Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Fakta


__ADS_3

Saat ini Jennie sedang berada di salah satu restoran mewah tempat biasa dia dinner dengan James. Malam ini Jennie akan memutuskan James. Jennie hanya menggunakan setelan pakaian sederhana dan tidak sama sekali merias dirinya.


"Ada apa dengan matamu baby?" tanya James.


"Tidak, lanjutkan makanmu. Ada yang yang ingin aku katakan setelah ini," jawab Jennie yang hanya memainkan makanannya, sama sekali tidak berminat untuk memakan.


"Sepertinya sangat serius. Katakan sekarang saja baby, aku mendengarkannya," tuntut James menghentikan makannya.


"Tidak, lanjutkan makanmu," tukas Jennie bersih kukuh.


"Baiklah," ucap James menghabiskan makanannya beberapa waktu. Dia menyeka mulutnya dengan sapu tangan lalu menatap ke dalam mata Jennie sambil menggenggam tangan Jennie.


"Apa yang ingin kamu katakan baby?" tanya James.


"Aku ingin kita berakhir," jawab Jennie to the point menatap kedalam mata James, sambil menarik tangannya.


"Kenapa baby, apa aku memiliki salah?" tanya James yang bingung dengan jawaban Jennie yang tiba-tiba minta putus, padahal mereka baik-baik saja.


"Tidak," jawab Jennie tegas.


"Lalu, kenapa ingin hubungan kita berakhir?" tanya James.


"Aku sudah menerima karmaku dari Tuhan. Aku tidak lagi memiliki suami dan kehilangan hak asuh putriku. Selama ini aku dibutakan oleh cinta yang salah. Tuhan membalas ku dengan sekejap mata, hari ini aku kehilangan kebahagiaanku," tutur Jennie.


"Tidak, kamu tidak bisa memutuskan ku. Bukankah itu hal yang baik, kita bisa melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius lagi. Kamu mencintaiku dan aku mencintaimu. Tidak ada yang salah disini, ini bukan cinta buta," tolak James.


"Ini salah, dari awal. Aku yang salah, aku tidak setia dengan suamiku. Aku memilih bermain di belakangnya, hingga berani terang-terangan berselingkuh di depannya. Aku mengabaikan putriku yang sedang membutuhkan diriku, mengabaikan dirinya yang masih membutuhkan ASI ku. Aku tidak mencintaimu, aku hanya obses dan tidak tahan untuk kesendirianku. Hatiku hanya untuk Langit dan putriku," ungkap Jennie.


"Tidak, tidak, kamu tidak bisa meminta putus dengan begitu mudahnya. Setelah apa yang sudah kita lalui, aku bukan laki-laki murahan yang bisa kamu buang begitu saja. Hubungan ini tidak akan terjadi, jika dirimu mengabaikan ajakan ku. Ini adalah takdir Tuhan, kita hanya perlu melanjutkan jalan yang sudah Tuhan mudahkan untuk kita," tolak James.


"Tidak, keputusanku sudah final. Aku tidak akan mencintai siapapun lagi. Aku hanya akan mencintai suami dan putriku, sekalipun mereka tidak akan pernah kembali ke dalam pelukanku lagi. Aku memilih sendiri untuk menerima karma yang Tuhan berikan padaku. Ingat, aku disini memiliki kekuasaan penuh. Mau tidak mau, setuju atau tidak setuju, mulai saat ini kita bukan apa-apa lagi. Jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku lagi. Sekalipun itu menyangkut kerjasama perusahaan, hanya akan ada perwakilan dariku," jelas Jennie.


"Tidak Jennie," tolak James ingin mengambil tangan Jennie. Tapi, bodyguard mencegatnya.


"Jangan coba-coba bertindak bodoh, atau kau akan kehilangan perusahaanmu atau bahkan nyawamu. Sadari tempatmu," tegas Jennie berdiri meninggalkan James.


Jennie memasuki mobil, duduk melamun di dalam mobil. Membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Setelah memutuskan hubungannya dengan James, Jennie merasa hatinya ringan. Sekarang yang menjadi beban dalam hati dan pikirannya adalah suami dan putrinya, entah masih pantaskah di sebut sebagai suami.


Setelah surat cerai dirinya dan Langit sudah resmi di keluarkan. Jennie akan tetap menganggap Langit sebagai suaminya, dia tidak pernah menganggap Langit sebagai mantan suaminya. Sekalipun nanti Langit sudah membangun keluarga baru bersama sahabatnya.

__ADS_1


Drrt ... drrt ... drrt ... Panggilan dari Jesya unnie.


Jennie menghapus air matanya, cepat-cepat menetralkan suaranya dan setelah netral, dia baru menjawab panggilan dari sahabatnya.


"Iya unn," saut Jennie bisa mendengar suara Lili yang menangis keras dari seberang telepon.


"Tolong unnie, tolong datangke apartemen, unnie," desak Jesya langsung mematikan teleponnya.


"Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk," ujar Jennie langsung menyalakan mobilnya menuju apartemen Jesya.


Tiba di apartemen Jesya.


Jennie langsung menekan pin pintu dan langsung masuk, berjalan cepat menuju suara tangis putrinya.


"Kenapa unn?" tanya Jennie menghampiri putrinya yang menangis kuat di pelukan Jesya.


"Tolong bantu unnie. Langit, Langit," Jesya menunjuk Langit yang tergeletak di atas sofa dengan hidung yang berdarah dan wajah pucat.


"Langit kenapa unn?" tanya Jennie mencoba menepuk-nepuk pipi Langit.


"Ayo kerumah sakit," ajak Jesya masih memeluk Lili yang menangis.


Di rumah sakit.


Jennie buru-buru memanggil dokter dan suster untuk membantu mengeluarkan Langit dari dalam mobil. Setelah itu berhasil, Dokter dan Suster langsung melarikan Langit ke ruang IGD. Lili masih menangis di pelukan Jesya, sepertinya Lili menyadari ada yang tidak beres terjadi dengan daddynya, dia merasakan hal itu. Jennie belum menggendong Lili, karena dia fokus ke Langit, dia menyetir dari apartemen ke rumah sakit.


"Kenapa sayang? Lili bisa merasakan daddy, ya? Sabar, ya, daddy sedang di periksa Dokter," jelas Jennie menggendong putrinya, menimang-nimang Lili dan syukurlah Lili perlahan mulai mereda tangisnya. Bahkan Lili menyamakan posisinya di bahu mommynya. Jennie mencium kepala putrinya, dia merasakan hatinya tenang setelah bisa memeluk kembali putrinya yang selama ini dia abaikan.


Sudah 2 jam Langit di tangani. Langit di pindahkan ke ruang ICU. Lili sudah tertidur pulas di pelukan mommynya. Jennie dan Jesya menatap ke arah ruang Langit di tangani.


"Unn," panggil Jennie pada Jesya yang dari tadi berdiri di depan pintu, sedangkan dirinya duduk di kursi tunggu.


"Kemari duduk bersamaku," ujar Jennie tersenyum manis.


"Iya," Jesya duduk di samping Jennie.


"Bisa ceritakan kenapa Langit bisa sampai seperti ini, unn?" tanya Jennie menatap Jesya.


"Haruskah?" tanya Jesya menatap balik Jennie.

__ADS_1


"Biarpun aku dan Langit bukan pasangan suami-istri lagi. Tapi, dia tetap daddy dari putriku unn. Aku perlu tahu apa yang terjadi dengan Langit, untuk putriku unn, bukan untukku. Itu pun jika unnie siap menceritakannya," ucap Jennie tersenyum.


Padahal Jennie sangat ingin tahu tentang kondisi Langit, karena untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Tapi Jennie tidak mungkin mengatakan itu, karena Jesya dan Langit memiliki hubungan, itu yang Jennie tahu.


"Hah," Jesya menghelang nafas dan membuangnya dengan perlahan.


"Langit penderita kanker otak stadium akhir," ungkap Jesya menundukkan kepalanya.


Deg ... Hati Jennie seketika seperti tertimpa batu besar.


"Langit bertahan selama ini dengan obat-obatan. Dia bertahan untuk dirimu dan Lili. Dia sudah berulang kali ingin menyerah, tapi dia tidak bisa. Dia memikirkan putrinya, hanya putrinya. Dia tidak memikirkan dirimu lagi, karena dia turut bahagia dengan hubunganmu bersama kekasihmu," tutur Jesya meneteskan air mata.


"Aku dan Langit tidak dalam suatu hubungan. Aku mengakui jika Langit adalah cinta pertama unnie. Unnie sempat mengungkapkan perasaan unnie pada Langit. Tapi, Langit berkata dengan sangat bijak "Aku berterima kasih karena unnie sudah mencintaiku. Tapi, aku minta maaf karena tidak bisa membalas perasaan unnie. Hatiku sudah terkunci untuk Jennie. Hidupku tidak akan lama lagi unn, unnie bisa mencari cinta yang lebih layak untuk unnie. Unnie perempuan yang baik. Unnie akan mendapatkan seseorang yang bisa menghargai cinta unnie dan membangun sebuah keluarga yang bahagia," jelas Langit meminta tolong pada unnie untuk berpura-pura menjalani hubungan, hanya untuk meyakinkan dirimu, daddy dan mommy. Hanya unnie yang tahu Langit adalah penderita kanker otak stadium akhir," tambah Jesya.


"Kenapa Langit tidak bercerita denganku, unn?" tanya Jennie.


"Dia akan, tapi begitu dia melihat dirimu bersama kekasihmu. Langit memilih untuk menyimpannya sendiri. Bahkan unnie mengetahui Langit sebagai penderita kanker otak stadium akhir, setelah unnie menemukan surat keterangan dari dokter tentang kondisi dirinya di ruang kerjanya," jawab Jesya.


"Aku perempuan yang buruk. Perempuan murahan," sesal Jennie meneteskan air mata.


"Langit tidak akan setuju dengan pernyataan itu, kamu adalah ratu di dalam hidupnya. Sekalipun begitu banyak rasa sakit yang Langit terima dari dirimu. Kamu tahu Jennie kata-kata yang berkesan dari Langit untuk menggambarkan sebagian rasa cintanya untukmu. "Dia adalah cinta terakhir untukku. Perempuan tercantik yang pernah aku temui, perempuan yang akan selalu menjadi ratu di hidupku. Dia perempuan hebat karena sudah melahirkan Princess kami. Dia adalah ratu terakhir di hidupku" Unnie akan terus mengagumi diri Langit," jelas Jesya.


"Kenapa Tuhan tidak memberikan rasa sakit Langit, padaku saja unn? Kenapa harus Langit orang yang berhati baik dan tulus, kenapa selalu Langit? Dan kenapa aku selalu terlambat dalam kesalahanku?" tanya Jennie menangis hatinya sakit.


"Takdir Tuhan, jangan pernah mengeluh dengan apa yang sudah berlalu. Jadikan pelajaran untuk kedepannya dan cari solusi dalam masalah yang sedang berlangsung saat ini," ujar Jesya.


"Aku akan unn. Aku akan berusaha untuk menyembuhkan Langit. Aku akan mengerahkan dokter terbaik di dunia ini khusus untuk menangani Langit," ucap Jennie bersungguh-sungguh.


"Unnie tidak tahu dengan jawabannya Jennie," jawab Jesya.


"Kenapa unn?" tanya Jennie.


"Langit sudah bertahan dengan rasa sakitnya. Dia sudah bertahan dengan kemo dan obat-obatan. Langit selalu bercerita tentang kehidupan setelah dia pergi ikut bersama orang tuanya. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk Lili dan beberapa hal kecil untuk dirinya," jawab Jesya.


"Apa yang harus aku lakukan unn? Aku tidak bisa membiarkan Langit pergi begitu saja. Tapi, aku merasa sangat egois jika harus meminta Langit bertahan dan merasakan rasa sakit lebih lama," tanya Jennie.


"Tenangkan dirimu, pilih apa pun yang menurutmu baik untuk Langit," usul Jesya tersenyum menatap Jennie.


Tidak ada obrolan lagi diantara mereka berdua, baik Jesya dan Jennie mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka sendiri sembari menunggu Langit yang masih di tangani Dokter dan Suster di ruang ICU. Lili masih tidur nyenyak di pelukan mommy yang dia rindukan.

__ADS_1


__ADS_2