Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Berhati Malaikat


__ADS_3

Siang hari, ruangan Jennie dan Langit ramai dengan daddy dan mommy Arkan, Falensia, Malvin, Jesya dan Rachel. Baby Lili sedang tidur cantik di kasur tempatnya, setelah sebelumnya menguras ASI mommynya. Malvin dari tiba di ruangan Jennie dan Langit tidak henti-hentinya memperhatikan adik bayinya.


"Boy, kemari," panggil Langit meminta Malvin mendekati dirinya. Malvin berjalan mendekat ke daddynya di bantu oleh Falensia.


"Terima kasih, ya, sudah membantu aunty Jenjen menjaga adik Lili selama daddy di rumah sakit," ucap Langit mencium rambut putranya.


"Itu sudah menjadi tanggung jawab abang dad. Abang harus menjaga dan melindungi Lili dan aunty Jenjen selama daddy sakit. Dan sekarang kita bisa menjaga adik Lili dan aunty Jenjen bersama-bersama dad," jelas Malvin tersenyum di dalam pelukan daddynya. Dia merindukan daddynya yang sudah lama tidur.


"Benar boy, kita akan menjaga dan melindungi adik Lili dan aunty Jenjen," ucap Langit.


"Nah Malvin, sekarang ada adik Lili. Hati-hati nanti daddy lebih mencintai adik bayi dan melupakan Malvin," ledek  Jesya yang mendapat tatapan tajam dari semua orang dewasa di dalam ruangan.


"Benarkah dad?" tanya Malvin mendongakkan kepalanya menatap wajah daddynya.

__ADS_1


"Tidak, aunty Jesya hanya meledek kamu boy. Daddy mencintai dan menyayangi kalian berdua. Karena anak daddy ada 2; Malvin dan adik Lili. Jadi daddy tidak akan pilih kasih dan melupakan Malvin," tutur Langit mencium kening putranya.


"Malvin percaya dad, sekalipun itu benar yang dikatakan aunty Jesya. Malvin tidak papa, Malvin bahagia jika daddy bahagia. Walaupun harus melupakan Malvin. Malvin akan terus menyayangi daddy dan tetap menjaga dan melindungi adik Lili," lirih Malvin dengan senyum getirnya.


"Tidak, tidak akan. Percaya dengan daddy. Jangan katakan itu lagi, daddy tidak menyukainya boy. Daddy akan membagi rasa sayang daddy dengan adil untuk boy dan adik Lili," ucap Langit.


"Iya dad. Tolong jangan tidur lagi begitu lama, ya dad. Malvin kasihan jika adik Lili tidak bisa melihat ketampanan Daddy. Dan Malvin minta maaf untuk daddy Samudra yang menyebabkan daddy mengalami tidur panjang," ucap Malvin seperti orang dewasa, hasil didikan daddy Langit tidak pernah gagal. Siapa yang salah dan berbuat kejahatan dan siapa yang meminta maaf.


"Daddy Samudra?" tanya Langit baru menyadari selama dia sadar dari koma kemarin, dia tidak melihat Samudra di sekitaran  keluarganya.


Menjadi Malvin bukanlah sesuatu hal yang menguntungkan, bagaimana tidak? daddy kandungnya dengan teganya membuat daddy yang membesarkan dan mendidiknya mengalami kecelakaan. Jika boleh memilih Malvin ingin di lahir kan dari ****** daddy Langitnya bukan daddy Samudra.


Langit mengangkat dagu putranya, memberikan senyum termanis untuk putranya dan mengusap air mata putranya.

__ADS_1


"Lihat mata daddy boy," pinta Langit. Malvin yang tadinya memejamkan matanya, sekarang membuka matanya dengan perlahan dan menatap dalam mata daddynya.


"Semua yang terjadi sudah menjadi takdir Tuhan boy. Kita sebagai hamba-Nya hanya bisa berusaha semampu kita dan bersabar dengan apa yang kita terima pada akhirnya," ucap Langit mengelus pipi putranya.


"Daddy bangga dengan kamu boy. Tidak sungkan untuk meminta maaf walaupun itu bukan kesalahanmu. Daddy bangga memiliki putra seperti dirimu. Sekarang dengarkan daddy, berhenti menyalahkan diri sendiri dan jangan pernah membenci daddy Samudra. Jadikan ini sebagai pelajaran untuk boy. Love you my boy," tutur Langit memeluk putranya.


Malvin memeluk erat tubuh daddynya meremat kuat baju belakang daddynya. Dia takut daddynya akan menjauhi dirinya karena perbuatan jahat dari daddy Samudra, tapi ketakutan itu lunas ketika dia mendengar jawaban bijak dan menenangkan dari daddy kesayangannya. Sangat wajar bukan, jika daddy Langit menjadi daddy favorit di dalam hidupnya?


 Semua orang di dalam ruangan itu terharu dengan jawaban bijak Langit dan merasa bangga dengan tindakan Malvin. Benar-benar 2 jagoan kesayangan keluarga Arkan bisa di andalkan, tidak di ragukan kepribadiannya. Jennie menatap mata suaminya dan memberikan senyuman yang manis, Jennie tidak salah memilih suami.


 Princess,lihatlah. Daddy begitu lembut dalam memperlakukan abang, daddy akan melakukan hal yang sama juga  dengan princess. Princess pasti akan sangat bangga dan bucin dengan daddy. Terima kasih Tuhan sudah begitu baik dengan diriku yang sangat kurang dari kata baik. Kau memberikan aku suami yang sangat sempurna dan seorang putri yang sangat cantik. Terima kasih Tuhan, batin Jennie.


Seharusnya Boy Malvin Akdiasa. Maaf sayang, karena kebodohan mommy, kamu harus mengakui kesalahan yang bukan kamu perbuat. Maaf kamu harus berbagi daddy dengan adik Lili. Jika saja lebih awal mommy sadar dengan arti penting daddy Langit dalam hidup kita, kita pasti akan bahagia. Bagaimana aku bisa cepat melupakanmu Langit? Jika sikap dan ucapanmu saja sudah mampu membuat hatiku terasa nyaman, batin Falensia.

__ADS_1


Sementara mommy dan daddy Arkan, serta Jesya dan Rachel berdoa dalam hati mereka. Semoga keluarga mereka selalu dilimpahkan kebahagiaan tanpa batas, di jauhkan dari hal-hal buruk.


__ADS_2