
"Berhenti! pergi kalian atau pistol ini akan menembus ke kepala kalian!" pekik Jennie keluar dari mobil dengan memegang pistol di tangannya yang di todongkan ke salah satu pria. Mereka yang melihat itu langsung kabur, meninggalkan Langit yang tergeletak. Jennie memasukkan pistolnya, lalu berlari menghampiri Langit.
Jennie mambantu memapah tubuh Langit, dia membawa masuk ke mobil. Langit meringis, setelah Jennie menyandarkan tubuh Langit ke kursi mobil. Langit menegakkan tubuhnya dan menatap Jennie yang sudah masuk mobil.
"Terima kasih, Miss," lirih Langit dengan senyum, di sela-sela rasa sakit.
"Apa yang kau lakukan idiot!" marah Jennie melajukan mobilnya ke arah mansion.
Air mata Jennie tidak berhenti menetes. Hatinya tenang setelah melihat Langit ada di dekatnya. Tapi dia merasa sakit di dadanya karena melihat Langit terluka di hajar oleh orang lain
"3 orang dari 5 pria tadi adalah orang yang ingin merampok dan mencelakai Rachel, Miss. Aku tidak tahu jika mereka akan kembali, Miss," ucap Langit dengan senyumnya sambil menatap wajah Jennie dari samping yang sedang menyetir.
"Kau idiot! tadi saja sok menjadi pahlawan membantu Rachel. Sekarang membantu diri sendiri saja tidak bisa. Kau ingin mati hah!" Jennie berteriak.
"Tidak masalah jika memang sudah takdirku, Miss," ucap Langit.
Jennie diam tidak menyahuti ucapan Langit, entah hatinya seperti di tusuk pisau mendengar jawaban Langit.Ada keraguan dalam diri Jennie, dia benar-benar membenci Langit kan. Dia tidak mencintai Langit kan.
Mobil Jennie tiba di mansion.
"Terima kasih, Miss," pamit Laskar membungkuk dan tersenyum lalu keluar dari mobil. Dia berjalan perlahan menuju dapur lalu hendak masuk ke gudang tapi di cegat Jennie.
"Tidur lah di kamarku, Rachel sedang menginap di sini. Aku tidak ingin Rachel bertanya tentang kita," ucap Jennie cuek dan berlalu menuju kamarnya.
Langit naik ke lantai 2 dengan perlahan-lahan, masuk ke kamar Jennie. Dia melihat Jennie seperti sedang berada di kamar mandi, jadi dia duduk di sofa sambil mengobati luka di wajahnya dengan ringisan keluar dari mulutnya.
Jennie keluar dari kamarnya setelah selesai mencuci mukanya. Dia melihat Langit meringis di sofa. Jennie tidak peduli, dia memilih untuk naik ke kasurnya.
"Hm,,, Miss, bisa minta tolong saya," ucap Langit.
Jennie tidak menjawab tapi pandangannya melihat ke arah Langit.
"Sepertinya punggungku terluka, bisakah Miss membantu memberikan obat merah?" tanya Langit.
Jennie diam dia tidak menggubris ucapan Langit dia memilih untuk menutup dirinya dengan selimut dan memejamkan matanya. Langit menghelang napas. Baiklah, sepertinya Langit harus membiarkan luka di punggungnya.
Langit diam beberapa saat, lalu dia keluar dari kamar Jennie. Dia turun ke lantai dasar, dia meletakkan kotak P3K yang dia ambil di dapur tadi sekalian menghilangkan dahaga tenggorokannya.
Langit yang selesai dari minum dan ingin kembali ke kamar Jennie terhenti karena mendengar suara orang menangis dari kamar tamu. Langit mendekati kamar itu, mencoba mengetuk pintu, tapi tidak ada yang membuka malah suara tangis masih berlanjut. Akhirnya Langit memilih untuk membuka kamar itu dan dia melihat Rachel menangis dalam tidurnya. Langit mendekat, menyentuh lengan Rachel untuk membangunkannya.
"Rachel," panggil Langit menggoyangkan sedikit lengan Rachel.
"Rachel," panggil Langit lagi sedikit menguatkan dorongannya pada lengan Rachel. Rachel terbangun dan duduk dengan napas tersengal-sengal, dia menangis. Langit yang melihat itu mengelus lengan Rachel.
"Mimpi buruk?" tanya Langit.
__ADS_1
Rachel tidak menjawab tapi malah memeluk tubuh Langit.
"Langit, aku takut," lirih Rachel.
"Awww, Rachel bisakah lepaskan pelukannya," ringis Langit.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu dan tubuhmu?" tanya Rachel baru menyadari luka lebab di wajah Langit. Karena Langit meringis ketika dia peluk.
"3 orang tadi kembali ke tempat tadi bersama 2 temannya dan yah seperti ini lah," jawab Langit.
"Ingin minum?" tawar Langit. Agar Rachel bisa tenang dari mimpi buruknya. Bukannya mengkhawatirkan dirinya, Langit justru mengkhawatirkan orang lain.
"Iya,"
Rachel dan Langit keluar dari kamar menuju ke dapur. Rachel minum dan Langit menemani Rachel.
"Di mana P3K?" tanya Rachel.
"Di rak almari itu," tunjuk Langit di salah satu rak almari yang ada di dapur. Rachel mengambil kotak P3K dan kembali duduk di samping Langit.
"Ayo aku obati," ucap Rachel.
"Ah, tidak perlu. Tadi sudah aku obati," tolak Langit dengan halus.
"Tolong Langit, anggap ini sebagai balas budiku karena dirimu sudah membantuku," ujar Rachel sendu.
"Iya," Langit pasrah.
"Apa tidak masalah bila dirimu mengobati luka di punggung ku?" tanya Langit.
"Tidak masalah, buka lah bajumu,"ucap Rachel yang sebenarnya gugup setengah mati.
"Iya," kata Langit mulai membuka kausnya dan dia sedang bertelanjang dada.
Astaga Langit, tidak mungkinkan aku jatuh cinta lagi padamu. Dirimu suami Unnieku. Batin Rachel yang sempat melamun karena melihat bentuk tubuh Langit yang bertelanjang dada.
"Rachel," panggil Langit memecahkan lamunan Rachel.
"Ah, iya," Rachel tersadar dari lamunannya dan mengoleskan obat merah pada punggung Langit.
"Di mana Unnie?" tanya Rachel.
"Sudah tidur, kelelahan," ucap Langit.
"Sudah," kata Rachel, setelah selesai mengolesi luka di punggung Langit.
__ADS_1
"Terima kasih, Rachel," Jawab Langit.
"Iya. Bisa temani aku mengobrol dulu. Aku belum bisa tidur," pinta Rachel.
"Ah, iya. Bagaiman kalau di kolam ikan saja," usul Langit.
"Iya,"
Rachel dan Langit pergi ke halaman belakang yang ada kolam ikan, mereka duduk sambil melihat-lihat ikan.
"Langit," panggil Rachel.
"Iya," Langit menoleh ke arah Rachel.
"Maaf karena menolongku, kamu harus menerima tamparan dari Jennie unnie," sesal Rachel.
"Tidak, Jennie hanya salah paham saja. Semuanya sudah membaik," ucap Langit.
"Walaupun begitu, aku tetap harus mengucapkan terimamkasih dan maaf. Terima kasih karena sudah menolong ku dan menemaniku di sini. Dan maaf karena membuat dirimu dan unnie menjadi salah paham," lirih Rachel.
"Sudah lupakan, semuanya baik-baik saja. Sebagai teman kita harus saling membantu bukan," ujar Langit dengan senyumnya.
Tolong jangan dengan senyum itu Langit. Batin Rachel.
Astaga, ingat Rachel dia suami unniemu dan dia hanya menganggapmu teman. Batin Rachel.
"Langit kenapa dirimu tidak membawa mobilku saja, ketimbang harus berjalan kaki?" tanya Rachel.
"Aku tidak bisa membawa mobil, setiap aku mencoba duduk di kursi pengemudi, kepalaku akan sakit," ungkap Langit.
"Apa itu efek dari kecelakaan yang pernah dirimu katakan?" tanya Rachel.
"Aku juga tidak tahu jelasnya. Yang jelas aku tidak bisa menyetir mobil. Berjalan kaki dan menggunakan bus itu menyenangkan," ucap Langit.
"Benarkah? Aku belum pernah menaiki bus," ucap Rachel.
"Kalau begitu, lain waktu dirimu bisa ikut bersamaku, aku akan mengajakmu menaiki bus," ajak Langit.
"Benarkah?" tanya Rachel bersemangat.
"Tentu," Langit tersenyum.
Mereka mengobrol sampai larut malam, obrolan mereka terhenti setelah mereka sama-sama merasa mengantuk. Mereka menyudahi obrolan mereka dan masuk kedalam mansion untuk masuk kekamar masing-masing. Langit masuk ke dalam kamar Jennie dan melihat Jennie tertidur pulas. Langit berjalan ke sofa menidurkan dirinya dengan cara telungkup, karena punggungnya perih bila harus tidur telentang. Langit mulai memejamkan matanya dan masuk kedunia mimpinya.
Sementara wanita cantik yang sedari tadi menyaksikan kedekatan suami dan sahabatnya, di buat tidak tenang. Dia tadi turun kebawah untuk mengambil air minum dan sekalian melihat keberadaan suaminya yang tidak ada di kamar bersama dirinya.
__ADS_1
Setelah melihat pintu mansion belakang terbuka, Jennie mengintip dari cela jendela dan benar di sana ada suami dan sahabatnya sedang mengobrol. Jennie masuk ke kamar dia tidak jadi mengambil minum dan berpura-pura tidur, hingga suaminya masuk kamar. Setelah mendengar suara dengkuran halus dari suaminya dia membuka matanya dan melihat langit-langit kamarnya.
Apa yang aku pikirkan, aku membencinya. Aku tidak mencintainya lagi. Batin Jennie terus seperti itu untuk meyakinkan hatinya yang sangat bertolak belakang dengan ego di kepalanya.