Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Kado untuk Daddy Baby


__ADS_3

"Hubby," Jennie memanggil suaminya yang sedang bermain dengan Malvin.


"Kamu memesan mobil sebagai kado ulang tahun Langit? Bukankah Langit tidak bisa mengendarai mobil?" tanya Falensia.


"Tidak unn. Kita lihat saja," jawab Jennie tersenyum saat melihat suaminya menghampiri dirinya.


"Iya wife," sahut Langit dan Malvin yang baru tiba di depan Jennie.


"Ayo ke depan, aku memiliki kado untuk ulang tahunmu," ajak Jennie memeluk lengan suaminya.


"Kado? Bukankah aku sudah katakan wife, kehamilanmu adalah kado terindah untukku," ucap Langit.


"Iya, hanya kado sederhana hubby," kata Jennie.


"Sudahlah Langit, ayo kita lihat kado dari istrimu," ajak mommy Arkan.


"Boy, kemari dengan grandpa. Biarkan daddy bersama aunty Jenjen," ujar daddy Arkan.


"Iya grandpa," kata Malvin meminta gendong pada daddy Arkan.


Mereka berjalan bersama menujuhalaman depan mansion yang di sana sudah ada motor sports warna hitam, jaket kulit dan helm hitam. Langit terpaku menatap istrinya.


"Wife," panggil Langit meyakinkan apakah motor sports itu adalah kado dari istrinya untuk dirinya.


"Silakan di coba daddy," ucap Jennie dengan senyum manis di wajahnya.


"Terima kasih wife, Ini sangat berlebihan wife," kata Langit menitihkan air mata memeluk istrinya.


"Tidak, daddy membutuhkannya dan tolong ajak mommy dan baby untuk berkeliling dengan motor dad," ucap Jennie berbicara seperti anak kecil.


"Iya wife, baby. Daddy akan membawa kalian berkeliling Korea," ujar Langit mencium bibir istrinya.


"Cobalah dad," kata Jennie melerai pelukan mereka. Langit pergi mendekati motor sports itu, mengenakan jaket, helem danĀ  menaiki motor.


"Astaga, daddy baby benar-benar tampan. Mommy jatuh cinta berulang kali," puji Jennie terpesona dengan ketampanan suaminya ketika sedang testi motor baru.


"Daddy keren. Wow, daddy tampan," puji Malvin berseru di gendongan daddy Arkan.


Tampan, selalu tampan, batin Falensia.

__ADS_1


"Ugh, kalau saja mommy masih muda. Mommy akan mendekati Langit," puji mommy Arkan.


"Astaga, mommy! Daddy lihat mommy Daddy!" adu Jennie pada daddy Arkan karena tidak terima dengan perkataan mommynya.


"Tidak sadar diri, dirimu sudah tua wife. Aku tidak kalah tampan dan mempesona ketika waktu muda," ledek daddy Arkan.


"Tapi daddyku lebih tampan grandpa," ujar Malvin membela suaminya.


"Benar, daddy yang tertampan," kata Jennie membenarkan perkataan ponakannya.


"Hahah, lihat sayang. Tidak ada yang membela dirimu. Dirimu memang tampan dulu, tapi tidak setampan dan sekeren Langit," tutur mommy Arkan meledek suaminya.


"Astaga," kesal daddy Arkan.


"Terima kasih wife," kata Langit menghampiri istrinya, mencium bibir istrinya, setelah merasa cocok dengan motor barunya.


"Apa pun untuk daddy," ucap Jennie tersenyum manis.


"So sweet," kata mommy Arkan.


"Daddy keren," puji Malvin.


"Sudah-sudah, pergilah bersama istrimu Langit, cek kondisi cucu daddy," kata daddy Arkan.


"Iya dad. Kita pergi sekarang wife?" tanya Langit pada istrinya.


"Iya hubby, dengan motor, ya," jawab Jennie.


"Tapi wife, apa tidak apa dengan baby?" tanya Langit untuk memastikan istri dan calon anaknya.


"Tidak apa, daddy bisa membawa mommy dan baby dengan pelan-pelan," jawab Jennie dengan yakin.


"Iya wife," jawab Langit dengan senyum manis di wajahnya.


Langit memakaikan istrinya helem. Setelah di rasa istrinya nyaman dengan helm dan duduk di motor, pasangan suami istri itu pamit pada daddy dan mommy Arkan, Falensia dan Malvin untuk ke rumah sakit.


***


"Ugh, menyenangkan ternyata naik motor dad," ujar Jennie di belakang, sambil memeluk tubuh suaminya.

__ADS_1


"Mommy suka?" tanya Langit.


"Suka dad," jawab Jennie bersemangat.


"Syukurlah jika mommy suka. Daddy akan sering-sering membawa mommy dan baby berkeliling dengan motor," kata Langit.


"Harus, daddy harus melakukan itu," ucap Jennie.


Motor tiba di depan rumah sakit, Langit memarkirkan motornya, membantu istrinya untuk turun dari motor dan membukahelm istrinya. Setelah itu jenlisa masuk ke dalam rumah sakit, untuk menemui Dokter kandungan.


Banyak pasang mata yang memperhatikan pasangan Jennie dan Langit yang terlihat serasi dan pastinya menawan. Jennie dan Langit sama sekali tidak risih dengan tatapan orang-orang. Mereka menganggap itu hal biasa, mereka hanya fokus dengan tujuan mereka, untuk memeriksa baby.


"Selamat siang tuan Langit dan nyonya Jennie," ujar Dokter.


"Nyonya Akdiasa," saut Jennie memperbaiki panggilan Dokter untuk dirinya.


"Ah, maaf, maksud saya nyonya Akdiasa," kata Dokter.


"Selamat siang Dok," balas Jennie dan Langit.


"Saya mengucapkan selamat atas kehamilan nyonya Akdiasa," ucap Dokter.


"Iya terima kasih Dok. Kami kesini untuk memeriksa keadaan baby dan mommynya, serta menanyakan beberapa hal yang boleh di lakukan dan di berikan untuk mommy dan baby," ujar Langit.


"Iya tuan, nyonya bisa berbaring untuk di periksa kondisi babynya dan nanti akan saya beritahu apa saja yang di perbolehkan dan yang harus di hindari," tutur Dokter.


"Iya Dokter," kata Langit membantu istrinya untuk merebahkan diri di kasur pemeriksaan. Setelah beberapa saat pemeriksaan, akhirnya Dokter dan pasangan Jennie dan Langit duduk di kursi Dokter dan pasien.


"Bagaimana kondisi baby Dok?" tanya Langit bersemangat.


"Baby dan mommynya sehat tuan. Tolong jangan membuat mommy merasa kelelahan dan di perhatikan lagi nutrisi untuk mommynya. Mulai untuk minum susu ibu hamil, vitamin dan sering ajak mommy baby berjalan kaki di pagi dan sore hari tuan," papar Dokter.


"Iya Dok," Langit.


"Lalu bagaimana soal hubungan suami-istri Dok, apa boleh?" tanya Jennie to the point, wajah Langit merah merona.


"Boleh nyonya, hanya lakukan perlahan," jawab Dokter.


"Boleh dad," kata Jennie mengadu pada suaminya, wajah dan telinga Langit semakin merona.

__ADS_1


Setelah selesai pemeriksaan ke dokter kandungan, pasangan Jennie dan Langit kembali ke masion mereka. Di dalam mansion sudah ada 10 pelayan yang di minta Jennie pada daddynya.


__ADS_2