
"Kemana perginya si idiot itu, lama sekali mentang-mentang bersama wanita cantik. Dasar mata keranjang!" gerutu Jennie yang sedari tadi menunggu suaminya, tapi tak kunjung tiba.
"Hais ... awas saja si idiot itu!" murka Jennie pergi keluar kamar hotel, berjalan sendiri di sekitaran menara Eiffel.
"Bay ... bay ... Prince. Jangan lupa balas pesan Princess, ya," kata Laurent yang sedang melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan untuk Langit.
Sehabis Lengit dan Laurent dari toilet. Langit izin untuk kembali ke hotel, begitu juga dengan Diana dan Laurent. Sebelum itu, Diana meminta nomor telepon Langit, takut nanti Laurent rewel dan ingin menghubungi Langit. Langit yang orangnya memang humble, memberikan begitu saja nomor teleponnya pada Diana.
"Iya Princess, bay ... bay," kata Langit membalas lambayan tanga Laurent sambil tersenyum. Langit berjalan kembali ke hotel, tapi dia melihat istrinya yang baru keluar dari hotel, Langit menghampiri istrinya.
"Miss," panggil Langit.
"Oh, ingat pulang kau! Setelah bersenang-senang dengan keluarga kecilmu, hah!" bentak Jennie.
"Ah, bukan seperti itu Miss. Saya hanya--"
"Buaya tetap buaya, wajahmu saja polos, tapi watakmu tidak jauh dadi wanita-wanita cantik," sindir Jennie.
"Maaf Miss," ujar Langit yang pasrah saja tidak ingin memperpanjang masalah. Jennie terus berjalan meninggalkan Langit yang berjalan mengikutinya dari belakang.
"Hai," sapa laki-laki yang menyapa Jennie. Jennie diam saja. Jennie merasa tidak nyaman dengan laki-laki itu.
"Maaf tuan, sepertinya istri saya tidak nyaman dengan keberadaan anda tuan," ucap Langit halus yang tiba-tiba sudah berada di samping Jennie dengan merangkul pinggang Jennie. Jennie membeku dengan perlakuan Langit.
Laki-laki itu tidak basa-basi lagi, dia langsung pergi meninggalkan Jennie dan Langit. Langit langsung melepaskan rangkulannya di pinggang istrinya. Jennie tersadar dari sikapnya yang beberapa saat lalu membeku dan merasa hampa karena suaminya tidak merangkul pinggangnya lagi
"Maaf Miss atas sikap lancang saya, saya hanya membantu Miss saja," kata Langit berseru sebelum Jennie salah paham atas tindakannya.
Jennie tidak menjawab pernyataan Langit, dia memutuskan untuk kembali ke hotel dan di ikuti Langit di belakangnya. Mereka tiba di kamar mereka, Jennie masuk dan mengecek teleponnya sedangkan Langit mengganti perban di keningnya yang sebelumnya dia tunda karena bertemu dengan Laurent.
"Awww," Ringis Langit, dia tidak sengaja menekan luka jahitnya.
"Berlebihan," ledek Jennie meletakkan teleponnya di kasur berjalan menghampiri Langit.
Dia mengambil kapas di tangan Langit, dia membantu mengganti perban di kening Langit. Langit diam memperhatikan wajah istrinya, yang sangat cantik.
"Kau sepertinya sangat menikmati berbicara dengan mereka," ketus Jennie yang sedang membersihkan kening Langit yang luka sebelum di perban baru.
"Mereka baik, apalagi Laurent," pungkas Langit.
__ADS_1
"Awww," pekik Langit karena Jennie menekan lukanya.
"Jadi nama perempuan itu Laurent?" tanya Jennie.
"Iya, nama anak perempuan itu Laurent," jawab Langit.
"Lalu siapa nama wanita dewasa itu?" tanya Jennie lagi.
"Diana, mommy Laurent," jawab Langit.
"Dia cantik bukan," sarkas Jennie.
"Iya, Laurent dan Diana cantik, karena mereka perempuan," ujar Langit.
"Diana?" tanya Jennie.
"Iya, seperti wanita pada umumnya," kata Langit.
"Kau terlihat nyaman dengan anak kecil itu," kata Jennie mengalihkan pertanyaannya.
Karena Jennie tahu suaminya ini tidak peka orangnya, suaminya tidak tahu jika dirinya sedang cemburu. Memangnya harus setiap kali Jennie cemburu, Jennie harus mengatakannya dengan suaminya, itu sangat bertolak belakang dengan prinsip gengsinya.
"Kenapa perempuan? Bukankah akan sangat merepotkan?" tanya Jennie.
"Tidak, tidak sama sekali. Aku akan menjadikan dia Princess. Aku akan menjadi super heronya, aku akan mengajari dia banyak hal, aku ingin menjadi cinta pertamanya, akan sangat senang bila setiap pulang kerja aku di sambut dengan princessku yang berkata (Daddy aku merindukanmu, ayo temani aku bermain rumah Barbie dan menonton)," seru Langit.
"Siapa yang akan mengandung anakmu?" tanya Jennie.
"Aku tidak tahu, aku hanya berangan saja. Jika Tuhan benar-benar murah hati padaku, pasti akan ada saja jalannya nanti aku memiliki Princessku sendiri," jawab Langit, karena tidak mungkin Langit menjawab Jennie, yang ada dirinya akan mendapat tamparan atau bahkan pukulan di tubuhnya.
"Sepertinya itu tidak akan pernah terwujud, aku tidak akan sudi mengandung anakmu!" tekan Jennie.
"Iya, aku tidak memaksa Miss. Aku masih bisa nanti mengangkat anak perempuan dari panti asuha, yang nantinya akan aku besarkan dengan kasih sayang," kata Langit.
"Kau tidak bisa melakukan itu, itu artinya kau akan membawa anak angkatmu tinggal di mansion ku. Aku tidak mengizinkannya," sarkas Jennie.
"Aku menyadari itu Miss. Untuk saat ini aku tidak bisa mewujudkan keinginanku, karena aku belum cukup secara finansial untuk memenuhi kebutuhan Princessku nanti dan aku juga tidak akan selamanya bertahan dengan pernikahan ini Miss," ungkap Langit.
"Apa maksudmu tidak akan bertahan dengan pernikahan ini? Kau berniat menceraikanku?" tanya Jennie menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
"Kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa Miss. Kita masih muda Miss, aku tidak mungkin terus-terusan bertahan dengan keadaan pernikahan yang seperti saat ini, aku masih memiliki banyak mimpi yang ingin aku raih di dunia ini Miss. Aku ingin memiliki rumah tangga yang seperti orang pada umumnya Miss. Aku ingin memiliki istri yang mencintaiku apa adanya, memiliki anak, memiliki usaha, berlibur bersama keluarga kecilku. Sedangkan kita berdua dalam pernikahan ini memiliki tujuan yang berbeda Miss. Saat ini aku hanya menunggu takdirku Miss, jika Tuhan memang menakdirkan aku menghabiskan sisa umurku hanya dengan Miss, aku akan menerima itu dan merelakan mimpiku. Tapi jika waktunya nanti Tuhan mengabulkan doaku, aku akan pergi Miss, artinya waktuku dengan Miss sudah selesai," ungkap Langit.
"Tidak! Kau tidak akan bisa menceraikan aku Langit! Kau di takdirkan untukku, sisa hidupmu akan terus bersamaku, bukan dengan wanita lain. Lupakan mimpi sampahmu!" murka Jennie berdiri dan mengambil pisau pemotong steak yang ada di meja, pisau bekas Jennie sarapan steak. Jennie mengarahkan pisau itu ke lengan Langit.
"Aku memiliki hak untuk bahagia Miss, jika Miss tidak bisa menerima masa laluku, tolong lepaskan aku. Kita bisa mengakhirinya dengan baik-baik Miss, mungkin kita tidak berjodoh Miss. Kita bisa memulai hidup baru dengan orang baru Miss," jelas Langit denangn tenang, dia sama sekali tidak terganggu dengan tindakan Jennie.
"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak kau tuli, hah!" bentak Jennie menekan pisau steak itu kelengan Langit.
Langit diam saja membiarkan hal itu.
"Aku harus bertahan berapa lama lagi Miss? Aku seperti boneka Miss, suami sebagai status, nyatanya aku adalah budakmu Miss. Aku punya batas lelah Miss, aku tidak sanggup jika harus bertahan dalam pernikahan kita yang menyakiti satu sama lain," tuntut Langit lembut sambil menahan rasa sakit dari tekana pisau steak yang istrinya lakukan di lengannya.
"Tidak, aku bilang tidak ya tidak. Aku akan mati di tanganku, umurmu akan habis di tanganku!" sarkas Jennie menekan lebih dalam lagi pisau steak itu. Jennie tidak melihat kedalaman pisau steak yang dia tancapkan di lengan suaminya, karena dia dari tadi menatap kedua mata Langit.
"Kalau begitu bunuh lah aku Miss, aku ikhlas," tantang Langit, karena dia sudah lelah dengan penderita yang dia rasakan di dunia ini.
"Tidak, kau akan mati secara perlahan," tekan Jennie terus menekan pisau steak itu.
"Iya Miss, sama seperti halnya yang saat ini dirimu lakukan. Aku akan mati perlahan. Bagaimana kalau Miss menusukku di sini," pungkas Langit menggenggam tangan istrinya yang sedang memegang kuat pisau steak.
Langit mencabut pisau steak itu di lengannya bersamaan dengan tangan Jennie yang masih menggenggam pisau steak, lalu Langit menusukkan pisau steak itu di perutnya.
Tes ... tes ... tes ... (Darah menetes dari perut Langit)
"Bagaimana Miss? Apa 1 tusukan di perutku bisa membuatmu tertawa hari ini?" tanya Langit tersenyum teduh setelah mengatakan itu, dia memuntahkan darah. Jennie mencoba melepaskan tangannya yang di genggam erat oleh Langit.
"Bagaimana Miss? Apa masih kurang dalam? Bagaimana dengan ini?" tanya Langit semakin mendorong masuk pisau steak itu ke dalam perutnya, tangan Jennie gemetar, dia menangis, dia tidak ingin kehilangan Langit.
Tes ... tes ... tes ... (Darah mengalir lebih deras dari yang sebelumnya)
"Lepaskan!" bentak Jennie.
"Biarkan seperti ini sampai ruhku tidak di ragaku lagi Miss," tekan Langit dengan senyum manis, mulutnya sudah penuh dengan darah, tatapan teduh, tidak ada sama sekali tatapan kebencian yang Langit tunjukkan di depan Jennie.
"Tidak! Tidak akan!" kata Jennie menarik pisau steak itu dan itu berhasil, Langit terjatuh tepat di depan tubuh Jennie. Jennie melempar pisau steak itu begitu saja, dia menyenderkan tubuh Langit di sofa, lalu dia menelepon resepsionis untuk meminta pertolongan agar membawa Langit segera ke rumah sakit.
Jennie kembali ke sofa, dia melihat Langit denga senyum merekah di wajahnya, bedanya kedua mata Langit hampir tertutup.
"Aku tidak ingin mengenal Jennie Arkan di kehidupan selanjutnya." Setelah mengatakan itu, mata Langit tertutup.
__ADS_1
Jennie menggelengkan kepalanya kuat, dia tidak suka ucapan Langit. Dia terluka dengan ucapan Langit, sebegitu burukkah dirinya dimata Langit, sampai-sampai Langit tidak ingin mengenal dirinya di kehidupan selanjutnya. Jennie menutup luka tusuk Langit, agar suaminnya tidak kehabisan darah. Jennie menyadari 1 hal, dia mencintai Langit, dia takut kehilangan suaminya.