telepon.
"Hallo sayang, sedang apa?" tanya Daddy.
__ADS_1
"Mengobrol santai di kedai dad," jawab Jennie.
"Bisa berikan telepon mu dengan Langit? Malvin dari tadi rewel ingin berbicara dengan Langit," jelas Daddy.
"Langit sedang ke toilet dad. Sudah dulu dad. Bay." Jennie langsung memutuskan panggilannya dengan Daddynya.
"Bagaimana dad?" tanya Falensia.
"Langit sedang di toilet, mereka sedang bersantai di kedai. Jennie langsung mengakhiri panggilannya," jelas Daddy.
Apa kata-kata ku kemarin membuatmu tidak nyaman Langit? Dirimu ingin menjauh dariku? Hah, batin Falensia dengan raut wajah sedih.
Samudra dan mommy sedang menenangkan Malvin dengan mengajak dia bermain di kolam ikan. Walaupun membutuhkan waktu yang lama, tapi itu lumayan berefek untuk Malvin.
Kembali ke Paris
"Jadi suamimu saat ini sedang berada di rumah sakit karena dia menusukkan dirinya sendiri dengan pisau?" tanya Daffin.
"Iya, dia sedang di rumah sakit," jawab Jennie.
"Dirimu tidak menemaninya?" tanya Daffin lagi.
"Tidak, biarkan dia merasakan akibat dari perbuatannya sendiri!" sarkas Jennie.
"Dirimu benar. Kalau boleh bertanya, kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Daffin.
"Tidak, aku menikah untuk membalaskan dendam ku padanya. Selama pernikahan, aku menyiksa dirinya. Aku tidak menganggap dia sebagai suamiku, aku menjadikan dia budakku!" tekan Jennie.
"Kenapa seperti itu?" Daffin.
"Sebaiknya kita tinggalkan pembahasan tentang hal itu, aku tidak nyaman," tolak Jennie yang mulai akrab.
"Ah, sorry Jennie. Berarti ada kesempatan untukku bisa mengenal lebih dalam lagi tentang dirimu bukan?" tanya Daffin.
"Tentu, dirimu tampan dan asik saat mengobrol, kenapa tidak," saut Jennie.
"Luluhkan hatiku!" tantang Jennie.
***
Matahari berganti, hari bertambah. Rachel dan Jesya baru tiba di Paris jam 11 siang waktu Paris. Mereka langsung melanjutkan perjalanan dengan taxi menuju rumah sakit, dimana tempat Langit di rawat.
1 jam menempuh perjalanan dengan taxi akhirnya mereka tiba di depan pintu masuk rumah sakit. Mereka membayar taxi dan langsung masuk menuju administrasi, untuk menanyai ruang Langit. Setelah mendapatkannya, mereka langsung menuju ruangan Langit.
Jesya dan Rachel masuk ke dalam ruangan Langit. Hal pertama yang mereka rasakan adalah Langit terbaring di kasur rumah sakit hanya seorang diri, di temani suara alat medis dan tetesan infus. Rachel dan Jesya mendekat ke arah Langit. Rachel menggenggam tangan Langit, air matanya menetes. Sementara Jesya menatap Langit dengan tatapan sendu.
"Dimana Jennie?" tanya Jesya.
"Permisi." Suster baru masuk ruangan Langit.
"Ya Sus," saut Rachel.
"Ini waktu mengganti infus baru tuan Langit, Nona," kata Suster.
"Lakukanlah," ujar Rachel.
Suster mulai mengganti infus Langit dengan yang baru.
"Sus, dimana orang yang menjaga pasien?" tanya Jesya.
"Maaf Nona, pasien hanya di antar sebatas pintu masuk rumah sakit saja oleh seorang wanita. Setelah dia selesai mengurus administrasi dia pergi meninggalkan rumah sakit dan tidak kembali Nona. Pasien setelah selesai oprasi, tidak ada keluarga yang menjenguk, baru Nona-nona ini yang menjenguk pasien," ucap Suster yang baru selesai dengan mengganti infus Langit.
"Terima kasih Sus," kata Jesya.
"Suster, kapan pasien sadar?" tanya Rachel.
"Kemungkinan 1 jam lagi nona," jawab Suster.
"Terima kasih Sus," kata Rachel.
__ADS_1
Suster pergi meninggalkan ruangan Langit.
"Apa yang di lakukan Jennie sebenarnya dan apa yang terjadi sampai Langit masuk rumah sakit," ucap Jesya.
"Entahlah unn." Rachel mengusap punggung Langit menatap sendu wajah Langit yang pucat.
"Dirimu tolong jaga Langit. Unnie pergi sebentar," kata Jesya.
"Iya unn." Rachel.
Sementara Jesya yang baru keluar dari ruangan Langit, menelpon Daddy Arkan untuk meminta alamat hotel yang di tempati Jennie dan Langit. Setelah mendapatkan alamatnya, Jesya langsung menuju
hotel dengan taxi, 45 menit jarak yang ditempuh dan dia tiba di depan hotel.
Jesya bertanya dengan bagian resepsionis, dan mereka memberi tahu kamar Jennie dan Langit karena mereka tahu dan sangat kenal dengan Jesya. Jesya masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai 33. Begitu lift terbuka hal pertama yang dia lihat adalah;
Jennie sedang berciuman dengan seorang pria di depan pintu kamar hotel Jennie dan Langit. Jesya melihat, Jennie sama sekali tidak memberontak, justru malah menikmati.
"Jennie Akdiasa!" bentak Jesya.
2 orang itu melepaskan ciuman mereka. Jennie melihat ke arah unnienya, Jesya berjalan cepat menuju Jennie.
Plak ... (1 tamparan mendarat di pipi mulus Jennie dari Jesya).
"Pergi kau dari sini!" usir Jesya pada Daffin.
"Aku pergi dulu Jennie," pamit Daffin, pergi meninggalkan 2 perempuan yang saling beradu pandang.
"Apa yang kau lakukan Jennie, suamimu sedang terbaring di rumah sakit dan kau berciuman dengan laki-laki lain. Dimana otakmu!" maki Jesya.
"Itu ulahnya sendiri unn, bukan salahku. Kami menikah di atas kertas, aku menikah dengannya hanya untuk membalaskan dendam ku padanya!" sarkas Jennie.
"Kau gila. Dendam apa yang kau maksudkan, hah!" Jesya.
"Aku menikah dengannya untuk membuat dia lebih menderita sampai akhir hidupnya. Aku tidak bisa menerima dia dengan masa lalunya, dia harus merasakan sakit yang aku rasakan unn," jelas Jennie.
"Masa lalunya bukan keinginannya, itu adalah takdir bagian dari cerita hidupnya. Dia tidak salah, dia tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk darimu!" bentak Jesya.
"Aku istrinya, aku berhak melakukan apa pun padanya unn!" tantang Jennie.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Langit terluka lagi. Cukup dengan Falensia unnie saja, tidak dengan dirimu. Aku yang akan melindungi dan menjaga Langit. Ku pastikan Langit akan segera mengirimkan mu surat cerai!" marah Jesya.
"Tidak! Itu tidak akan terjadi. Langit di takdirkan untuk ku, hanya untukku. Aku bebas melakukan apa pun dengannya. Dia akan mati secara perlahan di tanganku!" bentak Jennie.
Plak ...
"Kau akan segera menerima surat cerai itu, Jennie Arkan!" ucap Jesya dengan penekanan dan pergi meninggalkan Jennie yang memegangi pipinya.
Sialan kau idiot, ku pastikan hidupmu akan lebih menderita lagi, batin Jennie.
Jennie masuk kedalam kamar hotelnya.
***
Saat ini Jesya sedang berada di dalam taxi sedang menghapus air matanya. Dia tidak menyangka sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai adiknya, justru memberikan luka yang lebih dalam lagi bagi Langit. Jesya menyayangkan jalan cerita hidup Langit.
Langit orang yang berhati baik, tapi kenapa selalu dia yang mendapatkan rasa sakit dan penderitaan. Jesya adalah salah satu pengagum rahasia Langit.
Jesya sudah lama naksir dengan Langit, tapi itu semua dia pendam karena dia tahu Jennie dan Rachel menaruh hati pada Langit.
Bahkan Rachel dan Jennie dulu waktu sekolah sempat berjarak karena menaruh rasa pada Langit. Jesya yang menaruh rasa juga dengan Langit, memilih untuk menyimpannya dan menjadi penengah antara Rachel dan Jennie.
Apa aku harus berjuang untukmu Langit?, batin Jesya sambil menghapus air matanya yang mengalir.
Sementara di ruang rawat Langit, Rachel sedang mengelus pipi Langit. Dia terpaku dengan bibir Langit, Rachel ingin merasakan bibir itu. Rachel mendekatkan bibirya pada bibir Langit, Rachel memejamkan matanya.
Chup ...
Bibir itu akhirnya bisa Rachel rasakan, dia mulai ******* bibir Langit. Tidak ada pergerakan dari diri Langit, sampai Rachel merasakan Langit membalas ******* bibirnya. Mata Rachel terbuka dan sekarang Langit dan Rachel saling bertatapan, ******* mereka terhenti tapi bibir mereka masih menempel.
__ADS_1