Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Hallo Paris


__ADS_3

"Sebentar," Langit mendekatkan wajahnya pada Rachel. Rachel reflek membulatkan matanya atas tindakan Langit yang tiba-tiba, tapi setelah itu Rachel mendengar suara, Click,,, sabuk pengaman Rachel yang di pasangkan Langit.


Astaga Langit apa yang kau lakukan. Batin Rachel menetralkan detak jantungnya.


"Sudah, kita bisa berangkat sekarang," jawab Langit polos, seolah-olah tidak ada yang salah dengan apa yang di lakukan.


Nyatanya ada 2 hati perempuan yang 1 merasa jantungnya berdegup kencang dan yang 1 lagi merasa ingin membunuh Langit saat itu juga. Siapa lagi kalau bukan Jennie yang memendam emosinya, bisa-bisanya suaminya mengabaikan perkataan Jennie di kamar tadi beberapa waktu lalu.


"Iya kita berangkat," ucap Rachel menjalankan mobil meninggalkan masion menuju bandara. Rachel menyetel lagu di dalam mobil.


"Dirimu menyukai kamera?" tanya Rachel membuka obrolan karena baru melihat Langit dengan kamera.


"Iya, lumayan menyukai kamera," jawab Langit.


"Artinya dirimu pandai dalam mengambil gambar bukan?" tanya Rachel lagi.


"Tidak seperti itu. Hanya hobi biasa, dan aku membeli kamera ini tujuan awalnya untuk mengambil gambar dari produk makanan yang di jual di kedai yang nantinya akan di promosikan melalui media sosial," jelas Langit.


"Wow, sepertinya sudah sangat berkembang kedai peninggalan, Nek Han," puji Rachel.


"Sedikit demi sedikit," kata Langit.


"Itu keren, nanti akan aku bantu promosi di akun pribadiku," tawar Rachel.


"Ah, terima kasih banyak Rachel. Tapi kedai belum bisa membayar untuk promo yang dilakukan dirimu," ucap Langit.


Karena Rachel dan Jesya itu adalah model yang menjadi beberapa Global Ambassador beberapa jenis produk, ini alasan Langit kenapa mengatakan hal seperti itu.


"Cukup bayar aku dengan makan gratis di sana," kata Rachel.


"Oh, benarkah?" tanya Langit bersemangat.


"Tentu, bukankah sesama teman harus saling membantu. Itu yang dirimu katakan semalam, Langit," ucap Rachel.


"Iya, terima kasih banyak, Rachel," kata Langit.


"Iya, kirimkan saja nanti foto hasil produksi, nanti akan aku promosikan," ucap Rachel.


"Iya, Rachel," kata Langit.


Langit dan Rachel mengobrol sepanjang di perjalanan. Langit melupakan peringatan yang di berikan Jennie padanya. Sedangkan Jennie yang sedari tadi sibuk memainkan teleponnya sebenarnya dia hanya mengalihkan perhatian saja dari Langit dan Rachel, nyatanya dia menyimak semua percakapan suami dan sahabatnya.


Awas kau idiot, batin Jennie.

__ADS_1


***


Mobil yang di kendarai Rachel tiba di bandara. Rachel, Langit dan Jennie turun dari mobil. Langit membuka bagasi mobil mengeluarkan koper dirinya dan istrinya. Mereka berjalan memasuki bagian pengecekan, sebelum itu Langit dan Jennie pamit pada Rachel.


"Hati-hati di jalan unn, Langit," kata Rachel yang sedang memeluk dan mencium pipi Jennie.


"Iya," Jennie.


"Iya, Rachel. Hati-hati juga di jalan pulang nanti," ujar Langit dengan ramah.


"Iya, Langit," kata Rachel yang sudah memeluk dan mencium pipi Jennie ingin memeluk Langit juga, tapi di cegat oleh Jennie.


"Rachel," tegur Jennie. Jennie merangkul bahu Langit dan memberikan tekanan di bahu dan lengan suaminya.


"Hanya bercanda unn, bay ,,, bay," Rachel melambangkan tangannya sebagai ucapan perpisahan untuk Jennie dan Langit.


Langit hanya tersenyum dia tidak bisa membalas lambayan tangan Rachel karena bahu dan lengannya di tekan oleh istrinya.


Jennie memberi isyarat pada Langit untuk masuk ke bagian pengecekan. Langit memahami itu, dia membawa koper mereka ke bagian pengecekan. Setelah semuanya selesai dan tidak ada masalah, mereka langsung menaiki jet pribadi Daddy Kim.


Langit duduk di kursi bagian tengah Jet, sedangkan Jennie mengistimewakan tubuhnya dengan tiduran di atas kasur yang ada di dalam Jet.


"Langit!" panggil Jennie.


"Pijat kakiku!" desis Jennie.


"Iya, Miss," saut Langit mulai memijat kaki Jennie. Tapi Jennie justru menendang perut Langit, hingga membuat Langit jatuh terduduk.


Bugh ,,,


Plak ,,,


Plak ,,,


"Itu hukuman untukmu yang mengabaikan peringatan ku!" bentak Jennie.


"Maaf, Miss," ucap Langit masih terduduk di lantai.


"Keluar!" pekik Jennie.


Langit berdiri dan meninggalkan kamar. Langit duduk di kursi melihat ke arah jendela Jet, dia melihat awan yang bagus dia mengambil gambar awan dengan kameranya.


***

__ADS_1


Setelah menempuh waktu kurang lebih 14 jam, akhirnya Jet pribadi yang di naiki Langit dan Jennie tiba di tujuan. Langit mengurus koper mereka dan kembali menghampiri Jennie yang sudah menunggu di dalam mobil yang di sedia Daddy Kim selama perjalanan mereka honeymoon. Mobil berjalan menuju ke hotel yang dekat dengan menara Eiffel. Hotel yang sengaja di pesan Daddy dan mommy Kim karena mereka tahu putri bungsunya sangat menyukai Paris terutama menara Eiffel.


Drrt,,, drrt,,, drrt,,, (suara panggilan telepon Langit). Langit langsung mengangkat panggilan itu, setelah tahu siapa yang meneleponnya.


"Hallo, Daddy," sapa Malvin.


"Hallo, Boy," saut Langit.


"Daddy, kenapa meninggalkan Malvin di Korea?" tanya Malvin.


"Daddy sedang ada pekerjaan, Boy," jawab Langit.


"Bohong, Daddy, bohong. Mommy bilang Daddy sedang liburan di Paris bersama aunty Jenjen," cela Malvin nada sendu.


"Iya Boy, sorry Daddy bohong," sesal Langit merasa bersalah dengan putranya.


"Mommy, ini. Malvin tidak ingin berbicara dengan Daddy yang berbohong!" marah Malvin di seberang telepon, memberikan telepon pada mommynya.


"Boy," panggil Langit.


"Sepertinya Malvin marah," ujar Falensia.


"Maaf unn, tolong katakan pada Malvin nanti akan aku ganti waktu dengannya unn," sesal Langit.


"Iya. Dirimu dan Jennie sudah tiba di hotel?" tanya Falensia.


"Sedang di perjalanan menuju hotel, unn" kata Langit.


"Iya. Berbahagia lah di sana,"ucap Falensia.


"Iya unn," ujar Langit.


Hening beberapa saat.


"Langit," panggil Falensia di seberang telepon.


"Iya unn," saut Langit.


"Aku merindukanmu," ucap Falensia langsung mematikan panggilannya pada Langit.


Sementara Langit diam terpaku. Langit menormalkan detak jantungnya. Ternyata Falensia masih berefek pada hatinya.


Jennie yang memperhatikan Langit yang diam terpaku, merasa penasaran, tapi dia tidak bertanya pada Langit. Jennie tahu dengan siapa Langit melakukan panggilan telepon, tapi tidak tahu dengan isi percakapannya.

__ADS_1


__ADS_2