
"Hallo daddy, Lili dan mommy datang untuk mengunjungi daddy. Lili meletakkan bunga cantik ini untuk daddy. Daddy sedang apa di sana, besok adalah hari ulang tahun Lili. Daddy pasti sudah menyiapkan kejutan untuk Lili 'kan. Miss you dad," ucap Lili tersenyum meletakkan bunga segar yang dia bawa sambil mencium keramik nama daddynya.
Sudah 8 tahun Langit pergi meninggalkan Jennie dan Lili. Setelah kepergian Langit, hidup Jennie tidak berjalan dengan mudah. Dia sempat depresi karena terus di hantui dengan penyesalannya. Namun itu tidak bertahan lama karena dia berhasil di pulihkan dengan daddy, mommy Arkan dan Falensia yang membawa dia ke psikiater. Jennie pulih dengan cepat, karena dia selalu di ingatkan akan tanggung jawabnya yang masih harus merawat putrinya dan mantan suaminya..
2 tahun setelah kepergian Langit, Jesya menikah dengan teman kerjanya Joshua. Jesya dan Joshua di karuniai seorang anak laki-laki bernama Jiwoon, mereka tinggal di Amerika Serikat. Rachel juga sudah menikah dengan rekan kerjanya Chandra dan di karuniai seorang putra bernama Ravel, mereka tinggal di New Zealand.
Setelah kepergian Langit, hubungan persahabatan Jesya, Jennie dan Rachel menjadi sangat renggang. Jesya dan Rachel memutuskan hubungan dengan Jennie, sebagai bentuk dari kekecewaan mereka karena perbuatan buruk Jennie pada Langit. Jennie menerima semua itu, karena di kasus ini memang dia yang menjadi biang dari permasalahan ini.
Jennie menepati janjinya pada mantan suaminya, dia merawat putrinya dengan sangat baik. Bahkan Lili tumbuh menjadi anak perempuan yang sehat, cantik, cerdas dan berhati tulus seperti daddynya. Semakin bertambah usia, Lili semakin mirip dengan daddynya, baik wajah maupun kepribadian.
Satu-satunya yang menjadi alasan Jennie bertahan hidup sampai saat ini adalah karena dia sudah berjanji pada mantan suaminya untuk merawat putrinya, hingga nafas terakhirnya. 3 bulan setelah kepergian Langit dan Jennie depresi selama itu juga, Lili di rawat oleh daddy dan mommy Arkan. Setelah Jennie berhasil sembuh dari depresinya dan memulai hidupnya bersama putrinya dia kembali menjabat sebagai CEO Arkan Company dengan status singel parents. Dia dan putrinya tinggal di mansion yang dulu dia tempati bersama Langit (mantan suaminya).
Jennie duduk bergabung bersama putrinya, dia mengelus punggung Lili.
"Daddy selalu menyiapkan hadiah untuk princessnya ini," saut Jennie tersenyum manis.
"Lili tidak sabar untuk hari besok mom," ujar Lili.
"Sabar, ya," Jennie tersenyum.
"Ya mom," Lili.
"Bisa tinggalkan mommy dengan daddy dulu sayang?" tanya Jennie.
"Ya mom, Lili tunggu di mobil," pamit Lili pergi meninggalkan makam daddynya setelah mencium nisan keramik nama daddynya.
Tinggallah Jennie sendiri duduk manis menatap nisan keramik nama mantan suaminya. Jennie mengelus nama suaminya, air matanya jatuh.
"Hai, apa kabar? Tidak terasa sudah sangat lama kamu kembali ke pelukan Tuhan. Sepertinya di sana sangat menyenangkan, aku ingin ikut bersamamu, tapi aku masih memiliki janji denganmu untuk merawat putri kita," ucap Jennie.
"Dia tumbuh dengan sangat baik, sekarang dia berusia 9 tahun. Lili princess kita sama seperti kamu, dia memiliki hati yang tulus. Sepertinya karma benar-benar mempermainkanku, aku tidak bisa melupakanmu. Kamu tahu kenapa? Jawabannya karena Lili princess kita adalah duplikat dari dirimu. Dari wajah, sikap dan kepribadiannya sama dengan dirimu," tutur Jennie tersenyum melihat kesamaan Langit dan Lili.
__ADS_1
"Langit," panggil Jennie mulai menundukkan kepalanya air matanya perlahan menetes.
"Bisakah aku egois lagi untuk kali ini?" tanya Jennie menahan sebisa mungkin suara tangisnya.
"Aku ingin egois. Aku, aku ingin kita berada di pelukan Tuhan. Aku ingin egois untuk meminta pada Tuhan agar kita nanti akan kembali menjadi pasangan suami-istri yang bahagia di kehidupan selanjutnya. Aku ingin egois dengan berharap nanti kamu yang akan menjemputku untuk kembali bersama-sama dalam pelukan Tuhan. Terdengar sangat egois bukan? Tapi itu yang aku inginkan," ungkap Jennie tersenyum getir.
"Langit," panggil Jennie.
"Sampai saat ini, hatiku hanya milikmu. Kamu berhasil membawa pergi cintaku ikut bersamamu. Hatiku tidak lagi berdetak untuk orang lain, hanya Langit Akdiasa pemiliknya," tutur Jennie tersenyum sangat manis.
"Langit," Jennie.
"Berjuta-juta kali kamu akan bosan karena selalu mendengar perkataan maafku. Tapi, bagiku itu masih sangat kurang dengan apa yang sudah aku lakukan padamu. Aku minta maaf untuk kesekian kalinya dan akan terus berlanjut hingga napasku berhenti. Aku minta maaf untuk semua keegoisan dan keterlambatanku akan pentingnya kamu di hidupku. Aku minta maaf," sesal Jennie menangis, suaranya tidak bisa dia tahan lagi.
"La-ngit," Jennie terbata-bata memanggil nama mantan suaminya.
"Tolong jemput, tolong rangkul aku nanti ketika Tuhan memanggilku. Tolong tunggu aku. Aku menyelesaikan tugasku dulu di dunia ini. Love you Langit Akdiasa," ucap Jennie menangis begitu saja, mencium keramik nama mantan suaminya.
***
"Mommy okay?" tanya Lili melihat mommynya yang menggunakan kacamata hitam.
"Mommy okay sayang, hanya merindukan daddy," jawab Jennie tersenyum menatap wajah putrinya.
"Lili juga merindukan daddy, mom. Kita doakan daddy saja mom, nanti malam kita akan tidur dengan di temani baju daddy," ujar Lili, itu sudah menjadi kebiasaan mereka berdua jika merindukan Langit.
Awalnya hanya Lili yang seperti itu, setelah di tinggalkan daddynya, Lili terus menangis tidak berhenti. Mommy Arkan menyarankan untuk meletakkan baju dengan harum tubuh Langit di atas tubuh Lili, seketika Lili langsung diam. Hal ini berlaku juga dengan Jennie yang selalu tenang jika ada baju dengan harum Langit di dekatnya.
"Ya sayang, kita selalu melakukan hal itu," saut Jennie.
"Daddy akan terus melihat kita kan mom dari langit," ujar Lili.
__ADS_1
"Ya sayang, daddy akan terus melihat kita dari langit," kata Jennie.
"Kalau begitu kita hari ini harus menyapa daddy, mom," ajak Lili.
"Benar sayang. Mari lakukan," balas Jennie tersenyum manis.
"Love you daddy," Jennie dan Lili kompak, itu juga menjadi kebiasaan ibu dan anak itu.
"Mom, kita pulang saja," pinta Lili dengan tiba-tiba.
"Kenapa sayang? Lili belum mendapatkan kado dari mommy," tanya Jennie.
"Lili merindukan daddy. Lili ingin memeluk daddy. Lili tidak butuh apa pun mom. Ayo pulang mom," jawab Lili yang tiba-tiba merindukan daddynya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Lili yakin?" tanya Jennie memastikan putrinya.
"Ya mom, tolong kembali ke mansion," jawab Lili mantap.
"Baiklah, kita akan kembali ke mansion langsung sayang," saut Jennie tersenyum, mengelus pipi putrinya.
***
Mobil Jennie berhenti di halaman depan mansion. Jennie turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil putrinya. Jennie menggenggam tangan putrinya, memasuki mansion yang sudah di sambut dengan puluhan pelayan. Lili melepaskan genggaman mommynya, berlari cepat menaiki tangga menuju kamar mommy dan daddynya. Dia membuka lemari dan mengambil baju daddynya, dia menangis menghirup dalam aroma tubuh daddynya.
Sementara Jennie hanya mampu menghelang napas, hatinya sakit melihat putrinya yang sudah ditinggal pergi daddynya ketika berusia 2 tahu. Jennie tahu apa yang di lakukan putrinya, jika sedang seperti ini. Putrinya pasti akan menangis sambil memeluk baju mantan suaminya. Ingin sekali rasanya Jennie meminta pada Tuhan biar saja dia yang pergi untuk menggantikan Langit. Tapi semua itu tidak akan pernah terjadi, karna kenyataannya adalah Langit yang pergi dan dia yang tinggal untuk menetap.
"Daddy, Lili rindu," lirih Lili menangis meremat kuat baju daddynya.
Jennie berjalan menghampiri putrinya, duduk di lantai bersama putrinya. Jennie membawa Lili masuk dalam pelukannya, dia mencium kepala putrinya. Ikut menangis juga, karena mendengar tangis pilu dari putrinya. Entah imajinasi atau benar-benar kebaikan Tuhan, Jennie bisa melihat bayangan Langit yang sedang tersenyum manis. Jennie pun ikut tersenyum manis, hal itu hanya berlangsung kurang dari 10 detik, setelahnya bayangan Langit menghilang.
Terimakasih Tuhan sudah menghadirkan Langit. Walaupun hanya sebentar. Langit tolong tunggu aku. Aku menyelesaikan tugasku di dunia dulu, setelah itu aku akan ikut bersamamu, batin Jennie sembari memeluk putrinya.
__ADS_1