
Sama halnya dengan pasangan suami istri yang sedang berkencan. Rachel dan Jesya hari ini akan menghabiskan waktu mereka dengan berkeliling di kota Paris. Saat ini mereka sudah berada di salah satu kedai makanan, mereka akan sarapan di luar, tidak di hotel.
"Unn, apa menurut unnie, Jennie unnie kali ini benar-benar akan memperlakukan Langit dengan baik, selayaknya seorang istri memperlakukan suaminya?" tanya Rachel disela-sela makannya.
"Entahlah, unnie berharap kali ini Jennie benar-benar bisa berubah seperti yang di katakan Langit tadi malam," tutur Jesya.
Sebelum Langit dan Jennie melakukan hubungan suami istri. Langit keluar dari kamar hotel untuk memberi tahu keputusannya pada Jesya dan Rachel. Langit membei tahu kalau dia akan memberikan Jennie kesempatan untuk memperbaiki diri dan memberi tahu perubahan sikap Jennie.
"Kalau sampai Jennie unnie kali ini mempermainkan Langit lagi, aku tidak akan sungkan untuk mengibarkan bendera perang unn. Aku akan maju untuk memperjuangkan Langit untuk menjadi milikku. Kali ini aku tidak akan mengalah lagi unn," terang Rachel dengan serius.
"Hm," Jesya berdehem. Dia memikirkan bagaimana posisi dirinya, bila Jennie nanti hanya mempermainkan perasaan Langit lagi. Apa dia harus maju untuk bersama Langit meskipun Rachel akan menjadi saingannya atau dia harus mengalah lagi? Entahlah.
"Apa kurangnya Langit, sampai-sampai nasib buruk selalu menimpa dirinya unn. Di sakiti Falensia unnie dan kemarin di sakiti juga dengan Jennie unnie. Apa karena Langit bukan orang kaya? Atau karena Langit tidak memiliki pengaruh di dunia atau pun di Korea? Jadi mereka bisa memperlakukan Langit sesuka hati mereka?" tanya Rachel tak habis pikir dengan dua kakak beradik yang sangat kompak dalam menyakiti fisik dan psikis Langit.
"Entahlah Rachel, unnie juga tidak tahu alasa yang pastinya apa yang membuat Falensia unnie dan Jennie memperlakukan Langit dengan sangat buruk. Tapi bisa jadi hal yang dirimu sebutkan menjadi salah satu alasannya mereka melakukan itu pada Langit," kata Jesya.
"Hah, terlalu kuno jika itu menjadi salah satu alasan mereka memperlakukan Langit dengan sangat buruk. Langit adalah orang yang pekerja keras. Dia tidak menuntut dan meminta apa pun dari orang lain dan istrinya bukan? Bahkan sifat Langit yang tidak enakan dengan orang lain, membuat dia bisa melakukan segala hal karena terbiasa dengan kemandiriannya. Bagi diriku unn, bila pasangan kita adalah orang yang bekerja keras. Meskipun hasilnya tidak seberapa untuk diri kita, itu sudah cukup membuktikan jika dia sudah bertanggung jawab unn dengan diri kita. Tugas kita mendampingi pasangan kita ketika sedang berada di titik itu, anggap saja itu sebagai ujian dari Tuhan untuk melihat seberapa besar rasa cinta dan sayang kita pada pasangan kita unn," tutur Rachel.
"Unnie setuju dengan pendapatmu. Karena pada dasarnya rumah tangga itu terdiri dari 2 orang yang harus saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam hal apa pun, termasuk dalam hal merintis usaha bukan membebankan dan menutut pada satu pihak saja," jelas Jesya.
"Ayo unn," Rachel.
"Unn," panggil Rachel memanggil memecah lamunan Jesya.
"Iya," saut Jesya.
"Aku belum pernah mendengar sama sekali unnie membahas seseorang yang spesial di hidup unn, apa sampai saat ini unnie belum menemukan orang spesial yang bisa menaklukkan hati unn?" tanya Rachel.
"Tidak, unnie memilikinya. Hanya saja unnie tidak bisa memilikinya," ujar Jesya sendu.
"Kenapa unn?" tanya Rachel.
"Banyak hal yang harus unnie pikirkan. Unnie sedang tidak berada di posisi yang dengan mudahnya mengungkapkan rasa suka unnie padanya, karena dia begitu banyak di minati orang lain," terang Jesya.
"Seperti makanan saja unn, banyak di minati. Unnie sudah pernah mengungkapkan perasaan unnie?" tanya Rachel.
"Belum, belum sama sekali," jawab Jesya.
"Kenapa unn? Coba lah untuk mengungkapkannya unn. Agar unnie tahu bagaimana responnya. Unnie tidak akan pernah tahu apa yang di rasakan pada unnie, mana tahu dia memiliki rasa yang sama dengan unn" ucap Rachel memberikan semangat untuk unnienya.
"Lantas bagaimana bila itu sebaliknya, bagaimana jika dia tidak memiliki rasa yang lebih dengan unnie?" tanya Jesya.
"Maka unnie memiliki 2 pilihan; pilihan pertama unnie menyerah, melepaskannya dan beralih ke orang baru atau pilihan kedua unnie berjuang untuk mendapatkannya, membuat dia cinta kepa unnie," jelas Rachel.
"Rasanya unnie belum sanggup melakukan keduanya Rachel. Unnie masih nyaman dengan menjadi pengagum rahasianya," kata Jesya.
"Aku mendukung setiap keputusan unnie, tapi jangan terlalu lama berdiam unn, yang ada nanti dia dimiliki orang lain," ujar Rachel.
Dia sudah dimiliki orang lain Rachel. Bahkan sangat sulit untuk mendapatkannya ketika dia tidak dimiliki orang lain, apa lagi saat ini dia sudah bersama orang lain, akan sangat sulit, terlebih lagi itu sahabat sekaligus adik unnie sendiri, batin Jesya.
"Unn," panggil Rachel memecahkan lamunan Jesya.
"Iya," saut Jesya tersadar.
"Sedari tadi unnie hobi sekali melamun, ayo lanjutkan makan, setelah itu kita pergi berkeliling unn," ajak Rachel.
"Ah, iya," Jesya memulai kembali menyantap sarapannya. Mereka makan dengan tenang, sambil berbincang mengenai pekerjaan mereka.
__ADS_1
***
Setelah selesai dengan sarapan mereka, suami istri itu melanjutkan perjalanan mereka dengan mengelilingi tempat wisata di kota Paris. Dan saat ini mereka sedang rehat sejenak sambil menikmati es krim, lebih tepatnya istri yang sedang makan es krim dan suami yang sedang asik dengan mengambil beberapa gambar foto istrinya dari berbagai sudut.
Cantik, gumam suami.
"Iya sayang, dari lahir. Kemari temani istrimu duduk, jangan sibuk dengan kameramu saja," pinta istri.
"Iya sayang," kata suami berjalan ke arah istrinya dengan kamera menggantung di lehernya. Dia duduk di samping istrinya.
"Hubby," panggil Jennie sambil memakan es krimnya. Langit tidak menjawab dia sibuk dengan pemandangan di depannya, dimana dia sedang melihat pasangan suami istri yang berjalan santai bersama anak perempuan mereka yang berada di tengah-tengah mereka sambil menggenggam kedua tangan orang tuanya.
Maaf sayang, batin Jennie melihat arah pandang suaminya.
"Hubby," panggil Jennie lagi memecah lamunan suaminya.
"Ah, iya wife? Butuh sesuatu, ingin es krim lagi?" tanya Langit yang sadar dari lamunannya.
"Tidak hubby, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jennie.
"Iya wife, tanyakan saja," jawab Langit.
"Bagaimana bila aku menyakitimu lagi? Apa yang akan dirimu lakukan?" tanya Jennie menatap suaminya dengan tatapan sendu.
"Hm, apa itu sudah menjadi niat?" tanya Langit balik.
"Tidak, hanya bertanya," ujar Jennie.
"Aku akan bertanya alasannya terlebih dahulu. Jika itu kesalahannya karena diriku, aku akan meminta maaf dan memperbaiki diriku. Tapi jika itu dari dirimu,aku tidak akan tinggal lagi dan memutuskan untuk pergi menjauh, sejauh mungkin," tutur Langit dengan tenang.
"Oleh karena itu wife, katakan padaku bila aku memiliki perlakuan yang tidak baik atau yang tidak dirimu sukai dariku, aku akan memperbaikinya. Dalam sebuah hubungan, hal yang penting dan sangat penting adalah sebuah keterbukaan antara pasangan. Tidak ada yang ditutup-tutupi," ucap Langit.
"Iya hubby," kata Jennie terdiam sambil menghabiskan es krimnya.
Drrt ... drrt ... drrt ... Panggilan video masuk ke handphone Langit.
"Siapa hon?" tanya Jennie.
"Falensia unnie, seperti Malvin," jawab Langit mengangkat panggilan video itu dan benar, yang muncul adalah wajah Malvin dengan Falensia di belakang Malvin.
"Daddy," panggil Malvin bersemangat di seberang telepon.
"Hai boy, sedang apa?" tanya Langit menampilkan wajah dirinya dan istrinya yang sudah selesai menghabiskan es krimnya.
"Sedang makan di luar bersama mommy dan Daddy bear, dad," jawab Malvin sendu.
"Wow, itu sangat menyenangkan," seru Langit.
"Tidak Daddy, itu sangat membosankan. Daddy Baer sibuk dengan mommy, aku sendiri seperti tidak di anggap dad. Daddy bear tidak seru seperti Daddy," keluh Malvin.
"Hey, tidak boleh seperti itu boy. Kata-kata boy akan melukai hati Daddy bear. Ajak lah Daddy bear bermain, dengan cara yang baik. Oke boy," Langit menasehati putranya.
"Iya dad. Daddy dan aunty Jenjen kapan pulang ke mansion grandpa?" tanya Malvin.
"Aunty dan daddy akan ke sana 3 hari lagi. Malvin ingin sesuatu?" tanya Jennie.
"Boleh kah mainan Lego terbaru aunty? Daddy bisa kah Malvin mendapatkannya?" tanya Malvin.
__ADS_1
"Boleh sayang," kata Jennie.
"Tentu sayang, nanti akan daddy dan aunty belikan untuk boy," ucap Langit.
"Terima kasih Daddy, aunty," ucap Malvin.
"Sama-sama boy/sayang," kata Langit dan Jennie kompak.
"Sudah sayang?" tanya Falensia berbicara pada Malvin.
"Sudah mom, daddy dan aunty Jenjen akan membelikan Malvin Lego keluaran terbaru mom. Daddy dan aunty akan pulang 3 hari lagi, ugh itu pasti akan sangat lama," keluh Malvin.
Jennie dan Langit terkekeh di seberang telepon mendengar ucapan Malvin.
"Benarkah, sudah ucapkan terima kasih sayang pada Daddy dan aunty?" tanya Falensia menanggapi ucapan putranya.
"Sudah mom, iya 'kan dad, aunty?" tanya Malvin mencari pembenaran.
"Iya sayang," jawab Langit dan Jennie kompak.
"Boy, kemari biar Daddy suapi. Boy belum selesai makan," ujar Samudra di seberang telepon.
Samudra mengambil Malvin di pangkuan mommynya dan mendudukkan Malvin di pangkuannya, lalu menyuapi Malvin makanannya. Terpampanglah wajah Falensia.
"Sudah siap semua acara pernikahan unnie dan Samudra?" tanya Jennie.
"75% sudah, hanya tinggal bajunya saja yang masih bingung harus menggunakan yang mana," tutur Falensia menatap mereka berdua, lebih tepatnya menatap mantan suaminya.
"Gunakan pakaian yang tidak menyulitkan unnie dan membuat unnie nyaman," usul Langit.
"Iya," jawab Falensia.
"Unn, sudah dulu, ya. Aku dan Langit akan melanjutkan perjalanan kami," ujar Jennie.
"Iya, nikmati waktu liburan kalian," kata Falensia langsung mematikan sambungan telepon video itu.
"Ingin pergi sekarang wife?" tanya Langit. Belum sempat Jennie menjawab, handphonenya sudah bersuara dan bergetar.
Drrt ... drrt ... drrt ... Pesan masuk ke handphone Jennie.
"Sebentar hubby," ucap Jennie memeriksa handphonenya.
+65***** : Aku tunggu nanti siang di lobby hotel.
"Siapa wife?" tanya Langit.
"Teman sewaktu kuliah, bisakah aku menemui mereka nanti siang hubby. Malamnya kita akan melanjutkan kencan kita," kata Jennie.
"Pergi lah, hati-hati. Kita bisa melanjutkan kencan kita besok wife," ucap Langit.
"Iya hubby, terima kasih," kata Jennie.
"Iya wife," ujar Langit dengan senyum manisnya.
Langit sempat melihat nama pengirim pesan di handphone istrinya dan itu tidak memiliki nama, alias belum di simpan nomornya oleh istrinya. Langit berpikiran positif dan percaya saja dengan istrinya.
Mereka kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, karena Jennie akan pergi nanti siang bertemu dengan teman-teman masa kuliahnya, yang sebenarnya adalah dia akan bertemu dengan Daffin.
__ADS_1