
"Hari ini Langit dan Jennie unnie kembali ke Korea, unn," kata Rachel.
"Iya, tengah malam nanti mereka tiba," saut Jesya.
"Jennie unnie dan Langit menginap di mansion Daddy atau mansion mereka, unn?" tanya Rachel.
"Sepertinya di mansion Daddy, soalnya yang menjemput mereka nanti sopir dan beberapa bodyguard daddy," jelas Jesya.
"Yah, padahal aku ingin menginap di mansion mereka, bila mereka di mansion mereka," tukas Rachel yang kecewa.
"Rachel, dengarkan unnie. Walaupun Langit bersikap terbuka dan mengizinkan kita untuk bermain atau menginap di mansion mereka. Bukan berarti kita tidak memberikan mereka privasi, mereka membutuhkan hal itu. Jennie sudah bersuami, tidak bisa sebebas dulu lagi. Dia harus mempertimbangkan beberapa hal dan meminta izin pada suaminya untuk melakukan suatu hal. Boleh sesekali menginap dan berkunjung kesana, tapi jangan sampai mengganggu waktu privasi mereka," jelas Jesya memberikan pengertian pada adik bungsunya.
"Iya unn," saut Rachel.
"Sekarang segera bereskan barang-barang mu, unnie tunggu di lobby, kita pulang. Unnie merasa lelah," ajak Jesya.
"Iya unn," kata Rachel.
***
"Tuan di sebelah sana," ucap seorang sopir menunjuk mobil yang dia gunakan untuk menjemput Langit dan Jennie.
"Iya paman. Tolong buka pintu penumpang paman. Aku kesulitan karena takut membangunkan istriku," ucap Langit yang sedang menggendong Jennie yang masih tidur.
"Iya tuan," saut sopir berjalan duluan membuka pintu penumpang untuk tuan dan nyonyanya.
"Terima kasih paman, kita bisa pergi sekarang," ujar Langit dengan sopan berbicara pada sopir sambil memeluk tubuh istrinya.
"Sama-sama tuan," sopir.
Semua pelayan yang ada di mansion tuan Arkan, sangat dekat dan kenal dengan pribadi Langit. Mereka semua menyukai pribadi Langit yang rendah hati, sopan dan menganggap mereka seperti teman, bukan seperti atasan dan pelayan.
__ADS_1
"Nyonya sepertinya sangat kelelahan tuan," ucap sopir yang sedang menyetir.
"Iya paman, beberapa hari di Paris benar-benar di manfaatkan untuk berkeliling dan melakukan hal-hal yang dia sukai. Jadi seperti inilah jadinya paman. Kelelahan sampai belum mengisi perut," terang Langit tersenyum melihat wajah istrinya.
"Honeymoonnya berhasil berarti tuan, sampai nyonya benar-benar menghabiskan waktu di Paris dengan sangat baik," puji sopir.
"Iya paman," kata Langit.
"Hubby," panggil Jennie.
"Iya wife? Sudah bangun?" tanya Langit mengelus pipi istrinya.
"Lapar, hubby," lirih Jennie.
"Ingin makan apa istriku ini?" tanya Langit.
"Mandu, hubby," jawab Jennie yang belum membuka mata tapi menyahuti ucapan suaminya.
"Iya tuan," saut sopir.
Mobil melaju ke kedai mandu, Langit meminta paman sopir untuk membeli mandu. Istrinya ingin makan di mansion saja. Istrinya tidak mengizinkan suaminya yang turun untuk membeli mandu, karena dia sudah benar-benar nyaman di dalam dekapan suaminya. Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mandu selesai. Mobil kembali melaju menuju mansion tuan Arkan.
"Hei boy, apa yang kamu lakukan?" tanya tuan Arkan bingung dengan tindakan cucunya yang sedang menenteng selimut dan bantal kesayangannya.
"Aku ingin tidur di sofa grandpa, menunggu Daddy," jawab Malvin bersusah payah membawa tentengannya.
"Oh, astaga boy. Ada-ada saja. Dimana mommy?" tanya tuan Arkan yang baru selesai minum di dapur, ketika hendakĀ masuk kamar dan melewati ruang TV dia bertemu cucunya. Jadilah dia menemani cucunya, sambil menunggu kedatangan anak dan menantunya.
"Mommy sudah tidur grandpa. Aku keluar kamar dengan menyelinap grandpa," jelas Malvin yang sudah meletakkan bantalnya di atas sofa dan selimutnya juga.
"Baiklah kita bersama-sama akan menunggu Daddy dan aunty Jenjen oke," ajak tuan Arkan.
__ADS_1
"Oke grandpa. Masih lama Daddy sampai grandpa?" tanya Malvin yang sudah setengah mengantuk.
"Sebentar lagi boy," jawab tuan Arkan terkekeh melihat tingkah cucunya. Katanya ingin menunggu Daddynya tapi sepertinya sebentar lagi dia akan tertidur dan benar saja, ternyata mata Malvin sudah tertutup sempurna dan beberapa waktu dia mendengkur.
"Hahah ... ada-ada saja," ledek tuan Arkan memperhatikan wajah cucunya.
"Dad, oh kenapa Malvin tidur di sini?" tanya nyonya Arkan yang baru keluar dari kamar.
"Menunggu Daddy kesayangannya mom, tapi dia tertidur," ujar tuan Arkan.
"So sweet sekali," puji nyonya Arkan menyelimuti tubuh cucunya.
"Mom, dad," panggil Jennie dan Langit yang baru masuk mansion dengan Langit yang menenteng 1 kantong mandu.
"Akhirnya tiba juga yang ditunggu-tunggu," saut nyonya dan tuan Arkan memeluk dan mencium pipi anak dan menantunya.
"Oh, kenapa Malvin di sini dad?" tanya Langit, setelah menyadari putranya yang tertidur di sofa.
"Menunggu Daddy kesayangannya, segeralah bawa dia ke kamarnya," titah tuan Arkan.
"Iya dad," kata Langit.
"Wife, aku pindahkan Malvin dulu, ya. Makanlah dulu mandumu, susul aku nanti, ya," terang Langit menggendong Malvin mencium kening Jennie.
"Iya hubby," saut Jennie pergi menarik tangan mommynya meminta untuk di temani makan mandu. Tuan Arkan ikut bersama anak dan istrinya.
Langit membawa Malvin ke kamarnya, dia sempat meletaknya Malvin di kasur tapi anak itu tidak melepaskan dirinya dan merengek. Jadi Langit ikut tiduran di kasur Malvin, untung kasur Malvin lumayan besar. Hingga tak terasa Langit ikut tidur juga.
Setelah selesai makan, nyonya dan tuan Arkan masuk kembali ke kamar mereka. Begitu juga dengan Jennie yang menuju ke kamar Malvin untuk mengecek suaminya dan ketika dia membuka pintu kamar Malvin, perasaannya menjadi tenang. Jennie suka melihat pemandangan manis antara suami dan ponakannya yang tidur pulas saling berpelukan. Jennie pun ikut tidur di samping suaminya, dia tidak ingin mengganggu suaminya, tapi sepertinya dia salah. Suaminya merasakan kehadirannya, jadi suaminya membenarkan posisi Malvin dan dirinya.
"Selamat istirahat wife," kata Langit mencium bibir, pipi dan kening istrinya.
__ADS_1
"Selamat istirahat hubby," ucap Jennie melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan suaminya.