
Sementara di ruangan Langit yang di jaga oleh 1 Dokter dan 1 Suster yang suasananya tenang, tiba-tiba menjadi mencekam. Bagaimana tidak, tiba-tiba alat yang menunjukkan kondisi Langit yang stabil, tiba-tiba menunjukkan penurunan vital di tubuh Langit. Dokter langsung mengambil tindakan, untuk menormalkan kembali kondisi Langit.
"Alat pacu jantung," ucap Dokter memberikan titah pada Suster.
Suster langsung keluar untuk mengambil alat yang diminta Dokter. Kegaduhan di ruangan Langit mengundang perhatian daddy Arkan yang baru tiba, dia mencoba untuk masuk ke ruangan Langit.
"Apa yang terjadi dengan putraku?" tanya daddy Arkan cemas melihat Langit kejang-kejang.
"Penurunan vital di tubuh tuan Langit secara mendadak tuan," jawab Dokter yang masih berusaha untuk memberikan penangan pada Langit, sembari menunggu alat pacu jantung.
"Lakukan yang terbaik, selamatkan putraku. Dia tidak boleh pergi dari dunia ini. Dia akan menjadi daddy hari ini, pastikan dia selamat," ucap daddy Arkan yang gelisah. Jika sampai Langit mengalami hal terburuk, dia tidak bisa menghadapi putrinya, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Permisi tuan, tuan silahkan tinggalkan ruang. Kami akan melakukan penanganan untuk tuan Langit," ucap 2 Suster dan 1 Dokter yang baru tiba dengan alat pacu jantung.
Tanpa basa-basi, daddy Arkan langsung meninggalkan ruangan Langit. Agar Langit segera di tangani Dokter. Daddy Arkan mondar-mandir, di depan ruangan Langit, sampai-sampai melupakan keadaan putrinya. Jadi dia beranjak sebentar ke ruangan persalinan putrinya.
"Nyonya ini bayi nyonya, silakan di susui," ucap Dokter menyerahkan baby pada Jennie. Lagi-lagi air mata Jennie lirih begitu saja, dia tersenyum melihat lekuk wajah cantik putrinya, mommy Arkan pun terharu melihat lekuk wajah cantik cucunya.
"Hai sayang, ini mommy. Sekarang baby sudah bisa melihat wajah dan mendengar suara mommy. Baby hebat, baby bisa melewati semua ini dengan mommy. Baby pintar, baby pasti bertanya-tanya dimana daddy dan mana suara daddykan? Maaf daddy sayang, daddy sedang tidur. Daddy sedikit lelah, jadi tidak masalahkan kalau baby dengan mommy dulu. Anak pintar, sekarang baby bisa mengambil nutrisi baby, mommy mengizinkannya sayang," tutur Jennie membantu mengarahkan bibir baby ke putingnya, baby menghisap pelan ****** Jennie. Jennie tersenyum, merasakan bagaimana rasanya putingnya di hisap ASI-nya oleh anaknya.
Klik ... Pintu ruangan Jennie terbuka, masuklah daddy Arkan dengan wajah cemas.
"Dad," panggil mommy Arkan memanggil suaminya.
"Hai sayang. Bagaimana dengan cucu daddy?" tanya daddy Arkan mencoba tersenyum.
"Semuanya berjalan lancar dad. Daddy memiliki sepasang cucu. Jennie melahirkan seorang princess yang sangat cantik," puji mommy Arkan.
"Sungguh? Terima kasih Tuhan, terima kasih. Selamat sayang, selamat atas kelahiran putri kalian, selamat sekarang princess daddy sudah menjadi mommy untuk princessnya," ucap daddy Arkan mencium kening putrinya yang sedang menyusui baby yang di tutup dengan kain.
__ADS_1
"Terima kasih, dad," kata Jennie tersenyum.
"Baby sedang menyusu, dad," jawab mommy Arkan memperingati suaminya.
"Iya, maaf mom, Jennie. Daddy terlalu bersemangat. Minum susu yang banyak sayang, supaya kamu cepat besar, ya. Grandpa tidak sabar untuk melihatmu sayang," ucap daddy Arkan meneteskan air mata disela-sela senyumnya.
"Ada apa dad?" tanya mommy Arkan yang merasa suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Jennie, Daddy pinjam mommy sebentar, ya," jawab daddy Arkan izin pada Jennie.
"Iya dad," ucap Jennie mengizinkannya.
Daddy menarik tangan istrinya keluar dari ruangan persalinan.
"Ada apa dad?" tanya mommy Arkan.
"Kenapa Langit, dad?" tanya mommy Arkan yang ikut khawatir juga.
"Langit mengalami penurunan fungsi vital mom," jawab daddy Arkan menampakkan raut sedih di wajahnya.
"Apa?" tanya Falensia yang baru tiba dengan Malvin di gendongannya.
"Iya, Langit sedang di tangani Dokter. Daddy meninggalkan ruangan Langit yang sedang di tangani Dokter untuk melihat kondisi Jennie dan cucu daddy sebentar. Bagaimana ini mom," ucap daddy Arkan cemas.
"Tenang ya, daddy harus tenang. Daddy pergi ke ruangan Langit, biar mommy dan Falensia yang menunggu Jennie. Jangan beri tahu kondisi Langit saat ini pada Jennie, dad, itu akan membuat dia down seketika," pesan mommy Arkan mengusap punggung tangan suaminya.
"Falensia ingin melihat kondisi Langit, mom," ucap Falensia.
"Tidak, dengar kata mommy. Bukan saatnya untuk egois dan berdebat. Ikut mommy ke ruangan Jennue. Biarkan daddy yang mengontrol kondisi Langit," ucap mommy Arkan keputusan final.
__ADS_1
"Daddy pergi dulu mom," pamit daddy Arkan menuju ke ruangan Langit.
"Ikut mommy masuk". Mommy Kim dan Irene masuk ke ruangan Jennie, Malvin sedang tidur di pelukan mommynya
Klik ... Pintu ruangan Jennie di buka dan masuklah mommy Arkan dan Falensia.
"Selamat atas kelahiran anakmu Jennie, laki-laki atau perempuan?" tanya Falensia mencoba tersenyum, padahal dia khawatir dengan kondisi Langit.
"Terima kasih unn, perempuan unn. Sesuai keinginan daddynya dan abang Malvinya," jawab Jennie tersenyum sembari mencium jari-jari putrinya.
"Unnie ingin melihat ponakan unnie, Jennie," ujar Falensia mendekatkan dirinya ke adiknya, yang kebetulan baby sudah selesai menyusu pada mommynya dan sedang tidur cantik di pelukan mommynya.
"Kemari unn, kebetulan dia sudah selesai menyusu dan sedang tidur," ucap Jennie tersenyum melihat boneka hidup cantiknya.
"Astaga, benar-benar cantik. Seperti putri-putri di kartun Disney. Welcome to the world princess daddy Langit," tutur Falensia menahan tangis di akhir kalimatnya yang menyebutkan nama Langit.
"Terima kasih aunty," ucap Jennie menirunkan suara anak kecil.
"Sama-sama, siapa namanya Jennie?" tanya Falensia.
"Belum unn, biar daddynya yang memberikan dia nama," ucap Jennie terus memandangi putri kecilnya.
Brak ... Pintu ruangan Jennie di buka kasar.
"Owek, Owek, Owek," tangis baby terkejut bangun dari tidurnya.
"Kenapa dad? Baby barusan saja tidur," ucap Jennie menimang-nimang tubuh putrinya. Daddy Arkan berjalan ke arah putri bungsu dan cucunya, lalu memeluk Jennie.
"La-langit," ucap daddy Arkan menangis mencium rambut Jennie.
__ADS_1